Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Pernikahan Bara dan Retha


__ADS_3

Hendry turun dari mobilnya dan menyerahkan kunci mobil kepada seorang petugas valet untuk memarkirnya mobilnya. Sementara, ia bergegas memasuki area hotel dengan dandanannya yang sangat rapi.


Malam ini akan berlangsung perhelatan akbar, acara resepsi pernikahan sahabat baik Hendry yang bernama Bara Atmaja.


Kalau saja bukan karena kepindahannya ke kota ini, mungkin ia tidak akan lagi berjumpa dengan sahabatnya. Saat kuliah, mereka cukup dekat. Namun, ketika lulus kuliah, mereka harus berpisah karena Hendry pindah ke luar negeri.


Ada satu kesamaan antara Bara dan Hendry, mereka sama-sama pernah menikahi seorang model. Bedanya, Bara telah bercerai dari istri sebelumnya yang bernama Silvia. Sementara, pernikahan Hendry dengan Tatiana masih langgeng hingga sekarang.


Suasana ballroom hotel terlihat begitu mewah dengan dekorasi yang didominasi oleh warna putih dan pink. Ada banyak pengusaha dan publik figur yang hadir dalam acara tersebut. Tidak mengherankan, tamu-tamu yang Tuan Atmaja undang pastilah semua orang penting dan berpengaruh di negeri ini.


Hendry yang belum lama berada di kota itu tidak banyak mengenal orang. Ia melayangkan pandangan ke sekitar, mencoba mencari orang yang mungkin bisa ia kenali. Namun, hasilnya nihil. Ia tidak mengenal seorangpun di sana.


Sembari memasang wajah tenang, ia meminum wine yang telah disediakan untuk mengurangi kegugupan. Ia tak ingin dipandang orang sebagai lelaki yang tolol karena tidak memiliki teman.


"Hey, Hendry!" seru seseorang dari arah belakang sembari memukul punggungnya cukup keras. Hendry sampai terkejut dengan sapaan tersebut.


Hendry mematung sesaat ketika melihat sosok lelaki yang kini ada di hadapannya. "Hai, Bar!" serunya dengan raut bahagia.


Keduanya saling berpelukan dan tertawa bahagia. Mereka tidak menyangka bisa bertemu lagi setelah sekian lama.


Hendry kembali memandangi sahabatnya. Lelaki itu tampak gagah dalam balutan kemeja dan jas berwarna hitam. Di samping bara, berdiri seorang wanita cantik mengenakan gaun pengantin berwarna hitam senada dengan baju yang Bara kenakan. Dari raut wajahnya saja, Hendry bisa menilai jika wanita itu merupakan tipe wanita yang lemah lembut dan penyayang. Sangat berbeda dengan wanita bernama Silvia yang dulu pernah menjadi istri Bara.


"Selamat atas pernikahanmu, Bar. Aku harap ini menjadi yang terakhir untukmu," ucap Hendry.


"Terima kasih atas kehadiranmu, Mr. Hendry. Aku sangat tersanjung orang sepenting dirimu bisa menghadiri acara pernikahanku," ujar Bara.


"Di pernikahan pertamamu aku tidak bisa datang, makanya kalian bercerai. Karena sekarangbaku datang, aku berikan restuku untuk kalian supaya menjadi pasangan yang langgeng!" ucap Hendry dengan mantap. Bule blasteran itu logatnya sudah sangat melokal, bahkan tidak ada sisi kebule-bulean selain wajahnya.


"Hahaha ... Terima kasih! Kenalkan, ini istriku, namanya Retha." Bara mengenalkan istrinya kepada sang sahabat.

__ADS_1


Retha mengulurkan tangan dan dijabat oleh Hendry. Keduanya saling melemparkan senyum sebagai satu sambutan yang baik dan sopan kepada kenalan baru.


"Dari mana kamu menemukan bidadari ini, Bar?" puji Hendry.


"Dia itu dulunya guru putraku, Kenzo."


"Oho! Jadi, kamu merayu guru anakmu sendiri? Kamu memang sangat nakal ya, Bar ...." Hendry tidak menyangka jika istri Bara yang sekarang memiliki latar belakang yang berbeda dengan Silvia.


"Tidak apa-apa aku nakal, yang penting sudah bertanggung jawab dan menikahinya. Bahkan, buah dari kenakalanku, di perut istriku sekarang sudah ada calon bayi." Bara mengelus perut rata Retha dengan bangganya di hadapan Hendry. Ia seakan ingin memamerkan buah karyanya kepada sang sahabat. Retha hanya bisa tersenyum kaku melihat kelakuan suaminya.


Hendry hanya berdecih melihat Bara pamer. Ia memang merasa iri karena pernikahannya juga abelum dikaruniai buah hati. Baik Hendry maupun sama-sama sibuk berkarir sampai tidak terlalu memikirkan untuk memiliki anak. Ditambah dengan kondisi Hendry yang tidak memungkinkan untuk memiliki anak.


"Bagaimana denganmu? Kenapa Tatiana tidak ikut? Kamu sudah menikah tapi kelihatan seperti jomlo. Kemana-mana selalu sendiri," sindir Bara. Ia sengaja memeluk pinggang Retha untuk memanasi Hendry.


Ingin rasanya Hendry balik menyindir Bara. Lelaki itu juga dulu nasibnya sama seperti dirinya, sama-sama sering ditinggalkan istri. Bahkan, nasib Bara lebih parah karena Silvia kabur meninggalkan Bara.


Ia tidak mau candaannya nanti merusak momen indah resepsi pernikahan mereka. Apalagi kasihan dengan istri baru Retha. Kali ini, ia akan mencoba mengalah dinistakan oleh sahabatnya sendiri.


"Aku juga tidak tahu. Bagaimana kalau aku masuk perusahaanmu?"


"Mau kamu? Perusahaanku sedang kurang sehat. Aku saja pusing memikirkannya. Kacau parah!" keluh Bara.


"Apa imbas dari kejadian penahananmu masih terasa?"


"Itu pasti, Hen. Apalagi aku termasuk pengusaha baru. Kejadian kemarin termasuk kasus besar, otomatis perusahaanku terkena imbas cukup besar."


"Sayang sekali perusahaan curang itu tidak bisa kamu jebloskan ke penjara, Bar."


"Ya, orang yang ada di balik mereka juga kuat-kuat. Mau bagaimana lagi?" Bara masih dendam kepada Thea dan ayahnya. Seharusnya mereka masuk penjara dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.

__ADS_1


"Padahal kamu putra Tuan Atmaja, masih saja kalah dengan pengusaha itu, Bar," gumam Hendry.


"Bantu aku kalau begitu, Hen. Sampai sekarang mereka juga belum bisa melepaskanku. Sekalipun perusahaanku sekarat, mereka masih mengganggunya. Bagaimana kalau kita kerjasama?" usul Bara.


"Perusahaanmu bergerak di bidang konstruksi, sementara perusahaanku bergerak di bidang ekspor impor produk makanan olahan laut. Bagaimana bisa kerjasamanya?"


"Hahaha ... Benar juga perkataanmu. Mungkin bisa aku pertimbangkan menjual seluruh aset perusahaan dan membangun kembali usaha yang baru."


Perbincangan antara Bara dan Hendry masih berlangsung. Retha dengan sabar berdiri si samping Bara, menemani sang suami yang terlihat bahagia saat berbicara dengan sahabatnya. Retha rasa ada ikatan yang kuat di antara keduanya.


Usai mengucapkan selamat kepada Bara dan Retha, Hendry memutuskan untuk pulang. Perut yang tiba-tiba berbunyi minta diisi memaksa dirinya mencari-cari makanan di pinggir jalan sebelum ia sampai di apartemen.


Pilihannya jatuh pada nasi goreng pinggir jalan. Sudah lama juga ia tidak makan salah satu kuliner terenak dari tanah airnya.


Dug!


Hendry terhenyak kaget. Tanpa sengaja, mobil yang Hendry hendak parkir di pinggir jalan menyerempet seseorang. Ia yang panik segera menghentikan mobilnya dan buru-buru turun untuk melihat siapa yang sudah ia tabrak.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Hendry khawatir. Orang yang ia tabrak seorang wanita.


Saat wanita itu menoleh ke arahnya, ia terkejut karena ternyata wanita yang ua ia serempet adalah Citra, teman sekolahnya saat SMA.


"Citra!" seru Hendry.


Citra masih memegangi betisnya yang ngilu akibat sedikit tertabrak. Nasi goreng yang baru dibelinya jatuh berhamburan di tanah.


"Kamu siapa?" tanya Citra yang merasa heran lelaki bule itu bisa mengenalinya.


***

__ADS_1


Sambil menunggu update berikutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author ya 😘



__ADS_2