Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Meluapkan Emosi


__ADS_3

Maaf sudah membuat kalian menunggu. Author memang sedikit sibuk, ya 😘





Tangisan Retha pecah ketika ia baru keluar dari kawasan apartemen Bara. Dengan langkah kaki yang gontai dan deraian air mata, ia berjalan menuju ke arah halte bus. Rasa sesak di dadanya sudah tidak tertahankan lagi, ia sungguh merasa sangat sedih.


Sebesar apapun cintanya kepada Bara, mengetahui dirinya diduakan serta hanya menjadi cadangan membuat Retha merasa terpukul. Kebahagiaan yang baru saja ia reguk bagaikan fatamorgana belaka. Pernikahannya belum berlangsung lama dan kini telah terjadi prahara besar.


Langit seakan mengerti kondisi hati Retha. Titik-titik hujan mulai turun dan lambat laun semakin deras. Retha mempercepat langkah dengan berlari sampai akhirnya tiba di halte yang sepi. Ia duduk sembari mengibaskan tetesan hujan yang mengenai tubuhnya.


Sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Kaca mobil perlahan terbuka menampakkan wajah Bara yang ada di dalam. Retha sengaja membuang muka pura-pura tidak melihatnya.


"Retha, masuk!" pinta Bara dari dalam mobil. Retha tampak tak mau menggubris keberadaannya. "Retha, masuk dulu! Kita pulang dan bicara!" serunya lagi. Retha tetap saja bergeming.


Dalam kondisi hujan yang cukup deras, terpaksa Bara keluar dari mobilnya menghampiri sang istri yang matanya terlihat sembab akibat menangis. Lelaki itu berlutut di hadapan Retha, menggenggam tangannya seraya memandangi wajah sendu itu.


"Bajumu basah, hawanya juga dingin. Kita pulang dulu, ya?" bujuk Bara dengan nada selembut mungkin.


"Aku masih butuh waktu sendiri, Mas. Tolong tinggalkan aku. Kembalilah kepada keluargamu itu." Air mata kembali meleleh di pipi Retha. Berhadapan dengan Bara membuatnya semakin merasa sakit. Memang benar apa yang orang katakan jika jatuh cinta bisa menyebabkan luka. Meskipun tujuannya menikah dulu demi finansial keluarga, namun lambat laun perasaan cinta tumbuh di hatinya.


"Kamu juga keluargaku, kamu istriku. Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian di tengah hujan lebat seperti ini."


Retha rasanya ingin tertawa. "Kamu pasti senang ya, Mas, punya dua istri. Kalau memang posisiku sudah tidak dibutuhkan lagi, bilang saja terus terang biar aku bisa segera pergi!" ucapnya.


"Aku bisa menjelaskan semuanya, kamu harus mendengarnya dengan baik supaya tidak ada kesalahpahaman. Aku sangat mencintaimu, Sayang ...." Bara menyibakkan rambut yang terurai menutupi wajah cantik itu.

__ADS_1


"Mas Bara juga masih mencintai Silvia, kan? Kayaknya memang posisiku hanya sebagai selingan di kala Mas Bara kesepian saja. Itu namanya bukan cinta, Mas, tapi n4fsu!"


Amarah Bara terpicu. Ia sudah tidak sabaran memakai cara yang halus untuk membujuk Retha. Dengan sigap ia mengangkat tubuh Retha di bahunya.


"Mas Bara! Turunkan aku!" Retha berusaha memberontak. Bara seperti orang gila yang membawanya dengan cara paksa. "Mas! Lepaskan aku!"


Bara tak menggubris permintaan Retha. Ia membawa sang istri ke arah mobil dan memasukkannya ke dalam seraya mengikatkan sabuk pengaman. Dengan gerakan yang cepat Bara beralih ke sisi sebelah kemydi dan langsung mengunci pintu samping.


"Turunkan aku!" Retha berusaha membuka pintu mobil yang terkunci.


Tak memberikan kesempatan untuk Retha, Bara menghidupkan mesin dan menginjak pedal gas mobilnya. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi di tengah guyuran hujan. Tatapannya lurus ke depan seakan sedang meluapkan kemarahannya.


"Mas, kamu sudah gila? Ini sangat bahaya. Pelankan mobilnya, Mas!" Retha sampai memegang pegangan yang ada di sisi atas jendela saking takutnya dengan cara Bara berkendara. Mobil itu berjalan secara ugal-ugalan menerobos derasnya hujan serta jalanan yang cenderung sepi.


"Mas Bara!" teriak Retha. Ia memegangi dadanya yang sakit.


Bara masih sama. Dengan amarah yang belum mereda hanya terpaku menatap ke depan meskipun memberikan kepeduliannya kepada Retha dengan menghentikan mobilnya.


"Kamu kok begini sih, Mas? Bahaya sekali kalau menyetir dalam kondisi marah. Seharusnya aku yang marah kepada jadi Mas Bara yang marah?" Retha benar-benar heran dengan kelakuan suaminya.


"Kamu sendiri yang tidak memberikanku kesempatan membela diri. Kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku," kilah Bara.


"Apa yang aku lihat tidak menjelaskan segalanya? Mas Bara membiarkanku menunggu sejak makan siang, membuat aku khawatir, tiba-tiba aku tahu kamu sedang bersama Kenzo dan istri lainmu! Apa aku tidak berhak marah, sedih, dan kecewa?" Retha berbicara dengan nada sedikit tinggi.


"Itu tidak menjelaskan apa-apa!" bantah Bara dengan nada tak kalah tinggi. Retha langsung terdiam. "Kalau kamu tetap tak mau mendengarkan aku, lebih baik kita mati berdua malam ini."


"Kamu gila, Mas!"


Bara kembali menginjak pedal gas. Kali ini ia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi namun tidak terlalu mengebut seperti sebelumnya. Retha terus berpegangan, takut mobilnya kembali oleng. Sementara, Bara hanya fokus pada memudinya.

__ADS_1


Hujan yang mengguyur tampaknya semakin deras dan tidak ada tanda-tanda akan reda. Sesekali terlihat kilat yang menyambar-nyamar. Untunglah mereka berada di dalam mobil sehingga tidak mendengar suara petir.


Setibanya di basement apartemen, Bara segera membukakan pintu agar Retha keluar. Tangan wanita itu ia genggam erat seakan tak ingin wanita itu lepas darinya. Dengan langah yang sedikit memburu, ia terus berjalan menuju unit apartemen yang ia berikan pada Retha. Sesampainya di dalam, pintu langsung ia kunci.


Retha diajak masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa berbasa-basi, ia menyalakan shower air hangat dan memaksa Retha berada di bawahnya. Keduanya sama-sama basah oleh guyuran air shower.


"Mas!" Retha mencoba melepaskan dirinya dari sang suami, namun Bara terus menahannya.


"Kamu baru saja kena air hujan, sebaiknya mandi supaya tidak masuk angin." Bara tetap kukuh pada kemauannya.


Bara melucuti pakaian basah yang melekat di tubuh Retha. Dengan segenap kasih sayangnya, ia belai secara lembut tubuh mulus itu. Kekesalan Retha seakan tak berarti, wanita itu menjadi lemah ketika sang suami mulai menyentuhnya dengan penuh kasih sayang.


Saat tubuh mereka telah polos tanpa sehelai kain yang membasahi, kucuran air begitu leluasa membasuh tubuh mereka. Keduanya memagutkan bibir, sembari tangan yang saling meraba hingga memunculkan gairah di sela-sela pertengkaran mereka.


Kemarahan telah berubah menjadi hasrat s3ksual yang membara. Keduanya seolah lupa beberapa saat yang lalu masih saling memaki. Kini yang ada keinginan untuk selalu dekat dan bersatu.


Adegan mandi yang seharusnya menjadi momen biasa berubah menjadi momen panas penuh gairah. Dimana suara erangan serta des4han napas keduanya bersahutan. Tak ada pembicaraan yang terjadi di antara mereka. Hanya perbuatan mereka yang telah menjelaskan berapa besar rasa cinta di antara keduanya. Retha mencintai Bara, begitu pula Bara yang juga mencintai Retha.


*****


Sambil menunggu update berikutnya, tolong luangkan waktu sejenak untuk mampir ke karya ini, ya. Berikan support untuk teman author dengan membaca karya berikut 😘


Judul: Nothing is Perfect


Author: Penikmat_Senja



__ADS_1


__ADS_2