
Hendry terduduk lemas sembari bersandar di dinding. Ia kelelahan sejak tadi mondar-mandir di depan pintu menunggu proses operasi yang tak kunjung selesai.
Di sampingnya ada Bara yang juga ikut terdiam bingung dengan kondisi yang tengah terjadi.
"Bayiku baru usia 30 minggu, Bar! Apa dia sudah tidak sabaran untuk lahir? Padahal masih 2 bulan lagi jatahnya keluar ke dunia," guman Hendry dengan tatapan kosongnya.
"Anakku juga lahir sebelum waktunya. Tenanglah, Citra dan bayimu pasti akan selamat." meskipun tidak tahu harus memberi penghiburan apa, Bara berusaha memberikan kata-kata motivasi.
"Permisi, siapa suami dari Ibu Citra?" seorang perawat wanita tiba-tiba datang menghampiri sembari membawa seorang bayi dalam gendongannya.
Hendry bangkit dari duduknya. "Saya, suster!" ucapnya.
"Bapak, tadi Ibu Citra datang ke rumah sakit ini sudah dalam kondisi pendarahan. Dia juga membawa serta bayi ini bersamanya," kata perawat tersebut.
Hendry mendekati bayi itu, memperhatikannya secara seksama bayi yang sedang tertidur itu. "Janu?" lirihnya.
Mendengar Hendry menyebut nama anaknya, Bara tersentak kaget. Ia langsung ikut berdiri menghampiri anak yang digendong perawat tersebut. Matanya melebar saat melihat anaknya sendiri ada di sana. Dengan sigap ia merebut Janu dari gendongan sang perawat.
"Kenapa anakku ada di sini? Di mana istriku?" Bara kini menjadi pihak yang panik. Seharusnya Janu sudah pulang bersama Retha ke apartemen.
"Saya tidak tau, Bapak! Ibu Citra hanya datang bersama bayi ini. Sepertinya mereka baru mengalami peristiwa yang mengerikan," ucap sang perawat.
"Peristiwa mengerikan bagaimana?" tanya Hendry.
"Ibu Citra bilang, ibu bayi ini diculik di wilayah XXX. Ibu Citra hanya bisa menyelamatkan bayinya bersama dengan dirinya yang dalam kondisi gawat menyetir sendiri."
"Kami juga sudah menghubungi polisi untuk mengecek wilayah yang dimaksud."
__ADS_1
Hendry dan Bara saling berpandangan. Ia merasa istri-istri mereka tengah menghadapi bahaya yang sama.
"Suster, tolong jagakan putraku!" Bara memberikan Janu kepada perawat tersebut. Ia merogoh ponsel di sakunya, ternyata tidak ada. Sepertinya ia meninggalkannya di mobil.
Bara mengambil dompetnya, memberikan kartu identitasnya kepada si perawat. "Ini kartu identitasku, tolong jaga baik-baik bayiku. Nanti akan ada pihak keluargaku yang datang kemari!" pintanya.
"Baik, Pak," ucap sang perawat seraya membawa bayi tersebut kembali bersamanya.
Kini tersisa Hendry dan Bara berdua lagi di depan koridor ruang operasi.
"Bar, apa menurutmu ini perbuatan Thea?" tanya Hendry.
"Siapa lagi kalau bukan dia, Hen. Dia pasti sedang mengincar anak dan istriku karena ayahnya telah masuk penjara," ucap Bara dengan nada lemas. Ternyata bukan hanya Hendry yang kesulitan, namun dirinya juga sama.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku benar-benar tidak bisa berpikir karena kondisi anak dan istriku di dalam juga belum jelas bagaimana!" Hendry seakan merasa frustasi dengan apa yang menimpa dirinya.
"Maaf, Bar. Aku tidak bisa menemanimu pergi," kata Hendry dengan wajah sedihnya.
Bara menepuk pundak Hendry dan mengulaskan senyum. Ia melangkah pergi sendiri meninggalkan Hendry di sana.
Hendry kembali mondar-mandir sendiri di sana. Selain mengkhawatirkan kondisi istri dan anaknya, ia juga khawatir dengan Bara dan keluarganya. Mereka seakan lupa tengah berhadapan dengan keluarga Thea, tidak mungkin wanita itu menerima begitu saja apa yang terjadi.
Klek!
Pintu ruang operasi akhirnya terbuka. Dokter bersama seorang perawat yang mendampingi keluar menemui Hendry.
"Apa Anda suaminya?" tanya sang dokter.
__ADS_1
"Benar, Dokter. Bagaimana kondisi istri dan anak saya?" Hendry terlihat cemas.
Sang dokter mengembangkan senyuman. "Operasinya berhasil dengan baik, ibu dan bayinya selamat," ucap Dokter Gabriel.
Hendry bisa bernapas lega mendengarkan penjelasan dokter. Akhirnya ia telah resmi menjadi seorang ayah.
"Ibu Citra masih belum sadarkan diri akibat cukup banyak kehilangan darah. Tapi, kondisinya stabil dan akan segera dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Sementara, bayinya akan kami tempatkan di ruangan inkubasi mengingat bobot tubuhnya yang masih kurang. Mudah-mudahan keduanya bisa cepat sehat."
"Terima kasih, Dokter. Tolong, berikan yang terbaik untuk mereka," pinta Hendry.
"Kami pasti memberikan yang terbaik," ucap Dokter Gabriel.
Dokter tersebut dan asistennya pergi meninggalkan tempat itu. Sementara, Hendry menunggu Citra yang sedang dipersiapkan untuk dikeluarkan dari ruang operasi.
Hendry menatap wajah tenang istrinya yang masih belum sadar didorong di atas ranjang perawatan oleh dua orang perawat. Sebuah kantong inpus tampak terpasang di tangan istrinya.
Hendry membuntuti kemana istrinya dibawa. Perawat membawa Citra ke ruangan terbaik yang dimiliki oleh rumah sakit tersebut. Meskipun terletak di daerah pinggiran kota dan fasilitasnya masih kalah dengan rumah sakit yang ada di pusat kota, namun pelayanan dan penanganannya sangat baik. Istri dan anak Hendry bisa terselamatkan.
Setelah perawat pergi, Hendry duduk di samping ranjang istrinya. Ia meraih tangan sang istri seraya menciuminya. Entah apa yang terjadi sampai membuat Citra harus melahirkan bayi mereka sebelum waktunya. Ia benar-benar tidak akan memaafkan pihak yang berusaha menyakiti keluarganya.
Tak lama berselang, para pelayan yang bekerja di apartemen Hendry datang setelah sebelumnya dihubungi. Berkat kedatangan mereka, Hendry bisa meninggalkan sebentar Citra di ruang perawatan. Ia hendak melihat kondisi putrinya yang baru lahir.
Hendry ditemani seorang perawat yang bertugas menjaga ruangan khusus bayi itu. Di sana ada belasan bayi yang ditaruh di dalam inkubator karena memiliki alasan yang sama dengan putrinya, lahir prematur.
Beruntung putri Hendry tidak mengalami masalah yang berarti meskipun harus lahir prematur. Putrinya hanya perlu menaikkan berat badan agar segera dipindahkan ke ruang perawatan bersama ibunya.
Hendry memandangi sosok mungil yang tengah tertidur di dalam kotak kaca tersebut. Kakinya terlihat kecil, tangannya kecil, badannya kecil, semuanya kecil. Makhluk kecil itu seakan terlihat ringkih dan akan terluka jika disentuh saking kecilnya. Padahal, bayi Hendry tidak sekecil bayi prematur lainnya. Saat lahir bobotnya 1,8 kg.
__ADS_1