Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Kelahiran Baby Janu


__ADS_3

Hendry merasa heran Citra mau menggandeng lengannya saat mereka tiba di rumah sakit tempat Retha melahirkan. Istrinya benar-benar jadi suka menempel padanya tidak seperti sebelumnya.


"Sayang, kamu kok akhir-akhir ini jadi manja, juga penurut. Setiap hari kelihatan bahagia, sebenarnya ada apa?" tanya Hendry sembari melangkah bersama sang istri memasuki lobi rumah sakit.


"Memangnya tidak boleh?" Citra bergelayut manja kepada Hendry.


"Tentu saja boleh ...."


Citra yang jutek saja selalu membuat Hendry meleleh apalagi jika wanita itu yang bermanja padanya. Seakan ingin rasanya ia berbalik badan membatalkan kunjungan ke tempat Retha dan membawa Citra pulang kembali ke apartemen. Ia lebih baik menghabiskan waktu bersama di atas ranjang dari pada pergi-pergi.


"Aku hanya takut kalau istriku yang satu ini ada maunya."


Hendry membawa Citra memasuki lift yang akan mengantar mereka ke lantai teratas tempat Retha dirawat.


"Sudah jelas ada maunya, mau disayang dan dimanja ...," ucap Citra.


Biasanya, menggombal adalah tugas Hendry. Kali ini, Hendry sendiri yang mendapat gombalan setiap hari dari sang istri.


Dengan membawa satu buket bunga mawar cukup besar di tangan, mereka masuk ke ruang perawatan Retha dan bayinya.


"Wah, lihat, siapa ini yang datang ...." Bara langsung menyapa saat Hendry membuka pintu. Lelaki itu tampak sedang menggendong bayinya di sebelah Retha yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Retha ... Selamat atas kelahirannya ...," ucap Citra antusias. Ia memeluk erat temannya itu dengan perasaan bahagia.


"Terima kasih sudah mau datang," ucap Retha.

__ADS_1


"Citra, kamu mau menggendong bayinya?" tanya Bara.


"Boleh."


Bara memindahkan anaknya ke gendongan Citra secara hati-hati. Ia mengajak Hendry untuk berbicara bersamanya di ruang tamu yang agak jauh dari istri-istri mereka.


"Namanya siapa?" tanya Citra sembari menatap kagum pada bayi lucu yang ada di pangkuannya. Bayi laki-laki itu tampak tidur dengan tenang.


"Namanya Januar, tapi panggilannya Janu," jawab Retha.


"Lucu juga namanya. Cocok sih dia imut!" Citra memegang pelan pipi Janu yang empuk dan halus itu. Sang bayi tampak tidak terganggu dengan kelakuan Citra.


"Kamu kapan perkiraan lahiran?" tanya Retha.


"Sekitar 4 bulanan. Ini baru 22 minggu."


"Kamu sama sepertiku, ya! Hamil anak pertama tidak terlalu kelihatan besar perutnya. Bahkan, badan kita tetap kecil. Nanti kalau sudah melahirkan sudah kembali kecil lagi sepertiku."


Citra jadi tidak sabar menantikan kelahiran putrinya. Ia juga ingin menimang anaknya sendiri seperti menimang Janu. "Kata dokter memang perkembangan besar perut saat kehamilan pertama lebih lambat karena otot-otot perut ibu masih kencang dan belum pernah melebar sebelumnya. Semakin sering melahirkan nanti akan semakin cepat melar di kehamilan berikutnya."


"Aku sudah punya dua anak cowok, kayaknya bakalan pas kalau tambah satu anak cewek. Kalau kamu sendiri mau punya berapa anak?" tanya Retha.


"Aku sudah punya anak banyak. Kalau masih diberikan anak berapapun itu, aku akan mensyukurinya."


Retha sempat keheranan mendengar ucapan Citra. "Ah, maksudmu anak-anak di panti, ya!" Retha baru nyambung kalau yang dimaksud merupakan anak panti yang sudah Citra anggap sebagai anaknya sendiri.

__ADS_1


Citra tertawa karena telah berhasil membuat Retha bingung. "Ngomong-ngomong, katanya kamu lahiran caesar, kan? Tapi, kok kelihatannya sehat-sehat saja ... Bisa duduk begini. Memangnya tidak sakit?" Citra cukup banyak mendengar cerita dari orang-orang yang mengalami proses kelahiran caesar. Katanya, tubuhnya terasa sakit untuk digerakkan. Namun, Retha seperti orang lahiran normal.


"Dokter Ester menyarankan aku melakukan caesar dengan metode ERACS, makanya cepat pemulihannya dari pada proses caesar biasa. Beberapa jam setelah lahiran langsung bisa joget-joget kalau mau."


"Memangnya tidak sakit?" Citra ngilu sendiri membayangkan proses operasi tersebut.


"Sakit ya tetap ada ... Namanya juga badan diiris-iris," ujarnya. "Tapi, rasa sakitnya lebih minim dan proses penyembuhannya juga lebih cepat. Kita bisa segera beraktivitas seperti biasa."


"Kenapa sampai caesar?" tanya Citra. Sebagai calon ibu yang nantinya akan melahirkan juga, ia tengah mencari berbagai informasi agar nantinya siap untuk melahirkan.


"Karena CPD! Capek deh ... Hahaha!" Retha malah bercanda.


"Kamu kelelahan?" tanya Citra heran.


Retha sampai menahan tawa karena Citra menganggapnya serius. "Nggak, CPD itu maksudmu Cephalopelvic Disporpotion, alias panggul kecil. Bayiku ukurannya lebih besar dari jalan lahirnya makanya mau tidak mau harus dilakukan kelahiran secara caesar."


"Tetap sempit dong yang di bawah ... Ayahnya Janu pasti senang. Dua bulan lagi pasti dihamili lagi," canda Citra.


"Hahaha ... Mitos begitu sih yang membuat banyak wanita sekarang memilih untuk melakukan caesar. Kalau aku sendiri, seandainya bisa normal juga akan tetap memilih normal."


"Dokter Ester juga bilang begitu. Jalan lahir bayi itu sifatnya elastis, setelah melahirkan juga akan kembali ke bentuk semula," ujar Citra menguatkan perkataan Retha.


"Ini ... kenapa kalian hanya berdua menjaga Janu di ruangan? Apa kamu tidak mengajak baby sitter untuk membantu?" sejak Citra datang, tidak ada orang lain lagi yang masuk selain Citra dan Hendry. Bahkan, Bara yang menggendong ananya sendiri.


"Mereka sedang makan siang. Waktu kalian datang, mereka belum lama pergi. Kasihan kalau mereka kelelahan jadi gantian dengan Mas Bara untuk menjaga Janu."

__ADS_1


Citra terkagum-kagum dengan kekompakan Retha dan Bara sebagai orang tua baru. Ia berharap dirinya dan Hendry juga bisa melakukan hal yang sama untuk calon anak mereka.


__ADS_2