
Retha berjalan menyusuri sebuah pasar mencari keberadaan ayahnya. Sebenarnya ia sudah sangat malas untuk kembali berhubungan dengan orang yang tidak pernah mau berubah, selalu mabuk-mabukan dan berjudi. Setelah ia melunasi hutang ayahnya, ia juga masih ragu kalau ayahnya akan bertaubat.
Biasanya sang ayah menjadi salah satu tukang parkir di pasar tersebut. Penghasilannya lumayan kalau hanya untuk sekedar makan. Hanya saja, karena hobinya mabuk dan berjudi, uangnya tidak pernah sampai rumah. Malah yang ada sang ayah masih meminta jatah uang kepada Retha untuk membeli rokok.
Tanpa sang ayah, ia bisa saja tetap menikah dengan Bara. Toh ia juga tak ingin melibatkan kehidupan pribadinya dengan sang ayah. Ia justru khawatir Bara akan berubah pikiran setelah melihat kondisi ayahnya yang sangat kacau. Apalagi ayahnya kini menjadi sosok yang tidak tahu malu, bisa saja akan terus memanfaatkan Bara.
"Hutang terus! Hutang terus! Kalau tidak punya uang jangan sok ikut main judi! Ngayal aja pengin cepat jadi kaya!"
Seperti yang Retha duga, baru datang sudah melihat ayahnya sedang dipukuli oleh beberapa orang. Sepertinya mereka teman mabuk dan judi ayahnya. Melihat hal seperti itu, ingin rasanya ia marah-marah, tapi di sisi lain ia juga kasihan.
"Memang ini orang pekerjaannya ngutang terus! Tidur juga numpang! Nggak mau bayar lagi! Kita hajar saja sampai mati!"
Empat orang itu kembali menendangi tubuh Pak Agus yang sudah tersungkur di tanah.
"Rasakan ini!"
"Rasakan!"
Retha segera berlari mendekat ke sana. "Hentikan!" teriaknya.
Mereka langsung berhenti, memandang heran kepada wanita yang menghampiri mereka.
"Siapa ini? Ada orang cantik mampir ke sini?" tanya seorang lelaki berambut gondrong, berbadan besar dengan tato naga di lengan kirinya.
"Apa jangan-jangan dia anak Si Agus?" sahut lelaki yang bertubuh kurus dengan tindikan di bagian hidung.
"Oh, Agus punya anak cantik juga!" lelaki berkepala plontos itu ikut bersuara.
"Kamu mau gabung dengan kami, Nona manis?" tanya si gondrong.
"Maaf ya, kami memukuli ayahmu. Soalnya dia banyak hutang tapi tidak mau membayar." ucap si lelaki kurus.
__ADS_1
"Tapi kalau kamu mau menemani kami bersenang-senang, hutang ayahmu kami anggap lunas, kok." lelaki botak itu menatap Retha dengan tatapan mesvmnya.
"Bagaimana? Apa kamu bersedia?" tanya si gondrong lagi.
"Memangnya berapa hutang ayahku?" tanya Retha. Meskipun sebenarnya takut, ia mencoba untuk tetap bersikap tenang menghadapi orang-orang berwajah preman.
Keempat lelaki itu saling berpandangan dan tertawa. Ia meremehkan Retha yang menanyakan jumlah hutang ayahnya.
"Kalau ditotal-total, sekitar sepuluh juta lah! Memangnya kamu mau melunasi?" tantang Si Gondrong.
"Bohong! Hutangku pada kalian hanya dua juta saja, sialan!" seru Pak Agus.
"Diam kamu!" Si Gondrong itu kembali menendang tubuh Pak Agus.
"Ayahmu lama sekali tidak mau membayar-bayar hutangnya. Jadi, dua juta bisa saja jadi sepuluh juta. Itu sudah perhitungan bunganya."
"Retha, untuk apa juga kamu ke sini? Pergi sana!" usir Pak Agus.
Retha membuka tasnya, mengambil sebuah ampop berwarna coklat yang ada di dalamnya. "Ini uang yang kalian minta. Silakan pergi dari sini dan tinggalkan ayah saya," ucap Retha tanpa basa-basi. Ia memberikan amplop tersebut kepada Si Gondrong. Lelaki lain semuanya mendekat ke arah Si Gondrong untuk melihat isi di dalam amplop tersebut. Mereka takjub karena di dalamnya berisi lembaran uang merah semua.
"Wah, orang tua ini ternyata punya anak yang kaya. Kenapa juga dia jadi gembel di sini?"
"Aku rasa dia hanya orang tua beban saja. Kasihan anaknya punya orang tua hobi judi dan mabuk-mabukan."
"Maaf, bisa tinggalkan kami sekarang?" pinta Retha.
"Tentu saja, Nona cantik. Terima kasih uangnya. Jaga baik-baik ayahnya. Dia tukang membuat masalah."
Si gondrong itu tersenyum lebar setelah mendapatkan uangnya. Ia memerintahkan yang lain untuk pergi dari sana bersamanya. Kini, tersisa Retha dan ayahnya yang saling membisu.
"Untuk apa kamu ke sini? Bukankah kamu bilang sudah tidak peduli lagi pada ayahmu ini?" kata Pak Agus sembari membuang wajahnya.
__ADS_1
"Kalau aku tidak peduli dengan Ayah, tidak mungkin aku sampai datang ke tempat ini. Juga lagi-lagi harus membayar hutang Ayah."
"Kamu kira ayah senang kamu datang membantu? Ayahmu ini bisa menangani masalah sendiri."
"Kalau memang bisa mengatasi masalah sendiri, kenapa setiap hari datang menemui Edis dan meminta uang darinya?"
Pak Agus tidak menyangka kalau Retha akan mengetahui kebiasaannya. "Ayah ke sana hanya untuk menemui Edis. Gara-gara kamu, Ayah jadi hidup terpisah dengan adikmu! Ayah tidak pernah meminta uang dari Edis. Dia yang berbaik hati memberikan uang kepada ayahnya, karena dia baik hati dan penyayang kepada ayahnya. Tidak sepertimu yang tega membuang ayahnya sendiri!"
Mendengar perkataan ayahnya cukup menyakitkan hati Retha. Segala hal yang ia lakukan selama ini seakan sia-sia. Ia berjuang mati-matian untuk adik dan ayahnya sampai mengesampingkan keahagiaannya sendiri. Tapi, ayahnya masih menganggapnya sebagai anak yang tidak baik.
Mereka sampai kehilangan rumah, harus perdi dari kontrakan, semua hasil perbuatan ayahnya. Tapi, lelaki paruh baya itu tidak pernah mengaku jika dirinya bersalah. Justru ia selalu melimpahkan kesalahan kepada Retha.
"Aku minta maaf karena belum bisa menjadi anak yang baik di mata Ayah. Aku juga berharap ayah bisa menjadi ayah yang baik untuk kami. Tolong tinggalkan kebiasaan buruk Ayah dan jadilah seperti Ayah kami yang dulu. Aku juga sudah lelah bertengkar dengan Ayah."
"Kamu pikir mencari pekerjaan sekarang gampang? Apa yang ayah lakukan juga bagian dari usaha supaya keluarga kita bisa kembali hidup berkecukupan!"
Retha menghel napas. Menghadapi ayahnya memang butuh kesabaran ekstra. "Ayah, tidak ada orang kaya dari hasil berjudi. Yang ada jadi semakin miskin dan banyak hutang, apa Ayah tidak sadar?"
"Kamu masih kecil tahu apa tentang kehidupan!"
Retha rasa ayahnya tidak akan bisa diluruskan kembali jalan pikirannya. Ia menyerah untuk berbicara dengannya. Uang yang baru saja Bara berikan kepadanya untuk belanja malah harus habis hanya untuk mengurusi ayahnya.
"Ayah, aku mau menikah," ucap Retha.
Pak Agus agak terkejut mendengar perkataan Retha. "Mau menikah dengan siapa? Jangan salah pilih pasangan. Kamu harus mencari yang bertanggung jawab."
"Aku akan membawa Ayah untuk bertemu dengan lelaki yang ingin menikahiku. Apa Ayah mau pergi bersamaku sekarang?"
"Kamu tidak malu memperkenalkan ayahmu yang seperti ini?" Pak Agus tertawa. "Padahal kamu bisa kan menikah tanpa memberitahu ayahmu ini. Toh kamu selalu menganggap ayah seseorang yang tidak berguna."
"Karena aku masih menghormati Ayah."
__ADS_1