
"Ada apa ini? Dari depan aku dengar ada suara ribut-ribut."
Yoga masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya. Dari arah luar, ia sempat mendengar suara pertengkaran di dalam. Tidak ada orang lain yang ia temui selain ibunya.
"Kamu baru pulang kerja ya, Nak?" Yanti memasang senyum termanisnya. Ia berjalan menghampiri putranya lalu memberikan pelukan hangat.
"Ibu kalau mau datang tolong kasih kabar dulu, supaya aku dan Citra bisa bersiap-siap." Yoga tidak marah, hanya saja ia tahu pasti kehadiran ibunya akan menimbulkan masalah dengan istrinya.
"Kalau ibu bilang mau datang, mana mungkin ibu bisa tahu betapa jorok dan malasnya menantuku?" Yanti memberikan tatapan kecewa terhadap putranya. Ia tidak rela sang putra lebih membela istrinya daripada ibunya sendiri.
Yoga menghela napas. Citra yang selalu pulang lebih dulu darinya, pasti baru saja kena marah sang ibu. Sebagai seorang anak sekaligus seorang suami, ia selalu berusaha menjadi pihak yang netral dan tidak mau membela salah satu dari mereka. Namun, apa yang dilakukannya, selalu berakhir menjadi pihak yang disalahkan oleh sang ibu maupun istrinya.
Ibunya akan marah jika dirinya terkesan lebih membela Citra. Padahal, ia hanya berusaha melaksanakan kewajiban untuk memperlakukan istri dengan baik. Sementara, jika ia menasihati Citra agar lebih bersabar menghadapi ibunya, ia akan dianggap tidak mencintai istrinya. Yoga kira setelah pindah rumah pertengkaran semacam itu akan berakhir. Nyatanya, sang ibu masih rajin datang ke rumah barunya dan menimbulkan masalah.
"Tolong maklumi Citra, Bu. Dia bukan ibu rumah tangga yang seharian hanya di rumah, Citra juga bekerja." Yoga bersikap bijak.
"Memang seberapa gajinya? Bukannya kamu selalu memberi dia jatah bulanan." Yanti tidak suka setiap Melvin berusaha membela istrinya.
"Gaji Citra adalah miliknya sendiri, Bu. Hal itu tidak bisa menghapuskan kewajibanku untuk tetap menafkahinya seberapa besarpun penghasilannya."
Yoga mengizinkan Citra menyimpan penghasilannya sendiri. Bahkan seringkali Citra memberikan gajinya untuk yayasan panti asuhan yang dulu pernah membesarkannya. Yoga juga tidak masalah jika istrinya bekerja agar Citra tidak bosan di rumah. Yoga tetap memberikan uang belanja dan keperluan rumah tangga lainnya kepada sang istri. Meskipun Citra tak selalu sempat memasak ataupun membereskan rumah, ia tak marah. Saat ada waktu, Citra juga akan melakukan pekerjaan rumah. Yoga juga tak segan membantu aktivitas istrinya.
"Kalau begitu, tidak ada gunanya kamu menikah! Ibu merestui kalian agar kamu ada yang mengurus! Kalau tahu kamu ditelantarkan istri, lebih baik kalian pisah saja!"
__ADS_1
Yoga tercengang dengan ucapan ibunya. "Ditelantarkan bagaimana, Bu? Aku merasa baik-baik saja hidup dengan Citra."
Yanti menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak menyangka akan melahirkan anak sebodoh dirimu. Pelet apa yang dia pakai sampai kamu susah ibu nasihati!" Ia masih merasa paling benar.
"Ibu datang ke rumah ini rasanya langsung jantungan! Bisa-bisanya tempat ini disebut rumah? Lebih layak disebut tempat sampah! Wastafel penuh cucian kotor menumpuk ... kamu pikir ibumu ini pembantu!"
"Sudah, Bu. Aku mau mandi dulu."
Yoga melonggarkan dasi dan kemejanya. Ia berjalan ke arah kamar tidur meninggalkan ibunya sendirian. Ocehan ibunya tidak akan berhenti jika yang punya bahasan belum mati.
"Sayang ...." Yoga tertegun melihat istrinya yang sedang menangis sambil duduk di tepi ranjang.
Citra sudah berusaha menahan tangisannya. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan suami. Wajahnya kini tampak lusuh dengan dandanan yang acak-acakan akibat air matanya.
Yoga berjalan menghampiri istrinya. Tanpa banyak bicara, ia langsung memeluk sang istri dan berusaha menenangkannya. Citra dibuat semakin terisak-isak karena tekanan di dadanya serasa ikut keluar dalam kenyamanan dekapan suami.
"Aku sudah berusaha, Mas. Tapi Ibu selalu seperti itu kalau datang. Rasanya aku tidak ada baik-baiknya di mata Ibu," keluh Citra. Tidak ada lagi yang bisa dijadikan sebagai tempatnya berbagi, selain suami. Citra tidak pernah membahas apapun masalah rumah tangganya dengan siapapun, kecuali dengan Yoga.
"Sabar, ya ... suatu saat Ibu pasti akan berubah. Bukankah yang terpenting aku masih tetap mencintaimu?" Yoga mengecup kening Citra. Satu kecupan itu membuatnya merasakan kasih sayang tulus dari seorang suami.
"Seharusnya kamu tidak memberitahu kode rumah kita, Mas. Aku tidak melarang Ibu mau datang, tapi setidaknya aku butuh persiapan supaya tidak kelihatan buruk di mata Ibu." Citra merengek agar permintaannya dipenuhi. Ia benar-benar menginginkan adanya privasi sebagai pasangan suami istri.
"Aku tidak bisa melakukannya, Sayang. Bagaimanapun juga dia adalah ibuku. Tidak sopan kalau Ibu mau masuk rumah kita seperti tamu," ucap Yoga yang terkesan tak berdaya ketika membahas hal yang berkaitan dengan sang ibunda.
__ADS_1
Citra terdiam. Ia memang tidak akan pernah menjadi prioritas selama masih ada ibu mertua. Sekalipun Yoga sangat mencintai dan menyayanginya, lelaki itu tidak akan berani membantah atau menyakiti ibunya. Terkadang Citra yang merasa bersalah, dalam hati sering terbersit rasa iri ingin lebih dibela dan didengarkan suami.
"Kamu belum mandi, kan." tanya Yoga. Citra hanya mengangguk. "Kalau begitu, ayo kita mandi bersama supaya cepat. Setelah itu, kita makan di luar. Aku baru saja dapat bonusan dari lemburan minggu lalu."
Citra memeluk suaminya. Dalam hati, ia menguatkan diri. Ia pasti kuat bertahan memiliki suami sebaik Yoga. Meskipun harus bersabar dengan watak ibu mertua yang sulit ditebak, ia akan berusaha tegar.
Yoga mengangkat tubuh Citra seakan tubuh wanita itu seringan kapas. Citra mengalungkan kedua tangannya ke leher sang suami. Keduanya saling berpandangan dan tersenyum.
Yoga membawa istrinya memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar. Rumah yang mereka tempati sengaja sekalian membangun kamar mandi dalam agar mereka lebih leluasa melakukan aktivitas suami istri, terutama saat ada keluarga yang berkunjung. Pengalaman tinggal bersama mertua, Citra selalu mandi saat dini hari untuk menghindari rasa malu. Setelah bercinta dengan suaminya, ia diam-diam mandi di saat orang rumah terlelap.
Kini, setelah memiliki rumah sendiri dengan kamar mandi dalam, mereka lebih bebas mengekspresikan kemesraan. Mandi bersama bukan hal baru, bahkan hampir setiap hari mereka melakukannya.
Momen saat mereka saling membantu melepaskan pakaian, memperhatikan tubuh polos masing-masing secara detil dan terperinci, serta berpelukan di bawah guyuran air yang menyegarkan, membuat keduanya mabuk kepayang dan lupa daratan. Masalah yang dihadapi seakan lenyap ketika kulit mereka saling bersentuhan. Dunia seketika hanya dihuni oleh dua orang yang saling mencinta seperti mereka.
"Ah, istriku sangat cantik sekali. Bagaimana aku tidak terpesona setiap kali pulang kerja jika ada bidadari secantik ini di rumah." Yoga memeluk sang istri dari belakang. Tangan nakalnya menelusuri setiap lekukan tubuh sang istri dengan mesra. Sesekali ia daratkan ciuman kecil di area tengkuk sang istri hingga membuat wanita itu meremang mengeluarkan suara lengkuhan merdu. Milik Yoga sampai terbangun karenanya.
"Sayang, aku ingin memasukkannya," bisik Yoga mesra.
***
Sambil menunggu update berikutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author ya 😘
Judul: Jerat Asmara Sang Mafia
__ADS_1
Author: Komalasari