
"Bapak kok egois ... saya kerja di sini kan supaya hutang saya lunas. Kenapa malah saya jadi harus punya lebih banyak hutang?" Retha menggerutu karena Bara tetap kekeh memintanya tetap di sana. Sementara, ia harus segera pergi ke kamar yang benar menemui Zack, orang yang sudah membayarnya.
"Lakukan saja! Kalau berani kamu keluar dari kamar ini, saya akan langsung memberitahu pihak sekolah!" ancam Bara.
Entah mengapa kali ini Bara ingin jadi orang yang egois. Padahal, ia selalu menolak tawaran ibunya untuk mengirimkan orang agar merawatnya selama proses penyembuhan. Malam ini, ia justru berusaha menahan wanita milik Zack yang tidak sengaja masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak mau Retha bersama Zack atau lelaki lain. Lebih baik Retha menemaninya di kamar hotel untuk mengurangi kesuntukan kerja. Alalagi Retha orang yang sudah Bara kenal. Melihat pekerjaannya, wanita itu sudah pasti mrmiliki jiwa penyabar yang tinggi.
Retha langsung terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Gara-gara salah masuk kamar, ia jadi punya masalah lebih besar. Ia juga tak ingin dipecat dari tempatnya bekerja.
"Bar! Wanita yang sudah aku bayar itu kabur. Kayaknya perlu aku kasih pelajaran!" Zack masuk ke dalam kamar Bara sembari menggerutu.
Kedatangan Zack secara tiba-tiba membuat situasi seketika hening. Ketiganya sama-sama keheranan. "Loh! Kamu kenapa ada di sini?" Zack terkejut karena ternyata wanita yang sedang dicarinya ada di kamar Bara. Ia sempat marah-marah karena mengira Retha tidak ikut dikirim ke sana.
"Maaf, Pak," ucap Retha tidak enak hati.
Zack berjalan menghampiri keduanya. Bara yang tidak mau Retha diambil oleh Zack langsung menarik pinggang Retha dan memeluknya. Hal itu juga membuat Retha reflek memegangi dada bidang Bara yang terasa kokoh dengan otot-otot yang terbentuk rapi. Wajahnya langsung memerah berada sedekat itu di dekapan seorang lelaki tampan.
"Sudah aku bilang jangan main masuk sembarangan!" tegur Bara.
"Bar, dia wanita yang sudah aku bayar. Seharusnya dia ada di kamarku sekarang. Sejak tadi aku tunggu dia tidak datang-datang. Aku protes dengan pengurusnya, katanya sudah masuk ke kamarku. Kenapa malah dia ada di kamarmu? Lepaskan dia! Aku mau mengajaknya pindah ke kamarku."
Bara semakin mempererat pelukannya. Tatapan matanya tajam terarah pada Zack. "Karena dia ada di kamarku, berarti dia wanitaku. Pergilah! Kamu mengganggu waktu bersenang-senang kami."
Zack terkekeh. Ia merasa Bara hanya sedang mengerjainya saja. Tidak mungkin Bara tertarik dengan Retha. "Ayolah, Bar. Ini sudah larut malam. Aku sudah tidak sabar menghabiskan waktu dengannya. Berhentilah bercanda."
"Bercanda? Aku serius. Selama di sini, dia yang akan menemaniku tidur. Bukankah kamu sendiri yang memberikan saran kepadaku untuk mencoba sesuatu yang baru?" Bara berbicara dengan tegas.
Zack sampai tercengang mendengar perkataan Bara. Entah bagaimana caranya wanita yang telah dibayarnya malah ada di dalam pelukan Bara. "Oke, kamu boleh tidur dengan wanita manapun, Bar. Aku bisa mencarikanmu yang lain. Dia sudah aku bayar untuk satu minggu ini. Kembalikan dia padaku!" Zack tidak mau mengalah. Ia telah menyukai Retha sejak pertemuan pertama.
__ADS_1
"Aku maunya dia." Bara tetap teguh pada kata-katanya.
Zack bingung harus kesal atau tidak. Melihat Bara ada perkembangan mau dekat dengan wanita itu berita bagus. Namun, melihat Bara justru menyukai wanita yang diincarnya, ia juga jadi gregetan.
"Bar ...,"
"Akan aku ganti uang yang sudah kamu keluarkan untuknya." Bara memotong ucapan Zack.
"Masalahnya bukan itu," gerutu Zack.
Retha hanya bisa diam tercengang mendengarkan perdebatan dua lelaki yang ia rasa sama-sama pengusaha sukses. Bagi mereka sepertinya uang bukanlah hal besar. Berbeda dengan dirinya, uang sangat penting.
"Aku aku tidak akan melaporkan kelakuanmu di kantor kepada ayahmu. Ala itu imbalan yang pantas? Kalau kamu tetap tidak mau mengalah, tamat riwayatmu!" Bara memang memegang kartu As Zack.
"Hah!" Zack mengacak-acak rambutnya sendiri. "Ya sudah! Aku kalah! Terserah sekarang kalian mau apa. Aku mau pergi!"
Zack memilih untuk mengalah. Ia tak pernah bisa mengalahkan sifat keras kepala Bara.
"Maaf ya, Pak. Gara-gara saya, Bapak jadi bertengkar dengan Pak Zack." Retha merasa tidak enak hati.
"Sekarang, saya harus apa?" tanya Retha.
Bara memandang intens ke arah wanita itu. "Lepas pakaianmu!" perintahnya.
"Apa?" Retha terkejut.
"Bercanda." Bara terkekeh melihat respon yang Retha berikan. Wanita itu sangat terkejut. "Masakkan aku sesuatu. Mungkin masih ada mie instan atau bahan makanan di area pantry. Aku mau memakai baju dulu." Bara kembali berdiri dengan bantuan tongkatnya.
__ADS_1
"Biar saya bantu, Pak." Retha menawarkan bantuan dengan polosnya. Ia memegangi lengan Bara secara hati-hati.
Bara menoleh ke arah Retha. "Kamu mau membantu saya memakai baju?" tanyanya.
"Bukanya tadi Bapak bilang saya harus membantu Bapak?" tanya Retha heran.
"Di balik handuk ini, saya tidak memakai apa-apa. Kamu yakin mau membantu saya berpakaian?" Bara bertanya sekali lagi.
Retha menelan ludahnya. Sepertinya ia baru sadar telah menawarkan bantuan yang salah. "Em, maaf, Pak. Saya mau memasak saja untuk Bapak." Retha memilih kabur ke dapur. Ia merutuki kebodohannya sudah menawarkan bantuan memakaikan baju.
Bara tertawa lepas. Tingkah Retha memberikannya hiburan tersendiri hari ini. Ternyata wanita itu tidak sekaku kelihatannya. Ia melangkahkan kaki menuju wardrobe yang terdapat di satu area dengan kamar mandi. Bara masih bisa menggunakan pakaiannya sendiri.
Saat handuknya terlepas, ia lihat ada yang ikut bangun padahal biasanya tidur. Seketika ingatannya terbayang saat pertama melihat kehadiran Retha hanya mengenakan b1kini di hadapannya. Bentuk tubuhnya sangat indah, mampu membangkitkan g4irah yang selama ini hilang darinya.
"Aduh, Bar ... kamu kenapa jadi begini," gumamnya pada diri sendiri. Bara menepuk-nepuk kepalanya agar bisa berpikiran waras. Namun, lagi-lagi otaknya membayangkan saat ia memeluk Retha. Sudah lama ia tidak sedekat itu dengan wanita. Apalagi ada benda empuk yang menempel padanya, serta sentuhan tangan lembutnya membuat ia semakin menggila.
"Bodoh, Bar ... kenapa kamu malah menyuruhnya ikut tinggal di kamar ini!" Bara mengumpat dirinya sendiri. Semakin dipikirkan, miliknya semakin tegak menjulang dan tak bisa ditenangkan.
Zack sering menyindirnya yang selama tiga tahun betah menyendiri. Miliknya memang lebih sering lemas daripada hidup. Ia sudah tidak tertarik dengan wanita. Akhir-akhir ini saja benda itu mulai bereaksi kembali. Kalau diingat-ingat, mungkin sejak ia datang ke klab malam itu. Melihat pelayan klab berpenampilan s3ksi, ia langsung tertarik.
"Sepertinya aku sudah terlalu lama menahannya. Aku tidak boleh kalah!" Bara mengatur napasnya agar pikiran kotornya hilang.
*****
Sembari menunggu update berikutnya, bisa intip dulu karya teman author 😘
Judul: Aku Juga Ingin Bahagia
__ADS_1
Author: M Anha