Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Pengakuan


__ADS_3

Langkah kaki Retha terasa semakin berat. Ia hampir sampai pada ruangan yang akan mempertemukannya kembali dengan sang suami. Anggota keluarga Atmaja yang lain berjalan dengan langkah memburu. Mikha menggendong Eril, sementara Ratih menuntun Gisel dan Kenzo. Retha memilih berjalan di belakang mereka seakan tahu diri terhadap posisinya. Ia tidak masalah menjadi orang yang akan Bara abaikan asalkan bisa melihat kondisi suaminya.


"Bara!" seru Ratih saat menjumpai putranya. Wanita itu langsung memeluk Bara. Hatinya sedikit tenang setelah melihat kondisi putranya yang baik-baik saja.


"Daddy ...." Kenzo tidak mau kalah ingin diperhatikan oleh ayahnya. Bara langsung mengangkat Kenzo dalam gendongannya.


"Kamu tidak apa-apa kan, Kak?" tanya Mikha cemas. Suaminya yang sedari tadi bersama Bara di sana merangkul dan menenangkan Mikha.


"Memangnya aku kenapa? Kalau berita sampai ditelingamu pasti heboh sendiri," gumam Bara kepada adiknya.


"Dikhawatirkan keluarga kok malam protes! Kami ini cemas tahu nggak!" Mikha mengomel.


"Kenapa kamu harus masuk ke sini? Siapa yang berani memasukkanmu ke sini, hah! Papa ... Bayar saja jaminan agar Bara tidak ditahan! Bisa-bisanya mereka main tangkap putraku." Ratih menggerutu. Kalau saja Bara ada di rumah saat polisi datang, sudah pasti ia akan berdiri paling depan untuk membela putranya.


"Tidak usah ikut campur, Ma ... Aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri," ucap Bara.


"Kamu tidak sadar sedang dijadikan tumbal kesalahan? Pokoknya Papa akan tetap mengeluarkanku dari sini." Pak Atmaja juga tidak rela putranya dimanfaatkan orang lain.


"Jangan ikut campur, Pa. Ini perusahaanku sendiri. Kalau Papa ikut campur, masalahnya akan semakin rumit."


"Kurang ajar orang yang berani menumbalkanmu!" Sebagai seorang pengusaha, Atmaja tahu persis kasus serupa yang membuat putranya masuk penjara. Putranya ditumbalkan demi kepentingan pribadi mereka.


"Tenang, Pa! Mereka tidak akan bisa menahanku lebih lama. Setelah semua terkuak, satu persatu dari mereka paling akan mundur."


"Kamu kira Papa akan diam saja menunggu kamu terus berada di sini?" Atmaja bukan orang yang sabaran. Ia juga keras.


"Sudahlah, Pa ... Berikan saja uang jaminan kepada polisi agar Bara bisa keluar hari ini dari penjara," desak Ratih.


Bara sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Keluarganya pasti tidak akan terima jika ia berada dalam penjara. Padahal, ia tidak masalah bertahan di sana untuk beberapa waktu untuk melihat siapa saja yang sekiranya menjadi batu sandungan dalam proyek yang ditanganinya.


Ketika perdebatan di antara keluarga semakin riuh, sorot matanya tiba-tiba menangkap sosok yang tak asing bagi dirinya. Ia sampai memiringkan pandangan, agar bisa melihat sosok yang berada di belakang keluarganya.


Ia tertegun sejenak saat melihat Retha ada di sana. Wanita yang semalaman ia pikirkan akhirnya muncul di sana bersama keluarganya.


Bara menurunkan Kenzo dari gendongannya. Seperti orang yang tengah terhipnotis, Bara berjalan ke arah Retha tanpa memperdulikan apapun. Ia labuhkan sebuah pelukan erat kepada wanita kesayangannya.

__ADS_1


Retha sampai mematung, tidak menyangka Bara akan melakukan hal tersebut di hadapan keluarganya. Ia bisa melihat jelas raut keheranan yang ditunjukkan oleh keluarga Bara. Retha jadi tidak enak hati, namun lelaki itu sangat erat memeluknya.


"Sayang, kamu kemana saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu kemarin," ucap Bara sembari melabuhkan ciuman di pipi Retha. Aia tak rela melepaskan pelukannya.


"Mas, lepas dulu pelukannya. Ada keluargamu, aku malu!" bisik Retha.


Bara sampai lupa jika ada keluarganya. Ia melepaskan pelukannya, menggandeng tangan Retha seraya menatap wajah-wajah syok keluarganya.


"Anak-anak, ayo ikut Ayah main di depan! Ada tempat main yang bagus di sini. Kalian mau lihat, kan?" ucap Aryo seraya menggiring ketiga anak kecil itu pergi bersamanya.


Bara baru saja menceritakan mengenai pernikahannya dengan Retha sebelum keluarga datang. Ia dimintai tolong untuk mencari Retha yang hilang. Sebelum Aryo melaksanakan tugasnya, ternyata wanita yang Bara sebutkan telah ada di sana. Ia merasa hanya perlu mengamankan anak-anak agar perbincangan mereka nyaman.


"Sebelumnya aku meminta maaf karena baru mengatakan hal ini," ucap Bara setelah Aryo dan ketiga anak-anak pergi. Retha tertunduk pasrah dengan apa yang akan Bara lakukan.


"Sebenarnya aku sudah menikahi wanita ini selama beberapa bulan, Ma ... Pa ... Mikha ...."


Pengakuan Bara membuat orang tua dan adiknya begitu terkejut.


***


"Seperti apa sih Hendry Alexander itu? Baru janjian saja sudah telat begini," gerutunya.


Kalau bukan karena permintaan Bara, ia tidak mungkin berada di sana menunggu orang yang tak dikenalnya. Bara menyuruhnya untuk menemui seseorang bernama Hendry Alexander. Katanya, dia adalah teman kuliah Bara yang hendak membangun bisnisnya di tanah air. Aneh jika melihat perusahaan yang akan dibelinya merupakan perusahaan yang hampir bangkrut.


"Halo, selamat siang ...," sapa seseorang.


Zack menoleh ke asal suara. Seorang lelaki berwajah Eropa berdiri di sana mengenakan setelan jas rapi. Dari ciri-cirinya, ia yakin lelaki itu merupakan orang yang Bara maksud.


"Apa kamu Zack?" tanyanya.


Zack bangkit dari duduknya. "Benar. Kamu Hendry Alexander?"


Lelaki itu mengangguk. "Maaf atas keterlambatannya. Aku baru saja menyelesaikan suatu urusan," ucapnya.


"Tidak masalah. Duduklah dulu!" Zack mengajak Hendry duduk bersamanya. Ia memberi kode untuk membereskan mejanya dan membawakan minuman baru. Lama menunggu Hendry, Zack sampai menghabiskan tiga gelas minuman.

__ADS_1


"Aku jadi merasa bersalah sudah membuatmu seperti orang kehausan karena menungguku," ucap Hendry sembari menutup mulutnya menahan tawa saat melihat gelas-gelas kosong di meja.


Zack melirik sinis kepada Hendry yang seolah meledeknya. "Ternyata Bara punya satu teman menyebalkan sepertimu juga, ya?"


"Oh, iya? Aku kira kamu yang menyebalkan. Bara mengatakan dia sering dibuat pusing oleh teman yang hanya bisa jadi beban," balas Hendry.


"Beban katamu? Aku yang mengurusi semua masalah Bara selama dia di penjara. Termasuk untuk menemuimu!" Zack tidak terima dengan tudingan Hendry.


"Hahaha ... Santai saja, aku hanya bercanda. Terima kasih kamu sudah mau menemuiku menggantikan Bara. Aku tidak menyangka kalau dia akan masuk penjara."


"Gara-gara siapa lagi kalau bukan keluarga Thea sialan itu!" selain karena kesal Thea telah membuat Bara dipenjara, Zack juga masih punya dendam kepada ayah wanita itu yang hampir mencelakakan ayahnya.


"Aku sudah mengingatkan Bara untuk hati-hati berbisnis dengan keluarga Thea. Soalnya bisnis ayahku juga dulu pernah dihancurkan olehnya."


"Benarkah?" tanya Zack penasaran.


"Benar, makananya keluargaku memilih membangun bisnis di luar negeri dari pada di sini. Katanya ada banyak orang nakal."


"Kalau tahu begitu, kenapa kamu malah ingin berbisnis di sini? Bahkan membeli perusahaan bermasalah. Bukankah itu suatu tindakan bodoh?" Zack merasa hal itu tidak masuk akal.


Hendry terdiam sejenak. Entah apa alasannya, ia begitu tertarik saat mempelajari perusahaan tersebut. Apalagi saat menemukan nama dan foro profil seorang karyawan yang cukup familiar untuknya. Namany Citra. Tidak mungkin ia kemukakan alasannya membeli perusahaan itu karena seorang wanita yang pernah ada di masa lalunya.


"Entahlah! Makanya aku butuh bantuan Bara. Juga bantuanmu kalau mau!" jawab Zack dengan ringannya.


"Oh, kalau aku malas memusingkan perusahaan bermasalah. Perusahaanku yang tidak ada masalah saja sudah pusing," ucap Zack.


Hendry hanya tertawa mendengar jawaban Zack. Keduanya melanjutkan pembahasan serius seputar nasib Bara, juga keberlangsungan bisnis. Mereka sepakat akan mengusut masalah Bara sampai tuntas meskipun lawan mereka merupakan keluarga Thea.


***



Hendry Alexander (sahabat Bara Atmaja)


__ADS_1


Citra


__ADS_2