Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Ciuman Pertama


__ADS_3

Sebenarnya Edis agak ragu untuk membuka pintu rumah orang sembarangan meskipun pemiliknya memberi tahu kode rumahnya. Tapi, dari nada bicara Angga di telepon, sepertinya ia sedang sakit parah.


Klik!


Pintu berhasil dibuka setelah Edis menekan tombol yang tepat. Ia membuka pintu apartemen tersebut, mendapati ruangannya tampak berantakan baru di awal pintu masuk. Ada beberapa kantong sampah yang sepertinya belum sempat dibuang. Posisi sandal dan sepatu juga berserakan di lantai.


"Permisi ...." Edis memasuki apartemen yang cukup luas tersebut.


"Kak Angga ...," panggilnya.


Ada salah satu pintu kamar terbuka. Ia ingin memastikan bahwa Angga ada di dalam sana.


"Ah!" teriak Edis saat tiba-tiba Angga muncul dari balik pintu dengan tubuh yang sempoyongan. Tak berapa lama, tubuhnya limbung, untung saja Edis berhasil menahannya. Ia memapah Angga agar kembali ke atas ranjang.


"Kakak demam, ya?" Edis memberanikan diri memegang dahi Angga, terasa panas.


Angga menepis tangan Edis dari dahinya seakan tidak menyukai apa yang baru saja Edis lakukan. Ia bangkit dan terduduk di atas ranjang.


"Aku membawakan Kak Angga bubur. Tidak tahu enak atau tidak, tapi ...."


Sebelum Edis selesai mengatakan ucapannya, Angga sudah lebih dulu merebut box makanan yang ia bawa dari asrama. Sebelum datang ke sana, Edis sengaja membuat bubur dan membuat irisan buah segar untuk diberikan kepada Angga.


Lelaki itu tampak melahap makanan yang dibawanya dengan ekspresi wajah datar. Ia seperti sedang berusaha mengabaikan keberadaan Edis. Tubuh Angga kelihatannya kian hari kian kurus.


"Orang tua Kakak dimana?" tanya Edis. Jemarinya direm4s-rem4s menandakan saat ini ia sedang gugup.


"Ayahku sibuk. Masih perjalanan bisnis ke luar kota," ucap Angga sembari terus melahap makanannya.


"Kalau ibumu?"


"Ibuku sudah lama meninggal," jawab Angga dengan santai.


Sementara Edis menundukkan kepala. Raut wajahnya menunjukkan penyesalan, merasa telah salah bertanya. Ia tidak enak hati kepada Angga.


"Maaf ya, aku tidak tahu ...," ucapnya. "Mungkin sebaiknya aku keluar dulu sampai Kakak menghabiskan makanannya."

__ADS_1


Saat Edis hendak meninggalkan kamar itu, Angga menahan tangannya. "Duduklah! Temani aku makan di sini," kata Angga.


Edis kembali duduk di tempatnya. Ia memperhatikan Angga yang kembali menikmati bubur buatannya sesuap demi sesuap. Melihat bekas luka yang membiru pada sudut bibir, pipi, dan pelipis kakak kelasnya itu, membuat Edis kembali merasa bersalah. Gara-gara dia Angga sampai terluka dan tidak bisa masuk sekolah. Meskipun dalam kondisi sakit dan luka-luka, namun ketampanan Angga tetap terpancar.


"Terima kasih atas pertolonganmu waktu itu. Maaf, aku baru bisa mengatakannya," ucap Edis.


Angga mengulaskan senyuman. "Aku kira kamu tidak peduli. Biasanya kamu memang tidak pernah peduli, kan?"


Perkataan Angga sangat menohok. Edis jadi canggung untuk berkata-kata. "Kakak kelihatan lebih kurus. Meskipun tinggal sendiri seharusnya tetap memperhatikan pola makan."


"Di luar aku lihat banyak sampah belum dibuang. Apa aku boleh membantu membereskannya?" Edis seperti orang yang kehabisan topik pembicaraan, ia terus berusaha membahas hal-hal yang bisa dibahas.


"Ah! Ternyata tangan Kakak juga terluka, ya?" Edis memegangi tangan Angga yang terdapat luka lebam dan lecet.


Angga menarik tangannya. Ia memegangi dahinya sendiri. Ia terkejut Edis akan memegang tangannya, membuat ia jadi menganggap wanita itu peduli kepadanya. "Kenapa kamu tiba-tiba jadi sepeduli ini padaku? Kamu sangat berisik, mengomentari banyak hal. Aku belum pernah sekalipun kedatangan teman ke rumah sebelumnya. Apa kamu juga melakukan hal seperti ini kepada teman lelaki yang lain?"


"Hah?" Edis tidak paham dengan pertanyaan Angga.


"Apa kamu selalu mengunjungi teman lelaki yang sakit dan membuatkan bubur untuknya?" Angga melayangkan tatapan bertanya-tanya.


Angga tertawa. "Jadi kamu benar-benar sedang peduli padaku? Biasanya kamu selalu menghindariku, kan?"


Edis kembali menunduk. "Sebenarnya aku bukannya tidak peduli," sangkalnya. "Sejak Kakak mengungkapkan perasaan waktu itu, hari-hariku jadi semakin berat. Ada banyak yang tidak suka karena orang terpopuler di sekolah menyukai orang sepertiku."


"Meskipun aku sudah menolak Kakak, tapi mereka terus merundungku setiap kali Kakak menghampiriku. Aku jadi tidak suka dekat dengan Kakak."


Angga terdiam mendengar cerita Edis. Ia tidak tahu kalau wanita itu selama ini mendapatkan kesulitan karena dirinya. "Seharusnya kamu menceritakannya padaku. Katakan, siapa yang suka mengganggumu?" tanyanya.


"Kakak tidak perlu tahu dan tidak perlu ikut campur. Aku bisa menghadapinya sendiri."


"Kalau mereka tidak mengganggumu, apa jawaban yang kamu berikan akan berbeda?"


Edis terdiam tak bisa menjawab.


"Apa kamu menolakku karena mereka? Apa kamu juga menyukaiku?" Angga blak-blakan menanyakan perasaan wanita yang ada di hadapannya. Wanita yang selama ini berusaha ia beri perhatian namun terus menghindar.

__ADS_1


"Tentu saja aku menyukaimu. Setiap orang di sekolah juga menyukaimu. Tapi, mungkin maksud dari rasa suka itu berbeda-beda."


"Apa ada seseorang yang sedang kamu sukai?" cecar Angga.


"Sejauh ini belum. Aku masih mau fokus dengan sekolah."


"Seperti apa kira-kira tipe lelaki yang kamu mau?" Angga kembali bertanya. Bubur yang Edis bawakan untuknya hampir habis.


"Aku juga tidak tahu karena belum terlalu memikirkannya. Mungkin seseorang yang bisa membuat nyaman satu sama lain. Juga bisa menerima kekurangan masing-masing. Apa itu syarat yang susah?"


"Tidak." Angga memperhatikan Edis dengan serius.


"Benarkah?"


Edis tersenyum. Untuk memulai berpacaran saja sepertinya belum ada bayangan apalagi mengharapkan lelaki seperti itu. Secara tiba-tiba Angga menarik tengkuknya, membuatnya melebarkan mata saat Angga mencium bibirnya. Sesaat ia mematung. Lelaki itu memberikan ciuman yang sangat lembut dan berkesan untuknya. Bahkan rasa his4pan saat bibir mereka bertemu mungkin tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup.


"Bagaimana kalau mencobanya denganku? Aku bisa membuatmu merasa nyaman berada di sisiku," ucapnya.


Sekali lagi Angga memagut bibirnya, memberi beberapa his4pan yang membuat Edis terpaku di tempat. Wanita itu seperti orang linglung, hanya diam saat Angga menciumnya.


"Ayo kita pacaran," ucap Angga.


Seketika kesadaran Edis kembali. "Sepertinya aku harus pulang sekarang." Ia jadi panik dab salah tingkah, pusing mencari-cari tas miliknya. "Kak Angga jangan lupa minum obat supaya cepat sembuh." Wajahnya sudah sangat memerah dan malu. Ia baru saja merasakan ciuman pertamanya dengan kakak kelas yang pernah ia tolak.


"Edis!" Angga beranjak dari tempat tidurnya memegangi tanganya. "Setidaknya jawab dulu sebelum pergi!"


"Aku butuh waktu untuk berpikir, Kak. Aku pergi sekarang!" Denyut jantung Edis bertambah kencang saat Angga memegangi tangannya.


"Apa lagi yang ingin kamu pikirkan?"


"Ini tidak sesederhana yang Kakak pikir! Mungkin bagi Kakak hal ini masalah sepele, tapi bagiku ini sangat penting!" seru Edis. Ia mengibaskan kuat tangan Angga hingga terlepas darinya.


Wajah Angga tampak sendu dengan perlakuan yang Edis berikan. "Kalau kamu membenciku, bilang saja terus terang," ucapnya dengan nada dingin.


Edis tetap keluar dari apartemen Angga dengan membawa perasaan tidak enak hati. Bukan maksudnya membenci Angga, ia hanya belum yakin dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


Edis memegangi bibirnya. Ciuman yang Angga berikan masih terngiang-ngiang dalam otaknya. Baru kali ini ia tahu jika ciuman bisa menumbuhkan bunga-bunga di hatinya. Wajahnya kembali memerah, mengingat sentuhan bibir lembut lelaki itu pada bibirnya. Ia yakin malam ini tidak akan bisa tidur nyenyak.


__ADS_2