
Bangun tidur. Seperti biasa, Citra perlu menyingkirkan tangan dan kaki Hendry yang melingkar di badannya. Lelaki itu sudah berulang kali ia peringatkan agar tidak peluk-peluk saat tidur, namun selalu terulang setiap malam. Kalau ia kesal juga tidak ada gunanya. Hendry pasti akan menggunakan alasan klasik tidak sadar karena sedang tidur.
Hendry terlihat masih begitu lelap tertidur. Itu hal yang sangat bagus, Citra bisa bekerja dengan tenang tanpa gangguan dari lelaki itu. Ia melakukan tugasnya di akhir pekan untuk menyiapkan sarapan.
Usai memasak, ia mengganti pakaian dengan setelan olahraga. Menurut saran dari dokter, olahraga sangat baik untuk perkembangan janinnya. Meskipun perutnya masih kelihatan rata, usia kehamilannya sudah mencapai minggu ke-12.
"Selamat pagi, Mbak Citra ...," sapa salah seorang petugas kebersihan yang sedang membersihakan tempat sampah.
Citra mengulaskan senyum. "Pagi juga, Pak Norman! Hari ini kerja sendiri?" Citra menghentikan langkah menyapa sebentar pekerja yang biasa terlihat di lingkungan apartemennya.
"Iya ini, Mbak. Soalnya Diyon katanya sedang sakit," jawab Pak Norman. "Mbak Citra mau olahraga, ya?" tanyanya lagi.
"Iya, Pak. Biasa ... Mumpung libur. Saya lanhut olahraga lagi, ya!"
"Iya, Mbak! Selamat olahraga."
Citra melanjutkan lari santainya. Ia memang terbiasa untuk menyapa orang-orang yang ada di lingkungan apartemen sejak pindah ke sana. Lebih mudah mengajak bicara para karyawan dari pada para penghuninya. Bahkan jika berpapasan dengan sesama penghuni, kesannya mereka cuek dan tidak mau saling mengenal.
Apartemen tempat Citra tinggal terkenal dengan keindahan pemandangan danau dan lapangan golf. Tempat itu menjadi favorit hunian para pengusaha yang ingin mendapatkan tempat tinggal di pusat kota dengan fasilitas yang mewah. Unit apartemen yang Citra tinggali seharga 40 miliar. Harga itu masih lebih murah jika dibandingkan dengan penthouse, hunian di lantai teratas yang kabarnya dihargai 85 miliar.
Citra tidak pernah membayangkan sebanyak apa uang miliaran itu. Kalau dibandingkan dengan tabungannya bertahun-tahun untuk membangun rumah yang kini diambil alih oleh Yoga, rasanya tidak ada apa-apanya. Ia bagaikan sedang bermimpi bisa menjadi seorang istri pengusaha kaya.
Saat berlari di area sekitar danau, matanya menangkap sosok anak laki-laki yang sedang memanjat pagar pembatas antara jalan dan danau. Di sekelilingnya tidak ada orang sama sekali. Hatinya langsung merasa was-was apalagi anak itu menaiki pagar semakin tinggi.
Segera ia mempercepat langkah larinya menghampiri anak tersebut. Tanpa berkata-kata, ia raih tubuh anak itu yang hampir tersungkur jatuh ke bawah. Ia menghela napas lega bisa menyelamatkan anak tersebut.
"Kenzo ... Kenzo ...."
Citra menoleh ke arah suara. Tampak Retha sedang berlari ke arah mereka sembari memegangi perutnya yang telah membesar. Ia cukup terkejut bisa bertemu kembali dengan wanita itu di sana.
__ADS_1
"Aduh, Kenzo ... Sudah Mama bilang jangan main sendirian, bahaya!" ucap Retha dengan napas terengah-engah.
"Maaf, Ma. Soalnya mau lihat angsa berenang di danau!" Kenzo menunjuk ke arah danau dimana ada sekelompok angsa sedang berenang.
"Kamu ... Citra yang waktu itu di rumah sakit, kan?" tanya Retha memastikan. Ia sudah agak lupa karen cukup lama tidak bertemu."
"Iya. Tidak disangka kita bisa bertemu lagi di sini." Citra tersenyum kaku.
"Mama ... Aku mau main di taman!" pinta Kenzo.
"Oke, tapi jangan lari-larian jauh, ya! Mama kan sedang membawa adik bayi, capek kalau harus mengejar kamu terus ...."
Kenzo memandang perut Retha. Ia mengusap perut ibunya dengan lembut. "Adek, maaf ya ... Kamu jadi ikut capek!" ucapnya polos seraya kembali berlari ke arah taman.
Citra dan Retha turut berjalan mengikuti Kenzo ke arah taman bermain anak. Di sana, ada banyak anak-anak lain yang sedang bermain ditemani oleh orang tua mereka.
"Kamu tinggal di sini?" tanya Citra.
"Aku juga tinggal di sini," jawab Citra.
"Serius?" Retha tampak terkejut. Sebelumnya, ia belum pernah bertemu dengan Citra di kawasan apartemen tersebut. "Kenapa aku tidak pernah melihatmu di sini? Aku sering main di taman ini, juga ke pusat perbelanjaan di bawah," lanjutnya.
"Baru satu bulanan tinggal di sini. Aku juga tidak tahu kalau ternyata kita tinggal di satu kawasan apartemen."
"Katanya waktu itu kamu mau menghubungiku setelah meminta nomorku. Aku tunggu-tunggu, tidak ada kabar. Bahkan, aku coba telepon juga tidak aktif. Padahal, aku ingin sekali mengajakmu makan sebagai rasa terima kasih saat itu telah menolongku," ucap Retha.
Citra kembali tersenyum kaku. Setelah pertemuan itu, ternyata hidupnya menjadi semakin kacau. Ia yang awalnya antusias melakukan program mendapatkan anak, justru mendapati suaminya melakukan perselingkuhan. Ia sama sekali tidak terpikir lagi untuk menghubungi Retha. Bahkan nomor ponselnya ia ganti agar Yoga kesulitan menghubunginya.
"Ponselku hilang dan nomorku sudah ganti. Maaf, ya ...," ucapnya dengan raut wajah menunjukkan penyesalan.
__ADS_1
"Oh, begitu, ya ... Aku bisa memakluminya. Toh kita bisa bertemu lagi di sini, bahkan kita tetanggaan sekarang." Retha tersenyum senang mendapatkan teman. Sesekali perhatiannya tertuju pada Kenzo agar anak itu tidak menghilang lagi.
"Kamu tinggal di unit yang mana?" tanya Citra.
"Unit teratas di Tower Nakula. Kalau kamu?"
Citra tercengang mendengar Retha tinggal di bagian teratas Tower Nakula. "Kamu tinggal di penthouse?" tanyanya antusias.
"Em, iya ... Bisa dibilang seperti itu." Retha tampak kurang nyaman membahas unitnya tinggal. Ia takut dikatakan sedang pamer kepada orang.
"Ah! Kebetulan sekali aku sedang ingin tahu siapa yang menghuni bagian teratas Tower Nakula. Ternyata, aku bertemu dengan orangnya langsung." mata Citra terlihat berbinar-binar. Ia seperti baru saja mendapatkan kejutan yang luar biasa.
"Memangnya kenapa dengan penthouse di Tower Nakula? Apa ada cerita horor?" Retha jadi ingin tahu.
"Bukan seperti itu. Aku dengar unit terat punya harga paling tinggi dibandingkan dengan unit lainnya. Aku jadi penasaran seperti apa penampakan unit seharga 85 miliar itu," kata Citra sembari tersenyum.
"Kalau kamu mau, kapan-kapan mainlah ke tempatku. Kamu bisa melihatnya sendiri." Keinginan Citra mendapatkan respon yang positif dari Retha.
"Maaf, ya! Aku hanya bercanda!" Citra jadi merasa tidak enak hati.
"Kok malah bercanda, padahal aku berharap ada yang mau main ke tempatku. Soalnya aku tidak punya teman di sini." Retha terlihat sedikit kecewa.
"Maksudku bukan seperti itu, aku tentu saja mau main. Tapi, takut merepotkanmu." Citra semakin merasa tidak enak hati.
"Aku malah senang kalau ada yang mau main." Retha mengembangkan senyum.
"Kalau boleh tahu, anak lelaki tadi apa juga anakmu?" tanya Citra ingin tahu. Usia Retha masih terlalu muda untuk memiliki anak seusia Kenzo.
Retha mengangguk. "Dia anak sambungku, anak dari suamiku dengan istrinya yang dulu," ucapnya.
__ADS_1
Jawaban Retha sesuai ekspektasi Citra. Ternyata wanita itu juga menikahi seorang duda sama seperti dirinya.