
Angga berusaha menghentikan pukulan Edis. Saat ujung matanya menangkap paperbag yang Edis bawa, ia langsung membulatkan mata. Ia merasa kesal dan merebut paksa benda itu dari tangan Edis.
"Kamu pergi menemui ayahku, ya?" tanyanya dengan nada emosi. "Kenapa kamu membawa ini?" Ia berkata dengan nada yang meninggi.
"Aku datang ke rumahmu karena kamu tidak bisa dihubungi! Aku tidak sengaja bertemu ayahmu dan dia menitipkan ini padaku. Apa aku salah menyampaikan titipannya?" Edis ikut emosi karena merasa dimarahi.
"Aku tidak membutuhkan apapun darinya!" Tanpa pikir panjang ia langsung melemparkan benda itu ke dalam tempat sampah.
Edis berlari ke arah tempat sampah, mengambil kembali hadiah yang tulus disiapkan seorang ayah kepada putranya.
"Buang! Kalau kamu memungutnya, aku akan membencimu juga!"
Mata Edis berkaca-kaca. Padahal ia sangat mengkhawatirkan lelaki itu, namun ternyata Angga sangat mudah mengatakan tentang cinta maupun benci kepada orang lain. "Apa benda ini punya salah? Apa aku juga punya salah? Semalaman aku resah memikirkan lelaki yang belum lama mengatakan mencintaiku tapi saat aku berhasil bertemu dengannya hari ini dia malah mengatakan akan membenciku?"
"Aku sangat merasa perasaanku sia-sia padamu. Apa dengan membenciku perasaanmu akan membaik?" lelehan air mata jatuh membasahi pipi Edis.
Angga tampak merasa bersalah melihat wanita itu menangis. Ia tak bermaksud seperti itu, ia hanya ingin edis tak berhubungan dengan ayahnya.
"Bukan seperti itu maksudku," kilah Angga.
"Kalau kamu tidak mau menerima benda ini, biar aku yang menyimpannya. Aku akan mengingat hari ini kamu yang telah membuangku sendiri! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!"
Amarah Edis sudah sampai pada batasnya. Ia kembali melanjutkan perjalanan menuju asramanya. Sungguh, ia tidak menyangka pertemuannya kali ini justru akan menjadi kacau.
"Edis, tunggu!" Angga menarik tangan Edis.
"Apa lagi?" bentak Edis dengan tatapan nyalangnya yang menyeramkan.
"Hidup saja sendiri! Jangan pernah menemuiku lagi! Aku tidak suka orang labil yang perasaannya mudah berubah. Aku pacaran bukan untuk menambah gusar dan masalah, jadi sebaiknya memang kita akhiri saja sampai di sini!"
__ADS_1
Ucapan Edis membuat Angga memeluknya erat. Ia tak terima jika harus putus dengan Edis, wanita yang selama ini ia suka.
"Aku minta maaf." Angga merendahkan suaranya sembari menyandarkan kepalanya pada bahu Edis. "Jangan pernah meminta putus dariku. Aku tidak mau putus denganmu," rayunya.
Edis mendorong tubuh Angga menjauh darinya. "Kamu bilang akan membenciku kalau membawa benda ini, kan? Kamu membenciku karena menemui ayahmu?"
Angga memijat keningnya sendiri. "Aku hanya emosi tadi. Maafkan aku." Ia menggenggam tangan Edis berharap wanita itu mau memaafkannya.
Edis mengajak Angga duduk. Lagi-lagi ia harus membantu kekasihnya itu merawat luka di wajahnya. "Aku rasa semalam kamu berkelahi lagi," ucapnya sembari mengoleskan salep luka di wajah Angga.
"Kenapa lagi, Kak? Karena berdebat dengan ayahmu? Kamu lampiaskan ke orang lain?"
Angga terdiam. Edis sepertinya bisa menebak apa isi pikirannya.
"Apa perasaanmu menjadi lebih baik setelah menghajar orang? Apa kemarahanmu telah terlampiaskan?"
"Kamu malu ya, punya pacar sekacau aku?" tanya Angga.
"Bukannya malu. Lebih pada sedih. Hatiku terasa sakit melihat keadaanmu seperti ini." Air mata Edis kembali meleleh merenungi apa yang menimpa Angga. Lelaki itu menghapus air mata yang meleleh di pipinya.
"Kamu ... sudah menjadi orang yang aku pedulikan selain ayah dan kakakku. Maaf kalau perasaanku mengganggumu." Air mata Edis semakin deras mengalir.
Angga kembali memeluk wanita itu. Ia jadi merasa bersalah telah tanpa sengaja membuatnya menangis. Ia juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Sejak menemukan buku yang ditulis oleh ibunya, rasa benci terhadap ayahnya kian membesar. Ia bahkan ingin merusak dirinya sendiri atas penyesalan karena dulu tak peka terhadap perasaan ibunya.
"Aku akan berusaha menjadi lebih baik dan tidak membuatmu khawatir lagi."
Keduanya bertatapan. Sekali lagi Angga menghapus sisa-sisa air mata Edis.
"Keluargaku juga tak sesempurna yang kamu bayangkan. Kita sama-sama telah kehilangan sosok seorang ibu saat kecil. Aku tahu bagaimana rasanya. Mungkin aku sedikit beruntung karena memiliki kakak perempuan yang sedikit mampu menggantikan tugas seorang ibu."
__ADS_1
"Ayahku dulu bekerja keras dengan sangat gigih demi kelangsungan hidup keluarganya. Ia juga jarang ada waktu untuk kami. Tapi, kami berusaha memahami kesibukannya."
"Sampai suatu saat ayahku dipecat secara tidak hormat dari perusahaan karena fitnah. Ia menjadi stres dan perilakunya berubah. Memiliki beban untuk menghidupi dua anak perempuan yang masih kecil, ia mati-matian bekerja serabutan asal kami bisa makan. Rumah terpaksa dijual dan kami mengontrak."
"Ayah yang tidak sabaran menjadi kembali kaya, malah terjerumus pada kebiasaan judi dan mabuk-mabukkan. Bukannya jadi kaya, kami semakin punya banyak hutang."
"Kakakku yang paling menderita karena ayahku. Meski begitu, ia terus bekerja keras agar aku tetap bisa sekolah. Kakak juga tetap peduli pada ayah sekalipun ayah merupakan lelaki yang tidak berguna."
"Sampai akhirnya Kakakku bertemu dengan jodohnya yang baik hati dan kaya. Aku mendapat kakak ipar yang baik, yang sekarang menggantikan kakakku untuk membiayai sekolahku."
Angga hanya terdiam mendengarkan cerita Edis. Ia bisa mengerti bahwa sebenarnya Edis ingin dirinya bisa menjalin hubungan yang baik dengan ayahnya. Namun, rasa benci di hatinya sudah terlalu menumpuk sampai ia tak bisa memaafkan ayahnya sendiri.
"Aku rasa permasalahan keluarga kita berbeda," ucap Angga.
"Kakam baru mengetahui dari satu sudut pandang. Bahkan itu hanya sekedar tulisan. Apa Kakak sudah pernah mendengar langsung dari mulut ayahmu sendiri?"
"Aku rasa itu tidak perlu," kilah Angga.
"Ayahmu juga butuh kesempatan untuk didengarkan." Edis benar-benar memilih kata-kata yang diharapkan tidak menyinggung perasaan Angga. "Lagipula, itu masalah antara ayah dan ibumu. Menurutku, sebagai orang tua, ayahmu masih melakukan tanggung jawabnya sebagai orang tua."
"Jauh berbeda denganku. Ayahku bukannya mengurusi aku dan kakakku malam memberikan masalah kepada kami." Edis kembali tertawa jika mengingat masa lalu.
"Bukankah ayahmu adalah keluargamu satu-satunya, Kak? Aku harap kamu bisa berbaikan dengannya."
"Sekalipun kamu tidak bisa memaafkannya, jangan merusak dirimu sendiri." Edis memeluk lengan Angga seraya menyandarkan kepalanya lada bahu Angga. "Aku sangat cemas sewaktu-waktu kamu berhadapan dengan bahaya dan terluka."
"Bisakah kita menjalani hubungan kita secara baik dengan penuh kebahagiaan?"
Angga mengangkat dagu Edis, memberikannya sedikit kecupan di bibir lembut wanita itu. "Aku akan mencobanya. Berdamai dengan keadaan." Angga memberikan tatapan sungguh-sungguh. "Aku harap kamu tidak bosan untuk berada di sisiku," ucapnya.
__ADS_1