Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Tidak Ada Dukungan


__ADS_3

Citra masih menitihkan air mata. Dalam kondisi jiwanya yang sedang terguncang akibat perselingkuhan sang suami, ia harus menabahkan hati dan menahan emosi. Sekalipun ia benci kepada Ira, namun wanita itu tengah mengandung anak suaminya.


Citra merelakan Ira untuk ikut satu mobil dengan mereka. Yoga telah kepalang basah ketahuan selingkuh bahkan membuat selingkuhannya hamil.


Citra meminta Yoga mengantarkan mereka ke rumah orang tua Yoga. Ia ingin menyelesaikan permasalahan rumah tangga mereka bersama orang tua. Karena Citra sudah tidak memiliki kedu orang tua lagi, maka satu-satunya harapan adalah meminta pendapat dari orang tua Yoga.


Plak! Plak! Plak!


Yoga mendapatkan tamparan berkali-kali dari ayahnya. Pak Kusuma terlihat sangat kecewa dengan perbuatan putranya sendiri. Sungguh memalukan seorang lelaki beristri melakukan perselingkuhan sampai selingkuhannya hamil.


"Sudah, Pak! Kasihan Yoga. Semua sudah terjadi, mau bagaimana lagi?" Yanti berusaha membujuk suaminya. Ia tidak tega melihat putra kesayangannya dipukuli ayahnya sendiri.


"Apa kamu tidak menggunakan otakmu? Kamu tidak memikirkan perasaan istrimu?" Pak Kusuma kembali memukuli kepala Yoga saking marahnya.


"Pak! Yoga tetap anak kita!" Yanti memegangi tangan suaminya agar berhenti memukuli Yoga. "Ini juga bukan sepenuhnya salah Yoga. Kalau saja Citra bisa menjadi istri yang baik, tidak mungkin juga Yoga tergoda dengan wanita lain."


"Ira itu wanita yang lembut, cantik, pintar memasak. Kalau saja Citra lebih sedikit peduli saja kepada suami, pasti tidak akan begini kejadiannya!" lanjut Yanti.


"Apalagi tiga tahun belum bisa memberikan anak. Tidak diceraikan Mas Yoga saja sudah untung," sahut Fira.


Citra tidak menyangka dalam situasi seperti ini pihak keluarga Yoga terutama mertua dan iparnya masih berusaha memojokkan dirinya. Seakan ketidakmampuannya untuk hamil merupakan kesalahan fatal yang tidak bisa dimaafkan.


Kebaikan yang selama ini ia lakukan tidak pernah dianggap. Ia malah hanya dipandang sebagai beban suami. Padahal, caci maki dan hinaan dari sang mertua ia terima dengan sabar.


"Fira benar. Walaupun cara Yoga salah, tapi kita beruntung karena akan mendapatkan cucu, Pak. Kita nikahkan saja mereka."


Citra terkejut dengan perkataan mertuanya. Selingkuhan Yoga mendapat dukungan hanya karena bisa hamil sedangkan dia tidak. Ia benar-benar tidak mengerti cara berpikir keluarga itu.

__ADS_1


"Ibu ini bicara apa? Yoga sudah punya istri. Di sini ada menantu kita, Citra! Bisa-bisanya kalian berkata seperti itu di hadapan Citra." Pak Kusuma tidak setuju dengan ucapan istrinya.


Pak Kusuma, meskipun lebih banyak diam, setidaknya tidak pernah ikut menghina Citra. Lelaki paruh baya itu menerima saja Citra sebagai menantunya karena sudah menjadi pilihan Yoga.


"Aku akan menikahi Ira, Pak. Aku akan bertanggung jawab kepadanya." Akhirnya, Yoga angkat bicara.


"Kamu sudah tidak mencintai aku, Mas?" air mata Citra berderai mendengar sang suami berniat menikahi pelakor itu. Harapan bahwa sang suami akan tanpa ragu meninggalkan Ira hanya sebatas khayalannya saja. Yoga begitu bimbang. Artinya, Ira memang sudah menjadi orang yang berarti dalam kehidupan Yoga.


"Kapan aku bilang tidak mencintaimu? Aku tetap mencintaimu, Citra ... Aku tidak akan menceraikanmu."


Kata-kata semacam itu tak mampu menentramkan hati Citra.


"Kamu mau punya dua istri?" air mata Citra semakin deras mengalir. Ia merasa seperti istri yang tidak berguna.


Yoga terdiam.


"Seharusnya kamu malah bersyukur. Kak Ira itu punya pekerjaan sendiri, gajinya juga besar, tidak akan menghabiskan uang suami sepertimu. Kamu juga tidak perlu susah payah berusaha untuk hamil, memang kamu tidak mampu, kan?" ledek Fira.


Mendengar kata demi kata dari keluaga Yoga semakin menyadarkan Citra bahwa dirinya sama sekali tidak dihargai di sana. Ia seperti sampah yang keberadaannya dibenci dan dijauhi oleh orang-orang. Harga dirinya sampai terluka untuk mempertahankan pernikahnnya.


"Aku memberikanmu satu kesempatan lagi, Mas. Akhiri hubunganmu dengan dia dan kita perbaiki rumah tangga yang telah dia hancurkan." Diiringi tetesan air mata, Citra masih berusaha memaafkan Yoga.


Ira yang sejak tadi diam memasang wajah sendu dalam hatinya merasa kesal. Ia sudah sampai sejauh itu untuk mendapatkan Yoga, namun Citra tetap berusaha mempertahankan rumah tangganya.


"Kamu tidak kasihan dengan Ira? Dia sedang mengandung anakku."


"Memangnya kenapa? Itu resiko bermain api dengan suami orang. Kenapa kita harus peduli? Hubungan kalian bahkan bisa terkena sanksi pidana atas tuduhan perselingkuhan. Apa perlu aku laporkan dia ke polisi agar kamu bisa menjadi suami yang baik?"

__ADS_1


Citra ingin egois. Ia tidak peduli dengan nasib orang lain. Ia hanya ingin peduli dengan kebahagiaannya dan keutuhan rumah tangganya sendiri.


Semua kaget dengan perkataan Citra.


"Apa kamu seorang istri yang sudah gila? Kamu mau menjebloskan suamimu sendiri ke penjara?" Yanti sangat geram dengan menantunya.


"Apa yang Ibu harapkan dariku? Memaafkan dan merestui perselingkuhan mereka?" teriak Citra. Ia kembali menghela napas menenangkan hatinya.


"Mas Yoga, kalau memang rumah tangga kita tidak lagi penting, ayo kita bercerai saja."


Rasanya begitu berat bagi Citra untuk mengatakan hal tersebut. "Tapi, jika Mas Yoga masih ingin memperbaiki hubungan kita, tinggalkan dia. Aku akan memaafkanku, Mas."


Pilihan yang Citra berikan terasa begitu berat untuk Yoga. Tentu saja ia masih mencintai Citra, tetapi tidak bisa mengabaikan tentang Ira. Ira merupakan sahabatnya. Wanita itu juga tengah mengandung anaknya.


"Citra, tolong kamu berpikir lebih jernih dulu. Jangan mudah meminta bercerai, itu tidak baik." Pak Kusuma masih berkeinginan untuk mempertahankan menantunya itu.


"Maaf, Pak. Saya tidak bisa menerima hubungan perselingkuhan. Kalau memang Mas Yoga sulit menentukan, biar saya yang ajukan gugatan perceraian. Sepertinya kalian juga memang berat untuk melepaskan wanita yang akan memberikan keluarga kalian keturunan."


Citra mengusap sisa air mata yang mengalir di pipinya. Tanggapan mereka sudah mengisyaratkan bahwa tak ada dukungan untuknya. Ia memilih pergi meskipun membawa rasa sakit yang mendalam di hatinya. Seumur hidup, ia tidak akan pernah melupakan tentang hari ini.


"Sudah, Kak! Biarkan saja kalau istrimu mau minta cerai. Toh Kak Ira juga jauh lebih baik dari dia!" ucap Fira dengan nada kesal.


"Istrimu itu memang tidak tahu diri. Sudah beruntung anak yatim piatu sepertinya ada yang mau menikahi tapi kelakuannya keras kepala dan hanya bisa menyusahkan suami. Siapa juga yang butuh menantu seperti dia."


Ira tersenyum lebar menyaksikan Citra keluar dari rumah itu. Akhirnya ia akan menjadi istri satu-satunya Yoga, lelaki impiannya.


***

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan favorit ya. Terima kasih sudah membaca. 🥰


__ADS_2