Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Mama Datang


__ADS_3

"Orangnya sudah tertangkap, Bar. Dia juga sudah mengakui perbuatannya."


Zack mengajak Bara ke gudang kantor mereka. Ada seorang lelaki yang terikat di sebuah kursi dengan mulut tertutup lakban. Bara pernah melihat orang itu menjadi salah satu pekerja di tempat proyeknya. Sesuai dugaan Bara, orang itu memang sengaja ingin mencelakai petinggi perusahaan.


Kejadian yang menimpa Bara bukan rekayasa. Ia benar-benar cedera, namun tidak parah. Rencananya berpura-pura sakit parah telah mampu membuka sedikit demi sedikit kedok orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu mendukung proyek tersebut. Bahkan, mereka sering melakukan usaha pengacauan, salah satunya dengan membayar orang untuk berdemo masalah pembayaran penggantian lahan dari masyarakat.


Usaha-usaha yang selalu gagal, membuat mereka kembali memikirkan cara menyingkirkan otak proyek, salah satunya dengan kecelakaan yang direkayasa.


"Kenapa tidak kamu langsung serahkan pada polisi?" tanya Bara. Ia memandangi lelaki itu yang tampak tenang meskipun sudah jelas ia bersalah.


"Aku sedang menunggu ia membuka mulut. Yakin 100 persen ia pasti disuruh seseorang untuk melakukannya. Mungkin memang target awal adalah ayahku, namun akhirnya kamu yang kena." Zack diam-diam melakukan penyelidikan atas perintah Bara. Mereka sangat kompak berakting dengan perannya masing-masing. Zack tidak terlalu disorot oleh lawan bisnis sehingga bisa lebih leluasa bergerak dari pada Bara.


"Jaga ayahmu dengan baik, Zack. Kalau bisa kamu saja yang menggantikannya. Jika ada yang berniat mencelakainya, setidaknya ayahmu akan selamat," usul Bara.


Zack langsung menoyor kepala Bara dengan kesal. "Jadi kamu mau aku yang jadi sasarannya? Sialan!" gerutunya.


"Setidaknya kamu masih muda. Cukup kuatlah kalau disuruh menahan sakit." Bara cukup suka bergurau dengan Zack. Dia ingin membalas gurauan yang sering dilontarkan kepadanya.


"Bagaimana dengan kakimu? Apa Sudah benar-benar sembuh?" tanya Zack.


"Aku rasa sudah. Seperti yang kamu tahu, pemasangan gips memang untuk lebih mendramatisir peranku supaya lebih meyakinkan."


"Lalu, harus kita apakan dia?"


"Masukkan ke penjara saja. Terserah dia mau bekerja untuk diri sendiri karena motif balas dendam atau bekerja sendiri aku tidak peduli. Aku harus cepat pulang!"


"Kenapa buru-buru? Setidaknya kita makan siang bersama, Bar!" Zack menatap aneh temannya itu.


"Tidak bisa, aku sudah ada janji!" Bara melambaikan tangannya kepada Zack. Ia ingin segera kembali ke hotel.


Drrt drrt drrt

__ADS_1


Ponsel Bara berbunyi. Ada telepon masuk dari ibunya. Ia heran kenapa sang ibu tiba-tiba menelepon dirinya. "Halo, Ma?"


"Kamu dimana? Mama sudah ada di lobi hotel bersama Kenzo."


Deg!


Jantung Bara seakan mau copot mendengar ibunya sudah ada di hotelnya. Kalau sampai beliau tahu tentang keberadaan Retha di dalam kamarnya, ia pasti akan dimarahi habis-habisan.


"Mama kenapa menyusul ke sini segala? Memangnya Kenzo tidak sekolah?"


"Kenzo tidak mau sekolah. Katanya guru kesayangannya tidak masuk jadi dia juga tidak mau masuk sekolah."


Bara memijit keningnya. Guru favorit anaknya selama beberapa hari ini memang sedang bersamanya, menjadi teman tidurnya. Masalahnya akan semakin rumit kalau ibunya tahu ternyata guru Kenzo punya pekerjaan sampingan sebagai wanita penghibur lelaki kesepian seperti dirinya.


"Mamamu ada di sini, Bar?" tanya Zack lirih.


"Iya."


Bara langsung menoyor kepala Zack.


"Mama pulang saja deh, aku repot kalau ada Kenzo jadi tidak bisa fokus kerja." Bara mencoba mencari alasan agar ibunya mengalah. Alasan utamanya ia tidak ingin momen-momen kebersamaan dengan Retha juga hilang. Hanya seminggu saja ia ingin egois menyenangkan dirinya sendiri. Meskipun hanya bisa sebatas memeluk dan menciumnya, kehadiran wanita yang tanpa sengaja masuk ke dalam kamarnya sungguh bisa mengobati kesepiannya.


"Kamu apa-apaan, sih? Kok jadi mengusir Mama? Padahal Mama datang juga untuk menjengukmu, kondisi kaki pincang masih memaksakan diri bekerja!"


Bara sampai menjauhkan ponselnya karena omelan sang ibu begitu memekakan telinga. "Aku sudah sembuh, Ma. Pokoknya jangan khawatirkan aku."


"Mama tidak percaya sebelum melihat langsung! Berapa nomor kamarmu? Mama ingin masuk ke sana!"


Bara semakin bingung saat ibunya menanyakan nomor kamarnya. Retha masih ada di dalam sana. Kamar juga penuh dengan barang-barang Retha.


"Eum, kebetulan aku juga sudah mau pulang, Ma. Tunggu aku di lobi."

__ADS_1


"Kalau lama, Mama akan langsung ke kamarmu!"


"Sebentar, Ma ... paling 10 menit."


Bara mematikan teleponnya. Ia melirik ke arah Zack yang sedang tertawa puas melihatnya panik.


"Akhirnya aib lelaki baik-baik ini akan terbongkar. Hahaha ...."


"Aku juga tahu banyak tentang aibmu. Apa perlu aku bongkar satu-persatu di hadapan ayahmu?" Bara melotot kepada Zack.


"Aduh, Tuan Bara yang baik masa tega dengan sahabatnya sendiri ...." Zack langsung berubah sikap. Ia langsung mendekat dan menepuk pundak Bara agar rahasianya tidak dibocorkan. "Aku bisa kehilangan hak sebagai ahli waris kalau mulutmu terbuka. Bagaimana kalau kita saling menjaga rahasia ini berdua, bukankah lebih menguntungkan?" rayunya.


"Kalau begitu, kita sama-sama pergi ke hotel. Aku akan menemui ibuku dan Kenzo, sementara kamu menyembunyikan Retha sebentar. Beresi barang-barangnya dari kamarku."


Zack mengulaskan senyum. "Bagaimana kalau Retha jadi teman tidurku saja. Kamu sudah puas kan, tidur beberapa hari dengannya? Aku juga mau coba."


Bara tidak terima. Ia mencengkeram kuat kerah leher Zack sembari memberikan tatapan intimidatif. "Berani kamu macam-macam dengannya, aku tidak akan segan menghajarmu!"


Zack terpukau dengan reaksi Bara. Baru kali ini ia terlihat begitu ambisi terhadap seorang wanita yang bahkan hanya sebatas wanita panggilan. "Jangan bilang kamu menyukai Retha, Bar ... dia hanya wanita bayaran. Bahkan kerjanya di klab malam. Kamu yakin mau serius dengannya?"


Bara melepaskan cengkramannya. Ia sendiri tidak tahu kenapa bereaksi seperti itu. Retha mau menurutinya karena sudah dibayar, bukan karena keduanya saling cinta. Hubungan mereka sebatas dua orang saling membutuhkan yang tidak sengaja dipertemukan.


"Itu bukan urusanmu, Zack. Aku telah mengganti uangmu. Selama seminggu ini, dia hanya milikku. Jangan coba-coba merebutnya dariku."


"Iya, iya ... meskipun aku juga sangat tertarik padanya, kalau kamu memang menyukai Retha, aku tidak akan mengambilnya darimu. Baru kali ini juga Bara tertarik dengan wanita, kan ... itu sudah termasuk berita baik. Artinya kamu bukan golongan penyuka jenis."


"Memangnya kenapa kalau aku seperti itu?"


"Oh, tentu saja aku akan menjauhimu. Ketampananku bisa saja membuatmu tertarik. Tapi maaf, aku masih normal dan suka dengan wanita."


"Kalau aku tidak normal juga tidak akan menyukaimu. Kamu bukan tipeku!" Sekali lagiBara menoyor kepala Zack.

__ADS_1


Keduanya berjalan beriringan menuju hotel yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berada.


__ADS_2