Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Emosi Bara


__ADS_3

Silvia duduk risih ruang kunjungan tahanan lapas tempat Bara ditahan. Ada beberapa keluarga tahanan yang juga datang berkunjung. Ia malu sebagai seorang model ternama datang ke tempat seperti itu, berbaur dengan mereka yang tampak seperti rakyat jelata.


Dengan penampilan sederhana, membawa serta anak, mereka bercanda seakan bahagia sembari memakan nasi dengan lauk seadanya. Ia jadi membayangkan dirinya yang nanti harus mengunjungi Bara setiap minggu. Apakah ia akan mampu setia dengan lelaki yang telah kehilangan segalanya dan harus mengunjunginya ke sana setiap minggunya.


Ia heran dengan mereka yang masih bertahan, tertawa bahagia dengan salah satu anggota keluarga yang dipenjara. Para tahanan sudah tidak memberikan nafkah, para lelaki tak berguna namun masih disayangi keluarga.


Saat sedang fokus memperhatikan keluarga lain, tiba-tiba matanya menangkap sosok lelaki yang baru saja memasuki ruangan. Dengan mengenakan seragam tahanan serta kedua tangan yang diborgol, Bara berjalan ke arah Silvia dikawal oleh dua orang penjaga.


Silvia berdiri menyambut kehadiran sang suami dengan perasaan terguncang. Musibah yang datang kepadanya benar-benar terasa seperti mimpi. Penampilan Bara terlihat sangat memprihatinkan, kontras dengan yang biasa ia temui.


"Aku kira kamu tidak akan sudi datang menjengukku," ucap Bara dengan nada rendah.


Silvia kembali duduk di tempatnya saat Bara juga duduk di hadapannya. Lidahnya masih terasa kaku saking syok. Napaa Silvia juga terasa sulit, sesak untuk menerima kenyataan. "Mas, kenapa bisa jadi seperti ini?" tanyanya.


"Dunia bisnis memang terkadang seperti ini, Silvia. Tidak tahu kapan akan menanjak dan kapan akan runtuh. Sekarang, aku sudah tidak punya apa-apa lagi selain hutang yang menumpuk."


Silvia tertunduk. Ia kira apa yang terjadi hanya sekedar akting saja, tapi ternyata memang faktanya seperti itu. "Kenapa kamu tidak meminta bantuan kepada Mama Ratih dan Papa Atmaja?"


"Mereka tidak mau ikut campur dengan masalah perusahaanku. Mereka juga perlu menyelamatkan reputasi agar tidak berimbas kepada bisnis mereka."


Silvia tidak percaya jika orang tua Bara setega itu melihat kondisi Bara saat ini. "Tidak mungkin mereka membiarkanmu seperti ini, Mas!" bantahnya.


"Buktinya, aku sudah dua minggu berada di sini. Kamu kemana saja sampai baru muncul sekarang?"


Pertanyaan Bara sangat menohok. Silvia bimbang antara ingin berkata jujur atau tetap menyimpannya saja sendiri kalau sebenarnya ia telah melakukan aborsi. "Aku ada urusan di luar kota," jawabnya singkat. "Beritamu tidak muncul di media manapun, aku sampai heran dan menganggap ini hanya sandiwaramu saja, Mas.


Bara tertawa. "Untuk apa aku bersandiwara dan hidup menderita di dalam sana? Apa kamu pikir aku sudah gila mau merusak reputasiku sendiri?"


"Kamu sudah menikah lagi kan, Mas?" tanya Silvia dengan nada meninggi.

__ADS_1


Bara terdiam sejenak. "Dari mana kamu tahu?" tanyanya.


"Hah! Bukankah itu tidak penting sekarang? Jawab saja apa memang kamu benar-benar sudah menikah dengan gurunya Kenzo yang waktu itu?"


"Iya!" jawab Bara mantap.


Silvia rasanya ingin tertawa sekaligus marah. Suaminya sama sekali tidak menyangkal, dengan tegas mengungkapkan perselingkuhannya. "Dia guru atau pelacvr? bisa-bisanya menggoda lelaki beristri."


Kata-kata Silvia membuat Bara tersinggung. Ia tidak terima jika wanitanya direndahkan apalagi oleh orang seperti Silvia. "Memangnya kamu pantas disebut istri? Bukankah selama tiga tahun kamu membuatku seperti seorang duda?"


Giliran Silvia yang merasa kata-katanya terbantahkan. "Bagaimanapun juga aku masih sah sebagai istrimu, Mas! Tidak seharusnya kamu mengkhianati pernikahan kita?"


"Hahaha ... Lihat siapa yang sedang bicara? Masih berani menyalahkanku? Lalu, bagaimana dengan kelakuanmu sendiri di sana? Suami sah kamu tinggalkan demi menjadi wanita ranjang lelaki lain sampai mengandung anaknya." Bara mengembalikan hinaan kepada Silvia.


Silvia geram. Ia bertekad tidak akan membiarkan wanita bernama Retha yang telah berani merebut sang suami darinya. "Apa yang kamu lihat dari wanita seperti dia, Mas? Bukankah aku lebih segala-galanya dari pada dia? Aku jauh lebih cantik darinya. Bisa-bisanya kamu menyukai wanita seperti itu."


"Dia memang tidak punya kelebihan apa-apa jika dibandingkan dengan dirimu, Silvia. Dia hanya wanita biasa. Tapi, sekarang dia adalah segalanya untukku."


"Kamu benar. Dia bisa saja meninggalkan aku yang tidak punya apa-apa." Bara tak mau menyangkalnya. "Tapi, itu tidak masalah karena kamu akan tetap menolongku kan, Silvia? Kamu tidak akan meninggalkanku, kan?" tanya Bara memastikan.


Silvia tampak terdiam untuk menimbang-nimbang keputusannya nanti.


"Kalau kamu setuju untuk kembali padaku, akan aku katakan kepada pengacaraku untuk berhenti mengurusi perceraian kita."


"Sebagai gantinya, pengacara akan mengurusi tentang harta dan tabungan kita untuk penyelesaian hutang piutang."


Silvia langsung membelalakkan mata saat membahas tentang hutang piutang. Ia yakin jika pengacara mengurusnya, maka dirinya akan ikut memiliki kewajiban yang sama untuk menutupi kebangkrutan yang derita oleh Bara.


"Ini karma kalian!" celetuk Silvia. "Ini balasan atas perselingkuhan yang kalian lakukan di belakangku!"

__ADS_1


"Apa kamu sudah gila menyuruhku ikut memikul beban penderitaanmu? Nikmati saja dengan istri barumu!" Silvia tiba-tiba berubah haluan melemparkan hujatan kepada Bara. "Minta saja bantuan kepada istri barumu si pelakor tidak tahu diri itu! Dia yang menikmati hasil kerja kerasmu, kenapa aku yang diminta membantumu?"


"Dia tidak sepertimu yang punya banyak uang," ucap Bara.


Sekali lagi Silvia tersenyum sinis. "Kalau begitu, nikmati saja penderitaan kalian. Aku lebih baik memilih bercerai dan hidup tenang. Toh kamu sudah kehilangan semuanya, tidak ada gunya juga mempertahankan dirimu."


Bara tertegun memperhatikan Silvia. Akhirnya, wanita itu memperlihatkan wajah aslinya yang egois dan angkuh.


"Besok akan aku urus perceraian kita dengan pengacaramu."


"Katanya kamu tidak akan bercerai denganku?" sindir Bara.


"Kondisi berubah, bukankah harus mrnyesuaikan dengan kondisi yang ada?" ketus Silvia.


"Lalu bagaimana dengan Kenzo? Apa kamu akan membawanya bersamamu?"


Silvia tersenyum. "Kamu bisa tetap merawatnya kalau mau. Kamu sudah tahu kan, kalau dia anakku dengan Rangga. Sebenarnya aku pura-pura mau mengurus dia hanya untuk mengambil hatimu saja. Keadaan sudah berubah, aku tak mau terlibat apapun denganmu lagi."


"Apa kamu tidak keterlaluan kepada Kenzo? Dia sangat menyayangimu sebagai seorang ibu." Bara melayangkan tatapan tajam dengan geram.


"Aku tidak menganggapnya sebagai seorang anak. Kehadirannya tidak aku inginkan. Bahkan jika kamu mau membuangnya, aku juga tidak peduli."


Brak!


Bara menggebrak meja dengan kuat. Ia sangat emosi mendengar ucapan Silvia. "Kurang ajar!" teriaknya. Seisi ruangan langsung terdiam dan memandang ke arah mereka.


Silvia melirik ke kanan kiri, ia malu sendiri menjadi pusat perhatian. "Kamu sudah gila, Mas?"


Bara telah gelap mata. Pandangannya tajam fokus menatap ke arah Silvia seakan ingin menyerangnya. "Kamu yang sudah gila, Silvia! Seharusnya kamu mati saja!" Bara yang geram maju mencekik Silvia serta mendorongnya hingga mentok arah tembok. Ia benar-benar ingin membunuh Silvia. Petugas yang melihat langsung menarik tubuh Bara menjauh.

__ADS_1


Bara masih berusaha memberontak. Ia sangat ingin membunuh wanita itu. Bisa-bisanya Silvia mengatakan bahwa Kenzo bisa dibuang begitu saja.


__ADS_2