
"Apa rencanamu sebenarnya?" Bara meneguk segelas wine yang ada di hadapannya.
"Rencana? Tentu saja kita akan berbisnis."
Thea menyunggingkan senyum. Setelah berhasil mencari-cari celah untuk kembali menemui Bara, akhirnya ia bisa memiliki urusan dengan lelaki yang sangat membencinya itu. Ia akan makin suka kalau bisa membuat lelaki itu emosi.
Sebenarnya Thea tak punya dendam tertentu dengan Bara. Hanya saja, ia ingin membalas sakit hatinya yang dulu karena Bara pernah berniat membubarkan klub basket wanita yang dipimpinnya. Bahkan, untuk memenuhi egonya, ia rela jika sampai harus menikah dengan Bara meskipun sebatas pernikahan bisnis. Ia tersenyum membayangkan wajah Bara yang kesal jika setiap hari harus melihat wajahnya.
"Perusahaan ayahku berniat menanamkan investasinya di perusahaanmu. Bukankah itu sangat menguntungkan?"
Bara terkekeh. "Kamu pikir perusahaanku sudah bangkrut? Bisnisku masih baik-baik saja tanpa investasi dari ayahmu."
"Oh, begitu ... harusnya ayahku memberikan kesempatan berinvestasi kepada perusahaan XXX.
Bara membulatkan mata. Perusahaan yang Thea katakan merupakan perusahaan milik saingan. Jika mereka berkembang lebih besar, maka perusahaannya akan terancam. "Kamu sedang memojokkanku?" Bara memberikan lirikan yang tajam.
"Memojokkan? Aku sedang menawarkan investasi yang menguntungkan," rayunya.
Bara menghela napas. Saat ia masih berada di luar kota, ayahnya mengabari untuk bertemu dengan Thea, putri dari pengusaha kawakan Roy Jordan. Ia sungkan menolak jika itu perintah ayahnya. Apalagi berkenaan dengan masalah bisnis yang mungkin jangka panjang bisa berdampak pada bisnis mereka.
"Sudahlah, jangan mencari-cari alasan terus. Aku tahu kamu tidak serius denganku. Kenapa kamu terus melanjutkan sandiwaramu?"
"Karena ini menyenangkan," ucapnya. Thea menyeringai. Ia mengambil gelas minuman yang ada di hadapannya lalu meneguknya dengan anggun.
Bara tidak habis pikir dengan pola pikir Thea. Sepertinya masih ada kaitan dengan masalah saat SMA. Dia juga punya pengalaman menyebalkan dengan wanita itu, berharap tidak akan bertemu lagi dengannya. Tapi, ia justru dipertemukan kembali bahkan direncanakan akan dijodohkan.
"Aku ke toilet dulu," pamitnya.
"Silakan!" Thea mempersilahkan Bara keluar dari ruangannya. Ia kembali tersenyum lebar. "Revina ...," panggil Thea.
Seorang wanita berpakaian formal serba hitam keluar dari pintu belakang. Dia merupakan pengaeal pribadi yang bertugas memastikan keamanan Thea.
__ADS_1
"Apa kamu sudah melakukan yang aku suruh?" tanyanya.
"Sudah, Nona. Saya telah mencampurkan obat ke minuman Tuan Bara seperti yang Anda minta," ucapnya.
Thea merasa sangat bahagia dengan perkataan Revina. Apalagi ia tahu Bara sudah menghabiskan satu gelas penuh minumannya. Sudah pasti tidak lama lagi obatnya akan bereaksi.
"Nona, menurut saya candaan Anda kali ini sudah kelewatan," kritik Revina dengan nada sekalus mungkin. Nonanya itu menyuruh dirinya memasukkan obat per4ngsang ke dalam minuman Bara. Ia khawatir rencana Thea akan berbalik sebagai boomerang kepada dirinya sendiri.
Thea menoleh ke arah Revina sembari tersenyum. "Kamu tenang saja. Aku yang akan menanggung sendiri akibatnya. Terima kasih sudah melaksanakan tugasmu dengan baik."
"Anda bilang sangat membenci Tuan Bara. Tapi kenapa Anda memberikannya obat itu, Nona. Bagaimana kalau dia tidak tahan menahan hasr4tnya dan memaksa Anda tidur dengannya?"
Thea tertawa dengan kekhawatiran Revina. "Bara itu sangat membenciku, dia akan lebih memilih mati dari pada melampiskan h4sratnya kepadaku. Aku sangat menantikan momem-momen dia begitu tersiksa. Pasti menyenangkan." Ia kembali mengembangkan senyuman lebar.
"Nona ...." Revina tetap mengkhawatirkan Thea.
"Sstt!" Thea melarang Revina berbicara. "Aku juga tidak masalah kalau sampai terlanjur bercinta dengan musuh. Bara pasti tidak akan melupakan momen seperti itu. Hahaha ...."
"Jatuh cinta? Dengan musuh bebuyutan sejak SMA? Lebih baik aku single seumur hidup!" elaknya.
Thea mulai memikirkan perkataan Revina. Ia sangat membenci Silvia dan Bara sampai selama hidupnya terus teringat dengan niat untuk membalas rasa sakit hatinya yang dulu.
Mungkin bagi orang lain masalah saat remaja hanya sebatas persoalan sepele. Tapi, bagi dirinya, apa yang ia rasakan dulu harus dibalas. Awalnya ia ingin merusak hubungan pernikahan Bara dan Silvia, namun mereka sudah lebih dulu berpisah sebelum ia mengacaukannya. Meskipun sasaran utama pembalasan merupakan Silvia, ia tetap tidak mengurungkan niat membuat kehidupan Bara jadi sengsara.
***
Bara membasuh wajahnya dengan air kran beberapa kali. Ia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Lib1donya meninggi sampai celana yang dikenakannya ikut terasa sesak. Badannya seperti panas, gerah, ingin menanggalkan segala yang menempel di tubuhnya.
"Hah, aku kenapa? Hanya karena segelas vodka tidak mungkin membuatku semabuk ini," gumamnya.
Bara kembali membasuh mukanya. Ia memutuskan untuk keluar dari toilet hendak kembali menemui Thea. Ia akan langsung pamit pulang setelah bertemu mengingat kondisi badannya yang sedang tidak mendukung.
__ADS_1
"Lepaskan saya!
Langkah kaki Bara terhenti di depan sebuah ruangan. Ada suara-suara ribut di dalam sana. Ia seperti mendengar suara Retha.
"Jangan pura-pura sok jual mahal ... berapa sih hargamu sebenarnya? Aku punya banyak uang, jangan khawatir ... hahaha ...."
"Aku dengar ayahmu tukang judi dan punya banyak hutang. Kamu pasti bekerja di sini untuk itu, kan?"
"Maaf, Tuan. Silakan berhenti selagi kesabaran saya masih ada."
"Memang kamu bisa apa? Kamu hanya pelayan di sini."
Brak!
Bara membuka kasar pintu ruangan yang tidak terkunci itu. Ia melihat Retha berada di bawah kungkungan seorang lelaki. Amarahnya muncul, tangannya dikepalkan sembari menahan emosi yang hampir meluap.
Ada rasa kecewa di hatinya. Ia percaya Retha benar-benar melakukan sarannya untuk berhenti dari tempat itu. Namun, apa yang sedang ia saksikan saat ini, kekasihnya itu sedang bersama seorang pelanggan laki-laki. Mengenakan pakaian kerja yang sangat terbuka sampai mengekspose sebagian besar tubuhnya.
"Mas Bara ... tolong aku!" teriak Retha. Ia kesulitan menghadapi lelaki yang sangat mabuk itu.
Bara berjalan memasuki ruangan itu. Dengan tatapan tajam yang membara, ia menarik paksa lelaki itu agar menjauh dari kekasihnya.
"Siapa kamu? Berani-beraninya mengganggu kesengangan orang! Aku sudah membayar mahal untuk bisa bersamanya semalaman. Aku bisa melaporkanmu pada manajer!" ancamnya.
Bugh!
Bara memberikan satu pukulan keras ke pipi Aldo. Lelaki itu tidak terima dan berusaha membalas pukulan. Keduanya terlibat berkelahian sampai barang-barang yang ada di ruangan itu satu persatu berjatuhan dan pecah.
Aldo yang dalam kondisi mabuk berat tak mampu mengimbangi kekuatan Bara yang diliputi amarah. Ia harus menerima tubuhnya babak belur di hajar.
"Hah! Sepertinya aku juga pernah bertemu denganmu di sini. Ini medua kalinya kamu memukuli aku. Awas saja pasti suatu saat akan aku balas." Aldo mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Ia tertawa seperti orang gila.
__ADS_1
"Aldo!" Salah seorang teman Aldo datang. Ia langsung berlari ke arah Aldo dan memapahnya bangkit. Tanpa berkata apapun, ia membawa Aldo keluar dari ruangan tersebut. Tampaknya lelaki itu tahu siapa Bara yang telah menghajar temannya.