
"Hai, ganteng ... mau senang-senang sama kita, nggak?"
Angga bergidik saat dua orang wanita mendekat dan mencoba merayunya. Melihat wanita berpakaian sangat minim itu bukannya membuat tertarik malah membuat takut. Ia bergeser mendekat ke arah Zack.
Muka polosnya sangat menarik perhatian wanita-wanita di sana. Mereka tertawa riang melihat respon Angga yang takut-takut saat mereka rayu.
Zack merasa ada beban berat di belakangnya. Ternyata, Angga menarik-narik pakaian belakangnya. Ia sudah mengira akan menyusahkan membawa anak kecil itu dengannya.
"Heh, kalian berhenti menggodanya, ya! Kalau mau menggoda, goda aku saja kapan-kapan," pinta zack.
"Kami sudah sering menggodamu, Zack. Kami ingin orang baru, apalagi yang imut seperti dia. Sekali-kali kami ingin jadi yang berkuasa di ranjang lelaki. Sepertinya dia butuh banyak pelajaran," ucap salah satu dari mereka dengan nada yang terdengar s3ksi.
"Sstt! Dia tidak suka wanita, jadi berhenti mengganggunya," celetuk Zack seraya menarik tangan Angga agar mempercepat langkah bersamanya menuju ruangan Tante Sukma.
"Jadi, apa yang kalian ingin bicarakan denganku?" tanya Tante Sukma.
Bara meletakkan hasil print gambar-gambar yang ia peroleh dari rekaman CCTV. Tante Sukma membuka dan melihat gambar-gambar tersebut.
"Apa ini?" tanya Tante Sukma yang sepertinya belum paham.
"Anak buah Tante sudah menculik adik temanku ini." Zack memperlihatkan potret ketiga pelaku yang lebih jelas agar Tante Sukma mengenalinya. Ia juga memperlihatkan foto plat mobil milik Tante Sukma yang mereka gunakan.
"Mereka ini memang kurang ajar! Sudah satu bulan mereka tidak pulang dan membawa kabur mobilku. Rupanya mereka menggunakannya untuk melakukan tindakan kriminal."
Zack dan Bara saling berpandangan. Keduanya seperti sudah tahu telah datang ke tempat yang salah.
"Jadi, Tante Sukma tidak tahu tentang gadis yang ada di foto ini?" tanya Zack memastikan.
"Tentu saja, Zack. Sekalipun aku memerlukan anak-anak baru, untuk apa juga aku menculik mereka? Tanpa aku menculik, mereka akan sukarela datang ke tempatku." Tante Sukma sedikit menyombongkan dirinya. Tempatnya memang selalu menjadi pilihan bagi wanita-wanita putus asa yang menginginkan uang banyak tanpa bersusah payah.
"Kalian punya masalah apa sampai mereka menculik gadis ini?"
"Kami tidak memiliki masalah apa-apa dengan mereka. Mungkin mereka saja yang mau mencari gara-gara."
__ADS_1
"Kalau kalian menemukan mereka, bantu aku menghajar ketiga orang sialan itu!" pinta Tante Sukma dengan geram. "Ambil kembali mobilku dan kalian bebas mau menghajar mereka sampai mati atau menjebloskan mereka ke penjara," ucapnya.
"Tentu saja, Tante. Sudah diberikan izin oleh tetua mereka, aku tidak akan sungkan menghajar mereka," ucap Zack. "Ayo, Bar! Kita pergi sekarang saja," ajaknya.
Bara sejak tadi terpaku memandangi wanita yang disebut Tante Sukma. Mengetahui istrinya dulu sempat masuk ke rumah itu, membuatnya ingin marah. Namun, jika diingat lagi, mungkin ia tidak akan bertemu Retha jika sang istri tidak masuk lebih dahulu ke tempat itu.
Bara bangkit dari duduknya mengikuti Zack meninggalkan kediaman Tante Sukma. Angga juga ikut-ikutan membuntuti mereka dari belakang. Ia berusaha menghindari tatapan dari para wanita yang ada di sana. Ia ingin segera meninggalkan tempat menyeramkan itu.
"Kamu tahu alamat rumah Aldo?" tanya Bara.
"Tentu saja. Biarkan aku yang menyetir!"
Zack mengambil alih kemudi mobil Bara. Gantian Bara duduk di samping Zack, sementara Angga tetap duduk di kursi belakang.
"Angga, apa kamu mau pulang sekarang? Aku takut orang tuamu akan mencarimu. Biarkan kami yang melanjutkan pencarian Edis," ucap Bara.
"Tidak perlu. Orang tua saya ada di luar kota. Saya tinggal sendiri di rumah," jawab Angga.
"Hm, susah juga zaman sekarang berkumpul satu keluarga. Masing-masing sibuk dengan urusannya, apalagi kalau sudah sampai berkaitan dengan bisnis," sahut Zack sembari melajukan mobil.
Ponsel Bara berbunyi. Ada telepon masuk dari Mikha.
"Kenapa?" tanya Bara.
"Retha tidak ada di rumah, Kak. Apa dia menghubungimu?"
Ucapan Mikha seakan menghentikan denyut jantung Bara. Belum selesai masalah Edis, kini Retha sepertinya ikut menghilang dari rumah.
"Kamu bicara apa? Coba cari yang benar! Mungkin Retha ada di kamarnya!" ucap Bara yang mulai panik.
"Tidak, Kak. Sore tadi Retha sepertinya terburu-buru pergi setelah mendapat telepon. Aku belum sempat mengejarnya tapi dia sudah lebih dulu naik taksi."
Bara memijit keningnya. Pikirannya terasa kacau apalagi mendengar Retha menghilang. "Apa kamu sudah mencoba menghubunginya?" tanyanya.
__ADS_1
"Sudah, tapi nomornya tidak aktif. Makanya aku menelepon Kakak karena khawatir sampai sekarang Retha belum kembali."
"Ya sudah! Kamu tunggu saja, siapa tahu Retha akan pulang. Kalau dia sudah pulang, langsung kabari. Aku juga akan mencarinya."
"Baik, Kak."
Bara langsung mencoba menghubungi nomor Retha. Seperti yang Mikha bilang, nomor Retha tidak bisa dihubungi. Ia telah mencoba beberapa kali tapi hasilnya tetap sama, tidak tersambung.
Bara menyimpan kembali ponselnya. Ia menggigit bibirnya sendiri saking khawatir terhadap sang istri. Retha tengah hamil muda, ia takut wanita itu akan nekad menghadapi bahaya sendiri.
"Kenapa dengan Retha, Bar?" tanya Zack yang sedikit mendengar percakapan Bara di telepon.
"Dia pergi dari rumah tanpa pamit," ucap Bara dengan nada lemas.
"Apa?" Zack ikut khawatir dengan Retha. "Bagaimana ini? Apa kita akan terus mencari Edis atau beralih mencari Retha?" tanyanya.
"Tolong temukan Edis dulu!" sahut Angga dari belakang. Bara dan Zack terkejut dengan keberaniannya berbicara.
"Kalian sudah tahu di mana posisi Edis, bukankah lebih baik diselesaikan sebelum mereka memindahkan Edis ke tempat yang lain?" ucap Angga dengan nada sungkan. Tidak seharusnya ia memerintah orang yang jauh lebih tua darinya bahkan hampir seusia dengan ayahnya.
"Bagaimana ini, Bar? Dia mau cepat menemukan pacarnya," Zack jadi bingung sendiri mengemudikan mobilnya. "Aku khawatir dia berurusan dengan Silvia atau Thea. Dua wanita ular itu sangat berbahaya."
Bara masih memijit keningnya, menimbang-nimbang hal yang seharusnya ia lakukan. "Kita cari Edis saja dulu," katanya.
Zack hampir tidak percaya dengan keputusan Bara. "Kamu yakin, Bar?"
"Tujuan kita memang untuk mencari Edis, jadi kita lakukan saja itu. Setelahnya, kita bisa mencari istriku."
Meskipun ia sangat mengkhawatirkan Retha, ia juga peduli kepada Edis. Apalagi Retha sendiri yang memintanya untuk mencari Edis sampai ketemu.
Sesekali Zack melirik ke arah Bara yang sangat kelihatan resah. Ia merasakan bersyukur belum menikah. Ternyata, menikah memang merepotkan seperti yang dibayangkannya. Komitmen dengan wanita hanya membuat hubungan menjadi rumit. Lebih baik hidup sendiri tanpa harus memikirkan anak dan istri seperti dirinya.
***
__ADS_1
Sambil menunggu update berikutnya, bisa mampir ke karya teman author, ya! 😘