Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Penyelesaian di Atas Ranjang


__ADS_3

Bara mengusap rambut sang istri yang masih tergolek lemas di atas ranjang. Pada akhirnya selepas mereka memadu kasih di dalam kamar mandi, percumbuan kembali berlanjut di atas ranjang. Dalam kondisi marah ia masih memiliki hasrat yang besar kepada istrinya. Sampai-sampai Retha dibuat tak berdaya olehnya.


Wanita itu masih terdiam. Ia jadi bingung dengan perasaannya sendiri. Retha merasa sangat dicintai setiap kali Bara mencumbunya. Sentuhannya juga telah menjadi candu bagi dirinya yang selama hidup baru merasakan nikmatnya sentuhan seorang lelaki.


Di lain sisi, ia masih tidak bisa melupakan kenyataan bahwa Bara telah memiliki anak dan istri. Bukannya ingin serakah mengusai Bara untuk dirinya sendiri, akan tetapi diliputi perasaan bersalah yang mendalam terhadap Silvia dan Kenzo. Tanpa mereka tahu, ia telah menjadi pemuas ranjang Bara selama ini.


"Mas ... apa kamu tidak mau pulang?" tanya Retha dengan nada lemah.


"Kamu ini bicara apa? Aku sudah pulang ke rumahku, kamu adalah rumah ternyamanku," kilah Bara sembari mengusap pipi wanita kesayangannya.


Satu bulan lebih menjadi seorang istri sempat membuat ia merasa bagaikan wanita paling beruntung di dunia. Mengetahui bahwa suaminya masih mempertahankan istri pertama mengubahnya menjadi seorang wanita penggoda. Jika orang di luar tahu, ia pasti akan mendapatkan banyak hujatan.


"Mas Bara sudah sebulanan lebih selalu tidur bersamaku, tidak pernah pulang ke rumah. Apa Mas Bara tidak khawatir kalau Silvia dan Kenzo berpikiran macam-macam kepada Mas Bara?" Retha berusaha menjadi wanita yang tahu diri. Ia seharusnya sudah cukup puas mendapatkan kasih sayang yang berlimpah sebagai istri kedua. Bahkan ia tak perlu repot-repot lagi bekerja demi mencukupi kebutuhan hidup. Silvia adalah orang yang menemani Bara dari nol, sementara dirinya tinggal menikmati kesuksesan yang telah Bara raih.


Selain nafkah materi, Bara juga memberikan nafkah batin kepadanya. Posisinya enak, tinggal diam bisa hidup tenang. Menurutnya, lebih berat menjadi Silvia. Wanita itu pasti akan sangat sakit hati jika mengetahui suaminya telah menikah lagi. Mungkin Silvia yang pernah kabur dari rumah akan kembali kabur jika mengetahui kebenarannya.


"Hanya kamu yang pikirannya macam-macam. Bisa tidak kamu percaya saja padaku?" Bara memberikan tatapan kesungguhannya.


"Bagaimana aku bisa percaya, Mas ... dulu, Mas Bara bilang sudah tidak mencintai Silvia. Katanya Mas Bara sudah menganggap Silvia bukan siapa-siapa lagi." Retha menunjukkan ekspresi merengut.


"Aku tidak berbohong untuk itu!" tegas Bara.


Retha ingin sekali mengumpat. Sang suami masih saja mengelak dan merasa dirinya tidak melakukan kesalahan. "Lalu kenapa Silvia tinggal di apartemen Mas Bara? Juga foto-foto yang terpajang di sana ... Itu maksudnya apa? Adakah orang yang tidak cinta tapi masih menyimpan foto-foto berdua, bahkan memajangnya di ruang tamu?" Lelehan air mata kembali menetes di pipi Retha.

__ADS_1


Bara menarik tubuh Retha membawanya ke dalam pelukan. "Aku sulit menjelaskannya kalau kamu dalam keadaan emosi. Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan, Sayang," ucap Bara dengan lembut.


"Aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan keluarga kalian. Kalau Mas Bara mau rujuk, biar aku yang mundur."


"Kamu masih belum percaya kalau aku sangat tulus mencintaimu?" Bara berharap wanitanya bisa percaya sepenuhnya kepada dia. Namun, Retha terlalu minder sebagai seorang wanita. Ia merasa yang bersalah dan sebagai pihak yang menyakiti. Padahal, Retha sendiri korbannya.


"Aku percaya, Mas ... Aku hanya tidak bisa menjadi istri dari suami orang." Retha menelusupkan kepalanya ke dada Bara. Tempat itu menjadi tempat ternyaman baginya sejak menikah. Memiliki pasangan membuatnya nyaman, ada tempat bersandar dan berkeluh kesah. Ia jadi kembali teringat masa lalu, saat ia harus menanggung segala masalah sendiri di pundaknya.


"Aku sudah bilang itu hanya status. Aku tidak akan kembali pada Silvia."


"Itu ucapan Mas Bara sekarang. Kemarin juga bilangnya Silvia tidak akan kembali lagi. Ternyata Mas Bara menyembunyikannya di apartemen. Sama seperti aku yang disembunyikan di sini." Retha kembali merengut.


"Aku juga kaget dia sudah kembali, Sayang. Mana aku tahu kalau dia sudah ada di apartemen sementara kita masih berbulan madu waktu itu."


"Sstt!" Bara menyuruh Retha berhenti bicara. "Aku hanya ingin menjaga perasaanmu sampai aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Bisa kamu memberikan aku waktu?"


Retha bisa melihat binar kesungguhan dari mata Bara. Ia menganggukkan kepala pelan. Kali ini mungkin ia akan memberikan kesempatan terakhirnya kepada sang suami.


Bara terlihat bahagia dengan jawaban Retha. Ia memeluk erat wanitanya dengan perasaan lega. Akhirnya ia tidak perlu khawatir dengan Retha karena keberadaan Silvia.


"Apa yang pernah aku katakan padamu itu sebuah kejujuran. Aku melakukan semua itu hanya demi Kenzo, tidak lebih. Sementara, wanita yang aku cintai hanya kamu seorang."


Bara meraih tengkuk Retha, mendekatkan wajahnya lalu memagut mesra bibir istrinya. Dalam kondisi polos tanpa busana, sekedar ciuman saja sudah kembali membangkitkan gairahnya. Ditambah dengan sentuhan kulit yang semakin mengintimidasi dirinya untuk kembali bermesraan.

__ADS_1


"Mas, tadi kan sudah ...." Retha menahan dada Bara yang kini sudah ada di atasnya. Mungkin karena masih tergolong pengantin baru, setiap waktu rasanya hanya ingin bermesraan berdua.


"Tadi aku lupa, soalnya sedang marah. Kalau sekarang, kayaknya pengin lagi." Dengan tiba-tiba Bara memegang kedua bukit sang istri dengan kedua telapak tangannya. Retha melebarkan mata merasa salah satu area sensitifnya disentuh.


"Mas!" seru Retha.


"Ini ujungnya tegang terus ya. Kenapa, kamu nggak sabar juga?" goda Bara sembari memilin pucuk bukit itu dengan gemas. Retha sampai memejamkan matanya.


Bara sudah tidak sabar. Ia membalikkan tubuh sang istri seraya memasukkan kembali miliknya yang telah tegak sempurna. Perlahan benda itu masuk hingga ke pangkalnya. Ia paling suka menikmati proses itu, seakan miliknya mendapat pijatan luar biasa di dalam.


"Kayaknya sekarang milikmu sudah hapal dengan ukuran suamimu, Sayang," goda Bara sembari mencium punggung mulus sang Istri.


Retha tak bisa menahan des4hannya. Milik sang suami dibenamkan seluruhnya hingga terasa penuh. Kedua bukit kembarnya dipijat lembut serta munggungnya diciumi oleh Bara. Lelaki itu sangat lihai membuatnya terlena dalam kenikmatan. Meskipun tubuhnya berkali-kali digagahi sampai lemas, ia selalu saja tak bisa menolak dan selalu menikmatinya.


Apalagi saat milik sang suami bergerak teratur di dalam miliknya, seakan dirinya melayang terbang hingga ke angkasa. Bara bukan lelaki egois, ia selalu membuat dirinya terpuaskan sebelum mencapai kepuasannya sendiri. Permasalahan yang berat sekalipun ternyata bisa terlupakan jika diselesaikan di atas ranjang.


***


Hai ... Mampir ke karya temanku yuk! Sambil menunggu update berikutnya bisa mampir ke sini 😘


Judul: Tawanan Cinta Playboy


Author: Thatya0316

__ADS_1



__ADS_2