Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Sesuatu yang Terlupa


__ADS_3

Hendry mengintip ke arah luar ruangannya melalui celah-celah tirai jendela. Ia mengamati kesibukan staf di bawah pimpinannya yang sedang bekerja. Pandangannya terpaku saat mendapati sosok Citra yang sedang duduk fokus di depan monitor.


Ia hanya tersenyum-senyum memandanginya sembari mengingat hal-hal lucu yang pernah terjadi di antara mereka.


Orang pasti akan menganggapnya sebagai lelaki gampangan yang mudah jatuh cinta. Ia bahkan tidak terlalu memikirkan statusnya yang kini telah berubah menjadi seorang duda. Bukan karena ia tidak pernah mencintai Tatiana, tetapi karena waktunya seakan kembali ke masa lalu saat bertemu dengan Citra.


Dunianya terasa menyempit setelah bertemu Citra. Fokusnya pada wanita itu tidak bisa teralihkan. Ia juga merasa senang Citra kini bukan lagi milik orang.


Akan tetapi, Citra masih sama seperti yang dulu. Sosok wanita yang tidak mudah jatuh cinta atau tertarik dengan lawan jenisnya.


Hendry kadang heran dengan dirinya sendiri. Ia merasa sudah menjadi seorang lelaki yang diidam-idamkan kaum hawa. Ia tampan, mapan, dan sukses.


Ia juga sudah memberikan perhatian lebih pada Citra, namun wanita itu seakan tidak peka. Wanita lain pasti akan sangat senang ketika dirinya memberikan sedikit perhatian. Ia ingin hal itu juga berlaku kepada Citra.


Ia menghela napas saat menyadari satu hal. Penyakitnya tidak memungkinkan untuk mendapatkan wanita manapun yang ia mau. Sekelas Tatiana juga tega meninggalkannya.


"Hah! Hendry ... Hendry ... Kamu mikir apa? Memangnya ada itu cinta tanpa tidur satu ranjang," gumamnya.


Ia kembali menutup tirai jendelanya dan kembali ke meja kerja. Ponsel di mejanya bergetar, ada panggilan masuk dari Bara untuknya.


"Halo?" ucapnya saat mengangkat telepon.


"Masuk ruanganku sekarang!" pinta Bara.


Hendry menghela napas. Sekalinya Bara masuk kantor, ia hanya seperti seorang pesuruh. "Iya, baiklah!"


Hendry urung kembali ke meja kerjanya. Ia keluar dari ruangannya. Sekilas pandangan matanya bertemu dengan mata Citra. Segera ia tepis keinginan menyapa dan berjalan lurus ke arah ruang CEO.


"Hah ... Kapan masalah perusahaanku bisa selesai? Akan aku depak CEO Bara!" gerutunya.


Setibanya di ruangan Bara, ternyata ada satu lelaki lagi yang ada di sana.


"Yo, Bro ... Lama tidak jumpa!" sapa Zack dengan gaya khasnya.


Hendry tertegun sejenak melihat kehadiran satu lagi perusuh di sana. "Sudah pulang kamu, Zack? Puas berkelana mencari bule-bule Eropa?" tanyanya. Ia bergabung duduk di sofa bersama mereka.


"Kata puas tidak ada di dalam kamus Zack, Bro ...." Zack menyulut rokok dan menghisapnya.


"Sudah aku katakan jangan merokok di hadapanku, Zack!" tegur Bara.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Hendry yang ikut-ikutan mengambil rokok dan menyulutnya.


Bara memutar malas kedua bola matanya melihat kelakuan mereka.


"Bara sedang tobat sementara. Istrinya sedang hamil, jadi tidak berani merokok," kata Zack yang sengaja menghembuskan asap rokoknya ke arah Bara.


Bara hanya bisa pasrah dengan kelakuan Zack. Tipe manusia seperti Zack memang semakin dilarang akan semakin dilakukan. Percuma menasihatinya.


"Tidak apa-apa, Bar. Toh istrimu juga tidak ada. Kalau di rumah ya jangan merokok, kalau di luar ya bebas," ajak Hendry sembari menyebulkan asapnya.


"Aku sudah cukup lama berhenti merokok, sayang kalau harus gagal lagi hanya karena kalian," ucap Bara.


"Berhenti jadi perokok aktif tapi memulai debut menjadi perokok pasif. Hahaha ...." Zack menertawakan Bara. "Memangnya kenapa kamu sampai takut merokok gara-gara istri? Aku kira Retha tidak bisa galak."


"Retha memang tidak galak. Tapi, kata-katanya itu seperti punya daya magis yang membuat aku segan melanggarnya."


Zack dan Hendry saling berpandangan dan tersenyum dengan perkataan Bara.


"Ah, percuma juga aku bicara dengan lelaki jomlo. Pasti tidak akan paham," ucap Bara.


Tok tok tok


Retha tampak tersenyum memasuki ruangan dengan penampilan baru. Perutnya semakin terlihat besar.


"Wah, perutmu sudah seperti bola, Retha. Susah berapa bulan?" tanya Zack.


Bara meraih tangan istrinya dan membantunya duduk. "Sudah tujuh bulan, Pak Zack."


"Sebentar lagi Bara junior lahir. Aku akan punya keponakan lagi. Hahaha ...," kata Zack.


"Cepat menikah, Zack. Miliki anakmu sendiri. Sampai kapan mau main-main terus. Keburu rambutmu memutih sampai aku punya cucu!" sindir Bara.


"Kenapa memangnya? Aku merasa masih muda, mau senang-senang dulu. Hendry yang sudah lama menikah juga belum punya anak dan masih santai. Iya kan, Hen?" tanya Zack.


Hendry menyunggingkan senyum. "Aku sudah bercerai dengan Tatiana," ucapnya.


"Apa?"


Perkataan Hendry membuat mereka terkejut dan tidak percaya.

__ADS_1


"Serius, Hen?" tanya Bara penasaran.


"Belum lama sih, sudah sebulanan lah kira-kira. Putusannya juga baru turun."


Mereka seakan tidak percaya dengan ucapan Hendry.


"Kenapa, Hen? Kayaknya kalian baik-baik saja terakhir kita bertemu," ucap Bara.


"Masa kalau ada permasalahan harus bilang-bilang ke orang banyak, Bar ...."


"Tidak begitu juga, kesannya sangat mendadak," sambung Zack.


"Katanya kalian mau melakukan program inseminasi buatan untuk mendapatkan anak. Hasilnya bagaimana? Kok malah bercerai? Bagaimana dengan Tatiana?" sahut Retha yang tak kalah ingin tahu tentang mereka. Retha memang tidak terlalu mengenal Tatiana, namun ia merasa Tatiana wanita yang baik. Bara pertama kali mengenalkan Hendry dan Tatiana saat mereka sedang berbulan madu di Roma.


Hendry mematung mendengar ucapan Retha. Ia sampai lupa dengan hal itu. Sebelum ia dan Tatiana sempat melaksanakan program, mereka sudah ada masalah terlebih dahulu. Ia lupa belum mengabari pihak rumah sakit bahwa programnya dibatalkan.


"Kami tidak jadi melakukan program itu. Mau bagaimana lagi, Tatiana sudah lebih dulu pergi," jawab Hendry dengan berpura-pura bersikap tenang.


"Tenang, Hen. Aku akan jadi temanmu yang sama-sama belum punya anak." Zack menepuk pundak Hendry mencari teman. Ia bangga memiliki teman yang sama-sama belum punya keturunan.


Hendry menggaruk kepalanya seperti orang bingung. "Sebelumnya aku minta maaf, aku ada urusan sebentar ke luar," ucapnya.


"Mau kemana?" tanya Bara penasaran.


"Ada urusan pokoknya!"


Hendry langsung berlari keluar ruangan Bara. Ia menuju lift yang mengantarkannya ke lobi bawah. Rasanya ia tidak akan tenang sebelum bertemu langsung dengan pihak rumah sakit untuk mengungkapkan pembatalan program tersebut.


Sesampainya di rumah sakit, Hendry langsung menemui Dokter Ester yang kebetulan baru selesai menemui pasiennya.


"Selamat siang, Pak Hendry. Sudah lama juga Anda tidak datang ke sini, sepertinya Anda sangat sibuk," ucap Dokter Ester menyambut kehadiran Hendry.


"Saya ingin membatalkan program inseminasi buatsn yang telah kita sepakati beberapa waktu lalu."


"Oh, apa Ibu Tatiana akhirnya sudah berhasil hamil secara alami?" tanya Dokter Ester.


"Jangan menyindir begitu, Bu. Milik saya belum bisa berdiri sempurna, mana bisa memiliki anak jalur alami," protes Hendry.


"Hahaha ... Siapa tahu proses pengobatan Pak Hendry sudah berakhir. Kalau rajin mengkonsumsi obat, olahraga, dan menjaga pola makan serta menghindari stres biasanya bisa cepat sembuh."

__ADS_1


__ADS_2