
"Itu kan orangnya?" Seseorang berbicara dengan nada lirih namun masih bisa didengar oleh Edis.
"Iya. Katanya sih adiknya." Sahut yang lain.
"Kira-kira dia malu apa nggak, ya?"
Edis menundukkan kepalanya sembari menikmati makan siangnya di kantin. Sesekali matanya melirik ke sekeliling melihat orang-orang yang memperhatikan dirinya. N4fsu makannya telah hilang. Sejak awal ia sudah merasa tak nyaman untuk makan di sana.
Beberapa hari yang lalu, ia mulai mendengar desas-desus tidak enak tentang kakaknya. Ia mencoba mengabaikan apa yang mereka katakan, namun makin lama mereka semakin keterlaluan menyebarkan berita yang tidak benar. Ia berusaha untuk tetap mempercayai kakaknya.
Edis mempercepat makannya. Ia segera pergi dari kantin untuk menghindari telinganya dari suara-suara yang memekakkan telingannya. Kalau saja ia tidak tinggal di asrama, mungkin ia sudah menghajar satu per satu orang yang berani menjelek-jelekkan kakaknya.
Edis beralih ke perpustakaan, tempat yang dipercaya lebih tenang untuknya. Namun, tetap saja beberapa orang mengarahkan pandangan kepadanya.
"Sendirian, Dis?" tanya Lova seraya duduk tepat di hadapan Edis.
Ia tampak menyunggingkan senyuman lebar. Ada dua orang teman yang datang bersamanya, Nita dan Siwi. Edis merasa sedang dikepung oleh ketiga siswa populer di sekolahnya.
Sejak awal sekolah, Edis sudah berusaha menjadi murid biasa yang tidak menonjol agar tidak menarik perhatian murid lain. Ia tidak ingin termenal maupun dikenal banyak orang. Baginya, berhubungan dengan banyak orang akan menimbulkan banyak perselisihan.
Sayangnya, keinginannya tidak tercapai. Ada kakak kelas yang tertarik padanya saat kegiatan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Bukan seorang kakak kelas biasa yang tertarik padanya, melainkan Pradana atau pemimpin pramuka di sekolahnya. Namanya Angga.
Meskipun Edis telah menolak pernyataan cinta Angga, namun beberapa murid perempuan yang merasa kecewa pernyataan cintanya diabaikan Angga, beralih membenci Edis. Terkadang rasa benci mereka diwujudkan dengan cara mengerjai Edis seperti menguncinya di kamar mandi, menumpahkan minuman ke bajunya, atau kenakalan-kenakalan kecil lainnya.
Edis tidak pernah merespon kelakuan mereka, apalagi kebanyakan mereka adalah kakak kelasnya. Ia hanya berusaha untuk menghormati mereka sebagai kakak kelas.
Lova terkenal sebagai siswi yang paling dekat dengan Angga. Hubungan mereka sangat dekat, sayangnya Angga tidak memiliki perasaan yang sama untuknya. Lova menjadi orang yang paling bahagia jika Edis menderita.
__ADS_1
"Aku dengar kakakmu sedang ada masalah, ya? Apa kamu sudah tahu?" tanya Lova.
"Maaf, sepertinya Kakak salah tempat jika ingin mengobrol. Ini perpustakaan, tempat untuk membaca dengan tenang."
Lova terkekeh dengan keberanian Edis menjawab ucapannya. Biasanya anak itu selalu diam saat diganggu. Kali ini, sepertinya ia sudah berani ngelunjak melawannya.
"Ngelunjak ini anak!" Siwi menoyor kepala Edis.
"Sudah merasa hebat di sini karena selalu Angga bela?" Nita ikut-ikutan merundung Edis.
Lova menyunggingkan senyum sinisnya. "Adik dari seorang pel4cvr pasti punya kelakuan yang tidak jauh beda dengan kakaknya," ledeknya.
Edis langsung melotot tak terima dengan perkataan Lova. "Tarik kembali ucapanmu, Kak! Kalau memang kamu membenciku, jangan bawa-bawa kakakku!"
"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin Angga sadar sudah menyukai orang yang tidak tepat. Aku juga ingin orang lain berhati-hati terhadap keluarga yang rela jual diri demi uang. Jangan-jangan kamu juga sudah tidak p3r4wan, ya?" ledek Lova.
Edis sampai menggebrak meja saking marahnya.
"Ada apa? Kenapa ribut sekali?" seru penjaga perpustakaan yang terkejut dengan suara keras di tempat yang semula tenang itu.
Sadar perbuatannya menjadi sorotan orang-orang, ia langsung memutuskan pergi meninggalkan perpustakaan. Penjaga perpustakaan terus memandanginya saat ia keluar.
Ketiga orang itu tidak membiarkan Edis sendiri. Mereka ikut keluar membuntuti Edis. Setibanya di lorong yang sepi, Edis ditarik mereka ke sana.
"Mau kemana? Urusan kita belum selesai!" bentak Nita.
"Baru kali ini ada murid sesongong dirimu!" Siwi kembali menjitak kepala Edis.
__ADS_1
"Kamu pikir aku asal bicara kalau tidak ada bukti? Kakakmu memang wanita mvr4han yang bekerja di klab malam. Kamu jangan mengelak lagi!" Lova memberikan ymtatapan nyalang kepada Edis. Seakan bola matanya memancarkan api dendam yang membara dan tak bisa padam.
"Kakakku tidak seperti itu!" Edis mendorong kasar tubuh Lova hingga terjatuh. Kedua temanya yang tidak terima langsung memeganginya. "Kakakku guru TK! Gajinya juga lumayan besar di sana. Untuk apa Kakakku melakukan pekerjaan yang tidak benar!" Edis mencoba memberontak.
Lova berdiri sendiri. Ia terkekeh dengan perkataan Edis. "Gaji guru besar? Mungkin iya kalau jadi guru di luar negeri. Untuk membiayai sekolah dan uang sakumu, kamu pikir gajinya cukup kalau tidak ada penghasilan lain? Hahaha ... sepertinya kakakmu juga merahasiakan pekerjaannya dari adik tercinta."
"Karena aku baik hati, maka tetap akan aku tunjukkan bukti padamu." Lova mengeluarkan beberapa foto dari dalam sakunya. Ia betika foto-foto yang dimilikinya kepada Edis. Nita dan Siwi melepaskan cekalannya, membiarkan Edis memperhatikan foto yang diterimanya.
Wajah Edis langsung memucat. Sungguh, ia kecewa melihat foto kakaknya dalam balutan pakaian yang tidak pantas tampak sedang tersenyum bersama teman kerjanya. Lova tidak bicara omong kosong. Wanita yang ada di foto tersebut benar-benar kakaknya.
"Aku harap kamu sadar untuk tidak dekat-dekat lagi dengan Angga. Kalau aku tahu kamu masih berada di dekatnya, aku tidak akan segan-segan menyebarkan foto-foto ini ke seluruh sekolah," ancam Lova.
"Jadi orang sadar diri sedikit! Hidup juga dari uang haram berlagak lugu di sekolah. Jangan-jangan kamu sengaja menggoda semua murid laki-laki agar bisa mengikuti jejak kakakmu. Dasar najis!" Siwi memberikan satu tamparan keras di pipi Edis.
"Siwi, sudah dibilang jangan main tangan. Kalau ada bekasnya nanti kita bisa kena masalah," nasihat Nita.
"Biarin saja! Gedeg aku dengan cewek sok polos tapi diam-diam menghanyutkan. Mending aku tidak injak-injak kepalanya." Siwi tampak sangat emosi.
Edis yang masih syok dengan kenyataan yang baru diterimanya tidak bisa berkata apa-apa atau membalas perbuatannya. Ia hanya tidak menyangka kakaknya bisa memutuskan melakukan pekerjaan seburuk itu.
Kakaknya terlihat baik-baik saja, tidak pernah mengeluh padanya. Apapun yang ia minta selalu diusahakan untuk bisa memenuhi. Edis juga sudah berusaha sehemat mungkin agar tidak memberatkan kakaknya.
"Ingat pesanku baik-baik. Aku tidak akan berpikir dua kali untuk menghancurkanmu jika tidak mau menuruti perkataanku." Sekali lagi Lova melemparkan tatapan keseriusannya. "Kita pergi dari sini. Biarkan dia sendiri untuk merenungi kelakuannya."
Ketiga cewek itu pergi meninggalkan Edis sendirian. Edis langsung menjatuhkan tubuhnya terduduk di tanah. Lututnya seakan tak memiliki daya untuk dipaksakan tetap berdiri.
"Kak ... apa semua ini benar?" gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1