Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Pudarnya Cinta


__ADS_3

Ira mengintip ke arah beranda samping. Di sana tampak Citra sedang sendirian duduk di teras memandangi taman yang sunyi. Ia menyunggingkan senyum merasa telah berhasil mencuri perhatian hari ini. Keluarga Yoga mengabaikan keberadaan Citra di sana.


Ia mendekati Citra, duduk di sampingnya untuk berpura-pura peduli. "Aku tidak bermaksud mengganggu acara makan malammu bersama keluarga Yoga. Aku tidak tahu kalau hari ini kalian ada acara. Kebetulan saja aku ingin main hari ini," katanya.


"Tidak apa-apa, itu bukan masalah besar," ucap Citra dengan enteng.


Ira agak sedikit kesal mendengar jawaban semacam itu. Ia berharap Citra akan menangis atau marah dengan perlakuan yang keluarga Yoga berikan. 'Apa dia sedang berlagak seperti malaikat? Bisa-bisanya dia tidak terpengaruh dengan semua ini?' batinnya.


"Aku rasa mereka agak sedikit keterlaluan kepadamu. Seharusnya kamu tidak sesantai ini menghadapinya." Seperti biasa, Ira melakukan hobinya untuk memancing emosi orang.


Citra hanya tersenyum. Terbiasa diperlakukan tidak baik sejak awal pernikahan, membuatnya jadi tidak kaget menghadapi situasi seperti tadi. "Memangnya apa pengaruhnya ucapan mereka barusan? Ibu dan Fira bisa berkata apapun tentangku. Aku tetap akan menjadi istri sah Mas Yoga. Dan kamu ... Juga hanya sebatas teman Mas Yoga saja, kan?"


Ucapan Citra begitu menusuk perasaan Ira. Diam-diam wanita itu sepertinya ingin menegaskan bahwa Ira tetap bukanlah siapa-siapa. Istri Yoga tetap Citra.


'Lihat saja nanti! Kamu pasti akan pergi dari sisi Yoga untuk selamanya,' ucap Ira dalam hati.


***


"Katanya mau menjalankan program, kenapa kamu masih mengizinkan istrimu mengambil kerjaan?" tanya Bara.


Malam ini keduanya menghabiskan waktu di sebuah bar menikmati minuman sembari mendengarkan live musik. Keduanya baru saja mengikuti rapat bersama calon investor baru yang berminat gabung dengan perusahaan milik Hendry.


"Istriku menyukai pekerjaannya. Tapi, setelah ini kemungkinan dia akan cuti panjang untuk persiapan memiliki anak."


Bara meneguk minumannya. Ia jadi teringat tentang Silvia. Pekerjaan wanita itu juga sama dengan Tatiana. Sebenarnya ia ingin mengingatkan Hendry untuk berhati-hati, namun ia sadar setiap orang punya prinsip yang berbeda dalam menjalankan pekerjaannya.


Mungkin Silvia memang wanita yang lain. Ia juga tidak ingin mengingat-ingatnya lagi. Apalagi membahas keburukan Silvia sama halnya dengan menggali kenangan pahit Kenzo, putranya. Ia hanya berharap nasib Hendry akan berbeda dengan dirinya. Mengingat Tatiana juga termasuk wanita yang baik dan sangat berbeda dengan Silvia.


"Sukses untuk programnya nanti ya, Hen!" Bara mengangkat gelasnya untuk menyemangati Hendry.


"Terima kasih, Bar." Hendry menempelkan gelasnya pada gelas Bara lalu meneguk habis isinya. "Tatiana juga sedang ada pekerjaan di kota ini. Nanti sekalian aku akan memberikan kejutan untuknya" ucapnya dengan binar kebahagiaan di matanya.

__ADS_1


"Tatiana pasti akan sangat senang melihatmu di sini."


Hendry tersenyum-senyum. Ia telah mempersiapkan satu buket bunga mawar dan sekotak perhiasan untuk istrinya.


"Kayaknya aku tidak bisa lama-lama menemanimu minum di sini. Aku akan mengunjungi Tatiana sekarang," ucao Hendry.


"Ya, pergilah!"


"Jangan banyak-banyak minum, Bar."


"Apaan sih, kamu ... Kita sejak tadi kan hanya minum moctail." Bara terkekeh dengan lelucon Hendry.


"Hahaha ... Jangan sampai salah ambil minuman, takutnya kamu tidak bisa pulang ke hotel."


Hendry pergi meninggalkan Bara sendiri di bar. Ia keluar menuju ke tempat parkir. Dipandanginya lagi buket bunga mawar besar yang tergeletak di jok belakang dan sebuah kotak berwarna merah di sampingnya. Ia lajukan mobilnya menuju ke tempat Tatiana menjalani syuting iklan.


"Selamat malam, Pak Hendry!" sapa salah seorang kru pembuatan film yang mengenalinya.


"Pasti ini untuk Tatiana, ya?" tanya salah seorang wanita yang bertugas mengurus kostum.


"Pak, kapan saya diberi bunga juga ...," rayu salah seorang di antara mereka.


Hendry hanya tersenyum dengan sambutan mereka. "Bisa aku bertemu dengan Tatiana?" tanyanya.


"Mungkin dia masih ada di lantai tiga ruang make up. Soalnya syuting juga baru selesai dan dia langsung naik," ucap Indi yang bertugas sebagai make up artis.


"Aku lihat tadi Tatiana bersama Manajer Jun, katanya mau membahas sesuatu. Mereka ada di ruang kostum lantai tiga," sahut Fiko yang merasa lebih tahu.


Hendry agak bingung juga mau menemui Tatiana di mana. Ia harap kejutannya akan sukses. "Terima kasih semuanya ... Aku harap jangan ada yang bocorkan hal ini, ya!" Hendry meminta semuanya merahasiakan rencananya.


Tentu saja mereka mau diajak kerja sama. Hampir semuanya terkesima dengan usaha Hendry memberi kejutan kepada istrinya. Mereka salut pengusaha sesibuk Hendry masih bisa menyempatkan diri memberikan kejutan untuk sang istri bahkan saat berada di luar kota.

__ADS_1


Hendy membawa bunga dan kotak perhiasan ke lantai atas menaiki lift. Sepanjang jalan ia sudah bahagia membayangkan raut wajah Tatiana yang pasti akan senang dengan kejutannya. Ia sengaja memilih mawar merah yang merupakan bunga kesukaan Tatiana.


"Hendry orang yang sangat baik. Aku merasa bahagia saat pertama kali dijodohkan dengannya. Dia lelaki yang peduli dan pengertian."


Sebelum sampai di tempat kostum, sayup-sayup Hendry dengar suara yang mirip dengan suara Tatiana berasal dari ruang perabot. Ia menghentikan langkahnya, mencermati kembali jika memang benar itu suara istrinya.


"Lalu, bagaimana keputusanmu." terdengar suara sahutan mirip suara Jun, asisten Tatiana.


"Entahlah! Aku sendiri bingung. Di satu sisi aku mencintainya, namun di sisi lain aku merasa hidupku selama dua tahun terakhir ini seakan tidak ada arti."


Hendry tidak yakin jika wanita itu adalah Tatiana. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, ia memiliki firasat yang aneh.


"Putuskan apa yang menurutmu paling baik, Tiana."


"Aku tidak tahu, Jun ... Sulit sekali rasanya. Hiks hiks!" terdengar nada bicara Tatiana diiringi tangisan.


Jun meraih tangan Tatiana dan menariknya ke dalam pelukan. Ia mencoba menenangkan artisnya yang tengah diliputi kesedihan.


"Aku merasa serba salah, Jun. Aku tidak tega meninggalkannya dalam kondisi seperti ini. Aku akan menjadi orang yang sangat jahat jika mencampakannya seperti ini. Tapi, aku juga menderita terus bertahan dengannya, Jun. Apa yang harus aku lakukan ... Aku tidak kuat menjalani hubungan sebagai pasangan suami istri yang tidak bisa seperti pasangan lain. Huhuhu ...." suara isak tangis Tatiana semakin terdengar keras. Punggungnya sampai bergetar oleh tangisannya.


Srak! Tuk!


Tatiana dan Jun saling melepaskan pelukan saat mendengar suara benda jatuh. Betapa terkejutnya mereka mendapati Hendry tengah berdiri di ambang pintu memandang ke arah mereka. Sementara, benda yang Hendry bawa dijatuhkan begitu saja ke lantai.


Tatiana terlihat sangat syok. Ia tidak menyangka jika Hendry akan ada di sana saat ini. "Honey, aku bisa menjelaskannya." Ia segera berdiri menghampiri Hendry.


Hendry mengangkat tangan kanannya, menyuruh Tatiana berhenti. Ia juga masih syok dengan apa yang baru saja ia dengar dan lihat.


"Honey ...," Tatiana memasang wajah bersalahnya.


"Aku belum bisa bicara denganmu sekarang. Beri aku waktu untuk sendiri!" ucap Hendry dengan nada bicara yang bergetar menahan kesedihannya. Ia tak bisa lagi berada di sana memandangi Tatiana.

__ADS_1


__ADS_2