Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Perjodohan


__ADS_3

Bara duduk termenung di dekat jendela sembari memandangi arus lalu lintas yang padat di kota. Orang tuanya sudah menghubungi agar ia pulang saja, namun ia menolak. Dengan kondisi seperti itu, ia masih ingin tetap bekerja.


Ibunya kembali meminta dirinya untuk segera menikah agar ada yang mengurusnya. Tiga tahun sudah berlalu, seharusnya ia bisa membuka diri untuk wanita lain. Hidupnya serasa tak lagi punya gairah setelah ditinggalkan Silvia. Hanya pekerjaan dan Kenzo yang menjadi prioritasnya. Sedangkan dirinya sendiri tidak diperhatikan kondisi kesehatannya.


Flash Back on


"Ma, aku titip Kenzo satu minggu, ya!" ucap Bara sembari menikmati makanannya di ruang makan.


"Kamu mau balik lagi ke luar kota?" Ibu Ratih memangku Kenzo yang sedang memakan spagetti kesukaannya.


"Iya, Ma. Pekerjaanku di sana masih belum selesai, baru juga dimulai. Harus sering-sering dicek supaya tidak ada kesalahan."


Proyek kali ini bisa dikatakan proyek terbesar yang peenah ditangani perusahaan Bara. Sebagai pengusaha muda, ia memulai usahanya merangkak dari bawah. Meskipun ayahnya juga punya usaha, namun ia lebih memilih merintis bisnisnya sendiri. Sementara, perusahaan ayahnya masih berjalan dibantu oleh Aryo, suami dari adik perempuannya, Mikha.


"Makanya, Kak ... harusnya kamu ikut mengurus perusahaan Papa saja bareng Mas Aryo. Gara-gara kamu sibuk kerja juga, kan, Kak Silvia jadi pergi!" ucap Mikha sembari menyuapi Eril, anak laki-lakinya. Sementara Gisel, anak perempuannya juga sedang lahap makan sendiri.


"Silvia itu pergi bukan karena itu. Dia memang orangnya ambisius, tidak mau patuh kepada suami. Lebih baik kamu lupakan saja dia, untuk apa dipikirkan orang yang sudah pergi!"


Ibu Ratih tampak tidak suka jika membahas tentang menantunya terdahulu. Ia begitu sakit hati mengetahui wanita itu sangat tega meninggalkan anaknya yang masih kecil. Ada penyesalan di hatinya kenapa dulu merestui mereka sampai ke jenjang pernikahan. Silvia memang sangat cantik, namun sifat keras kepalanya sulit untuk diubah.


"Ma, jangan bicarakan hal itu di sini!" pinta Bara. Ia tidak ingin Kenzo mendengar ada orang yang menjelek-jelekkan ibunya. Bagaimanapun juga, Silvia tetap seorang ibu yang baik untuk Kenzo.


"Kenapa sih nggak menikah lagi, Kak? Biar ada yang urusin, loh. Kasihan juga Kenzo mondar-mandir kamu tinggal terus. Atau kalau nggak, Kenzo aku adopsi saja jadi anakku, biar kamu sendirian terus!" gerutu Mikha. Sebagai tante, dia juga sangat menyayangi Kenzo seperti anaknya sendiri. Kalau Kenzo menginap di sana, ia akan tidur bersama Eril dan Gisel.


"Kalau mau nambah anak lagi, bilang sama Aryo. Kenzo itu jagoanku, tidak akan aku serahkan kepada siapapun." Bara cuek menyikapi perkataan adiknya. Baginya, Kenzo adalah segalanya. Ia bekerja keras juga demi Bara. Tidak peduli Silvia pergi, asalkan Kenzo masih ada bersamanya, ia masih kuat menjalani hidup.


"Bunda, aku sudah selesai makan. Aku mau main," ucap Gisel.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Taruh piringnya di tempat cuci piring. Hati-hati, ya!" Mikha tersenyum ke arah putrinya.


"Oma, Kenzo juga sudah makannya. Kenzo mau main bareng Gisel." Kenzo yang sangat menyukai Gisel selalu membuntutinya.


"Tapi makananmu belum habis, Kenzo," ucap sang nenek.


"Kenzo sudah kenyang!" Kenzo beringsut turun dari pangkuan neneknya dan berlari ke arah dapur mencari Gisel.


"Bunda, Eril juga mau ikut main!" Eril ikut-ikutan turun dari pangkuan ibunya dan berlari mengejar Kenzo.


"Mereka kalau bertiga bisa akur begitu. Apa kalau malam mereka susah tidur?" tanya Bara memperhatikan tingkah anak dan kedua keponakannya.


"Kalau sudah lelah main mereka langsung ketiduran, Kak. Tidak pernah tidur larut malam, kok. Kenzo juga tidak rewel, dia sepertinya senang tinggal di sini."


Bara hanya tersenyum. Mungkin Kenzo memang menginginkan sebuah keluarga yang utuh dan hangat. Sejak kecil, ia harus kehilangan sosok seorang ibu yang sangat dibutuhkannya.


"Ma, aku kan sudah bilang belum mau membahas tentang pernikahan. Aku belum butuh punya pendamping," kilahnya.


"Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu? Kamu tidak ada yang mengurusi, padahal pekerjaanmu begitu padat. Kalau kamu sakit bagaimana? Kalau tidak mau menikah, tinggal saja di rumah ini supaya mama yang mengurusmu!" Ibu Ratih meninggikan suaranya.


"Kantorku jauh dari sini, Ma." Bara menjawabnya dengan lemah lembut. Ia tidak ingin membuat ibunya marah ataupun sedih. Ia sadar bahwa sang ibu melakukan hal tersebut tujuannya demi kebaikannya. Akan tetapi, ia merasa belum bisa memulai hubungan dengan wanita lain.


"Makanya mama ingin mencarikanmu istri. Jangan mencari istri sendiri lagi, nanti kamu salah pilih. Biar ibu yang mencarikan untukmu, yang pasti bisa menjadi istri yang baik untukmu dan juga ibu yang baik untuk Kenzo. Punya latar belakang pendidikan yang baik juga keluarga yang terpandang."


N4fsu makan Bara hilang saat ibunya membahas hal tersebut. Ia tahu Silvia memang bukan berasal dari keluarga yang terpandang. Keluarga Silvia biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan keluarganya. Namun, yang membuat Bara salut, Silvia bisa sukses menjadi seorang model sehingga bisa mengangkat perekonomian keluarganya. Sekarang, ayah Silvia merupakan seorang pengusaha restoran yang cukup sukses di kota sebelah.


Ibunya agak keberatan saat Bara menyampaikan niatan menikahi Silvia. Selain karena Silvia seorang model yang banyak penggemar lelaki, keluarga Silvia juga menjadi pertimbangan Ibu Ratih untuk menerimanya sebagai menantu. Menurutnya, beda status sosial bisa berpengaruh pada pemikiran seseorang.

__ADS_1


Ucapan ibunya kini terbukti karena Silvia yang memilih meninggalkan keluarga. Memang, kondisi Bara saat itu belum terlalu sukses untuk ukuran pengusaha. Silvia tergolong wanita tidak sabaran menunggu suaminya sukses. Hidup prihatin merupakan hal yang wajar untuk orang yang awal-awal berumah tangga. Agaknya hal tersebut membuat Silvia tertekan karena terbiasa dengan pola hidup mewahnya.


"Kenalkan Bara dengan wanita yang waktu itu bertemu kita di pesta, Ma!" sahut Mikha.


"Anaknya Pak Rudy, ya?" tanya Ibu Ratih memastikan.


"Iya, Ma. Cocok kan, untuk menjadi calon istri Kak Bara?"


"Mama rasa sih cocok. Dia cantik, santun, dan sepertinya berpendidikan."


"Aku dengar dia belum menikah, Ma. Kabarnya dia sibuk kuliah sampai belum memikirkan menikah. Sudah selesai S3 dan meneruskan bisnis orang tuanya. Sekarang, dia sepertinya sesang mencari calon suami yang pas. Sepertinya Kak Bara masuk kriteria."


"Sayangnya kakakmu duda, apa kira-kira dia mau?"


"Pasti mau, Ma! Kak Bara kan duda berkualitas. Ganteng dan mapan. Pasti banyak yang mau lah, Ma!"


Bara berusaha cuek dengan perbincangan dua wanita di hadapannya. Ia tidak mau berkomentar karena sudah pasti ia akan kalah debat. Dimana-mana, wanita tidak peenah salah dan tidak mau disalahkan.


*****


Sambil menunggu update selanjutnya, mampir ke sini, ya!


Judul: Putri Cantik Tuan Reymond


Author: Zafa


__ADS_1


__ADS_2