
Retha dan Bara duduk dinatas ranjang bersama Kenzo. Anak kecil itu tampak keheranan melihat kedua orang yang disayanginya tiba-tiba memintanya masuk kamar untuk bicara.
"Sayang, ada yang ingin Daddy bicarakan kepadamu," ucap Bara.
Pesta resepsi pernikahannya dengan Retha akan segera dilaksanakan. Bara merasa tak bisa lagi menyembunyikan kedekatannya dengan Retha. Anaknya selalu bertanya, kenapa Retha ada di rumah Oma dan kenapa bukan Silvia, ibu kandung Kenzo yang ada di sana.
"Kenapa, Daddy?" tanya Kenzo penasaran. Ia sesekali melirik ke arah Retha.
Bara menatap mata putranya dalam-dalam. Ia tak ingin mengengejutkan dengan apa yang hendak dikatakannya. "Daddy mencintai Miss Retha, Sayang ... Kami sudah menikah. Itu sebabnya, sekarang Miss Retha tinggal di rumah Oma juga," ucap Bara dengan hati-hati.
Kenzo membulatkan matanya. Seperti anak yang terkejut, ia hanya bisa menatap wajah ayahnya dan sang guru kesayangan secara bergantian. "Tapi ... Daddy kan punya Mommy ... Kalau Daddy sama Miss Retha, Mommy bagaimana?" tanyanya.
"Daddy sudah berpisah dengan Mommy kamu, Sayang. Dia sudah pergi lagi ke luar negeri, meninggalkan kita seperti dulu. Daddy sudah tidak mencintai Mommy."
Mata Kenzo berkaca-kaca. Tak berapa lama, tangisannya pecah. Bara memeluk putra kesayangannya dan membirakan dia menangis.
Retha merasa tidak enak hati melihat anak itu menangis. Namun, Bara memberi isyarat kepada sang istri agar tetap tenang menghadapi Kenzo. Ia tahu putranya hanya ingin mengekspresikan kesedihannya.
"Daddy ... Mommy kasihan nanti sendirian. Hiks hiks ...," rengek Kenzo.
"Mommy kamu sudah memilih apa yang dia mau, Sayang. Dia tidak ingin membawamu dan membiarkan kamu tetap bersama Daddy seperti dulu. Lagi pula, sekarang ada Miss Retha yang bisa kamu panggil Mama. Dia juga sangat menyayangi kamu." Bara berusaha memberikan penjelasan sederhana yang bisa Kenzo pahami.
"Tapi, Miss Retha bukan Mommy Kenzo ... Beda, Dad ...." Kenzo masih saja ngeyel meminta ibu kandungnya.
"Iya, Mommy kamu tetap satu, Mommy Silvia. Tapi, kamu juga harus menghormati Miss Retha yang sekarang menjadi istri Daddy."
"Tapi ...."
"Apa kamu senang, Daddy sibuk kerja, kamu dititipkan kepada Oma terus? Kalau ada Miss Retha, nanti kamu bisa tinggal di rumah sambil menunggu Daddy pulang. Miss Retha juga pintar membantumu mengerjakan tugas."
Kenzo melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang ayah.
"Miss Retha orang yang baik, kan?" tanya Bara.
Kenzo mengangguk tanda mengiyakan.
__ADS_1
"Kamu suka Miss Retha?" tanya Bara lagi.
Kenzo kembali mengangguk.
"Daddy juga menyukai Miss Retha, Sayang ... Karena itu Daddy menikahinya."
Kenzo menoleh ke arah Retha. Istri baru ayahnya hanya mengulaskan senyum.
"Di perut Miss Retha, ada adik bayi, Sayang ... Nanti akan jadi adik kamu." Bara mengelus perut Retha.
"Tapi kok perut Miss Retha masih kecil, Dad?" tanya Kenzo heran. Dalam pikirannya, orang hamil pasti perutnya akan besar.
"Adik bayinya masih sangat kecil, Kenzo. Nanti kalau dia sudah besar di dalam, perut ini akan lebih besar," ucap Retha.
Kenzo menyukai anak kecil. Semakin banyak anak kecil, menurut Kenzo, ia akan mendapatkan lebih banyak teman bermain.
"Jadi, Kenzo bisa kan, menerima Miss Retha sebagai anggota baru keluarga kita? Sebagai Mama untuk Kenzo juga?" tanya Bara.
Kenzo sedikit ragu untuk menjawabnya. Ia kembali melirik ke arah sang ayah dan Retha. Tak berapa lama berpikir, Kenzo akhirnya menganggukkan kepala.
Perjalanan hidup yang menyakitkan selama lima tahun pernikahan terdahulu telah membawa banyak luka di hati Bara. Ia sampai trauma dan kehilangan kepercayaan terhadap hubungan antara pria dan wanita. Semua seakan sirna ketika ia bertemu dengan sosok wanita sederhana seperti Retha.
Wanita yang lemah lembut serta penyayang itu mampu menggoyahkan hatinya yang beku. Bahkan tanpa rayuan ia telah tergoda oleh wanita itu. Pesonanya tidak bisa dilukiskan lewat kata-kata. Harapannya, mereka bertiga akan hidup bahagia.
Kisah Bara dan Retha berjalan melalui jalanan terjal. Ada banyak cobaan hingga akhirnya mereka sampai pada tahap yang melegakan.
Dimulai dari pertemua tidak biasa di kamar hotel, berlanjut dengan malam yang panas di atas ranjang karena jebakan orang-orang jahat. Mereka juga harus merahasiakan pernikahan demi menjaga perasaan beberapa pihak.
Hal yang paling puncak dalam lika-liku hidup mereka, ketika Retha hampir keguguran akibat penculikan yang dialaminya. Beruntung, bayi di dalam kandungan Retha masih bisa diselamatkan.
Keluarga Bara telah menerima kehadiran Retha sebagai bagian dari keluarga. Mereka merasa lega Bara menemukan wanita pujaannya yang memiliki sikap terpuji. Apalagi kondisi perusahaan Bara masih belum stabil, namun Retha tidak mempermasalahkan tentangbhal tersebut.
Pesta resepsi pernikahan keduanya akan dilangsungkan seminggu kemudian. Pesta tersebut tidak akan dihadiri oleh ayah Retha, sesuai dengan kesepakatan yang telah Retha dan Edis buat. Mereka khawatir Pak Agus akan kembali berulah.
Pak Agus sendiri akhirnya mengalah demi putri-putrinya. Ia bahkan meminta untuk dimasukkan ke dalam penjara agar tidak membuat ulah lagi.
__ADS_1
Bara mengirim Pak Agus ke Nusa Kambangan agar tinggal sebagai penduduk di sana sekaligus untuk merenungkan segala perbuatan yang telah dilakukannya. Bara menyiapkan rumah dengan segala fasilitas penunjang untuk kehidupan Pak Agus di sana. Diam-diam ia juga menempatkan penjaga untuk mengawasi ayah mertuanya.
Usai berbicara dengan Kenzo, Bara dan Retha kembali ke kamarnya. Seperti biasa, mereka berpelukan mesra di atas ranjang. Setelah memberitahu Kenzo, rasanya sangat lega. Mereka tidak perlu sungkan lagi jika ingin membuka kemesraan di hadapan keluarga.
"Sayang, terima kasih sudah datang di dalam hidupku," ucap Bara sembari mengeratkan pelukannya.
"Seharusnya aku yang berterima kasih kepada Mas Bara yang telah memberikan banyak kebahagiaan dalam hidupku." Retha merasa nyaman berada di dalam pelukan sang suami. Setiap hari ia tak pernah henti mengucapkan syukur setiap kali memandangi wajah sang suami. Lelaki itu yang mengubah hidupnya yang penuh tangisan menjadi senyuman.
"Sayang, katanya bayi kita sudah tiga bulan. Dia benar-benar tumbuh kan di dalam?" tanya Bara penasaran. Bukan tanpa alasan, tapi perut Retha memang terlihat masih rata seperti bukan wanita hamil.
"Iya, Mas ... Kemarin kamu kan mendengar sendiri penjelasan dokter. Bayi kita baik-baik saja di dalam." Retha menepis kekhawatiran Bara.
"Aku jadi tidak sabar menantikan kelahiran bayi kita." Bara mengelus lembut permukaan perut Retha. Perasaannya sangat bahagia saat membayangkan anaknya kelak akan terlahir ke dunia.
"Mas!" pekik Retha saat tangan nakal suaminya berkelana dari perut menuju area dadanya secara tiba-tiba.
Bara tersenyum bahagia memegangi dua tonjolan indah yang ada di balik baju. "Kenapa kamu tidak mengenakan br4, Sayang? Kamu mau menggodaku?" tanya Bara. Ia sudah berpuasa selama beberapa minggu akibat Retha mengalami pendarahan. Menyentuh bagian tubuh Retha membuatnya kembali bergairah.
"Aku kan sudah bilang, Mas. Semua yang ada di lemari tidak ada yang muat, harus beli yang baru lagi!" kilah Retha.
"Jadi, selain bayi kita, bagian ini juga akan ikut tumbuh, ya?" Bara kelihatan bersemangat.
"Tentu saja, Mas. Nanti akan menjadi tempat ASI untuk baby."
"Hm, sebelum aku memiliki saingan, aku ingin menguasaimu untuk diriku sendiri, Sayang," ucap Bara.
Ia memagut lembut bibir Retha sembari mengelus area dada yang semakin kencang. Ia sudah tidak tahan lagi untuk menyentuh sang istri. Kata dokter, mereka bisa kembali melakukan hubungan suami istri. Sebuah kabar membahagiakan untuk Bara yang haus akan kasih sayang.
--- The End ---
❤❤❤
Halo semua ... Terima kasih bagi kalian yang sudah setia mengikuti kisah perjalanan cinta Bara X Retha sampai akhir. Kisah ini sudah selesai sampai di sini saja.
Nantikan kehadiran season 2 masih dengan judul yang sama "PEMUAS RANJANG CEO", namun dengan tokoh dan masalah yang berbeda.
__ADS_1
Terima kasih sekali lagi author ucapkan. I love you 😘