
"Ah! Aduh!" Citra hampir terjatuh karena tersandung sesuatu. Beruntung, ada seseorang yang menahannya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Buru-buru Citra menghindar dari lelaki yang ada di belakangnya. Ia arahkan senter miliknya, ternyata lelaki tersebut adalah Hendry, manajernya. Ia sangat kaget takut bertemu hantu saat kondisi mati listrik.
"Kamu masih belum pulang?" tanya Hendry.
Citra tiba-tiba jadi kesal mendengar pertanyaan seperti itu. "Memangnya ini permintaan siapa sampai kami harus lembur?" ketusnya. Hendry seakan amnesia, lupa kalau dirinya sendiri yang meminta staf HRD untuk kerja rodi mengumpulkan arsip-arsip lama tentang kepegawaian.
Hendry melirik ke arah jam tangannya. "Ini sudah jam sembilan malam. Aku hanya menyuruh kalian lembur maksimal jam delapan," kilah Hendry.
Citra tidak bisa berkata-kata. Mau membantah juga tak berguna, Hendry tak akan mendengarkannya. Memang, jam lembur karyawan hanya sampai jam delapan malam.
Tapi, ia sebagai penanggung jawab tentu saja harus memastikan dokumen-dokumen yang diperlukan sudah lengkap sebelum pulang. Kalau dia tidak berinisiatif menambah jam kerja, kegiatan tersebut akan berlangsung lebih lama. Sementara, ia ingin cepat-cepat menyelesaikannya agar berkurang urusan dengan lelaki bernama Hendry itu.
"Seharusnya Bapak memberitahu ke petugas keamanan kalau ada karyawan di lantai 10 yang lembur. Kalau seperti ini, saya jadi kesusahan mau pulang!"
"Makanya, lain kali pulang tepat waktu."
Citra begitu gregetan dengan Hendry.
"Memang aturannya jam 9 malam lampu dan lift akan dimatikan. Tujuannya untuk menghemat biaya. Kamu kan tahu sendiri, perusahaan ini masih menanggung kerugian karena korupsi."
"Tapi, kami tidak ikut korupsi, Pak!"
"Membiarkan orang lain korupsi selama beberapa tahun itu sudah bisa disebut komplotan. Kenapa kalian tidak laporkan? Mau melindungi penjahat?"
Semakin lama Hendry terlihat seperti manajer yang pelit dan suka menindas karyawan. Di balik wajah tampannya tersembunyi senyuman iblis yang mampu mengusik ketenangan hidup seseorang.
"Kalau kami tahu mereka korupsi, sudah pasti kami akan laporkan, Pak!"
__ADS_1
"Kenyataannya si pelaku sudah kabur kalian baru tahu. Pokoknya mau tidak mau kalian harus ikut tanggung jawab!"
Citra terdiam. Ia tak ingin meneruskan bicara. Ia juga harus segera pulang agar Yoga tidak khawatir dengannya.
Saat ia berbalik hendak menuruni tangga darurat, Hendry secara paksa merebut ponsel milik Citra seraya menggandeng erat lengannya.
"Apa-apaan ini, Pak!" seru Citra yang kaget dengan perbuatan Hendry. Ia berusaha berkelit melepaskan diri dari Hendry. Namun, usahanya tidak berhasil.
"Kamu bisa diam nggak? Aku hanya takut kamu jatuh lagi. Jadi, aku akan mrmegangimu sampai kita tiba di bawah!"
Hendry menarik paksa lengan Citra dan membimbingnya berjalan selangkah demi selangkah menuruni anak tangga sembari mengarahkan senter ke depan.
Meskipun kesal, Citra tetap bersyukur ada Hendry di sana. Rasa takutnya seketika hilang, seolah kehadiran lelaki itu mampu memberikannya perlindungan sehingga bisa merasa aman.
"Apa kamu pernah mendengar kisah mistis tentang kantor ini?" tanya Hendry saat mereka berhasil turun ke lantai sembilan.
Baru saja Citra ingin memuji lelaki itu, namun tiba-tiba Hendry mulai membuat kesal lagi. Ia tebak lelaki itu berusaha menakutinya.
"Masa kamu tidak tahu? Bukannya kamu sudah lima tahun bekerja di sini?"
"Tidak ada, Pak. Selama saya bekerja di sini tidak ada kisah seram apapun di sini."
"Yang benar? Aku setiap kali lembur dapat cerita baru para petugas keamanan katanya tempat ini seram. Katanya sih ini dulunya tanah bekas kuburan yang dialihfungsikan sebagai area perkantoran."
"Katanya juga dalam pembangunan kantor ini dulunya ada yang dijadikan tumbal proyek agar terbebas dari gangguan. Konon mayat tumbal proyek dipendam dalam cor di salah satu sisi bangunan perusahaan ini. Seharusnya kamu lebih tahu dimana letaknya."
Citra tidak pernah merasa mendengar cerita seperti itu. Namun, cerita dari Hendry berhasil membuatnya merinding.
"Katanya sering terdengar suara-suara aneh waktu mereka sedang patroli di setiap lantai. Dan area paling seram katanya ya wilayah sini, tangga darurat."
Gubrak!
__ADS_1
"Ah!" teriak Citra ketakutan. Reflek ia memeluk erat Hendry saat mendengar seperti ada suara benda jatuh. Jantungnya seakan mau lepas saking kagetnya.
Sementara, Hendry menahan tawa melihat reaksi Citra. Ia puas telah berhasil membuat wanita itu ketakutan dan hampir menangis.
Sadar dirinya sedang menempel pada Hendry, ia segera melepaskan pelukannya dan memilih menjauh dari Hendry.
"Ternyata kamu masih punya sisi takut juga, ya?" ledek Hendry. Saat ia ingin kembali memegang lengan Citra, wanita itu menepisnya. Ia masih kesal dengan apa yang baru saja terjadi.
Mereka baru sampai di lantai lima. Masih ada empat lantai yang harus dilewati untuk bisa sampai di lobi utama. Keduanya tetap berjalan bersama meskipun kali ini berjarak.
"Lain kali jangan telat pulang lagi biar tidak menyusahkan aku. Mentang-mentang kita teman kamu tidak ada rasa sungkan menyuruh manajer jadi pemandu jalan?" omel Hendry.
Citra kembali menghentikan langkah. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengarahkan tatapan tajam kepada Hendry. Kekesalan bercampur kemarahan sudah berkecamuk di dalam hatinya. "Bisa tidak Bapak mengabaikan saya? Semua kelakuan Bapak terus terang membuat saya tertekan!" Citra berkata dengan suara yang bergetar.
"Saya sudah berusaha bersabar mengikuti kemauan Bapak dari A sampai Z seperti orang bodoh! Saya juga rela lembur demi kepentingan Bapak sampai rekan kerja kelihatan kesal."
"Di saat seperti ini Bapak masih saja ingin bercanda? Pikiran saya sudah lelah dengan masalah pekerjaan, apa Bapak ingin membuat mental saya juga ikut kelelahan karena ditakut-takuti Bapak?"
"Bisa tidak Bapak bersikap seperti atasan yang lain? Saya lelah, Pak!"
Citra akhirnya meluapkan kekesalannya. Air matanya menetes saking kesalnya. Hendry jadi merasa bersalah. Niat awalnya sebenarnya hanya bercanda. Ia hanya merasa senang saat mengetahui di perusahaan ada orang yang dikenalnya. Ia kira Citra akan suka berteman dengannya. Ternyata, wanita itu justru membenci sikapnya yang seperti itu.
"Baiklah kalau itu maumu, mulai besok aku tidak akan mengulanginya lagi. Sebenarnya aku hanya bercanda," ucap Hendry.
Citra mengusap air matanya. Ia berjalan mendahului Hendry. Sementara, di belakang Hendry tetap memegang ponsel milik Citra dan menerangi arah jalan wanita itu. Hendry sudah tidak berani mengganggunya.
Setibanya di lobby bawah, suasana terlihat terang. Mereka bertemu dua orang petugas keamanan yang tampak kaget karena masih ada orang yang keluar dari lantai atas.
"Kami minta maaf, Pak. Saya kira sudah tidak ada karyawan yang bekerja," ucap salah seorang satpam.
"Lain kali tolong cek satu per satu ruangan untuk memastikan di dalam masih ada orang atau tidak," pinta Hendry.
__ADS_1