Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Kemesraan di Bathtube


__ADS_3

"Usia kandungan Silvia sudah memasuki tiga bulan. Dia hamil dengan kekasihnya di sana," ucap Bara.


Retha terkejut dengan pernyataan Bara. Aia sampai memutar badan menghadap ke arah sang suami seraya menatapnya dalam-dalam. "Mas Bara tidak sedang berbohong lagi, kan?" tanyanya.


"Untuk apa aku berbohong? Silvia yang sudah mengaku sendiri padaku." Bara berusaha meyakinkan sang istri.


"Mana mungkin Silvia seperti itu, Mas ... Bukannya dia masih mencintai Mas Bara makanya kembali?"


"Dia kembali hanya karena butuh pengakuan seorang lelaki untuk anak yang dikandungnya. Orang yang menghamilinya sudah meninggal."


Retha sampai mematung mendengarnya. Sulit dipercaya ada tipe wanita seperti itu di dunia ini.


"Kalau kamu lebih banyak ingin tahu, sebenarnya Kenzo juga bukan anak kandungku. Silvia sudah hamil saat menikah denganku."


"Apa?" Retha semakin tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Aku juga baru tahu setelah Silvia pergi. Hanya saja dulu aku masih berusaha untuk memaafkannya, tapi ... Sepertinya keputusanku salah. Silvia tidak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya." Raut wajah Bara berubah kecewa mengingat garis takdirnya di masa lalu.


Kekesalan Retha langsung hilang. Ia justru berubah simpati kepada Bara. Tidak mudah berada di posisi lelaki itu, harus menerima anak yang sebenarnya bukan anak kandungnya, serta berusaha memaafkan kesalahan yang Silvia buat. Bahkan ketika wanita itu pergi, Bara masih berusaha untuk menerimanya kembali.


Silvia wanita terbodoh yang menyia-nyiakan ketulusan lelaki seperti Bara. Sementara Retha, merupakan wanita yang beruntung telah dipertemukan dengan lelaki malang itu. Dengan segenap kelembutan, ia melabuhkan pelukan pada tubuh kokoh suaminya. Ia bertekad tidak akan mengkhianati dan berpaling dari lelaki sebaik Bara.


"Maaf ya, Mas ... Seharian kemarin aku sudah mengutukmu. Bahkan aku berniat ingin kabur dari rumah karena marah melihatmu bersama Silvia," ucap Retha dengan nada memanja.


Bara menghela napas lega. Ia turut memeluk sang istri dengan perasaan sangat bahagia. Baru kali ini ia bisa begitu terbuka dengan orang lain. Biasanya ia lebih memilih diam dan memendam perasaan hingga membuat orang lain salah paham.


Mulai saat ini, segala kesalahan yang telah ia lakukan di masa lalu tidak akan diulangi lagi. Ia akan merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik agar tidak terulang kembali kisah kelam di masa lalu.


"Kemarin aku sungguh seperti orang gila, mencarimu ke sana kemari tak tahu arah. Bahkan kamu sudah membungkam Edis agar tidak mengatakan dimana keberadaanmu. Di saat-saat yang membuat stres, secara mendadak polisi datang dan menahanku di sini. Semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu."

__ADS_1


"Aku minta maaf, Mas. Tidak aku sangka kamu sedang menghadapi masalah yang sangat berat. Aku justru semakin menambah beban pikiranmu." Retha memainkan jemarinya menyusuri dada bidang sang suami, menggaris-garis abstrak dengan jemarinya. Mode galaknya sudah berubah jinak seperti seekor kucing yang sedang memanja.


"Tidak apa-apa, Sayang ... kecemburuanmu menandakan bahwa ada rasa cinta untuk orang serpertiku ini. Bahkan aku dulu mengira kamu hanya terpaksa menikahiku karena uang."


Retha memanyunkan bibirnya. "Itu memang salah satunya, Mas ...." ia tak menyangkal. "Tapi, siapa yang bisa bertahan dengan pesona lelaki tampan seperti Mas Bara," ucapnya malu-malu sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu.


Bara mengembangkan senyum. Ia berusaha mengangkat wajah sang istri agar menatap wajahnya. "Kalau mau mengagumi suami, tatap mataku, Sayang ... Coba katakan sekali lagi," goda Bara.


Retha hanya menatap sekilas wajah Bara lalu kembali menyembunyikan wajahnya karena malu. "Sudah, Mas ... Aku jadi malu ...," protesnya.


"Kenapa malu? Ini suamiku sendiri, bisa dilihat kapanpun kamu mau." Bara menyukai sisi pemalu yang terkadang Retha tunjukkan. Wanita yang lugu dan lembut tersebut menjadi sosok istri idamam dan sempurna baginya.


"Mas ... Nanti apa yang akan kamu lakukan kepada Silvia? Katanya dia sedang hamil dan lelaki yang menghamilinya meninggal. Apa kamu akan kembali menjadi ayah bagi anak yang Silvia kandung?" tanya Retha.


"Tidak, Sayang. Aku tetap akan menceraikannya," ucap Bara. Kali ini ia akan membiarkan Silvia bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri. Jika dulu ia masih menutupinya dengan lapang dada, kali ini ia akan membiarkan Silvia menentukan langkahnya sendiri. "Mungkin langkahnya akan sedikit sulit, Silvia orang yang keras kepala dan belum bersedia menandatangani surat perceraian yang pengacaraku berikan. Kamu jangan terpengaruh dengan berita apapun tentang dia dan aku. Percaya saja, hanya kamu yang ingin aku jadikan sebagai istri."


"Sayang ...," panggil Bara.


"Hm?"


"Bagaimana dengan Kenzo? Kamu sudah tahu kalau dia bukan darah dagingku. Apa kira-kira kamu akan tetap bisa menyayanginya?" tanya Bara.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Mas ... Aku sudah terbiasa mengganggap anak orang lain seperti anak sendiri. Apa Mas Bara lupa kalau istrinya pernah menjadi seorang guru?" Retha ingin tertawa dengan pertanyaan Bara.


"Kalau begitu, aku tidak perlu khawatir. Meskipun dia tidak memiliki hubungan darah denganku, namun Kenzo yang telah menemani masa-masa tersulitku. Dia anak yang berharga untukku. Sebenci apapun aku pada kelakuan Silvia, aku tidak bisa membenci Kenzo yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku."


"Punya suami sebaik Mas Bara cukup menakutkan juga, ya! Aku takut banyak saingan," ucap Retha.


"Hahaha ... Siapa yang mau jadi sainganmu, Sayang? Aku tidak pernah bersikap lembut kepada lawan jenis selain kepada istriku yang ini." Bara membelai rambut panjang istrinya. "Tapi, kamu tidak perlu menceritakan tentang Kenzo kepada keluargaku, ya! Kita simpan saja semua ini sebagai rahasia."

__ADS_1


"Mas Bara tidak mengatakan tentang Kenzo kepada keluarga?"


"Belum. Dan aku rasa itu juga tidak perlu."


"Bagaimana kalau Silvia menginginkan Kenzo? Apa Mas Bara akan melepaskannya?"


"Kalau Kenzo mau, aku akan melepaskannya. Tapi, aku rasa Silvia tidak akan melakukannya. Dia tipe wanita yang tidak mau susah dan menderita. Sementara, mengasuh anak bukan perkara yang mudah."


"Keluargamu sangat baik, Mas ... Aku diperlakukan dengan baik saat ditolong karena pingsan."


"Ya, aku bersyukur sekali keluargaku yang menolongmu."


"Apa mereka kira-kira bisa menerimaku, Mas?" tanya Retha yang merasa ragu-ragu.


"Kalau mereka tidak menerimamu, untuk apa mereka memperlakukanmu dengan baik, Sayang?"


"Tapi, mereka seperti itu karena menganggapku sebagai guru Kenzo, bukan sebagai istrimu."


"Apa bedanya? Istriku seorang guru yang baik, bukankah itu sama saja? Kamu harus percaya diri bahwa orang lain akan memperlakukanmu dengan baik." Bara mencoba menguatkan Retha agar tidak rendah diri.


Ia menyibakkan rambut yang menutupi wajah Retha. Tatapannya begitu fokus kepada sosok cantik itu. "Sayang ...," panggilnya.


"Kenapa, Mas?" tanya Retha penasaran.


"Punyaku berdiri lagi," ucap Bara secara terang-terangan.


Retha sampai membelalakkan mata mendengarnya. "Mas Bara ...," rengeknya.


"Sekali lagi, ya ...," rayunya sembari memeluk kembali tubuh Retha. "Biaya sewa kamar ini lima puluh juta, sayang kalau tidak bisa dimanfaatkan dengan baik," ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2