Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Menolak Kenyataan


__ADS_3

Bara masih berusaha bersabar mengikuti kemauan putranya. Kenzo ingin main di wahana salju yang ada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Bara tidak ikut masuk bermain, hanya melihat Kenzo yang tampaknya sangat bahagia bermain bersama ibunya.


Bagaimanapun juga Silvia memang ibu kandung Kenzo. Wanita itu sangat mudah mencuri hati putranya. Sikapnya yang lembut seperti bidadari membuat Kenzo merasa bahagia ibunya telah kembali.


"Bara, ya?" tanya seorang lelaki.


Bara menoleh. Ia terkejut dengan lelaki yang baru saja menyapanya. "Andre!" serunya terkejut. Keduanya saling berpelukan hangat.


"Lama juga kita tidak bertemu, ya. Mungkin sudah sekitar lima tahun yang lalu," ucap Andre.


"Ya, kamu pindah kerja jadi kita jarang bertemu. Kamu sedang apa di sini?"


"Liburan, Bar. Menjenguk orang tua. Sekalian ajak anak-anak main supaya tidak bosan di sini. Tuh, mereka sedang main di sana bersama mamanya." Andre menunjuk ke arah anak dan istrinya berada. "Kalau kamu sendiri?" tanyanya.


"Sama. Aku juga sedang menemani anakku main di sebelah sana." Bara turut menunjuk ke arah putranya.


"Loh, bukannya itu Silvia, ya? Dia sudah pulang? Aku dengar dia sempat meninggalkanmu cukup lama." Andre terkejut melihat keberadaan Silvia di sana. Ia tidak menyangka ternyata hubungan mereka masih baik-baik saja.


Bara terdiam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan dari temannya itu.


"Aku salut padamu, Bar. Masih bisa menerima kondisi Silvia dengan baik," ucap Andre. "Orang yang ada di posisimu belum tentu melakukan hal yang sama. Aku tahu persis perasaanmu sangat tulus kepadanya."


"Jangan dibahas lagi masalah yang telah berlalu," pinta Bara.


"Kamu masih belum mencari tahu, ya, sebenarnya Kenzo anak siapa?" celetuk Andre.


"Dia putraku, Ndre!" Bara menegaskan jawabannya.


Andre tak berani berkata-kata lagi setelah kata sakral itu keluar dari mulut Bara. Andre merupakan dokter spesialis anak yang pernah menangani Kenzo. Saat Kenzo masih bayi, ia sempat sakit dan mendapat perawatan dari Dokter Andre.


Flash Back On


"Bar, kok aku merasa ada yang aneh dengan putramu," ujar Andre.

__ADS_1


"Apa?" tanya Bara penasaran.


"Sejak awal kelahirannya juga tidak meyakinkanku. Kata Silvia waktu melahirkan Kenzo, usia kandungannya masih tujuh bulan. Tapi, aku tanyakan kepada dokter yang menangani kehamilan dan persalinan Silvia, usia kandungannya normal untuk persalinan. Putramu tidak prematur saat lahir."


Bara hanya bisa menghela napas. Ia tidak ingin mendengar hal yang macam-macam dari Silvia. Ia sudah menikahi wanita itu, sudah berkomitmen membina rumah tangga, jadi apapun yang pernah terjadi di masa lalu tidak ingin ia bahas. Apalagi kondisi Kenzo sedang kurang sehat.


"Golongan darah Kenzo itu AB, Bara. Sedangkan golongan darahmu O, tidak mungkin punya anak gongan darah AB."


"Cukup, Andre! Tugasmu hanya memberikan pengobatan terbaik untuk Kenzo. Jangan membahas hal seperti ini lagi, itu privasiku!" Bara menghentikan bicara Andre.


"Oke, Bar. Aku hanya menyampaikan apa yang aku ketahui. Kalau kamu tetap mau menerima Silvia dengan baik, aku sungguh salut kepasamu. Tapi, kamu juga seharusnya berhak tahu kenyataan yang sebenarnya. Coba lakukan tes DNA setidaknya, Bar!"


Bara tak menggubris perkataan Andre. Baginya, anak dan istri menurut kepadanya saja artinya sudah cukup baginya.


Flash Back Off


"Bar, kayaknya anakku sudah mau selesai main. Aku ke sana dulu, ya!" pamit Andre.


"Beres, nomormu belum ganti, kan?" tanyanya.


Bara mengangguk. Andre berlari menghampiri anaknya yang baru saja keluar dari area bermain. Bara hanya bisa memperhatikan tawa riang keharmonisan keluarga kecil temannya itu.


"Daddy ... Daddy ... aku mau makan sushi!" tanpa Bara sadari, ternyata Kenzo sudah berada di dekatnya bersama Silvia.


Wanita itu entah mengapa dulu ia sangat tak berdaya dibuatnya. Namun, sekarang ia bahkan sudah tak ada rasa. Bukan karena sikap Silvia selama ini kepadanya, namun lebih pada Bara yang telah menemukan tempat ternyamannya.


"Daddy ... Daddy ... ayo kita malan sushi!" rengek Kenzo lagi.


Bara mengangkat tubuh Kenzo dalam gendongannya. "Oke, jagoan! Kita akan menghabiskan banyak sushi hari ini," ucapnya dengan semangat. Ia membawa Kenzo berjalan menuju foodcourt yang terdapat di pusat perbelanjaan tersebut. Sementara, Silvia mengikuti mereka dari belakang.


Sesampainya di restoran, Bara memesankan banyak jenis sushi yang sekiranya disukai Kenzo. Sambil menunggu pesanan datang, mereka merangkai mainan yang sempat di belinya.


Silvia menatap sembari tersenyum. Ia bahagia melihat Bara begitu dekat dengan Kenzo. Keduanya saling menyayangi satu sama lain. Ia berharap bisa segera bisa diterima kembali oleh Bara. Jika ia berusaha menunjukkan kepedulian dan kasih sayang padanya, maka Bara pasti akan luluh kepadanya.

__ADS_1


"Kenzo, Mas Bara, aku mau ke toilet sebentar, ya ...," pamit Silvia.


"Jangan lama-lama, Mommy!" pinta Kenzo dengan ekspresi wajah cemberut.


"Iya, Sayang. Nanti juga Mommy kembali!" Silvia mengelus kepala Kezo. Anak kecil itu masih saja teringat pada saat dirinya pergi.


Silvia memilih salah satu bilik yang kosong di toilet. Setelah menyelesaikan hajatnya, ia menuju ke arah washtafel untum mencuci tangan dan merapikan dandanannya.


"Waow ... siapa ini yang Ku temui?"


Silvia menoleh ke arah kaca. Seorang wanita cantik dengan senyum licik berjalan mendekat ke arah Silvia. Dia sendiri terkejut melihat penampilan wanita itu sekarang. Thea, murid yang dulunya pernah menjadi musuh alami Silvia kini kembali bertemu dengannya.


"Halo, Silvia, apa kabar?" dengan santainya Thea memegang pundak Silvia. Reflek Silvia menepis tangan Thea darinya. "Oh, masih galak juga ya, kamu," guman Thea.


"Aku tidak ada urusan denganmu!" tegas Silvia. Ia juga sebenarnya malas berurusan dengan wanita seperti Thea.


"Tidak mau berurusan? Memangnya siapa yang dulu suka mengusik ketenangan hari-hariku kalau bukan kamu." Thea memasang wajah garangnya. Ia sangat bahagia bisa bertemu secara langsung dengan Silvia. Artinya, ia akan bisa mengganggu wanita itu secara langsung.


"Asal kamu tahu saja, setelah kamu pergi, orang tua Bara selalu menjodoh-jodohkan aku dengan Bara. Apa kamu senang mendengarnya?" Thea sengaja memberitahukannya untuk memanasi Silvia. Dari raut wajah yang Silvia tampilkan, kelihatan sekali kalau wanita itu geram kepadanya.


"Omong kosong!" bantah Silvia.


"Kalau tidak percaya, tanyakan sendiri kepada Bara. Atau kepada Tante Ratih, dia sangat menyukai aku," ucap Thea sombong. "Lagian kenapa juga kamu harus kembali lagi, sih? Sudah benar kamu tetap di sana, Silvia ... kamu senang dengan uang, kan? Bukannya Sugar Daddy kamu selalu rutin memberimu uang? Apa dia sudah bangkrut jadi kamu pulang? Atau mungkin ... kamu sedang hamil lagi, ya?" tebak Thea.


Bukan tanpa alasan wanita itu menebak demikian. Silvia sejak dulu sangat dekat dengan lawan jenis terutama karena sifatnya yang centil. Pergaulan Silvia terbilang sangat bebas, maka Thea sanksi Silvia bisa menikmati hidupnya dengan tenang.





Jangam lupa vote, komen, dan like ya 😘

__ADS_1


__ADS_2