Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Hari Kebebasan


__ADS_3

"Pak Bara, Anda dibebaskan dari tuntutan."


Bara tertegun sejenak mencerna perkataan seorang petugas lapas yang berdiri di depan pintu selnya. Petugas tersebut membukakan gembok pintu dan mempersilakan Bara keluar dari ruangan pengap yang tepat satu bulan menjadi tempat tinggal Bara.


Masih dengan perasaan tak percaya akan segera dibebaskan, Bara bangkit dari tempatnya dan mengikuti petugas tersebut. Orang-orang yang selama ini tinggal satu sel dengannya hanya menatap kepergian Bara. Beberapa di antaranya terlihat berbisik-bisik membicarakan kebebasan Bara yang mendadak. Ada yang menduga Bara bisa keluar dengan kekuatan uang.


Bara dibawa ke ruang kerja kepala lapas. Di sana sudah ada Retha dan keluarganya. Mereka tampak menangis terharu melihat kehadiran Bara.


Bara berjalan ke arah kursi depan meja kepala lapas. Ia duduk di sebelah pengacaranya, Jonan.


"Selamat, Pak Bara. Mulai hari Anda kami bebaskan dan nama Anda telah dibersihkan dari segala tuduhan," ucap kepala lapas yang bernama Lukito. Beliau merupakan orang yang selama ini meminjamkan ruangan pribadinya untuk kegiatan pribadi Bara bersama istrinya.


"Boleh aku tahu, apa alasannya?" tanya Bara. Ia mengira akan lebih lama berada di sana. Hari-hari terakhir terasa tenang, tidak ada perkembangan yang berarti dari penyelidikan terhadap kasusnya.


"Pelaku utama sudah menyerahkan diri dan mengatakan bahwa Anda tidak terlibat dengan kasus ini," ucap Pak Lukito.


Bara menoleh ke arah pengacaranya. Ia sama sekali tidak tahu kalau ternyata Mikola justru memilih untuk menyerahkan diri. Bara sudah tahu kalau alasan berat Mikola mengakui kesalahannya, karena tangan kanannya itu memiliki seorang nenek yang sakit-sakitan. Mikola sering bercerita tentang sang nenek yang menjadi orang tua tunggal baginya sejak masih kecil. Karena itulah, Mikola begitu menyayangi neneknya.


"Kemarin, Mikola menyerahkan diri. Dia sudah mengakui kesalahannya. Sementara masih dalam tahap pemeriksaan lebih lanjut untuk mengusut pihak-pihak yang terlibat. Dia mengatakan bahwa Anda sepenuhnya tidak tahu menahu mengenai masalah tersebut, karena Anda memang sudah tidak mengurusi proyek secara langsung."


"Dimana dia? Bisa aku bertemu dengannya?" tanya Bara. Ia sedikit khawatir dengan kondisi orang yang pernah menjadi kepercayaannya.


Pak Lukito memberikan kode kepada dua orang pengawalnya agar membawa Bara bertemu dengan Mikola yang ditahan dalam ruangan khusus.


Saat pintu ruang penahanan dibuka, hal pertama yang Bara lihat adalah Mikola yang sedang duduk meringkuk di sudut ruangan.


"Pak Bara!" seru Mikola saat melihat kehadiran mantan bosnya. Ia langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri Bara.


Bukannya marah atau menghajar orang yang telah mengkhianatinya, Bara justru memberikan pelukan kepada Mikola. Mantan pegawainya itu menangis tersedu-sedu hingga mer3m4s punggung Bara. Mikola tak bisa berkata-kata. Ia mencurahkan kesedihannya yang mendalam kepada Bara. Hingga beberapa saat, Bara hanya mendengarkan tangisan Mikola serta merasakan tubuh lelaki itu yang terguncang.

__ADS_1


"Saya minta maaf telah menyusahkan Anda, Pak," ucap Mikola setelah tangisannya reda. Mereka duduk di lantai bersandar pada dinding di dalam ruangan khusus tersebut.


"Maaf telah membuat Bapak harus masuk ke sini. Seharusnya sejak awal saya yang berada di tempat ini." Mikola berkata dengan nada penyesalannya.


"Nenekmu apa kabar?" tanya Bara.


Mikola menatap ke arah Bara. Seharusnya ia dihajar atau paling tidak dimarahi karena perbuatannya. Namun, hal pertama yang Bara tanyakan adalah kondisi neneknya, seperti biasa.


"Nenekku sudah jauh lebih baik, Pak. Dia sekarang tinggal di panti jompo milik Bapak Zack. Kalau Anda punya waktu, tolong kunjungi nenek saya sesekali," pinta Mikola.


"Pasti. Aku pasti akan menjenguk nenekmu."


Mikola sangat heran kepada Bara. Lelaki itu sama sekali seperti tidak ada niatan untuk menanyakan apa-apa kepadanya berkaitan tentang penipuan yang ia lakukan.


"Pak ...," panggil Mikola.


"Ya?"


"Apa yang harus aku tanyakan? Kamu pasti memiliki alasan sendiri untuk melakukannya."


"Anda tidak marah kepada saya?"


Diamnya Bara jauh lebih mengerikan dari pada hantaman preman. Ia bahkan lebih memilih Bara melampisakan kemarahan lewat pukulan dari pada diam tanpa menyalahkannya.


"Marah. Tentu saja aku marah. Siapa yang tidak marah setelah dikhianati orang yang paling dipercaya." Bara berbicara dengan nada datar.


"Apa Anda terlalu marah sampai tidak mau berbicara dengan saya?"


Bara menghela napas. "Mikola ... Terima kasih sudah mau mengatakan yang sebenarnya kepada polisi. Aku harap kamu tidak menyesal dengan keputusanmu ini," ucap Bara sembari menatap Mikola.

__ADS_1


Mikola tampak menyunggingkan senyum. "Justru saya menyesal tidak menyerahkan diri sejak awal. Saya menyesal telah melibatkan Anda dalam masalah ini dan menyusahkan Anda. Saya menyesal telah mengkhianati orang yang paling berjasa dalam hidup saya. Saya siap menebus kesalahan besar ini bahkan dengan nyawa saya sendiri."


Mikola telah mantap ketika memutuskan untuk menyerahkan diri kepada polisi. Ia telah menceritakan segalanya kepada sang nenek dan meminta keikhlasannya untuk menebus kesalahan. Sang nenek dengan rela menyuruh Mikola untuk menyerahkan diri dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia bangga memiliki seorang cucu yang menyayangi neneknya. Namun, Mikola tetap harus mengakui kesalahannya kepada polisi.


"Pak ... Bagaimana kira-kira kalau saya membongkar keterlibatan Tuan Rudy?" tanya Mikola.


"Apa kamu punya bukti yang kuat untuk menjeratnya?"


"Ada, Pak. Saya memiliki bukti rencana rekayasa kecelakaan yang menimpa Anda. Itu sebenarnya Beliau ingin mencelakai Tuan Frederick, ayah dari Bapak Zack."


"Ini masalah yang cukup serius jika kamu ingin melibatkan orang besar seperti Tuan Rudy. Kamu harus berhati-hati selama berada di sini. Aku akan membantu menjaga keselamatanmu, juga memberikan bantuan hukum lewat pengacaraku."


Mikola tertawa kecil. "Kenapa Anda masih bersikap baik kepada orang yang telah berkhianat?"


"Aku sudah menganggapmu seperti keluarga. Tanpa kamu, perusahaanku tidak akan melejit seperti sekarang."


"Tapi, sekarang perusahaan Anda dalam kondisi yang hampir bangkrut gara-gara saya."


"Itu tidak masalah, aku bisa kembali memulainya dari awal," ucap Bara dengan ringan. "Kamu, jalani saja proses peradilan ini dengan baik. Aku akan menunggumu keluar dan bergabung kembali dengan kami."


"Pak ... Kenapa ucapan Anda terus membuat saya jadi terharu." Mikola meneteskan air matanya lagi.


Bara menepuk-nepuk pundak Mikola. "Jadi lelaki jangan cengeng."


"Bapak terlalu baik jadi manusia. Kalau saya wanita, pasti saya juga akan tertarik dengan Anda," ucap Mikola.


"Tolong jangan berkata seperti itu, nanti aku dikira tidak normal." Bara bergidik geli mendengarkan perkataan Mikola.


"Tapi, memang selama ini para karyawan sering menganggap Anda sudah menyimpang, Pak. Soalnya tiga tahun tidak terlihat tertarik kepada siapapun," ucap Mikola. "Mereka tidak tahu saja kalau Anda sudah menikah dengan Nona Retha. Kapan Anda akan memperkenalkannya kepada para karyawan?"

__ADS_1


"Secepatnya aku akan memperkenalkannya," ucap Bara.


__ADS_2