Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Masih Kurang


__ADS_3

Retha mengerjap-kerjapkan mata saat terbangun dari tidurnya. Saat ia mencoba menggerakkan badannya, sebuah tangan kekar melingkar di perutnya. Ia terkejut, mengingat kembali peristiwa semalam saat mendapatkan seorang pelanggan yang menyusahkan. Sesaat ia ketakutan mengira sudah menghabiskan malam dengan lelaki asing. Ia menoleh ke arah belakang, lagi-lagi ia terkejut. Lelaki yang masih tertidur sembari memeluknya ternyata adalah Bara, kekasihnya.


Perlahan potongan-potongan peristiwa yang terjadi semalam seakan kembali berputar di otaknya. Ia mulai mengingat beberapa adegan panas yang telah ia lakukan, mulai dari ciuman yang panas hingga penyatuan yang mereka berdua lakukan entah berapa kali. Semalam ia merasa sudah gila bisa melakukan hal yang tidak mungkin dilakukannya dalam keadaan sadar.


"Ah, kenapa semalam bisa seperti itu," gumamnya.


Dengan tangan gemetar dan wajah pucat, ia memberanikan diri mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya. Ia benar-benar syok mendapati dirinya dalam keadaan polos, satu selimut dengan Bara.


"Ini gila ... aku pasti sudah gila. Kenapa aku bisa melakukan hal seperti ini?" ia menutup wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya. Ia masih tidak percaya semalam telah melakukan hubungan Badan dengan Bara tanpa sepenuhnya ia sadari. Rasanya ia ingin kembali tertidur dan menganggap apa yang telah terjadi sebagai mimpi.


Ia bertanya-tanya, berapa lama mereka semalam bergumul. Seluruh badannya terasa pegal dan sulit digerakkan. Apalagi Bara terus menempel padanya.


Ia kebingungan harus melakukan apa. Rasanya percampuran antara malu, canggung, dan cemas menyatu menjadi satu. Bisa-bisanya mereka tidur bersama dan melakukan itu.


Perlahan ia menggeser tubuhnya, berusaha menjauh dari rengkuhan Bara.


"Eugh ...."


Usahanya terhenti saat bara justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Hm, kamu mau kemana? Ayo kita tidur lagi," gumam Bara.


Mata Retha membulat. Ia menyingkirkan tangan Bara darinya seraya beringsut maju. Bara kembali menarik Retha kedalam dekapannya.


"Mas Bara!" seru Retha dengan nada kesal. Lelaki itu terkesan sangat santai menyikapi perbuatan tidak pantas yang baru semalam mereka lakukan.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang? Enak, kan?" Bara berbisik nakal di telinga Retha. "Kamu tidak sabaran sekali. Mau lagi, ya?" godanya.


Retha sangat gregetan. Ia kembali mendorong tubuh Bara dan berguling menghadap lelaki itu yang kini berjarak 50 centimeter di hadapannya.


Bara cukup kaget dengan respon yang Retha berikan. Semalam, wanita itu sangat agresif terhadapnya. Setelah bangun dari tidur, wanita itu malah seakan kesal dan ingin menjauh darinya. "Apa kamu sudah tidak mabuk?" tanyanya.


"Tidak ...," jawab Retha sembari menahan selimut ditubuhnya ia tidak mau lagi di sentuh oleh Bara. Semalam, ia anggap kekhilafannya bisa membiarkan peristiwa semacam itu terjadi.


"Aku sangat merindukanmu, Sayang." Bara hendak melabuhkan pelukan namun ditolak oleh Retha. "Kenapa?" tanyanya.


"Yang semalam itu salah, Mas ... Kamu maaih bisa santai dan menganggap hal ini bukan apa-apa?" Retha masih gregetan dengan respon yang Bara berikan.


"Sudah terlanjur, mau diapakan lagi?" Bara seakan pasrah saja dengan apa yang semalam telah menimpa mereka.


"Mas ...," rengek Retha.


Melihat Retha yang semakin kesal padanya membuat Bara semakin gemas dan ingin menggodanya. "Siapa ya, yang semalam menyerangku dan sekarang malah menyalahkan aku," sindir Bara.


Rerha menghela napas sembari memejamkan matanya beberapa saat. Ia jadi kesal kepada dirinya sendiri.


Bara mengulurkan tangannya, mengusap lembut kepala Retha. "Maaf, ya ... Kamu pasti menginginkan hal semalam untuk pernikahan kita nanti. Sayangnya, apa yang kita mau memang tidak sesuai dengan realitanya."


"Entah siapa yang berniat jahat memberikan obat kepada kita berdua, aku bersyukur malam ini kita dipertemukan di sini." Bara berusaha memahami kondisi syok yang dialami Retha.


Bagaimanapun juga, semalam adalah malam pertama Retha, seharusnya ia menyerahkan mahkotanya kepada lelaki yang telah menikahinya. Meskipun mereka sudah berpacaran, tapi rasanya berbeda dengan melakukan setelah pernikahan.

__ADS_1


"Obat?" Retha bertanya keheranan. Ia merasa tak mengkonsumsi apapun dan tidak merasakan apapun selain ingatan bahwa semalam dirinya memang sempat menggila.


"Kamu tidak tahu? Pasti ada yang sudah memberikanmu minuman yang sudah dicampur obat. Makanya semalam jadi seberani itu kepadaku."


Retha mulai mengingat-ingat kejadian sebelum semuanya terjadi. Ia datang ke klab malam tujuannya untuk meminta berhenti kerja. Namun, manajer tak mengizinkannya dan meminta dirinya tetap bekerja di sana sampai dua minggu ke depan. Di dalam ruangan Pak Hans, ia sempat meminum segelas jus. Selain itu, ia tidak sempat makan atau meminum apapun lagi.


"Mas ... aku minum jus di ruangan Pak Hans waktu mau izin mengundurkan diri. Tapi aku tetap disuruh bekerja semalam." Retha mengadukannya pada Bara.


"Hans pemilik klab?" tanya Bara memastikan.


Retha mengangguk.


"Aku akan memberikan dia pelajaran. Berani-beraninya dia bersikap seperti itu kepada calon istriku," Bara menyibakkan rambut Retha yang menutupi wajah ke belakang telinga. "Makanya aku menyuruhmu untuk keluar dari pekerjaan di klab malam. Kalau tidak bertemu denganku, mungkin kamu akan tidur sengan lelaki lain." Bara memanyunkan bibirnya.


"Mas Bara sendiri tadi katanya juga diberi obat oleh orang lain? Kalau tidak bertemu denganku, Mas Bara juga bakalan tidur dengan wanita lain, kan?" Retha tak mau disalahkan sendiri.


Bara memijit keningnya. "Aku tidak sepertimu. Aku kuat menahan diri. Semalam kalau bukan kamu yang terus menyerangku, sebenarnya aku masih bisa bertahan," ucapnya. "Lagipula, semalam aku juga sudah menghubungi asistenku untuk datang ke tempat ini ...."


Ucapan Bara terhenti. Pandangannya mengarah ke sekeliling mengamati ruangan tempat mereka berada. Ia menepuk dahinya sendiri. "Aku sampai lupa kalau kita masih berada di tempat ini!"


***


Tiur terbaring di atas ranjang kamarnya sembari tersenyum-senyum sendiri. Rasanya, pagi ini akan menjadi pagi yang cukup indah untuknya. Semalam, ia telah bekerjasama dengan Hans untuk menjebak Retha. Ia tahu temannya itu berniat mengundurkan diri dari pekerjaan.


Tiur meminta Hans menahan Retha agar tidak keluar dari pekerjaannya. Ia memberikan obat agar Retha bisa tidur bersama seorang lelaki yang telah membayarnya. Kebetulan mereka memiliki tujuan yang selaras. lelaki itu menginginkan tubuh Retha, sementara Tiur ingin Retha hancur.

__ADS_1


Ia tidak senang melihat Retha bahagia mendapatkan Bara. Temannya itu seakan telah merebut posisinya. Seharusnya ia yang pergi berjumpa dengan Bara dan memiliki hubungan baik dengan lelaki kaya tersebut.


"Selamat bergabung di duniaku, Retha. Setelah malam ini, Bara pasti akan meninggalkanmu dan kamu akan menjadi pelacvr sepertiku. Hahaha ...." Tiur tertawa jahat. Ia akan senang jika mendengar Retha mengalami kesusahan. "Kamu pikir dirimu yang paling suci, hah?"


__ADS_2