Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Wanita Mandul


__ADS_3

"Terima kasih, Sayang." Yoga mengecup pipi Citra yang sedang sibuk mengeringkan rambut.


Wanita itu tersenyum namun seperti ada beban yang tersimpan di hatinya. Entah mengapa ia tidak terlalu suka berhubungan s3ksual dengan suami. Kadang ia merasa sebagai wanita yang aneh. Apa sisi menyenangkan dari kegiatan itu? Menurutnya hanya lelaki yang gemar melakukannya.


Selama tiga tahun menikah, ia selalu merasa kesakitan setiap berhubungan. Saat ini, bagian intinya pun masih perih. Namun ia tak pernah mengatakan kepada sang suami yang terlihat bersemangat saat melakukannya. Ia hanya bisa pasrah membiarkan sang suami mendapatkan kepuasannya. Lagipula, Yoga sosok suami yang baik dan tidak pelit kepada istri. Berkorban sedikit untuk suami yang dicintainya adalah yang yang sangat mudah.


"Selamat makan, Tuan, Nyonya ...," Sindir Yanti ketika anak dan menantunya keluar dari kamar.


Wajahnya nampak kesal saat menata makanan di atas meja makan. Ia menghabiskan waktu sendirian memasak semua hidangan tanpa bantuan sang menantu. Bahkan dengan santainya ia keluar kamar dengan dandanan yang rapi seperti seorang majikan. Tidak ada sopan-sopannya perilaku menantu terhadap mertuanya.


"Ibu ... kenapa repot-repot memasak segala? Yoga mau ajak Ibu makan di luar bareng Citra," ucap Yoga. Dia tidak menyangka jika selama aktivitasnya di dalam kamar, ternyata ibunya sudah memasakkan banyak makanan untuk mereka.


"Hah ... sudah Ibu duga. Saking malasnya istrimu pasti setiap hari kalian harus makan di luar. Pantas sampai sekarang kehidupanmu tidak ada kemajuan. Dapat istri tukang ngajak boros!" gerutu Yanti.


Yoga memandangi istrinya yang diam dan menunduk saja dengan perkataan ibunya. Ia meraih dan menggenggam tangannya seakan memberi isyarat bahwa dia selalu membelanya.


"Citra cukup sering masak kok, Bu. Membuat sarapan dan makan malam. Sesekali masa nggak boleh makan di luar? Lagipula kami kan sama-sama bekerja." Yoga berusaha membantah tuduhan ibunya dengan nada yang lembut.


"Sudah! Sudah! Lebih baik kita makan sekarang. Ibu memasakkan semua makanan kesukaanmu. Sini, duduk!"


Yoga mengajak istrinya untuk ikut duduk di meja makan. Sebenarnya Citra sudah sangat tidak nyaman berada dalam situasi semacam itu. Namun, demi menjaga perasaan sang suami ia menahan diri dan ikut duduk bersama ibu mertuanya.


Yanti sangat menyayangi putra sulungnya. Ia tampak bahagia saat mengambilkan nasi dan lauk untuk Yoga. Keberadaan Citra di sana seakan tidak dianggap. Wanita paruh baya itu hanya memperdulikan tentang Yoga.


"Yoga, kalau ada waktu, ajak istrimu memeriksakan diri ke rumah sakit."


Ucapan Yanti membuat selera makan Citra hilang. Makanan yang ibu mertuanya buat sebenarnya sangat enak, namun terasa hambar di mulutnya. Ia sudah tahu kemana arah pembicaraan itu.

__ADS_1


"Memangnya Citra sakit apa? Kenapa harus ke rumah sakit segala? Ibu aneh-aneh saja." Yoga terkekeh dengan ucapan ibunya. Istrinya termasuk wanita yang sehat, ia sangat jarang sakit. Sekalipun sakit, paling hanya batuk pilek biasa yang akan sembuh dua tiga hari setelah minum obat.


"Ibu curiga kalau istrimu itu mandul."


Tawa yang menghiasi wajah Yoga seketika lenyap. Akhirnya ia tahu kenapa tadi istrinya bisa sampai menangis tersedu-sedu. Pasti ibunya membahas lagi tentang keturunan.


"Ibu, kami masih muda. Biarkan kami menikmati masa-masa berdua dulu sampai puas sebelum nanti memiliki anak."


"Masih muda? Usia kalian sudah 29 tahun. Sebentar lagi sudah kepala tiga, apa tidak terlalu telat untuk memiliki anak? Fira, adikmu yang belum lama menikah sudah melahirkan anak. Seharusnya kamu sebagai anak pertama yang memberikan cucu pertama untuk Ibu!" Saking kesalnya Yanti sampai membandingkan rumah tangga putranya dengan tumah tangga anak keduanya.


"Tapi kan Fira hamil duluan sebelum menikah, Bu," celetuk Citra. Lidahnya tidak tahan lagi untuk membalas kekejaman mulut sang mertua. Tentu saja hal itu membuat Yoga kaget. Lelaki itu menepuk pelan paha istrinya.


Sementara, Yanti murka merasa sedang dihina oleh sang menantu. "Lihat kelakuan istrimu! Dia berniat menjelek-jelekkan keluarga kita."


"Sudah, Bu ... Citra tidak bermaksud seperti itu." Yoga berusaha menjadi penengah.


Yoga pusing sendiri mendengar ocehan ibunya. Makanan yang semula enak jadi tidak enak. "Iya, Bu. Iya ...." Ia sudah sangat malas berada di sana sampai mengiyakan saja apa yang ibunya mau agar cepat selesai.


"Maaf, Bu," lirih Citra. Ia mencoba tetap melanjutkan makan, menghabiskan makanan yang tersisa di piringnya.


"Masih lebih baik adikmu, Fira, setidaknya dia sudah terbukti tidak mandul. Daripada istrimu sendiri yang sampai sekarang masih belum bisa hamil." Yanti memberikan lirikan mengejek ke arah menantunya.


Citra terkadang merasa bingung. Entah mengapa wanita-wanita yang masih berpacaran sangat gampang sekali untuk hamil. Sementara, wanita yang telah lama menikah sampai belasan tahun belum juga dikaruniai anak.


"Kalau dia belum bisa hamil juga, kamu bisa mulai memikirkan untuk menikah lagi."


Citra membelalakkan mata mendengar ucapan mertuanya.

__ADS_1


"Ibu!" bentak Yoga. Dia rasa ucapan sang ibunda sudah kelewatan dan sangat menyakitkan untuk Citra.


"Kenapa? Aku tidak sedang menyuruhmu menceraikan dia. Memiliki lebih dari satu istri itu hal yang sangat wajar, apalagi kalau istrimu tidak bisa melahirkan keturunan."


"Ibu sudah terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga kami, tolong berhenti!"


"Apa kamu mau bilang ibu tidak berhak melakukan hal ini? Aku ... ibu kandungmu! Orang tuamu! Masalah keturunanmu adalah masalah buat ibu juga, Yoga!" Suara Yanti tak kalah meninggi.


Acara makan malam itu akhirnya jadi kacau. Citra yang begitu merasa sakit hati berlari pergi sambil menahan tangis. Sementara, Yoga masih tetap bertahan di sana dengan wajah penuh marah yang tidak bisa ia lampiaskan kepada wanita yang sangat ia hormati dan sayangi.


"Tidak bisakah Ibu menjaga perasaan Citra? Dia istriku, Ibu ... seorang wanita asing yang sudah aku ambil dari walinya dengan cara terhormat. Dia yang selama ini mengurus putramu ini, menemaniku dari yang tidak punya apa-apa sampai bisa di tahap yang sekarang."


Yanti membuang muka seakan tak mau mendengarkan penjelasan yang dikatakan oleh Yoga. "Kamu ingin pamer kesuksesan kepada Ibu? Pekerjaanmu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Kris, adik iparmu. Dia sudah menjadi manajer di perusahaan besar yang gajinya juga jauh lebih tinggi darimu. Itu karena dia pintar, memilih adikmu sebagai istri, makanya dia bisa sukses."


"Beda denganmu yang lebih memilih wanita tidak jelas asal-usulnya. Wanita miskin yang tidak setara dengan keluarga kita. Bukannya membantumu sukses malah hanya menjadi beban untukmu."


Yoga memijit keningnya yang pusing. "Cukup, Bu."


"Kamu bisa tetap mempertahankan dia sebagai istrimu. Tapi, Ibu tetap akan mencari wanita yang tepat untuk melahirkan keturunanmu."


***


Sambil menunggu update berikutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author 😘


Judul: Jerat Hasrat Kakak Ipar


Author: Lady MerMad

__ADS_1



__ADS_2