
Citra sudah bersiap sejak dua jam lalu mengenakan baju tidurnya yang s3ksi dan wajah dipoles make up tipis. Rencananya malam ini ia ingin mengajak suaminya untuk bermesraan sekaligus merayunya agar mau tes kesuburan berdua.
Ia berharap suaminya akan senang hati menerima ajakannya. Seperti yang Dokter Ester bilang, memiliki anak bukan hanya urusan wanita, tetapi juga urusan suami. Untuk mendapatkan anak yang sehat, diperlukan ayah dan ibu yang sehat pula. Kalau ada kendala dalam memiliki keturunan, bukan hanya pihak wanita yang harus dituntut, tapi juga pihak laki-laki.
Citra menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul sebelas malam. Padahal suaminya bilang akan pulang jam sembilan. Ia mulai cemas, takut terjadi apa-apa dengan suaminya di jalan.
Ponselnya sedari tadi ia coba hubungi namun tidak aktif. Tidak biasanya sang suami seperti itu. Yoga pasti akan memberi kabar jika ia telat pulang.
Tin! Tin!
Mendengar bunyi klakson dari depan rumah, ia segera menyambar jaket untuk menutupi pakaiannya yang terbilang sangat vulgar. Pakaian yang sengaja ia beli demi menyenangkan hati seorang suami dengan memberanikan diri. Dibukakannya pintu pagar supaya mobil sang suami bisa masuk ke dalam. Ia juga membukakan pintu garasi rumahnya.
Wajah Citra tampak bahagia menyambut kedatangan suaminya. Akhirnya kegelisahannya sejak tadi bisa menghilang melihat sang suami yang pulang dalam kondisi selamat. Ia memeluk sang suami dengan hangat saat baru turun dari mobil. Anehnya, Yoga melepaskan pelukannya seperti orang yang sedang marah.
Citra membuntutinya masuk ke dalam kamar. Suaminya tak mengatakan apapun, wajahnya tampak masam. Lelaki itu hanya melepaskan pakaiannya menyisakan cel4na pendek saja. Lalu merebahkan diri di atas ranjang tanpa memandang sedikitpun ke arah Citra.
Citra terbengong sendiri. Padahal ia berusaha tampil mempesona malam ini agar bisa menggoda suaminya. Orang yang sejak tadi dinanti-nantikan justru mengabaikannya.
'Apa aku berbuat salah?' gumamnya dalam hati.
Citra menepis perasaan anehnya. Ia melepaskan jaket yang menutupi tubuhnya. Dengan pakaian menggoda yang dikenakannya, ia berbaring di belakang sang suami. Dipandanginya punggung t3lanj4ng suaminya sambil menghela nafas.
Rencananya gagal total. Sang suami seakan tak berminat kepadanya. Ia merasa sedikit kecewa.
__ADS_1
Citra sengaja menolak ajakan Yoga untuk datang ke acara reuni. Di rumah ia sibuk mandi dan membersihkan diri sampai semua bulu dan daki yang menempel ditubuh hilang. Ia ingin kulitnya mulus seperti susu saat disentuh suaminya.
Belum pernah selama pernikahan ia berani memakai baju haram semacam itu untuk tidur. Malam ini ia benar-benar menyiapkan mental demi melayani sang suami. Bahkan, ia sampai menonton cuplikan film panas di internet meskipun lebih sering menutup matanya sendiri saking memalukan adegan yang ia lihat.
Seperti apa yang pernah Dokter Ester katakan kepadanya, ia ingin menciptakan perubahan dalam sesi bercinta dengan suami. Ia ingin merasakan nikmatnya hubungan suami istri seperti halnya pada tayangan film panas yang sempat ia lihat. Semua ia lakukan demi mengupayakan kehamilan.
Sementara, Yoga sebenarnya merasa bersalah kepada sang istri. Di luar sana ia telah berciuman dan berpelukan dengan temannya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti kalau Citra mengetahuinya. Sang istri pasti akan sangat marah dan kecewa padanya.
Lebih bodohnya lagi, Yoga masih terngiang-ngiang tentang ciuman dan pelukannya dengan Ira. Bayangan itu belum juga hilang meskipun ia sudah sampai rumah. Apalagi miliknya sampai menegang hanya memikirkan bisa bercumbu mesra dengan wanita lain. Sungguh, ia menganggap dirinya sendiri memang bejat dan tidak tahu diri.
"Mas ... kamu sudah tidur, ya?" rengek Citra.
Wanita itu memberanikan diri untuk menegur suaminya. Ia tahu bahwa sang suami pasti kelelahan setelah menghadiri reuni. Akan tetapi, Citra masih ingin mengupayakan agar usahanya tidak sia-sia.
Bagaimana bisa kelembutan bibir Ira seakan masih terasa di bibirnya? Lalu ... Pelukan tubuh wanita itu masih terasa hangat. Seakan ingatan itu ingin menuntunnya kembali ke rumah Ira. Yoga seperti sudah gila, pikirannya telah dikuasai oleh Ira.
"Pasti kamu kelelahan, ya ... setelah bertemu teman-temanmu. Padahal aku sudah dandan cantik malam ini mau memberimu kejutan."
Citra merasa kecewa. Kejutan yang seharusnya ia berikan kepada sang suami justru berbalik memberikannya kejutan dengan respon sang suami.
Yoga mulai merasakan sentuhan jemari Citra di punggungnya. Pikirannya sedang dikacaukan oleh wanita lain dan kini istrinya ikut-ikutan menggoda keteguhannya. Dia rasa tak akan mungkin bisa bertahan malam ini.
"Mas ...." Suara panggilan Citra terdengar sangat mesra di telinga.
__ADS_1
Yogasudah tidak bisa menguasai dirinya. Ia membalikkan badannya secara tiba-tiba menindih sang istri di bawahnya dengan gerakan yang sangat cepat. Citra terdiam seketika. Ia kaget ternyata suaminya belum tidur. Apalagi tiba-tiba sang suami melakukan pergerakan mendadak yang mengagetkan.
Yoga memandangi wanita di bawahnya. Malam ini Citra masih mengenakan make up dengan bibir yang dipoles warna merah menantang. Pakaian tidurnya memiliki model lilitan tali spageti di pundak dengan belahan dada yang rendah mengekspose sedikit gundukan yang tampak mencuat dari dalam. Kulit putihnya yang mulus semakin membuat nafsvnya meningkat.
"Kamu belum tidur, Mas?" tanya Citra.
Padahal tujuannya ia hanya ingin curhat secara diam-diam saat suaminya tidur. Ternyata sang suami masih membuka matanya.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu menggodaku begini?" Yoga sudah tidak kuat lagi. Ia tidak menyangka jika sang istri ternyata malam ini berdandan begitu menggoda.
Ia menciumi ceruk leher sang istri. Aroma wangi bunga memanjakan penciumannya. Tubuh yang ada di bawahnya itu begitu menggoda, membuatnya tak sabar ingin segera menjamahnya. Citra hanya bisa mengeluarkan suara-suara eks0tisnya setiap kali jamahan tangan Yoga mendarat pada titik-titik sens1tif si tubuhnya.
Tangan Yoga sangat lihai melepaskan tali yang melingkar di pundak istrinya. Ketika telah terlepas, dua bukit yang menggoda itu terpampang jelas di depan matanya. Meskipun sudah tiga tahun ia menggarap daerah itu, sampai sekarang masih membuatnya terpana.
Ia kembali menatatap sang istri penuh cinta. Bibir ranumnya disambar secara tak sabar oleh dirinya. Setiap kecupan yang dilakukan membuatnya mabuk kepayang. Sekilas bayangan kejadian tadi bersama Ira kembali terbayang. Yoga sejenak menghentikan ciumannya.
"Kenapa, Mas?" tanya Citra keheranan.
Lelaki itu menatap dalam-dalam wajah sang istri. Ia hanya ingin memastikan bahwa orang yang ada di bawahnya adalah istrinya sendiri.
***
Sambil menunggu update berikutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author ya 😘
__ADS_1