Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: It's Over


__ADS_3

"Yoga! Ayo pergi ... Mau sampai kapan kamu akan tetap di sini?"


Yanti merasa kesal Yoga masih mematung setelah Citra meninggalkan mereka. Anaknya sudah seperti orang yang terhipnotis dan terpikat oleh sang mantan istri.


"Yoga!" bentak Yanti. Ia memegangi lengan putranya dan menggoyang-goyangkannya.


"Ah! Sial!" bukannya menurut, Yoga justru menepis kasar tangan ibunya. Lelaki itu berlalu begitu saja seperti orang gila. Bahkan berkas yang ada di tangannya terlepas namun ia tak peduli sama sekali.


Yoga berjalan dengan langkah cepat. Tatapan mata penuh kemarahan bercampur rasa tidak rela itu fokus menatap ke depan. Ia menyadari dirinya masih sangat mencintai Citra. Penyesalan besar muncul akibat telah terlena oleh godaan wanita lain, bahkan tega meninggalkan Citra hanya demi anak yang sebenarnya bukan darah dagingnya.


Yoga buru-buru masuk ke dalam lift menuju lantai dasar. Ia ingin mengejar Citra dan berusaha mendapatkan wanita itu kembali.


Orang pasti akan menganggapnya gila, berharap mantan istri yang telah menikah dan memiliki anak dengan lelaki lain itu mau kembali padanya. Ia benar-benar sudah tidak peduli. Ia hanya ingin Citra kembali ke sisinya sekalipun harus berlutut dan mengakui segala dosa yang telah diperbuatnya.


Ketika sampai di area lobi, dilihatnya Citra telah bersama rombongan keluarganya yang baru. Keluarga yang tampak mampu secara finansial dan mampu memberikan kebahagiaan bagi Citra.


Tanpa permisi, ia menyerobot kumpulan keluarga Hendry dan menarik paksa tangan Citra untuk mengajaknya menjauh. Sontak semua orang terkejut dengan kelakua gila yang Yoga lakukan.


"Kamu apa-apaan? Berani-beraninya menarik paksa istri orang!" Hendry menahan langkah Yoga. Ia memberikan tatapan mata intimidatif.


"Sebelum dia menjadi istrimu, dia lebih dulu menjadi istriku selama tiga tahu!" Yoga tak kalah beraninya membalas tatapan Hendry dengan nyalang.


"Lepaskan tanganku! Kamu sudah gila? Kita sudah bercerai!" Citra berusaha menggeliat melepaskan tangannya, namun Yoga tetap memeganginya dengan kuat.


"Citra, aku mengaku salah. Maafkan aku. Tolong, kembalilah padaku. Tinggalkan dia," pinta Yoga dengan tatapan memelas.


Sejenak Citra merasa tidak tega dengan ekspresi yang Yoga tunjukkan. Bagaimanapun juga, hatinya pernah luluh oleh ketulusan cinta yang Yoga berikan. Segala kebaikan lelaki itu tiba-tiba muncul kembali dalam ingatannya.


"Bang sat!" pekik Hendry seraya melayangkan sebuah tinju ke arah Yoga hingga membuat tubuh Yova sedikit terhuyung ke belakang dan melepaskan tangan Citra.

__ADS_1


Hendry buru-buru menarik Citra ke belakangnya. Citra berusaha menenangkan suaminya agar tetap tenang. Namun, Yoga yang tidak terima dipukul kembali maju dan berniat membalas pukulan Hendry.


Insiden perkelahian tak bisa dielakkan. Baik Hendry dan Yoga sama-sama keras kepala dan memilih menyelesaikan masalah dengan kekerasan.


Keributan yang terjadi di antara mereka sontak mengundang rasa penasaran orang. Mereka semakin mendekat dan berkerumun saking ingin melihat permasalahan yang terjadi dari dekat.


"Hendry, sudah! Hentikan!" ayah Hendry sampai maju untuk memisahkan Hendry dengan Yoga.


"Ayo kita selesaikan sampai di antara kita ada yang mati! Siapa yang masih bertahan hidup, dia yang berhak bersanding dengan Citra!" ucap Yoga dengan lantang. Ia dipegangi dua orang petugas keamanan agar tidak berbuat onar.


"Bang sat! Kamu kira aku takut? Maju dan aku akan membunuhmu!" Hendry ikut-ikutan terpancing emosi. Kesabarannya telah habis dan sangat ingin menghajar Yoga sampai mati agar tidak bisa mendekati istrinya lagi.


"Sudah, Sayang. Jangan meladeni orang seperti dia." Citra ikut menenangkan suaminya yang emosi.


Wanita itu maju mendekat ke arah Yoga yang masih dipegangi oleh dua orang petugas keamanan. Terkadang ia merasa kasihan dengan lelaki itu, namun baginya kali ini sudah keterlaluan. Bahkan di saat ia bersama keluarga mertuanya, lelaki itu berani menemuinya.


Plak!


Citra berkata dengan nada tegas. Ia berbalik badan setelah mengutarakan isi hatinya. Ia mengajak suami dan mertuanya untuk naik mobil dan meninggalkan tempat tersebut.


Yoga menghempaskan tangan kedua orang yang sejak tadi memeganginya. Kerumunan orang yang masih ada membuatnya merasa sedikit malu dan memutuskan untuk menyingkir. Ia kembali ke dalam untuk menemui Ira.


Kekesalannya tiba-tiba muncul kepada Ira yang dianggap sebagai penyebab kegagalan rumah tangganya dengan Citra. Seandainya dia tidak terkena rayuan Ira, kehidupannya dengan Citra pasti masih baik-baik saja.


"Masih mau mengelak? Hasil pemeriksaan ini sudah menjelaskan semuanya! Kamu mengaku saja!"


Belum sampai di ruang perawatan Shinbi, Yoga sudah mendengar suara ribut-ribut dari dalam.


"Ibu, hasil pemeriksaan bisa saja salah atau bisa jadi ada yang menukarnya."

__ADS_1


"Halah! Paling kamu hamil dengan lelaki lain dan mengaku dihamili Yoga supaya mau menikahimu!"


"Kok Ibu jadi bersikap seperti ini kepadaku? Ibu kan tahu aku seperti apa, mana mungkin berani mengkhianati Yoga. Ibu mengharapkan anak dari Yoga dan aku telah mewujudkan keinginan tersebut."


Brak!


Yoga menerobos masuk ke dalam. Kedatangannya membuat kedua wanita itu seketika terdiam.


"Em, Yoga, kamu dari mana saja? Shinbi masih dibawa perawat untuk dilakukan pengecekan." Ira mengubah nada bicaranya. Ia menyambut kehadiran Yoga dengan tutur kata yang lembut.


Yanti sudah malas melihat kelakuan Ira yang penuh tipu muslihat. Ia menyayangkan bagaimana bisa putranya tertipu oleh wanita semacam dia.


"Yoga, kamu sudah tahu sendiri kan, hasil tes DNA yang kamu bawa? Apa kamu masih akan berada di sini bersama wanita licik ini?" tanya Yanti.


Ira merasa marah disebut licik oleh Yanti. "Yoga! Kenapa kamu melakukan tes DNA tanpa memberi tahuku? Kamu curiga padaku? Kamu tidak percaya padaku? Shinbi itu putramu Yoga! Kita dulu sering tidur bersama bahkan sebelum kamu bercerai. Tes itu pasti salah." Ira berusaha mencari alasan dan membela diri.


"Ira, apa kamu tidak bisa jujur padaku?" tanya Yoga sembari menahan amarahnya.


"Jujur tentang apa? Shinbi anakmu! Kamu tidak bisa memungkiri hal itu."


Yoga kesal dengan pengakuan Ira yang tetap tidak mau jujur. Ia sampai maju dan mencekik leher Ira dengan penuh emosi. Didorongnya tubuh wanita itu hingga terjatuh di ranjang perawatan.


"Yoga, jangan keterlaluan. Ini rumah sakit!" Yanti khawatir melihat kenekadan putranya. Apalagi sorot mata Yoga jelas menunjukkan amarah yang luar biasa.


"Semua gara-gara kamu! Kalau saja wanita murahan sepertimu tidak merayuku, Citra pasti masih menjadi istriku!" umpat Yoga.


Ira berusaha menahan tangan Yoga agar tidak membuatnya kesulitan bernapas. "Aku tulus mencintaimu, Yoga! Kita sudah saling kenal sejak kecil dan kamu pasti tahu ketulusanku padamu. Kenapa kamu tega menuduhku yang macam-macam hanya karena wanita itu. Apa persahabatanku yang dulu tidak ada artinya lagi? Aku sampai rela melahirkan seorang anak juga untuk menyenangkanmu."


Ira memasang wajah sendu dan memelas. Ekspresi itu membuat Yoga tidak tega dan memutuskan untuk melepaskannya. Ira menangis tersedu-sedu, membuat perasaan Yoga semakin bimbang. Satu sisi ia tidak bisa memaafkan kesalahan Ira, di sisi lain ia juga tidak bisa kasar dengan sahabatnya.

__ADS_1


"Aku sudah tidak tahan denganmu. Kita bercerai saja!" ucap Yoga sebelum pergi meninggalkan ruangan Ira.


__ADS_2