
Vote mana vote ... Sepi amat kayak jiwa ini 🤪
❤
❤
❤
"Lepaskan!" Edis meronta mencoba melepaskan diri dari cengkraman dua lelaki bertubuh kekar yang membawanya secara paksa.
Awalnya, ketiga lelaki asing yang menemuinya bertanya tentang alamat bank yang ada di daerah itu. Edis yang mengetahui seluk beluk daerah itu, berbaik hati menunjukkan arah menuju ke bank yang dimaksud. Siapa sangka jika ketiganya ternyata memang telah memiliki niat buruk kepadanya.
Edis dibawa paksa masuk ke dalam mobil. Sebelum mobil yang membawanya melaju dengan kencang, ia sempat melihat Angga yang berlari ke arahnya.
Edis tak bisa berbuat apa-apa. Mereka terlalu kuat untuk Edis lawan sendiri. Mobil berwarna hitam tersebut membawa Edis melewati jalanan kota menuju ke area pinggir kota hingga sampai di area hutan yang cukup terpencil. Ada sebuah rumah yang ada di sana. Ia belum tahu apa tujuan mereka membawanya ke sana. Saking terpencilnya, ia rasa tidak akan ada orang yang mendengar teriakan minta tolongnya.
"Lepas! Lepas! Lepas ...." Edis masih berusaha melonjak-lonjak untuk melepaskan diri.
"Diam kamu!" bentak salah satu dari mereka yang merasa kewalahan dengan kelakuan Edis.
Edis yang takut langsung merasa ciut nyalinya. Ia menurut saja saat digiring memasuki rumah mewah itu. Di dalah rumah sebesar itu, suasananya sangat sepi. Ia yakin orang yang membawanya merupakan orang kaya.
Ketiga lelaki itu terus membawa Edis melangkah masuk lebih dalam hingga tiba di sebuah ruangan yang tampaknya sebuah ruang kerja.
Bak! Buk!
Terdengar suara seseorang sedang dipukuli.
"Ah!"
Edis tersentak kaget saat melihat seseorang terlempar ke lantai dari dalam ruangan di dalam ruang kerja tersebut. Lebih mengagetkan lagi orang yang dilempar dari dalam merupakan ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Ayah!" seru Edis. Ia kaget melihat kondisi ayahnya yang babak belur dihajar habis-habisan.
Pak Agus mencoba bangkit dalam kondisinya yang memprihatinkan. Ia memandangi putri kesayangannya dengan tatapan memelas. Lelaki bodoh dan tidak bertanggung jawab itu hanya bisa memberikan tatapan wajah sendu melihat putrinya tertangkap.
Terdengar suara langkah kaki yang ringan dari arah dalam. Seorang lelaki berpakaian rapi yang sedang menghisap rokok itu muncul, melemparkan pandangan ke arah Edis.
"Siapa dia?" tanya lelaki itu.
"Dia ... Putriku," jawab Pak Agus sembari berusaha untuk duduk.
Lelaki itu tampak kesal. Ia membuang rokok yang sedari tadi dihisapnya secara sembarangan. Ia mendekat ke arah Pak Agus seraya mencengkeram kerah lehernya dan menatap nyalang kepadanya. "Kamu jangan berbohong! Aku tahu persis seperti apa putrimu!" ucapnya dengan nada penuh emosi.
"Dia memang putriku, Pak Aldo." Pak Agus ketakutan dengan kemarahan yang lelaki itu tunjukkan.
"Aku menginginkan putrimu yang bernama Retha. Di mana kamu menyembunyikan Retha, dasar tua bangka!" Lelaki bernama Aldo itu semakin emosi.
Aldo merupakan pelanggan setia klab malam tempat Retha dulu bekerja. Setiap kali datang ke klab, tujuannya hanya satu, agar bisa bertemu dengan Retha. Ia selalu berusaha mendekati wanita pujaannya, namun Retha selalu menjauh saat didekati.
Ia sangat penasaran dengan satu-satunya pegawai klab yang sulit diajaknya jalan. Bahkan diiming-imingi dengan uang yang banyak, Retha tetap tidak mau.
Ia juga sudah bekerjasama dengan Tiur, seorang pelacvr yang pernah tidur dengannya. Wanita itu berkata mengenal baik Retha, bahkan bersedia membantunya untuk mendapatkan wanita tersebut. Tentu saja Aldo merasa senang. Ia tidak akan puas sebelum bisa menakhlukkan seorwng Retha.
Cukup banyak uang yang harus ia serahkan kepada Tiur agar bisa tidur dengan Retha. Tiur bilang, ia akan mengirim Retha ke kamarnya.
Rencana itu hampir berhasil. Retha benar-benar datang ke kamar yang dipesannya di klab. Sayangnya, lagi-lagi lelaki yang bernama Bara itu kembali mengacaukan rencananya. Ia dihajar habis-habisan dan Retha dibawa pergi lagi dari dirinya.
Menemukan Agus bukan perkara sulit untuk Aldo. Lelaki yang hobi judi dan mabuk-mabukan itu akhirnya bertemu dengannya di salah satu tempat judi bergengsi. Saking bodohnya, lelaki itu gampang dicurangi saat bermain.
Dari wajahnya saja sudah jelas seperti orang bodoh, sasaran empuk untuk Aldo dekati dan menjeratnya dengan hutang. Ia tidak menyangka ternyata Agus cukup banyak uang juga. Lucunya, ia bertemu dengan Retha yang bekerja di klab malam. Ia merasa timpang dengan kehidupan Agus.
Aldo akhirnya berhasil menjerat Agus dengan hutang. Lelaki tua itu sudah kehabisan banyak uang sampai menjual rumah tapi belum cukup melunasi hutangnya. Ia sengaja membawa Agus ke rumahnya untuk dihajar melampiaskan kekesalannya. Ia baru akan membebaskan Agus jika bersedia memberitahu keberadaan putrinya.
__ADS_1
Tekad Aldo sudah bulat, keinginan untuk mendapatkan Retha sangat besar.
Hari ini menjadi hari yang sangat ia tunggu-tunggu. Setelah sekian lama, ia kira akan bertemu kembali dengan Retha. Ternyata, yang datang ke rumahnya justru sang adik yang bernama Edis.
"Putri pertamaku yang bernama Retha sudah menikah, Pak. Dia memang putri keduaku."
Aldo tertegun mendengar perkataan Agus. "Apa? Menikah? Retha sudah menikah katamu?" ia kembali emosi dan mengeratkan cengkraman di leher Pak Agus.
"Iya, Pak Aldo. Dia sudah menikah," jawab Pak Agus ketakutan.
"Dengan siapa?" tanya Aldo geram.
"Bara ... Bara Atmaja."
Urat-urat di leher Aldo kelihatan tegang menandakan puncak amarahnya. Terulang kembali, lelaki bernama Bara merusak harapannya untuk kesekian kali.
"Kenapa kamu membiarkan Retha menikah dengan lelaki itu, dasar Bangs4t!" tanpa segan, Aldo kembali meenghajar Pak Agus beberapa kali.
"Ayah!" teriak Edis. Ia tidak tega melihat ayahnya dipukuli.
Teriakan Edis membuat Aldo berhenti. Ia mengarahkan pandangannya pada Edis. Rasa penasaran terhadap adik Retha muncul. Ia mendorong tubuh Pak Agus hingga jatuh tersungkur. Ia berjalan ke arah Edis berada.
Dipandanginya wanita muda yang masih mengenakan seragam SMA itu. Wajahnya memang ada mirip-miripnya dengan Retha. Namun, tetap saja ia lebih tertarik dengan Retha.
Ia mengulurkan tangannya, mengelus pipi lembut remaja tersebut. "Sayangnya aku tidak tertarik dengan anak kecil seperti dia. Aku menginginkan Retha." Aldo kecewa wanita yang seharusnya adalah Retha ternyata adiknya.
"Lepaskan kami!" ucap Edis dengan nada yang berani.
"Kami? Maksudmu ... Kamu juga ingin melepaskan Ayahmu?" Aldo terkekeh. "Apa kamu tidak sadar? Ayahmu itu sedang berusaha menjualmu kepadaku untuk melunasi hutangnya. Kamu masih bisa bersikap baik kepadanya?" Ia tidak menyangka dengan respon yang Edis berikan.
"Aku akan membiarkan kalian pergi jika Retha menggantikan lalian," ucapnya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah gila? Kakakku sudah menikah!" Edis tidak percaya dengan hasrat Aldo terhadap kakaknya.
Aldo tersenyum miring. "Bagaimana kalau kamu yang menggantikannya?"