Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Terusir


__ADS_3

Hari ini Hendry mengantar kepergian Tatiana kembali ke luar negeri. Wanita itu terus memeluk lengannya seakan tidak rela untuk melepasnya.


"Kenapa? Kamu berubah pikiran untuk bercerai denganku?" tanya Hendry.


"Hah ... Pertanyaan macam apa itu. Aku jadi makin sedih," ucap Tatiana.


"Kita kan sudah membahasnya baik-baik, jadi tidak usah ragu."


"Tapi aku masih merasa bersalah." Tatiana memasang wajah murung.


"Untuk apa bersikap seperti itu? Kita lupakan saja yang sudah berlalu."


Tatiana berjongkok di hadapan Hendry sembari memegangi kedua tangan lelaki itu.


"Tatiana ... Apa yang sedang kamu lakukan?" Hendry terkejut dengan sikap Tatiana.


"Biarkan aku seperti ini sebentar!" ucap Tatiana.


Hendry tidak mengerti maksud wanita itu. Orang-orang yang ada di sana mulai memperhatikan mereka. Seolah Tatiana tidak ingin pergi.


"Maafkan aku, Hendry ... Aku tidak bisa menjadi seorang istri yang baik. Tolong jangan membenciku di masa depan," pinta Tatiana.


Mendapat permintaan dari wanita yang selama lima tahun mendampinginya, rasanya membuat dadanya sesak. Ia ingin bersikap lapang dada dengan apa yang terjadi, namun rasanya sulit.


"Aku tidak akan pernah membencimu, Tatiana." dari pada membenci Tatiana, ia lebih membenci dirinya sendiri yang merasa gagal membahagiakan wanitanya.


"Janji kita akan sama-sama bahagia, ya ...."


"Iya, berdiri dulu! Jangan seperti ini. Banyak orang melihat kita."


Akhirnya Tatiana mau berdiri. Ia memeluk Hendry untuk terakhir kali sebelum pergi. "Baik-baik di sini," ucapnya seraya melepaskan pelukan.


Jun sudah siap di sana membawakan barang-barang milik Tatiana. Mereka berpamitan kepada Hendry dan berjalan memasuki bandara melewati petugas pemeriksaan tiket.


Hendry hanya bisa memandangi kepergian Tatiana dari tempatnya. Ia yakin keputusannya sudah benar dari pada harus berlarut-larut dalam rasa bersalah terhadap Tatiana.


***


"Lis, pulang sekarang, yuk!" ajak Citra sembari mengemasi barang-barangnya.

__ADS_1


Hal yang sama juga Lilis lakukan. Namun, ia heran saja melihat Citra akhir-akhir ini selalu murung. Ia berusaha menanyakan masalahnya dengan Yoga, namun Citra seakan enggan untuk menjawab.


Orang-orang satu ruangan dengan mereka sudah mulai pulang setelah jam kerja berakhir. Seperti biasa, mereka pulang akhir karena mendapat tugas tambahan membuat bahan presentasi rapat esok hari.


"Cit, cerita deh! Gimana akhirnya dengan suamimu dan wanita itu," desak Lilis. Ia bingung harus bagaimana lagi. Citra sudah seperti orang yang sedang stres.


Citra justru tertawa mendengar pertanyaan dari Lilis. "Mereka beneran selingkuh, Lis. Bahkan wanita selingkuhan Mas Yoga sedang hamil. Hebat kan mereka?"


Citra tertawa untuk menutupi luka hatinya. Nasibnya sangat miris, sudah diselingkuhi namun selingkuhan Yoga yang justru mendapat dukungan dari keluarga.


"Mereka kurang ajar sekali, Cit! Bisa-bisanya melakukan itu." Lilis tidak menyangka Yoga yang seperti lelaki alim dan penyayang bisa berbuat sejauh itu.


"Sudahlah! Aku tidak ingin membahasnya lagi. Mengingat hal itu sangat menyakitkan." Citra meraih tasnya. Ia menggandeng tangan Lilis agar segera pergi dari ruang kerja mereka.


"Lalu, kamu bagaimana?" Lilis masih penasaran, mengajukan pertanyaan saat mereka berada di dalam lift.


"Aku sudah mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan. Sudah aku sertakan bukti perselingkuhan mereka dari foto yang Jaka ambil waktu itu. Doakan saja semuanya cepat selesai."


Lilis salut dengan keputusan Citra. Pasti tidak mudah untuk memutuskan hal besar seperti itu. Memang sudah seharusnya sejak lama Citra berpisah dari Yoga.


"Jangan ledek aku janda ya, Lis!" pinta Citra.


"Kamu tua dari mana? Masih kelihatan muda, Kok."


"Kalau di negara ini, usia menjelang 30 tahun sudah dibilang perawan tua. Beda lagi kalau hidup di Jepang atau Korea."


"Luna Maya, Raline Shah, Herjunot Ali, Reza Rahardian ... Mereka juga belum menikah padahal lebih tua darimu. Bahagiakan diri sendiri dulu selagi bisa. Menikah juga belum tentu menjamin kebahagiaan."


"Lagi trauma nih kayaknya dengan pernikahan."


"Kayaknya memang mending hidup sendiri. Pernikahan hanya membuat kehidupan jadi pahit dan menderita."


"Itu karena kamu belum bertemu orang yang tepat saja."


Lilis menyerahkan helm kepada Citra. Sore ini ia akan pulang bersama mengendarai sepeda motor Lilis.


Sesampainya di rumah Citra, ada suasana yang aneh di sana. Rumah Citra kelihatan ramai dengan kehadiran beberapa orang. Tampak jelas ada suami Citra bersama wanita yang ada di foto itu, juga ibu mertua Citra.


"Ada apa di rumah, Cit?" tanya Lilis heran.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu. Kamu tunggu saja di sini."


Setelah peristiwa besar di rumah mertuanya, Yoga tidak pernah pulang. Hari ini, lelaki itu membawa beberapa orang untuk mengeluarkan barang-barang pribadinya dari dalam rumah.


"Ada apa ini, Mas?" tanya Citra penasaran.


"Akhirnya kamu pulang juga." Yoga memasang wajah kesal kepadanya. Ira yang berada di samping Yoga sengaja memeluk lengan lelaki itu seakan ingin menunjukkan dialah pemilik Yoga yang sekarang.


"Aku sudah mendapatkan surat panggilan dari pengadilan. Kamu berani-beraninya mengajukan gugatan cerai kepadaku, hah?" ucapnya emosi.


"Terus maumu apa, Mas? Aku harus diam saja dan menerima perselingkuhan kalian?" Citra juga tidak takut menghadapi kemarahan suaminya.


"Kamu kurang ajar memberikan alasan perselingkuhan agar bisa bercerai dariku!"


"Sudah bagus aku tidak melaporkannya pada polisi. Aku sudah muak dengan kalian! Kalau memang ingin menikah, silakan! Tanda tangani perceraian kita supaya prosesnya cepat selesai. Juga supaya anak hasil selingkuh kalian bisa diakui negara!" ucap Citra dengan berani.


"Dasar wanita mulut sampah! Jaga bicaramu!" bentak Yanti.


"Ibu jangan ikut campur. Ini urusanku dengan Mas Yoga dan pelakor ini!" Citra melayangkan tatapan tajamnya kepada Yanti.


"Makin ngelunjak kamu, Citra!" bentak Yoga. "Oke, kalau kamu memang tetap keras kepala ingin bercerai, akan aku kabulkan! Dengan satu syarat ... Kamu harus pergi dari rumah ini tanpa membawa apa-apa selain pakaianmu saja!" Yoga mendorong koper berisi pakaian ke arah Citra.


"Ini juga rumahku. Aku menghabiskan tabunganku untuk membangun rumah ini! Aku tidak mau pergi!" tolak Citra.


"Silakan tetap tinggal di sini, tapi cabut berkas pengajuan perceraiannya," pinta Yoga.


"Tidak mau! Aku tetap ingin bercerai darimu."


"Kalau itu maumu, ambil barang-barangmu, pergi dari sini dan jangan pernah kembali! Tidak ada tempat untuk wanita keras kepala sepertimu di rumah ini. Kamu juga tidak berhak atas rumah ini jika memilih perceraian."


Citra tidak menyangka jika Yoga sampai tega mengusirnya juga. Rumah itu ada hasil kerja kerasnya, bagaimana bisa ia diminta pergi meninggalkan rumahnya sendiri.


"Mas ...."


"Aku tidak akan berbelas kasih kepadamu, Citra. Silakan ambil keputusan yang kamu inginkan. Aku kecewa padamu."


Yoga masuk ke dalam rumah bersama Ira dan ibunya meninggalkan Citra sendirian di luar.


"Cit, kita pergi saja, ya!" ajak Lilis yang baru berani mendekat setelah orang-orang itu masuk kembali ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2