Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Kebablasan Mesra


__ADS_3

21+


Thea menunggu dengan tidak sabaran kembalinya Bara. Sesekali matanya menatap ke arah pintu sembari menghela napas. Bibirnya dimanyun-manyunkan saking bosannya.


Srek!


Pintu terbuka. Revana datang dengan raut wajah yang tampak lesu. Thea seakan memiliki firasat akan mendapatkan laporan yang tidak menyenangkan.


"Nona, Tuan Bara tidak ada di mana-mana," ucap Revana.


Thea merasa keheranan. Bara begitu lama hanya untuk pergi ke toilet. Ia yakin efek obatnya pasti sudah mulai bekerja, makanya menyuruh Revana untuk mencari Bara. Seharusnya Bara ada di dalam ruangannya dan ia bisa melihat lelaki itu tersiksa. Namun, skenario yang Thea inginkan tidak terjadi.


Sampai sekarang Bara belum kembali. Tadi ia juga menyuruh Revana mengecek keberadaan Bara di dalam toilet. Ia kecewa pengawalnya pulang hanya mengabarkan Bara tidak ada.


"Mobilnya masih ada di basement parkir. Namun, saya tidak bisa menemukan keberadaan Tuan Bara. Saya juga sudah mencarinya di area diskotik."


"Seharusnya kamu bisa mencarinya dengan lebib teliti, Revana," geram Thea.


Thea mengepalkan kedua tangannya. Padahal ia telah menyusun rencana dengan sangat matang, namun rencananya harus kembali gagal. Ia yakin Bara pasti telah diam-diam meninggalkan tempat itu karena sudah tahu rencananya.


"Kenapa susah sekali untuk menakhlukkan lelaki itu," gerutunya.


Thea merasa dirinya yang sekarang jauh lebih cantik dari pada yang dulu. Banyak lelaki yang sebenarnya tertarik kepadanya. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada yang menarik perhatiannya. Urusannya dengan Bara juga sebatas rencana balas dendamnya saja, bukan berdasarkan cinta.


***


Bara menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Ia masih memberikan tatapan dingin kepada Retha karena merasa dibohongi. Rasanya ia ingin melampiaskan segala kekesalannya begitu saja.


"Mas Bara, aku bisa menjelaskannya." Retha mer3m4s-rem4s jemarinya. Ia bisa membaca raut kesal yang ditunjukkan Bara kepadanya. Ia menyadari kesalahannya sendiri yang melanggar kesepakatan mereka.


Bara memandangi kekasihnya dari atas hingga bawah. Melihat pakaian yang dikenakan wanitanya sungguh ia merasa marah. Tubuh indah itu pasti sudah dipandangi banyak lelaki mata keranjang di klab.

__ADS_1


"Retha, apa pemberianku kurang? Kamu bilang mau berhenti dari sini, kan?"


Retha tak sanggup menatap mata Bara. "Maaf, Mas. Kata manajer aku dilarang berhenti kerja sampai dua minggu ke depan. Jadi terpaksa saya masih bekerja."


"Kalau kamu ada masalah, seharusnya ceritakan semua. Apa kamu tidak tahu kalau aku sedang sangat marah?" Bara mengangkat wajah Retha, menatap kedua matanya dalam-dalam.


"Aku salah," ucap Rertha. Pandangannya tiba-tiba menjadi kabur, kepalanya pusing, dan tubuhnya lemas. Hampir saja ia terjatuh jika Bara tak sigap menangkapnya.


"Kamu kenapa?" Bara tampak khawatir. Ia yang awalnya sangat marah berubah menjadi cemas.


"Aku pusing." Retha seakan tak berdaya. Ia tak memiliki kuasa terhadap dirinya sendiri.


Bara segera memindahkan Retha ke atas tempat tidur. Dirinya juga sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Ia yakin Thea memasukkan sesuatu ke dalam minumannya. Dalam ruang ber-AC itu, ia merasa kegerahan. Bahkan melihat paha Retha yang terpampang jelas membuat pikirannya menjadi kalut. Ia merasa butuh berendam di kamar mandi untuk meredakan hasratnya.


Tangannya ditahan oleh Retha saat ia hendak masuk ke dalam area kamar mandi. "Kenapa?" tanya Bara.


Ia berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain. Posisi Retha yang terbaring di atas ranjang begitu menggoda. Bahkan sebagian dadanya menyembul keluar bagaikan bukit yang siap dijelajahi. "Tahan, Bara ... tahan ... kamu jangan gila ...," ucapnya pada diri sendiri.


Bara terdiam sejenak. Gelagat Retha ada yang tidak beres. Ia curiga wanita itu mengkonsumsi sesuatu yang tidak semestinya.


"Retha, kamu tadi minum apa?" tanya Bara sembari menepuk-nepuk lembut pipi wanita itu.


"Hm, minum apa? Aku tidak minum apa-apa." bicara Retha seperti orang bergumam. "Nyalakan AC!" Wanita itu mulai menarik-narik pakaiannya.


Bara menghela napas. Di saat dirinya menghadapi kondisi yang berat, ternyata Retha juga mengalami hal yang sama. Akal sehatnya semakin melemah melihat gerakan sensval yang Retha lakukan.


"Tubuhku rasanya aneh ... aku mau dipeluk ...."


Wanita itu semakin merancu, membuat Bara ikut bimbang. Hasratnya juga semakin menggebu berusaha menguasai dirinya. "Sepertinya kita memang harus berendam untuk menenangkan diri," ucapnya.


Bara memapah tubuh Retha dalam gendongannya. Wanita itu menelusupkan kepala ke dada bidangnya. Tangannya tak bisa diam membuatnya lelaki itu semakin gelisah.

__ADS_1


"Hah ... kenapa dia membuat hariku jadi terasa berat begini. Kalau aku paksakan mungkin besok dia akan menangis." Bara hanya bisa menghela napas dan mencoba memikirkan hal-hal lain.


Perlahan tubuh Retha diletakkan pada bathtube yang tengah diisi air. Sementara dirinya membasahi diri di bawah guyuran shower yang mengalirkan air dingin. Ia berharap pengaruh obat yang diberikan untuknya bisa menghilang dengan cepat.


"Dasar Thea si4lan!" umpat Bara.


Ia memegangi miliknya sendiri yang sudah menegang sempurna namun tak bisa ditidurkan. Padahal ia sudah mengalihkan pikirannya kepada hal lain seperti hutang perusahaan, saingan bisnisnya, sampai kerugian yang pernah dialaminya. Usahanya sia-sia karena otaknya memikirkan Retha.


Guyuran air dingin tak mempan untuk meredakan gejolak yang muncul dalam dirinya.


"Kok aku ditinggal, Mas?"


Bara membulatkan mata melihat tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Ada dua benda empuk yang terasa menempel pada punggung polosnya.


Retha sudah gila. Ia melepas seluruh pakaiannya dan menghampiri dirinya yang juga tengah mandi di bawah shower tanpa mengenakan apapun.


"Retha, aku sudah susah payah menahan diri. Kamu nanti nangis, jangan memancing-mancing aku." Bara tak berani berbalik ke belakang.


"Mas, tubuhmu nyaman. Dari tadi aku ingin sekali dipeluk." Retha berbicara setengah sadar. Ia sudah dikuasai oleh hasratnya sendiri. "Tolong sentuh aku."


Bara membenturkan dahinya pelan ke arah tembok. Wanita itu benar-benar menggoyahkan pertahanannya. Ia yakin kali ini tak akan sanggup lagi bertahan.


"Ini apa, Mas?"


Bara syok saat miliknya digenggam oleh tangan lembut dan mungil seorang wanita. Setelah sekian lama, ada sentuhan wanita di sana. Rasanya nyawanya sudah terbang tinggi ke angkasa.


Bara membalikkan tubuhnya, menatap tubuh polos wanita yang ada di hadapannya. "Jangan menyesal dengan kata-katamu barusan. Malam ini, aku benar-benar tidak akan melepaskanmu meskipun kamu sampai menangis," tegasnya.


Retha justru tersenyum seakan menantang. Membuat Bara tak ragu untuk mengangkat tubuh ringannya ke dalam gendongannya. Tanpa sungkan wanita itu melingkarkan tangannya ke belakang leher sembari terus memberikan senyuman menggoda.


Bara merebahkan perlahan tubuh Retha yang masih basah di atas ranjang. Keduanya telah diliputi hasrat menggebu sampai lupa bahwa sebenarnya mereka sedang berada di dalam kamar klab malam yang disewa orang lain.

__ADS_1


__ADS_2