Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Bukan Anakku?


__ADS_3

"Maaf, Pak. Hasil tes DNA menunjukkan bahwa anak itu kemungkinan besar, 99,9% bukan anak kandung Anda."


Pernyataan yang dilontarkan oleh sang dokter begitu menusuk perasaan Yoga. Ia terpukul menyadari kenyataan bahwa anak yang Ira lahirkan bukan anak kandungnya.


Putranya yang baru lahir mengidap kelainan ginjal bawaan. Setelah dokter melakukan pemeriksaan, ia disarankan untuk melakukan transplantasi ginjal bagi putranya.


Saking sayangnya dengan anak yang Ira lahirkan, Yoga bahkan bersedia menjadi pendonor ginjal bagi putranya sendiri jika bisa. Namun, setelah dilakukan pengecekan, ternyata golongan darah mereka tidak memiliki kesesuaian.


Terbersit kecurigaan bahwa mungkin saja Ira hamil dengan lelaki lain. Namun, setiap kali Ira ditanya, wanita itu terus menyangkal. Ira bersikeras mengaku bahwa Yoga adalah ayah kandung putra mereka yang bernama Shinbi.


Hubungan Ira dan Yoga sedang sedikit renggang akibat hal itu. Meski demikian, keduanya terus mendampingi Shinbi menjalani perawatan di rumah sakit.


Secara diam-diam Yoga melakukan tes DNA dengan putranya. Hasilnya tentu saja sangat mengecewakan. Sepertinya Ira telah membohonginya selama ini.


"Apa Dokter yakin tidak ada kesalahan pemeriksaan?" tanya Yoga menahan amarah. Kedua tangannya ia kepalkan erat-erat.


"Saya hanya menyampaikan hasil uji lab yang telah dilakukan sesuai prosedur, Pak. Dilihat dari golongan darah Bapak yang AB dan istri O, tidak memungkinkan memiliki anak bergolongan darah O. Apalagi diperkuat dengan hasil tes DNA, dimana tidak ditemukan kecocokan sama sekali antara ayah dan anak. Sebaiknya Anda diskusikan ulang hal ini bersama istri dengan cara baik-baik."


Mata Yoga sudah mulai berkaca-kaca. Lelaki mana yang tidak akan sakit hati dibohongi oleh istrinya sendiri. Juga menerima kenyataan bahwa anak yang ia bangga-banggakan bukanlah darah dagingnya.


Yoga mengambil amplop coklat hasil pemeriksaan DNA-nya. "Baiklah, Dok. Terima kasih atas kerja kerasnya. Saya permisi dulu," ucap Yoga seraya bangkit meninggalkan ruangan dokter.


Tatapannya kosong seperti mayat hidup. Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit membawa kekecewaan sebesar gunung. Rasanya ia ingin menghancurkan semua yang ada di sekitarnya. Hidup yang ia anggap hampir sempurna dengan kelahiran seorang anak ternyata hanya kebahagiaan semu belaka.


Di saat kesedihan melanda, tanpa sengaja pandangan matanya menangkap sosok Citra tak jauh dari tempatnya. Wanita itu tampak cantik, bahkan lebih cantik dari pada yang ada di dalam benaknya. Sembari tersenyum manis, wanita itu menimang seorang bayi dengan bahagianya.


Melihat Citra membuat semangatnya bangkit. Wanita yang hingga kini tetap mengisi salah satu ruang di hatinya, ia masih berharap bisa kembali bersama dengannya.

__ADS_1


"Yoga! Kamu dari mana saja? Lama sekali kamu pergi. Kasihan Ira kelelahan menjaga Shinbi sendiri." Yanti tiba-tiba saja datang mengalihkan perhatian Yoga.


Yoga benar-benar malas membahas Ira saat ini. Ia berlalu meninggalkan ibunya dan berjalan mendekat ke arah Citra.


Yanti yang merasa diabaikan ikut membuntuti Yoga. "Hah! Pasti gara-gara mantan menantu sialan itu!" umpat Yanti saat melihat Citra ada di sana. Ia sangat tidak suka wanita itu masih muncul dalam kehidupan putranya.


"Citra!" sapa Yoga.


Raut wajah Citra yang semula dihiasi senyuman langsung berubah muram. Ia berusaha menyembunyikan bayinya agar tidak terlihat oleh Yoga.


"Kamu sedang apa di sini? Itu bayi siapa?" tanya Yoga.


"Apa urusanmu menyanyakan kepentinganku di sini? Ini bukan rumah sakit pribadimu, kan? Terserah aku mau apa di sini!" jawab Citra dengan nada ketus. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya bertemu dengan Yoga di sana.


"Wah! Makin terlihat aslinya ya, setelah bercerai. Beruntung sekali akhirnya Yoga mau menceraikan wanita arogan seperti ini!" sahut Yanti yang tidak terima mendengar anaknya dikasari oleh Citra.


Citra menghela napas panjang. Satu orang seperti Yoga saja sudah membuatnya muak apalagi ditambah dengan kehadiran Yanti, mantan mertua yang sejak dulu tidak menyukainya.


"Sudah gila wanita ini! Tidak ada sopan-sopannya kepada orang yang lebih tua!" maki Yanti.


"Memangnya saya harus bagaimana, Ibu Yanti, supaya dianggap menghormati Anda? Apa rasa hormat saya begitu penting bagi Anda?"


Nada bicara Citra membuat Yanti semakin kesal. "Wanita ini ...," geramnya.


"Sudah, Ibu! Hentikan!" Yoga berusaha melerai keduanya. Ia memegangi tangan ibunya agar tidak maju memarahi Citra.


"Kenapa sikapmu jadi seperti ini, Citra? Apa lelaki itu yang mengajarimu bersikap semacam ini?" tanya Yoga.

__ADS_1


"Memangnya aku harus bagaimana? Kita sudah bercerai, apa kamu lupa?"


Yoga terdiam sesaat. Ia memang sudah tidak berhak lagi mengatur kehidupan Citra.


Citra menggoyang-goyang bayinya yang mulai bergerak akibat terusik oleh keributan yang terjadi. "Lebih baik kalian pergi. Sepertinya anakku terganggu dengan keberadaan kalian," katanya.


Baik Yoga dan Yanti tertegun mendengar penuturan Citra.


"Itu ... Anakmu?" tanya Yoga tidak percaya. Tiga tahun menikah dengan wanita itu mereka bahkan tidak dikaruniai seorangpun anak.


"Iya, ini anakku." jawab Citra dengan penuh percaya diri. Akhirnya, setelah sekian lama, ia bisa membuktikan kepada mantan suami dan mantan mertuanya bahwa dirinya tidak mandul.


"Hah! Mana mungkin secepat ini kamu bisa memiliki anak dengan lelaki lain? Jangan-jangan kamu sudah selingkuh sebelum resmi bercerai dengan Yoga!" Yanti merasa tidak senang mendengar Citra telah memiliki seorang anak.


"Apa selingkuh itu hal yang menjijikan? Bukankah Ibu Yanti sangat bangga waktu mengetahui Mas Yoga telah menghamili wanita bernama Ira waktu itu? Saya bukan menantu idaman karena hanya anak yatim piatu yang tinggal di panti dan tidak bisa memberikan hamil selama pernikahan." Citra tertawa kecil mengingat kejadian di masa lalu.


Yanti mengepalkan tangannya. Ia merasa sedang dipermalukan oleh wanita yang lebih muda darinya.


"Citra ... Apa benar dulu kamu selingkuh dariku?" tanya Yoga yang tampak masih syok mengetahui Citra sudah punya anak.


"Kalau aku selingkuh, untuk apa dulu aku masih berusaha mempertahankan pernikahan kita? Aku bahkan bersedia memaafkanmu jika kamu mau meninggalkan wanita itu. Bukankah semua sudah keputusanmu yang menentukan? Tidak perlu menyesal dan jalani saja hidupmu!"


Ucapan Citra terdengar sangat pedas hingga Yoga dan Yanti tampak menahan amarahnya. A


"Sayang, sudah waktunya kita pulang. Kenapa masih ada di sini ...." Hendry turut bergabung di sebelah istrinya. Ia terlihat tidak senang melihat istrinya lagi-lagi bertemu dengan keluarga mantan suami.


"Sheryl masih tidur nyenyak, ya?" tanya Hendry sembari mencubit sedikit pipi putrinya yang menggemaskan. "Kamu masih ada urusan dengan mereka?"

__ADS_1


"Tidak!" tegas Citra.


"Kalau begitu, kita turun sekarang. Mommy dan Daddy sudah menunggu di lobi. Mereka ingin segera bertemu dengan cucunya sebelum besok kembali ke Amerika."


__ADS_2