
Hendri menghentikan mobil yang dikendarainya di tepi jalan. Iya masih belum puas dengan hasil perbincangan yang mereka lakukan di restoran.
"Kenapa kita berhenti di sini," tanya Citra kebingungan.
Hendri memberikan tatapan kepada Citra dengan mata teduhnya. "Coba katakan, apa yang kurang dariku sampai kamu bersikeras tidak mau menikah denganku?"
"Apa Bapak tidak berpikir ini terlalu mendadak? Kita sama-sama baru berpisah dari pasangan masing-masing. Bukankah terdengar aneh jika tiba-tiba kita menikah?" Citra berusaha membuat Hendry mengerti akan keputusannya. Ia masih merasa trauma dengan yang namanya pernikahan.
Masih teringat jelas hinaan yang pernah ibu Yoga ucapkan kepadanya. Setiap kata yang menyakitkan masih tersimpan dalam lubuk hatinya. Perasaan sedih dan sesak yang selalu hadir setiap kali mengingatnya. Bahkan, sampai saat ini rasanya masih sama. Menyesakkan.
"Aku rasa ini sudah takdir. Mungkin memang kita dijodohkan Tuhan dengan jalan seperti ini."
Citra ingin tertawa mendengar perkataan Hendry. Dulu, ia juga merasa bahwa dirinya akan menjadi jodoh Yoga selamanya. Bahkan, meskipun dengan restu setengah-setengah dari orang tua Yoga, mereka nekad menikah.
Ia belum terlalu mengenal Hendry, apalagi keluarganya. Yoga saja yang tidak terlalu kaya, keluarganya bisa menghina dirinya habis-habisan. Apalagi Hendry yang ia tahu sudah kaya sejak dulu. Hendry putra salah satu donatur sekolah.
Meskipun Hendry kelihatan menerima saja jika mereka menikah karena merasa bertanggung jawab, belum tentu keluarganya setuju. Apalagi Citra hanyalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan sejak kecil. Ia tidak ingin mengulang kembali kesalahan yang sama.
"Apa yang kamu cemaskan? Aku tidak akan selingkuh seperti suamimu sebelumnya."
"Benarkah? Lalu kenapa Bapak bisa bercerai? Apa Nona Tatiana yang berselingkuh?" Lelaki seperti Hendry sulit membuat Citra percaya. Apalagi dengan sikap sombong yang sudah terkenal sejak dulu.
Hendry menatap tajam ke arah Citra. "Apa kamu benar-benar ingin tahu?" tanyanya.
Citra hanya mengangguk.
"Baiklah, kamu memang berhak tahu sebelum kita menikah." Hendry tampak menghela napas. "Aku mengalami imp0tensi. Itu yang membuat Tatiana meminta cerai dariku."
Citra terdiam. Ia jadi tidak enak hati telah bertanya tentang hal semacam itu. "Maaf, Pak. Saya tidak tahu."
__ADS_1
"Sekarang kamu sudah tahu. Apa semakin membuatmu tidak ingin menikah denganku?" Hendry tertawa.
"Bapak sudah tahu kalau alasan saya bukan itu. Saya benar-benar sedang tidak ingin menikah untuk saat ini. Terlepas dari pernikahan sebelumnya saja seperti sesuatu yang melegakan. Saya tidak ingin mendapatkan masalah yang rumit gara-gara pernikahan."
Hendry meraih tangan Citra dan menggenggamnya. "Aku berjanji akan membahagiakan kamu dan anak yang ada di dalam kandunganmu. Aku tidak akan selingkuh seperti mantan suamimu."
"Kalau kamu mengkhawatirkan performaku di ranjang, aku akan lebih rajin mengikuti terapi supaya bisa cepat sembuh dan memuaskanmu," goda Hendry.
"Pak!" Citra melotot. Hendry selalu bercanda di saat-saat mereka membahas sesuatu yang serius.
"Kamu harus ingat kita tinggal di negara seperti apa. Ini bukan Amerika yang masyarakatnya bebas memiliki anak tanpa status pernikahan. Apa kamu tidak mempedulikan nasib calon bayi kita?"
Citra selalu risih mendengar Hendry menyebut janin di dalam kandungannya sebagai calon bayi mereka. Rasanya aneh saja, dua orang yang tidak begitu dekat hubungannya bisa memiliki bayi bersama. Orang yang tahu pasti akan mengira mereka pernah tidur bersama.
"Meskipun kamu tidak mengharapkan kehadirannya, tapi kamu sudah memutuskan akan tetap melahirkannya. Keputusanmu harus dipertanggungjawabkan kepada bayi kita nantinya. Kamu harus memberikan status yang jelas untuknya. Dia punya ayah, tapi kamu berusaha membuangku sebagai ayahnya."
"Siapa yang mau membuang status Bapak?" Citra menyangkal.
"Saya kan hanya tidak mau menikah. Saya tetap akan mengatakan kepadanya nanti kalau Anda adalah ayahnya."
"Apa tidak kasihan, dia lahir langsung berasa jadi anak broken home. Kamu nggak mau memberikan dia keluarga utuh yang penuh cinta?"
Citra bingung mau menjawab apa. Dalam pikirannya belum ada bayangan sama sekali untuk menikah apalagi dengan Hendry. "Lebih kasihan kalau dia menyaksikan orang tuanya tidak saling mencintai."
"Masih ada waktu yang panjang untuk kita saling jatuh cinta sampai anak itu lahir." Hendry tetap berusaha mempengaruhi Citra agar menerima lamarannya.
"Bagaimana kalau itu tidak terjadi?" bantah Citra.
"Kamu bisa pergi jika mendapatkan lelaki lain yang lebih pantas dariku."
__ADS_1
Keduanya saling bertukar pandangan seolah ingin sama-sama meyakinkan ucapan mereka masing-masing.
Citra seakan tak lagi memiliki alasan untuk menolak Hendry. Apa yang dikatakan lelaki itu sepenuhnya benar. Akan sulit jika dia ngotot ingin membesarkan anak itu sendiri tanpa suami. Mantan suaminya juga kemungkinan akan kembali mengganggunya dan menganggap anak yang dikandungnya sebagai anak Yoga.
"Aku menerima tawaran menikah denganmu," ucap Citra.
Hendry langsung mengembangkan senyum lebar. Ia senang akhirnya bisa meyakinkan Citra untuk menikah dengannya. Saking bahagianya, ia mau main sosor mencium Citra. Namun, wanita itu lebih dulu menahan bibir Hendry dengan telapak tangannya.
"Saya mau menikah dengan Bapak karena anak ini, bukan karena saya mencintai Bapak. Jadi, Bapak jangan main sentuh-sentuh tanpa seizin saya!"
Level kebahagiaan Hendry berkurang. Ternyata, Citra masih saja bersikap dingin padanya. "Baiklah, mungkin nanti kita akan pelan-pelan bisa mengembangkan hubungan ini."
"Saya harus berbicara dulu dengan Ibu Hana. Beliau merupakan wali saya. Ini adalah sesuatu yang pasti sangat mengejutkan baginya," ucap Citra.
"Tenang saja, aku akan menemanimu untuk berbicara dengan Ibu Hana." Hendry sangat yakin jika Ibu Hana akan mendukungnya. Sejak dulu mereka sudah memiliki hubungan yang baik, bahkan Ibu Hana tahu jika dirinya mencintai Citra sejak lama.
"Bagaimana dengan pihak keluarga Bapak?" tanya Citra.
"Hah?" Hendry kaget mendengar pertanyaan Citra.
"Bukankah kita juga harus meminta restu mereka?"
"Orang tuaku masih berada di luar negeri. Tapi, kamu tidak perlu khawatir mereka pasti akan menerimamu dengan sangat baik. Apalagi kamu akan memberikan mereka cucu."
"Kenapa Bapak sangat yakin? Apakah tidak masalah jika calon menantu mereka seorang anak yatim piatu dan tinggal di panti asuhan?" tanya Citra meyakinkan.
"Ada yang salah dengan itu? Kenapa mereka harus tidak setuju? Kamu bukan seorang kriminal. Menjadi yatim piatu juga bukan kemauanmu."
Hendry merasa ada banyak hal yang masih Citra pikirkan. Wanita itu telah melewati masa-masa yang sangat sulit. Selain diselingkuhi oleh suami, mertuanya juga kurang memperlakukan sengan baik. Ia mengetahui semua itu dari Ibu Hana.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu memikirkan hal-hal yang rumit. Biar aku saja yang memikirkannya. Kamu cukup fokus merawat kandunganmu agar anak kita nantinya terlahir dengan sehat. Aku sudah berjanji akan membahagiakanmu, percayalah padaku. Hidupmu akan semulus jalan tol jika menikah denganku."