
Kebahagiaan sedang meliputi kehidupan Retha. Selama liburan di Italia, ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Memiliki sosok suami yang tampan, penyayang, serta kaya raya yang diidam-idamkan oleh banyak orang kini telah dicapainnya.
Menaiki perahu gondola yang berjalan perlahan di atas sungai Kota Venesia, ia menyandarkan tubuhnya pada dada Bara. Lelaki itu memeluknya dengan mesra. Hari-hari mereka lewati dengan kemesraan, terutama saat malam hari. Jangan ditanya lagi seperti apa aktivitas mereka saat malam.
Bara selalu punya semangat yang menggebu-gebu setiap kali menikmati waktu tidur dengan istrinya. Tidak ada yang namanya tidur awal sebelum menghabiskan waktu beberapa jam untuk bertukar peluh dan kenikmatan. Seakan ia tak pernah bosan untuk menggauli istrinya. Retha dibuat terbiasa dengan rasa lelah hanya dengan terbaring di atas ranjang. Semangat suaminya sungguh luar biasa. Ia hanya memiliki waktu saat siang untuk bisa jalan-jalan di luar. Saat malam tiba, tubuhnya adalah milik Bara.
Venesia merupakan salah satu kota di Italia yang dikenal sebagai kota air. Kota ini dikelilingi oleh air dan beberapa kanal. Tak heran jika Venesia memiliki beberapa julukan, antara lain City of Water dan City of Bridges. Cara paling romantis untuk berkeliling Venesia yakni dengan perahu gondola seperti yang Bara dan Retha lakukan saat ini.
"Sayang, apa kamu pernah mendengar mitos terkenal di tempat ini?" tanya Bara sembari menciumi pipi Retha yang berada di pangkuannya. Orang yang menjalankan gondola bahkan tidak ia anggap ada saking sedang asyik-asyiknya berbucin ria.
"Mitos apa, Mas? Aku kan baru satu kali ini datang ke Venesia." Retha merasakan nyaman berada di pelukan Bara. Agenda bulan madu mereka benar-benar membuatnya semakin mencintai lelaki itu.
"Di sini ada mitos yang beredar, kalau ada pasangan berciuman di bawah Jembatan Sospiri saat matahari terbenam dan saat lonceng di St. Mark Campaline berbunyi, maka cintanya akan diberkahi."
"Memangnya Mas percaya dengan mitos seperti itu?" tanya Retha.
"Tidak juga. Aku hanya mencari alasan saja untuk bisa menciummu," ucap Bara.
"Mas Bara ada-ada saja. Bukankah kita sudah sering berciuman? Bahkan lebih dari itu." Retha tertawa kecil dengan perkataan suaminya.
__ADS_1
"Tapi, ciuman di tempat umum kan belum pernah. Sebentar lagi matahari akan tenggelam, di depan juga sudah dekat jembatan. Bagaimana kalau kita membuktikannya?"
Retha hanya tersenyum. Apa yang akan Bara lakukan padanya, ia sudah pasrah saja. Inti dari bulan madu mereka adalah suka-suka Bara.
Gondola yang mereka naiki terus berjalan semakin mendekat ke arah jembatan. Bara sepertinya benar-benar ingin melakukan apa yang diinginkannya. Saat perahu tepat berada di bawah jembatan, terdengar bunyi lonceng bernmbunyi. Bara mendaratkan ciumannya di atas bibir Retha dengan mesra. Keduanya saling menautkan bibir, sesekali lidah mereka saling bersentuhan. Keromantisan di antara mereka membuat dunia serasa hanya milik mereka berdua.
Perahu keluar dari bawah jembatan. Keduanya langsung melepaskan ciuman. Mereka saling berpandangan sembari tertawa mengingat kekonyolan yang baru saja mereka lakukan. Hari telah beranjak senja, potret kota Venice semakin menjukkan sisi romantis mengiringi perjalanan mereka.
Retha memeluk tubuh Bara. Malam ini akan menjadi malam terakhir mereka di Italia. Ia mengingat lagi momen tak terlupakan selama berada di sana bersama Bara. Salah satunya di Pulau Santorini. Bara mengajaknya ke desa Oia yang terdapat di sana. Lokasinya berada di ujung terluar pulau.
Bentuk rumah di Oia tidak menggunakan genteng, namun lebih kepada atap melengkung seperti gua. Inilah mengapa rumah-rumah di Oia seringkali disebut sebagai cave houses. Bara menyewa salah satu kamar hotel yang ada di sana. Melewatkan bulan madu terasa sangat romantis apalagi dengan suguhan keindahan laut yang bisa terlihat dari jendela kamar secara langsung.
"Sebelum kita kembali ke hotel, kita makan malam dulu di sini, ya!"
"Cheers ...." Bara mengangkat gelas anggurnya.
Retha turut mengikuti Bara mengangkat gelasnya seraya menempelkan ujungnya pada gelas Bara. Mereka meminum anggur sebelum masuk menyantap hidangan yang telah merek pesan.
"Apa kamu menikmati liburan kali ini?" tanya Bara sembari menyuapkan potongan daging steak dari piringnya.
__ADS_1
"Kalau Mas Bara melihatku, kira-kira bagaimana perasaanku? Apa aku terlihat sedih?" tanya Retha.
"Kamu selalu tersenyum dimanapun berada. Kecuali saat di kamar kayaknya kamu selalu sibuk menjerit," ledek Bara.
"Mas!" Retha kesal Bara membawa candaan tentang ranjang saat mereka sedang makan.
Bara mendekatkan wajahnya. "Jadi, senyum belum tentu artinya senang dan jeritan belum tentu kesakitan, kan?" lirihnya.
Retha memanyunkan bibir. Suaminya memang sangat pandai membuatnya kesal.
"Aku jadi tidak sabar ingin menghabiskan malam terakhir kita di negara ini. Rasanya aku ingin memperpanjang masa liburan supaya bisa semakin lama bermesraan denganmu seperti ini setiap hari." Bara meraih tangan Retha, menggenggamnya dengan lembut.
Usai menikmati makan malam, mereka kembali ke hotel di Kota Venesia tersebut. Sebuah hotel bintang lima dengan fasilitas terbaik yang Bara pilihkan untuk istri tercintanya. Sebelum sampai dalam kamar hotel, lelaki tidak sabaran itu sudah menciumi bibir istrinya dengan agresif. Saat baru memasuki kamar, ia langsung angkat tubuh istrinya tanpa melepaskan ciuman mereka.
Tubuh Retha direbahkan secara perlahan di atas ranjang mewah bak dalam istana. Ia loloskan seluruh pakaian istrinya dengan cepat. Meskipun telah berulang kali melihat wajah polos sang istri, ia masih saja tetap terpesona olehnya. Satu per satu pakaian yang dimilikinya ia lepaskan hingga sama-sama polos seperti istrinya. Miliknya sudah tegak sempurna seakan tak sabar ingin segera dimanjakan.
"Sayang ... kamu mau lolipop?"
Bara, mantan duda itu kembali berulah. Entah malam ini apa lagi yang akan ia lakukan dan ajarkan kepada istrinya yang polos. Bujuk rayuan mautnya sangat manjur dan bisa membuat Retha hanya menurut.
__ADS_1
Malam yang kian larut mengiringi keromantisan di antara mereka. Kenangan indah di Italia tak akan pernah terlupakan begitu pula dengan romantisme yang mereka lakukan. Suara napas yang saling bersahutan setta peluh yang menetes menjadi bukti betapa besar cinta keduanya.
Malam terakhir akan diukir sebagai kenangan paling indah. Setelah kembali ke tanah air, belum tentu mereka bisa bercengkrama sedekat masa liburan bulan madu. Hanya satu hal yang mereka harapkan, kehidupan keduanya bisa berlangsung bahagia seterusnya.