Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Bantuan Hendry


__ADS_3

Yoga mengintip Citra yang sedang kerepotan mengangkat barang-barangnya. Ia mengepalkan tangan tanda kesal kepada keputusan Citra. Ia berharap Citra mau mengalah kepadanya jika disuruh meninggalkan rumah itu. Rumah yang dibangun dengan tabungan Citra sepenuhnya, namun tanah yang digunakan merupakan milik Yoga.


Ia berharap Citra tetap mau menjadi istrinya. Ia menikahi Ira sekedar sebagai bentuk pertanggungjawabannya. Ia tidak masalah Citra tidak bisa hamil asalkan tetap berada di sisinya. Apalagi sekarang ada Ira yang bisa mengandung anaknya.


"Aku mau lihat apa kamu bisa hidup setelah bercerai dariku, Cit ...," lirih Yoga.


"Yoga, foto-foto pernikahan kalian mau dibakar atau dibuang? Ibu mau muntah rasanya mengingat pernah punya menantu seperti Citra!" ucap Yanti dengan nada kesal memperhatikan foto pernikahan yang terpajang di ruang tamu.


Yoga menutup kembali tirai jendelanya. Ia pandangi foto pernikahan yang dulu sangat membuatnya bahagia. "Biar nanti aku yang bereskan, Bu."


"Kamu tidak perlu hadir ke pengadilan, Yoga. Biarkan saja Citra mengurus perceraiannya sendiri supaya putusannya cepat. Setelah itu, kamu bisa langsung menikah dengan Ira. Kita buat pesta pernikahan yang lebih bagus dari pada pernikahanmu dulu."


"Itu terserah Ibu saja yang atur."


"Kamu tidak usah seperti orang sedih begitu. Citra sudah sangat kurang ajar menggugat cerai kamu, apalagi menggunakan alasan selingkuh. Lupakan dia dan anggap tidak pernah mampir dalam kehidupan kita!"


***


"Citra ... Lilis ...."


Hendry keheranan saat melihat Citra dan Lilis sedang membawa banyak barang di depan rumah Citra. Kebetulan ia menemukan ponsel yang tertinggal di meja Citra dan berniat mengembalikannya. Sesampainya di depan rumah sesuai alamat rumah Citra, ia melihat mereka sedang membawa barang-barang seperti orang mau pindahan.


"Ah! Kebetulan, Pak! Bisa bantu Citra pindahan tidak?" celetuk Lilis.


Citra langsung membungkam mulut temannya yang ceriwis itu.


"Apaan sih, Cit! Lumayan ada bantuan," ucap Lilis lirih.


"Ada perlu apa Bapak datang ke sini?" tanya Citra.


Hendry merogoh saku jasnya dan menyerahkan ponsel milik Citra.


"Ah, iya. Aku sampai lupa membawa ponselku," gumam Citra sembari menepuk dahinya. "Terima kasih, Pak." Ia menerima ponsel yang Hendry berikan.


"Kamu mau kemana? Kenapa bawa banyak barang?" tanya Hendry.


"Dia diusir oleh suami dan mertuanya, Pak!" sekali lagi Lilis menyeletuk. Citra sampai gregetan dan mencubit lengan Lilis.


"Tidak usah pedulikan saya, Pak. Biar saya urus masalah ini sendiri. Bapak pulang saja," ucap Citra dengan senyuman kakunya.


"Kamu kenapa sih, Cit. Siapa tahu Pak Hendry mau membantu. Barang bawaanmu banyak banget, loh!" ujar Lilis.

__ADS_1


"Kalau begitu, masukkan saja barang-barangnya ke mobilku. Kamu mau kemana? Biar aku antar."


"Tidak usah, Pak." Citra berusaha menolak karena sungkan kepada atasannya.


"Citra mau kembali ke panti asuhan Anugerah Tuhan, Pak." Lilis terus menyahut meskipun Citra melotot kepadanya.


"Oh, aku tahu tempatnya. Kita masukkan saja barang-barangnya," pinta Hendry.


"Tidak usah, Pak."


Hendry melotot kepada Citra. "Kamu mau menahan aku di sini lama-lama? Kamu pikir aku tidak ada kerjaan selain berdebat hal sepele ini denganmu?"


Citra tidak bisa berkata-kata. Ia hanya berniat menolak bantuan malah jadi dimarahi. Terpaksa ia mengalah membiarkan barang-barangnya dimasukkan ke dalam mobil Hendry.


"Masuk!" perintah Hendry setelah semua barang Citra masuk.


Lilis mendorong Citra agar masuk ke mobil manajer mereka.


"Lilis ... Aku mau boncengan denganmu," ucap Citra.


"Kamu kira Pak Hendry kurir barang? Nggak sopan banget sudah dibantu malah mau motoran senganku!" Lilis mendorong Citra masuk ke mobil dan menutup kembali pintunya.


Citra langsung menjewer telinga Lilis yang berani berkata hal aneh-aneh kepada Hendry. Lilis hanya tertawa-tawa. Ia pamit pulang lebih dulu mendahului mobil Hendry.


"Jangan dengarkan ucapan Lilis, Pak. Dia memang suka bercanda," ucap Citra sembari memasang sabuk pengamannya.


"Ibu Hana apa kabar?" tanya Hendry sembari fokus menyetir.


Pertanyaan Hendry membuat Citra menoleh kepada lelaki itu. Ia tidak menyangka jika Hendry masih mengingat ibu asuhnya di panti. "Beliau sehat, bahkan kelihatan awet muda dari umurnya yang sekarang. Bapak masih mengingatnya?"


"Kamu tidak perlu berbicara formal denganku saat di luar kantor. Kesannya kita orang asing saja. Padahal kita sudah kenal sejak SMA. Panggil saja aku Hendry atau Kak Hendry seperti dulu."


"Kedengarannya kurang sopan, Pak. Sudah terbiasa seperti ini di kantor."


"Ya sudah, terserah padamu. Tapi, kenapa akhir-akhir ini performa kerjamu semakin menurun? Apa ada kaitannya dengan peristiwa hari ini?"


"Bukankah ranah privat karyawan tidak boleh dicampuri dengan urusan kantor, Pak? Ini juga bukan jam kerja." Citra keberatan untuk menceritakan masalah pribadinya.


"Siapa yang mau tahu permasalahanmu? Percaya diri selali kamu." Hendry terkekeh.


Citra jadi merasa malu sekaligus kesal dibantah oleh Hendry.

__ADS_1


"Aku hanya ingin tahu kenapa kualitas pekerjaanmu menurun? Apa karena sebentar lagi akan resign? Kebetulan penggantimu juga sudah perusahaan pilih."


Citra kembali melirik ke arah Hendry. "Pak ...," panggilnya.


"Hm, kenapa?" tanya Hendry.


Citra terlihat ragu mengatakannya. "Bisa ... Saya batalkan permohonan resign yang telah diajukan waktu itu?"


"Siapa yang tadi bilang tidak boleh membahas pekerjaan di luar jam kerja?" sindir Hendry.


Citra langsung terdiam. Ia termakan ucapannya sendiri.


"Kamu sedang ada masalah keluarga?" Tanya Hendri. "Kalau mau menjawab pertanyaanku, aku akan mempertimbangkan permintaanmu untuk pembatalan resign," desaknya. "Benar, kamu ingin bunuh diri?"


Citra tertawa kecil. "Anda tidak usah terlalu mendengarkan perkataan Lilis. Dia memang suka melebih-lebihkan."


"Jadi benar ya, kamu diusir suami dan mertuamu?"


"Yah ... Begitulah." Citra tampak pasrah dengan apa yang terjadi.


"Kenapa?"


"Suamiku mau menikahi sahabatnya yang sedang hamil. Aku tidak mau diduakan, jadi aku mereka usir dari rumah."


"Wow! Berat juga masalahnya. Heran juga kamu bisa kalah sama pelakor," ledek Hendry.


"Maklum, Pak. Pelakornya cantik ... Juga bisa hamil," ucap Citra sembari mengalihkan perhatian ke samping jendela.


"Kamu juga cantik," lirih Hendry.


"Bilang apa tadi, Pak?" tanya Citra.


"Nggak ... Aku tidak bilang apa-apa," kilah Hendry. Ia tidak menyangka Citra bisa mendengar ucapannya. "Jadi, kamu mau tinggal lagi di panti."


"Iya, Pak. Terpaksa, karena saya tidak punya uang tabungan lagi. Sambil menabung kalau ada uang cukup nanti bisa beli rumah yang baru lagi."


"Kenapa tidak mengurus harta gono-gini? Kamu juga berhak atas rumah itu, kan?"


"Katanya kalau saya tidak mau diduakan, tidak boleh menuntut apa-apa dari hasil pernikahan. Jadi, biarkan saja. Saya juga mau cepat bercerai dari dia dan menata hidup lagi."


Hendry merenungi nasibnya sendiri. Ia juga belum lama menyelesaikan permasalahan rumah tangganya dengan Tatiana. Alasan kesehatan dirinya menjadikan putusan cepat dipenuhi. Apalagi ia meminta Tatiana yang mengajukan gugatan.

__ADS_1


__ADS_2