Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Ranjang Darurat


__ADS_3

Pokoknya aku mau ngingetin untuk kasih vote buat author. Yang pelit aku sentil 🤪


Makasih yang sudah berkenan memberikan vote ya ... Authornya mode nodong 😅





21+


Takut baper skip, ya ...


"Mas ... Hentikan!" Retha mendorong tubuh Bara yang sejak tadi begitu agresif untuk menciuminya.


Bara menuruti kemauan Retha. "Kenapa, Sayang?" ia mengusap lembut pipi wanita kesayangannya.


"Ada banyak hal yang mengganjal di hatiku dan ingin aku tanyakan kepadamu."


Retha memberikan tatapan serius. Bara sepertinya sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran sang istri.


"Akan aku jawab semua yang ingin kamu ketahui, bahkan yang belum kamu ketahui. Tapi, setelah kamu melakukan tugasmu sebagai seorang istri."


Retha tak tahu lagi dengan cara berpikir suaminya. Padahal, ia ingin marah malah diajak bercinta. Terpaksa ia menurut saja ketika tubuhnya didorong hingga terbaring di atas ranjang.


Tanpa rasa malu, Bara membuang handuk yang menutupi tubuhnya sendiri. Sementara Retha hanya bisa membuang pandangan ke arah lain dengan kelakuan suaminya yang tak tahu malu. Ia pasrah saja ketika satu persatu pakaiannya dilepaskan dengan cekatan oleh tangan Bara. Meskipun sudah berulang kali melakukannya, ia masih merasa canggung dan malu setiap kali diajak bercinta oleh sang suami.


"Mas ... Kenapa kamu sangat santai? Ini masalah serius ...." keluh Retha.

__ADS_1


"Setelah ini, aku janji akan serius."


Bara kembali memagut bibir istrinya. Ia tak menyerah untuk membangkitkan g4irah sang istri. Ia ciumi setiap jengkal wajah Retha tanpa tersisa lalu menggigit lembut telinga sang istri. Barulah ia mendengarkan suara des4han yang keluar dari mulut istrinya.


Ia semakin bersemangat menjelajahi setiap titik sensitif milik sang istri, termasuk kedua bukit kembar yang tampak semakin padat dan s3ksi.


Kemarahan Retha seakan hilang dengan setiap cumbuan yang diberikan. Apalagi saat sang suami menyvsu padanya bagaikan seorang bayi besar. Tangan nakal Bara mengusapi area terlarangnya yang mulai terasa basah. Ia merasakan satu jari yang mulai memasukinya. Rasanya membuat ia semakin gila. Des4han demi des4han tak tertahan akhirnya keluar dari mulutnya.


Bara sudah sangat hapal dengan titik lemah istrinya. Ia sukses membimbing wanitanya terhanyut dalam hasrat yang sama dengannya. Permainan jemarinya begitu lihai hingga sang istri tak berdaya mendapatkan kepuasan pertamanya.


Bahkan tanpa memberi waktu beristirahat, Bara kembali menyerang sang istri yang masih berusaha mengatur napasnya. Bara membenamkan wajahnya di antara kedua kaki mulus itu, hingga dorongan mencapai puncak kepuasan Retha raih kedua kali.


Bara memandangi sang istri yang terkulai lemas dengan tatapan sayunya. Tiba gilirannya memuaskan diri dengan wanita tercinta yang sehari kemarin sangat dirindukannya.


Keduanya saling berpandangan dengan tatapan yang meneduhkan ketika Bara perlahan membuat tubuh mereka menyatu. Prosesnya sangat lembut di mana g4irah keduanya telah menyatu. Gerakan-gerakan penuh kenikmatan, suara lenguhan yang saling bersahutan, serta peluh yang menetes menjadi saksi cinta keduanya.


Air dingin yang menyegarkan membuat tubuh keduanya terasa lebih rileks. Bara mendudukkan Retha di depannya sembari memeluknya dari belakang.


"Sayangnya setelah ini aku akan kembali masuk sel," gumam Bara yang agak sedih dengan selesainya sesi bercinta mereka.


"Mas Bara katanya mau mengatakan semuanya." Retha menagih ucapan Bara. Lelaki itu terus memegangi kedua bukit indah milih Retha sembari memainkan puncaknya. Retha hanya diam saja mengingat Bara tidak akan mendengarkan ucapannya.


"Apa yang mau kamu tanyakan, Sayang? Akan aku jawab semuanya," ucap Bara seraya mengecup punggung Retha dengan mesra.


"Silvia sedang hamil, kan?" tanya Retha. Sejak awal bertemu, ia sangat ingin menanyakan tentang hal itu. Akhirnya, kalimat itu bisa juga keluar dari mulutnya.


"Iya, benar." Tanpa ragu Bara menjawabnya dengan lancar.


"Istri pertama kamu juga sedang hamil masih bisa seperti ini kamu, Mas!" Retha menyikut tubuh Bara di belakangnya.

__ADS_1


Bara tertawa dengan sikap Retha yang kesal-kesal menggemaskan. "Memangnya kenapa? Harusnya senang kan, jadi istri kesayangannya Pak Bara," godanya.


"Siapa ya, yang pernah bilang mau menyelesaikan masalah dengan istri pertamanya? Kayaknya ada yang bohong malah kebablasan bikin anak lagi." Retha menyindirnya.


"Kamu cemburu, ya?" Bara semakin mengeratkan pelukannya. Ia menyandarkan kepala pada punggung retha sembari semakin gemas merem4s kedua gundukan milik sang istri.


"Mas! Kamu nggak bisa diajak serius ... Aku sangat kesal tapi kamu hanya main-main!" keluh Retha. "Katanya tadi mau mengatakan semuanya, tapi malah jadi begini!" Menurutnya, Bara mengajak bermesraan di waktu yang salah. Ia benar-benar tidak begitu menikmati sesi kebersamaan mereka kali ini. Pikirannya penuh rasa bersalah.


"Kamu kembali saja kepada Silvia, hidup bahagia dengannya dan Kenzo. Biar aku lepas darimu dan membesarkan anak ini sendiri. Aku tidak mau jadi seorang pelakor!"


"Loh, siapa yang menganggapmu jadi pelakor?" Bara keheranan dengan pikiran aneh Retha.


"Apa lagi sebutan untuk wanita yang berani menikah dengan lelaki beristri kalau bukan pelakor?" Retha berkata dengan ekspresi wajah yang muram.


Bara terdiam sejenak. Retha bisa ditebak sebagai wanita yang lebih suka mengalah dari pada ribut dengan orang lain. "Apa yang kamu lihat kemarin di rumah sakit hanya salah paham saja, Sayang," ucapnya.


Retha membulatkan mata. Sang suami ternyata tahu bahwa puncak kekesalannya adalah saat ia melihat Bara dan Silvia berada di rumah sakit.


"Jangan mengelak, Mas ... Aku dengar sendiri kalau Silvia sedang hamil. Aku ada di sana dan mendengarnya sendiri!" Retha berucap dengan nada setengah emosi.


"Lain kali, kalau ada sesuatu tanyakan langsung, jangan kabur, Sayang ... Kamu jadi salah paham begini."


"Salah paham bagaimana? Mas Bara bilang mau bercerai dengan Silvia, tapi malah Silvia dibuat hamil. Aku harus bagaimana? Aku harus bertahan? Aku tidak mau!" Retha melampiaskan kekesalannya.


"Siapa yang menghamili Silvia? Boro-boro membuatnya hamil. Bukannya kamu tahu sendiri kalau setiap malam aku pulang dan menidurimu? Memangnya aku pernah bermalam di apartemen Silvia?"


"Memangnya membuat hamil orang cuma bisa malam hari? Siapa tahu siang saat mengunjungi Kenzo kamu juga mengunjungi istri pertamamu," ketus Retha.


"Hahaha ...." Bara kembali tak bisa menahan tawanya. Melihat Retha cemburu cukup lucu dan menghibur untuknya. Mengetahui istri cemburu, ia jadi tahu kalau sebenarnya Retha sangat mencintainya, begitupun dirinya yang memiliki perasaan sama terhadap wanita tersebut. Usai melampiaskan hasratnya, ada rasa ketenangan dan kenyamanan yang ia peroleh. Lagi-lagi ia berandai-andai, jika saja lebih awal bertemu dengan Retha pasti kisah hidupnya tidak akan terlalu rumit.

__ADS_1


__ADS_2