
"Kamu hamil kok nggak pernah kelihatan muntah-muntah, Cit?" tanya Lilis dengan nada berbisik-bisik.
Citra tertawa kecil mendengar pertanyaan Lilis. Ia melanjutkan kegiatannya membereskan meja kerjanya sebelum pulang. File-file di komputer ia cek, tak lupa membuat back up data di flashdisk-nya.
"Aku juga tidak tahu kenapa tidak ada tanda-tanda kehamilan seperti itu. Padahal, sekarang sudah mulai memasuki trimester yang kedua."
"Kamu benar-benar tidak kelihatan seperti wanita hamil. Aku sampai meragukan kehamilanmu ini, Cit," gumam Lilis sembari memandangi perut Citra yang masih rata.
"Kapan-kapan ikut aku ke dokter kalau jadwal periksaku tiba."
"Nggak enak sama Pak Hendry ... Sungkan sama CEO sendiri." Saat Hendry masih menjadi manajer saja sudah membuat tegang apalagi sekarang telah menjadi CEO. Bisa mati berdiri Lilis kalau kelamaan dekat dengan Hendry.
"Oh, iya! Rasanya tinggal bareng CEO gimana sih, Cit? Beda nggak dia kalau di rumah sama di kantor?" tanya Lilis ingin tahu.
"Beda jelas beda, Lis. Di kantor dia kan atasan, kalau di rumah dia seorang suami," jawab Citra asal. Ia masih fokus pada berkas-berkas yang harus dibereskannya.
"Kenapa sih masih menyembunyikan pernikahan kalian? Kandunganmu nanti semakin besar, bagaimana kamu akan menjelaskan kepada yang lain kalau ada yang bertanya?"
"Aku akan resign sebelum mereka menyadarinya. Mungkin saat kandunganku sudah tidak bisa lagi disembunyikan." Citra sangat menyukai pekerjaannya. Namun, demi menjaga ketenangan perusahaan, ia akan mengundurkan diri jika saatnya telah tiba. Setelah memiliki anak tentunya ia harus lebih fokus mengurusnya di rumah.
"Aku sangat menantikan kelahiran anakmu, pasti bayinya nanti akan lucu kebule-bulean seperti ayahnya." Lilis menunjukkan binar mata kebahagiaannya.
Citra tersenyum. "Dari tadi kamu membahas tentangku terus. Kapan kamu membahas dirimu sendiri? Aku mau dengar juga ceritamu."
Lilis memanyunkan bibir. "Memangnya aku punya cerita apa? Ceritamu kan lebih seru!"
"Cerita tentang Akang Jaka misalnya? Katanya dia habis melamarmu tapi belum ada jawaban."
__ADS_1
"Dasar lelaki lemes!" lirih Lilis kesal. Ia bahkan tidak ada niatan untuk menceritakan hal itu kepada Citra. Ternyata, Jaka lebih dulu memberitahu Citra. "Aku juga tidak tahu mau menjawab apa. Sudah aku tolak berkali-kali dia belum kapok juga. Akhirnya aku bilang mau menjawab bulan depan setelah berpikir matang-matang dulu."
"Kenapa tidak diterima saja sih, Lis ... Akang Jaka itu menurutku benar-benar cinta mati padamu. Dia juga orang yang sangat baik."
"Semua lelaki selalu kelihatan seperti itu pada awalnya, Cit. Setelah ia berhasil mendapatkan wanita yang diinginkan, sering kali sifatnya berubah."
Perkataan Lilis menyadarkan pikiran Citra. Ia kembali pada masa lalunya yang menyedihkan. Dulu, ia juga menganggap Yoga lelaki terbaik di dunia. Nyatanya, lelaki yang ia cintai itu juga tega mengkhianati cinta sucinya.
"Maaf ya, Cit. Aku tidak sedang berusaha untuk menyinggung siapapun," ucap Lilis merasa berasalah setelah melihat perubahan wajah Citra.
"Tidak apa-apa, aku juga tidak merasa tersinggung!" Citra tertawa dan menepuk pundak Lilis. "Kalau aku tahu pernikahan pertamaku akan berakhir dengan buruk, mungkin aku juga akan memilih untuk menunda menikah sepertimu."
"Prinsipku, lebih baik ditertawakan karena belum menikah daripada tidak bisa tertawa setelah menikah," sambung Lilis.
Ucapan Lilis membuat Citra tidak bisa menahan tawanya. "Kamu ini benar-benar ya, Lis ... Ada-ada saja alasan kalau disuruh menikah."
"Kamu mau pulang bareng aku, Lis? Pak Hendry sudah menungguku di basement," kata Citra setelah melihat pesan yang masuk ke ponselnya.
"Kita jalan bareng ke basement saja. Aku tidak bisa ikut pulang denganmu karena ada urusan!"
Lilis menggandeng tangan Citra dan mengajaknya berjalan. Ia hanya mencari alasan saja agar tidak ikut satu mobil dengan Hendry. Ia takut dengan bosnya sendiri.
Setibanya di basement, mereka berpisah. Citra melihat keadaan sekitar. Setelah memastikan suasana sepi, ia baru masuk ke dalam mobil milik suaminya.
"Kamu lama sekali, Sayang. Apa hari ini banyak pekerjaan?" tanya Hendry yang sudah sekitar 15 menit menunggu di dalam mobil.
"Aku mempersiapkan bahan rapat untuk besok bersama Lilis," jawabnya sembari memasangkan sabuk pengaman di pinggangnya.
__ADS_1
"Ada sesuatu yang ingin kamu makan sebelum kita pulang? Aku akan mengantarmu membelinya." Hendry menawarkan jika istrinya menginginkan sesuatu. Ia heran tidak pernah mendengar istrinya merengek meminta sesuatu yang sulit didapatkan kepadanya.
"Mn, apa, ya? Aku tidak tahu. Masakan pelayan juga sudah sangat enak di lidahku," jawab Citra.
"Mungkin ada makanan yang kamu sudah sangay lama tidak memakannya? Bagaimana kalau kita mencari itu?" Hendry tidak menyerah untuk memancing Citra agar menyebutkan makanan yang ingin dimakan.
"Ada, sih ... Aku sudah lama tidak makan lumpia goreng Bu Hayati di jalan XXX. Apa kamu mau berputar mengantatku ke sana?" tanya Citra. Ia menyebutkan lokasi yang cukup jauh dari tempat mereka.
Hendry mengangguk. "Baiklah, asal itu keinginanmu, akan aku usahakan untuk mendapatkannya."
Hendry melajukan mesin mobilnya. Ia sempat melirik ke arah Citra yang tampak memandang kosong ke arah depan. Ia begitu heran kenapa sangat sulit mendapatkan tempat di hati wanita itu.
Hendry kira setelah mereka menikah, Citra akan secara otomatis bisa menerima dirinya. Ternyata, hal itu sangat jauh dari ekspektasi. Citra masih belum sepenuhnya melupakan masa lalunya.
Hendry bisa menyimpulkan hal itu karena akses menuju penjual lumpia yang Citra inginkan harus melewati kawasan perumahan yang pernah Citra tinggali bersama mantan suaminya. Bahkan, tatapan mata Citra tak bisa lepas saat mobil melewati rumahnya.
Hendry sengaja menghentikan mobil membiarkan wanita itu terus memandangi rumah yang sedang dirindukannya. Hendry merasa cemburu. Ia kadang berpikir apakah Citra hanya merindukan rumah itu atau malah merindukan penghuni di dalamnya.
Bahkan Citra terus memandangi rumah itu tanpa menyadari mobil yang ia naiki berhenti. Hendry merasa kesal.
Saat Yoga dan istri barunya keluar dari rumah itu, Citra tampak terkejut. Raut wajahnya berubah kurung memandangi Yoga menggandeng mesra tangan Ira yang sedang hamil itu.
Tak tahan melihat Citra terus seperti itu, Hendry menarik tangan wanita itu agar berpaling kepadanya. Dengan cepat ia memagut bibir Citra, membuat wanita itu sontak membulatkan mata terkejut.
"Sayang, apa kamu lupa kalau suamimu sekarang ada di sini? Apa aku harus mengingatkanmu setiap hari agar kamu tidak lupa? Aku suamimu, ayah dari bayi yang ada di dalam perutmu."
Ucapan Hendry membuat Citra tersadar. Ia merasa bodoh dengan apa yang baru saja ia lakukan.
__ADS_1