Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Perceraian


__ADS_3

"Aku sudah menandatangani semunya!" Silvia melemparkan berkas perceraian ke hadapan Bara dengan kasar. Raut wajahnya menunjukkan keangkuhan. Dengan dandanannya yang tebal serta berani, ia mengunjungi Bara sekaligus menegaskan hubungan mereka.


"Ini kunjungan terakhirku, Bara. Aku akan kembali melanjutkan hidup di luar negeri. Selamat menikmati proses peradilanmu. Ini adalah balasan dari Tuhan karena sudah mengkhianatiku."


Bara ingin terkekeh dengan ucapan Bara. Kalau diingat-ingat, sepertinya dulu ia gila bisa cinta mati kepada wanita itu. Bahkan setelah mengetahui keburukan Silvia, ia masih berharap wanita itu bisa berubah menjadi lebih baik. Sayangnya, Silvia justru semakin terlihat seperti iblis.


"Aku harap kamu bisa hidup bahagia di sana," ucap Bara.


"Tentu saja. Harta yang Gerald tinggalkan untukku bisa aku gunakan untuk hidup mewah sampai aku mati. Berbeda dengan dirimu, selama menikah sama sekali tidak pernah mencukupi kebutuhanku. Bahkan hanya memberikan kesusahan dalam kehidupanku!"


Ucapan Silvia sangat menyakitkan. Bara sampai mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Entah mengapa Silvia semakin menunjukkan perangainya yang buruk.


"Memang tepat kita berpisah, kamu akan lebih bahagia lepas dariku. Seharusnya kamu lebih cepat bercerai denganku." Bara tetap berusaha bersikap tenang dan tersenyum di hadapan Silvia.


"Kalau aku tahu kamu akan bangkrut seperti ini, aku juga tidak akan menahan diri untuk bercerai. Kamu kira aku sangat mencintaimu sampai harus bertahan dengan kondisi seperti ini?"


"Lalu, kenapa hubungan kita bisa sangat awet sejak SMA sampai kita menikah?" Bara menatap mata Silvia dengan tajam.


"Seharusnya kamu sudah tahu alasannya, Bara. Aku hanya menjadikanmu tameng atas hubunganku dengan Rangga."


Bara menghela napas kecewa. Memang, selama ini ia sangat bodoh telah bersikap baik kepada Silvia. "Sudahlah, itu juga sekedar masa lalu yang tidak ingin aku pedulikan. Kamu lebih baik segera pergi sebelum aku mengamuk di sini," pinta Bara.


"Aku juga tidak betah lama-lama di tempat pengap seperti ini." Silvia mengambil tasnya dan bangkit dari duduknya. "Untuk urusan Kenzo, sekali lagi aku tegaskan bahwa aku tidak akan memperdulikannya. Terserah kalau kamu mau terus menganggapnya anak atau menyerahkannya ke panti asuhan, aku tidak akan peduli."


Setelah mengucapkan hal itu, Silvia pergi dari hadapan Bara.


Air mata Bara perlahan menetes. Ia terpaku di tempatnya sembari berusaha memahami perasaannya. Ia bukan menangisi kepergian Silvia untuk kedua kali, melainkan menyesali kebaikan yang pernah ia berikan kepada wanita itu.


Selama lima tahun ia berharap bisa memperbaiki semuanya, termasuk memori Kenzo tentang kedua orang tuanya yang harmonis dan saling mencintai. Sepertinya, ia harus memberikan pengalaman pahit bagi Kenzo memiliki ibu yang mencampakannya.

__ADS_1


"Pak ...."


Sapaan Fiko, sang pengacara menyadarkan lamunan Bara. Ia segera mengusap air matanya. Fiko duduk di hadapan Bara.


"Ini dari Silvia." Bara menyodorkan amplop coklat berisi berkas perceraian mereka kepada Fiko.


"Apa Ibu Silvia sudah menandatangani semuanya?" tanya Fiko.


"Dia bilang sudah," ucap Bara dengan nada lesu.


Fiko mengerutkan keningnya. "Padahal Anda yang awalnya sangat berkeinginan untuk bercerai, kenapa Anda malah bersikap sedih seperti ini?" tanyanya keheranan. "Kalau Anda ingin mengurungkan niat bercerai, saya tidan akan menyerahkan berkas ini ke pengadilan," ucapnya.


"Jangan salah paham, aku tidak sedih karena bercerai dengannya!" kilah Bara. "Kamu lakukan saja apa yang aku minta, segera urus perceraianku dengannya."


Fiko mengangguk. "Akan secepatnya saya selesaikan."


"Kamu boleh pergi sekarang!" pinta Bara.


"Kamu tidak perlu ikut pusing memikirkannya. Jonan akan mengusahakan yang terbaik untukku," kata Bara yang tak ingin membuat orang merasa khawatir.


"Semoga Pak Jonan bisa mengusahakan Anda keluar secepatnya dari tempat ini. Kalau begitu, saya permisi dulu." Fiko pergi membawa berkas perceraian Bara.


Dari ruang jenguk tahanan biasa, Bara dibawa oleh pengawal menuju ke ruangan lain. Ia sudah tahu kalau ada orang lain yang akan menemuinya. Ternyata Jonan dan Retha sudah ada di sana.


Bara langsung memeluk mesra sang istri tanpa memperdulikan keberadaan Jonan dan dua orang bodyguard wanita. Bara mengganti bodyguard Retha dengan wanita karena cemburu setiap kali sang istri datang ditemani lelaki lain. bahkan, sopir pribadi yang ia berikan untuk Retha juga seorang wanita.


"Bagaimana kondisimu, Sayang?" tanya Bara sembari mengelus perut Retha yang masih terlihat rata.


"Aku baik-baik saja, Mas. Tadi bertemu Pak Jonan di parkiran, katanya ada perkembangan untuk kasus yang menimpa Mas Bara."

__ADS_1


"Duduklah, Jonan! Kamu mau menyampaikan apa?"


Bara mengajak Retha duduk, begitu pula dengan Jonan. Mereka bertiga duduk saling berhadap-hadapan, sementara dua orang bodyguard wanita berjaga di depan pintu.


"Saya akan terus berusaha membersihkan nama Anda sebelum kasus ini bergulir ke pengadilan. Berdasarkan bukti-bukti yang telah terkumpul, ada beberapa orang yang patut dicurigai terlibat, termasuk Tuan Rudy."


Apa yang Jonan sampaikan sesuai dengan perkiraan Bara. "Apa kamu sudah menemukan bukti keterlibatan Tuan Rudy?"


"Sementara belum, Pak. Tapi, saya menemukan keterkaitan kejadian yang pernah menimpa Anda dengan ini semua."


Jonan menghubungkan peristiwa yang pernah terjadi saat Bara mengurusi proyek secara langsung. Seputar cerita di balik kecelakaan yang pernah menimpa Bara juga tentang hubungan antara ayah Zack dan ayah Thea yang kurang bagus, namun dipersatukan dalam proyek Bara. Perusahaan keluarga Zack dan Thea sedang bersaing dengan cara yang tidak sehat. Perusahaan Bara akhirnya menjadi tumbal dari perseteruan mereka.


"Apa itu ada hubungannya dengan Thea yang berharap aku mau menikah dengannya?" tanya Bara.


Retha langsung menatap Bara.


"Jangan cemburu dulu, Sayang ...." Bara lebih dulu mengelus rambut Retha agar wanita itu tidak emosi. Dari raut wajahnya ia tahu sang istri kurang suka mendengar nama Thea disebut.


Jonan tertawa dengan tingkah Bara. "Kemungkinan Tuan Rudy ingin memperkuat posisi bisnisnya, apalagi perusahaan Anda berhubungan baik dengan perusahaan Pak Zack. Jika Anda menikah dengan Nona Thea, otomatis akan banyak perusahaan yang akan segan mencari masalah dengan mereka. Apalagi Anda terkenal sebagai pengusaha yang lurus dan memiliki track record yang baik."


Thea memang berkata jujur. Wanita itu juga tanpa sungkan mengatakan bahwa ingin menikah dengan Bara sekedar untuk urusan bisnis.


"Nona Thea pernah mendatangi saya juga menawarkan pembebasan Anda dengan syarat Anda mau menikah dengannya," kata Jonan.


Bara kembali melirik istrinya yang tampak merengut. Kata orang, wanita hamil perasaannya akan lebih sensitif. "Jonan, tolong cukupkan pembahasan kita kali ini. Aku perlu bicara dengan istriku," pinta Bara.


"Oh, baiklah!" Jonan mengetahui kode yang Bara berikan.


"Tolong kalian keluar dan tinggalkan kami berdua di dalam," pinta Bara.

__ADS_1


Mereka semakin paham apa kemauan lelaki itu. Bara pasti akan menyelesaikan masalahnya secara pribadi dengan sang istri.


__ADS_2