
Aldo tersenyum miring. "Bagaimana kalau kamu yang menggantikannya?"
Edis menepis tangan Aldo yang mencoba menyentuhnya.
Aldo yang tidak terima, mencekik leher Edis. "Kamu berani melawan?" tanyanya dengan mata melotot.
Napas Edis tercekat. Lelaki itu benar-benar mengerikan, seolah ingin membunuhnya. Cengraman tangannya sangat kuat.
"Katakan, berapa nomor ponsel kakakmu kalau tidak ingin aku membunuh dirimu dan ayahmu!" ancamnya.
"Uh ... Tidak mau!" dalam kondisi tercekik, Edis menolak kemauan Aldo.
Lelaki itu mendorong tubuh Edis hingga tersungkur ke lantai.
"Berikan aku pistol!" pinta Aldo.
Seorang anak buahnya maju menyerahkan sepucuk pistol kepada Aldo. Edis terkejut karena lelaki itu tidak bercanda dengan ucapannya. Aldo bersiap menarik pelatuk pistol yang diarahkan kepada Pak Agus.
Edis semakin khawatir. Ia tidak ingin ayahnya mati di tangan lelaki gila itu. "Hentikan!" serunya.
Aldo kembali menyeringai.
***
Bara berada di dalam salah satu ruangan kantor Zack. Setelah meminta bantuan sahabatnya untuk mendapatkan rekaman CCTV dari minimarket tempat Edis hilang, mereka memutarnya di kantor Zack. Angga turut diajak karena dia saksi mata terdekat dalam peristiwa tersebut.
CCTV yang diputar menampilkan kondisi halaman minimarket. Awalnya situasi biasa saja, hingga terlihat tiga orang lelaki datang menghampiri Edis yang duduk sendirian di sana.
"Apa itu mereka?" tanya Bara.
"Benar, Pak! Mereka yang aku sempat lihat mendekati Edis," jawab Angga.
Situasi yang tergambar dalam CCTV cukup ramai. Banyak pengunjung yang keluar masuk minimarket tersebut. Ada pula orang yang duduk di bangku dekat Edis duduk. Sayangnya, karena ketiga lelaki tersebut tidak terlihat mencurigakan, mereka tidak terlalu memberikan perhatian.
"Adiknya Retha cantik juga, ya. Manis dan imut," guman Zack sembari memperhatikan rekaman di hadapannya. Sesekali ia menjeda video untuk melihat lebih detil gambar yang ditampilkan.
__ADS_1
"Aduh!" pekik Zack saat tangan Bara dengan tidak sopan menampol kepalanya. Padahal, ia sedang asyik memperjelas wajah Edis.
"Lelaki tua sepertimu kenapa juga masih melihat anak di bawah umur," ucap Bara dengan nada ketus.
"Beberapa tahun lagi juga pasti dia akan tumbuh jadi wanita yang cantik, secantik kakaknya." Zack masih belum puas memandangi wajah Edis yang sedikit banyak memiliki kemiripan dengan Retha.
"Dia tumbuh dewasa dan kamu sudah jadi tua,' ejek Bara.
"Cih! Usia hanyalah angka. Aku masih bisa mengimbangi pergaulan anak-anak muda zaman sekarang."
"Di belakangmu itu ada pacar Edis, bodoh!"
Zack terkejut. Ia menoleh ke belakang, memandang Angga yang memasang wajah kesal kepadanya. "Oh, anak kecil sekarang juga sudah berpawang rupanya. Hahaha ...." Zack merasa miris dengan dirinya sendiri. Ia merasa selalu kalah cepat dalam hal mendapatkan wanita. Retha sudah lebih dulu diambil Bara. Sekarang, adik Retha juga sudah memiliki pawangnya.
"Jangan merasa muda terus, Zack. Sadar diri kalau sekarang kamu sudah semakin menua."
"Sstt! Ada anak di bawah umur. Jangan bahas itu lagi."
Zack kembali mengajak mereka fokus memperhatikan kembali CCTV. Mereka juga melihat Edis berjalan bersama ketiga lelaki itu ke arah jalan sembari menunjuk ke suatu arah. Ada juga momen saat Angga berlari, namun mobil tersebut lebih dulu melaju pergi. Ia mengecek plat nomor kendaraannya, sama dengan yang Angga sebutkan sebelumnya.
"Ini aneh, Bar. Mobilnya merupakan milik Tante Sukma," ucap Zack.
"Pemilik tempat pelacvran."
Bara dan Angga tersentak kaget.
Zack sepertinya ingin banyak bicara, namun saat menyadari keberadaan Angga ia mengurungkan niatnya.
"Bagaimana kalau kita cepat mencari Edis di sana? Saya takut terjadi apa-apa kepadanya," pinta Angga dengan wajah khawatirnya.
"Ah, iya. Kita akan segera ke sana. Bisa kamu tunggu di luar sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan berdua dengan Bara." Zack meminta Angga keluar dari ruangannya secara halus.
Angga mengangguk. Ia berbalik pergi meninggalkan ruangan itu sesuai kemauan Zack.
"Kenapa?" tanya Bara penasaran.
__ADS_1
"Aku sangat yakin kalau mobil tersebut milik Tante Sukma. Tapi, ketiga orang itu setahuku merupakan anak buah Aldo."
Bara tampak semakin bingung. "Siapa lagi itu Aldo?"
"Kamu pasti tidak ingat, ya. Kamu pernah dua kali menghajarnya di klab."
Bara tidak mengingat kejadian tersebut. Ia merasa tidak mengenal nama Aldo.
"Aku pernah mendengar dia mengumpat tentangmu di klab. Katanya, kamu sudah mengacaukan rencananya mendapatkan wanita yang dia suka."
Bara jadi teringat sesuatu. Memang, malam itu ia sempat menghajar seorang lelaki yang hampir menyentuh Retha. Karena lelaki itu juga ia dan Retha menghabiskan malam bersama.
"Klab malam milik Hans?" tanya Bara memastikan.
"Benar! Dulu kamu juga pernah datang ke sana bersamaku, kan?"
Ingatan Bara semakin kembali ke masa yang lebih lama. Pertama kalinya ia menghajar orang di klab akibat ada pelayan di sana yang sedang diganggu. Kalau diingat-ingat lagi, ia baru sadar kalau pelayan yang memakai topeng adalah wanita yang saat ini menjadi istrinya.
Bara mengusap wajahnya sendiri. Ternyata, pertemuannya dengan Retha juga sudah terjadi beberapa kali sebelum proyek di luar kota. Ia jadi ingat pertama kalinya pikiran kotor kembali saat melihat tubuh seorang wanita. Ternyata, wanita itu merupakan orang hang sama, yaitu Retha.
"Retha ... pertama kali aku bertemu dengannya di tempat Tante Sukma," ucap Zack. "Aku sampai heran kamu bisa terikat dengan wanita seperti dirinya yang dulunya bekerja di dunia malam. Aku rasa dia wanita yang punya banyak masalah sampai adiknya juga terbawa dalam hal seperti ini."
"Aku yakin sebelum bersamamu, Retha sudah menjadi idola banyak lelaki. Apa kamu nanti siap setelah mengumumkan pernikahan kalian, pasti akan ada lelaki yang mengaku dekat atau mengenal Retha?"
Bara jadi memikirkan ucapan Zack. Bagaimanapun juga, Retha memang memiliki masa lalu yang kelam. Meskipun demikian, ia tetap percaya jika selama ini Retha bisa menjaga diri meskipun berkecimpung dalam pekerjaan yang penuh kebebasan.
"Yah, aku memang belum pernah tidur dengan Retha. Tapi, siapa yang tahu kalau ada lelaki lain yang juga sudah pernah tidur dengannya!" celetuk Zack.
Sekali lagi Bara menampol kepala Zack. "Aku yang sudah menidurinya pertama kali. Jangan asal ngomong!" Ia tidak terima Zack berkata yang macam-macam tentang Retha.
"Hahaha ... Serius, Bar? Mana ada wanita klab yang masih rapat." Zack tidak percaya dengan ucapan Bara.
"Terserah padamu, tapi aku yang tahu."
Zack menghela napas. "Kamu beruntung ya, bisa dapat yang masih polos. Aku yang sudah melanglang buana ke berbagai klab, dari yang agresif sampai yang malu-malu, semuanya sudah berpengalaman, tidak ada gregetnya."
__ADS_1
"Kenapa jadi membahas hal seperti ini? Kita sedang mencari adik iparku!" Bara kembali meluruskan topik pembicaraan yang telah melenceng jauh.
"Ah, iya. Aku sampai lupa. Bagaimana kalau kita cari dia ke tempat Tante Sukma? Atau kita langsung datang ke rumah Aldo?"