
Hendry mengeratkan genggaman tangannya pada Citra saat melewati lobi apartemen. Lagi-lagi ia harus berpapasan dengan orang yang sangat tidak ingin ia lihat. Matanya menatap tajam ke arah Yoga. Lelaki yang ditatapnya juga membalas dengan tatapan yang sama, seolah mereka sedang perang dingin.
"Kenapa dia masih ada di sini?" tanya Hendry dengan nada kesal.
"Katanya dia mau membuka cabang restoran di mall sebelah," jawab Citra. Dia juga tahu jika Hendry tadi sempat melihat Yoga.
"Aku juga tahu. Maksudnya, kenapa juga harus lewat di area apartemen ini," kesal Hendry. Jelas sekali jika lelaki itu tengah merasa cemburu.
"Sudahlah, ini tempat umum, kita tidak bisa mengatur orang yang boleh dan tidak boleh lewat."
"Aku yakin kalau kamu sendirian, dia pasti sudah mendekatimu." Hendry masih belum terima istrinya didekati lelaki lain apalagi Yoga. Baginya, untuk bisa bersama Citra butuh pengorbanan yang panjang, ia tidak akan rela jika harus kehilangan wanita itu lagi.
"Aku akan menepati perkataanku," ucap Citra.
Keduanya menaiki mobil yang terparkir di basement. Hari ini Hendry akan pergi ke SMA mereka dulu karena ada urusan dengan kepala sekolah di sana. Karena ia takut Citra akan keluar sendiri dan membuatnya khawatir, akhirnya ia membawa serta wanita itu bersamanya.
"Sekolahan ini semakin bagus, ya ...." Citra memandang kagum bangunan sekolah yang terlihat modern dan megah itu. Tempatnya sudah jauh berbeda dengan belasan tahun yang lalu.
"Biaya sekolahnya juga mahal, kalau tidak ada perubahan nanti dikira pihak sekolah hanya ingin memperkaya diri," ucap Hendry.
"Apa keluargamu masih menjadi penyandang dana di sini?"
"Itu sudah tentu karena orang tuaku menjadi salah satu pemilik sekolahan ini."
Citra hanya mangguk-mangguk. Ia yang masuk ke sekolah elit jalur beasiswa tidak bisa bercerita banyak tentang kehidupan anak-anak konglomerat yang bersekolah di sana. Dari segi pergaulan juga sudah berbeda, Citra lebih banyak menghabiskan waktu dengan sesama penerima beasiswa atau siswa kalangan menengah bawah.
"Bagaimana kalau anak kita nanti juga bersekolah di sini seperti ayah dan ibunya?"
Citra tersenyum membayangkan jika kelak anaknya bersekolah di sana. "Aku takut nanti dia akan seperti ayahnya."
__ADS_1
"Tapi, anak kita kan perempuan. Tidak mungkin dia berani merokok atau melompat pagar untuk kabur."
Jika mengingat kembali masa SMA dulu, Hendry memang benar-benar senakal itu dan sering mengganggunya. Ia pernah mengatakan kepada diri sendiri agar tidak pernah lagi bertemu dengan Hendry seumur hidupnya. Ternyata, ia justru harus terikat seumur hidup dengan lelaki itu melalui pernikahan.
"Anak orang kaya memang menyebalkan!" umpatnya.
"Kamu sedang menyindir calon anak kita? Dia nanti akan terlahir menjadi anakku dan cucunya John Alexander."
Citra termakan ucapannya sendiri. "Ya, maksudku itu kamu! Bukan calon anakku!" bantahnya.
"Anak kita ...," kata Hendry meluruskan.
"Iya, maksudku anak kita."
"Kamu mau ikut masuk ke dalam atau menunggu di luar?" tanya Hendry saat mereka sampai di ruangan kepala sekolah.
"Aku menunggu di luar saja, mau lihat-lihat sekolahan ini," jawab Citra.
Citra menjawab dengan acungan jempolnya. Hendry masuk ke ruang kepala sekolah untuk mendiskusikan sesuatu yang penting. Ia tidak diberitahu tentang apa, namun Citra juga tidak terlalu ingin tahu.
Saat ini suasana sekolah cukup sepi. Mereka datang saat siang dan setiap kelas masih melakukan pembelajarannya. Hanya terlihat beberapa siswa bandel yang berkeliaran di luar kelas. Citra jadi mengingat kembali tentang Hendry.
Lelaki itu seperti ada di setiap sudut sekolah untuk mengganggunya. Saat pelajaran olah raga, saat membuang sampah di belakang sekolah, saat di kantin, bahkan di toilet, ia kerap bertemu dengan Hendry. Bukan pertemuan yang romantis, tetapi pertemuan yang sangat menyebalkan sampai ia tidak ingin bertemu dengannya lagi.
Setiap kali Hendry mendekatinya, siswi-siswi dari kalangan atas memandang tidak suka kepadanya. Meskipun tidak sampai mem-bully secara fisik, ia sering dikatai sebagai perempuan murahan yang hobi menggoda. Padahal, kalau boleh memilih, ia ingin menghindar dari Hendry.
Kehidupan SMA nya menjadi lebih melegakan setelah Hendry lulus. Setidaknya satu tahun ia bebas dari gangguan lelaki itu. Namun, terkadang mereka masih sesekali bertemu dan seperti biasa, Hendry selalu mengganggunya.
Setelah Citra masuk perguruan tinggi yang berbeda dengan Hendry, ia tidak pernah lagi mengetahui kabar Hendry. Kehidupannya terus berlanjut, Citra menjalin hubungan dengan Yoga yang merupakan teman kuliahnya.
__ADS_1
"Apa ini Citra?" sapa seorang ibu-ibu.
Citra memperhatikan secara seksama wajah wanita itu. "Ibu Ruth?" tanyanya memastikan.
"Kamu belum lupa sama Ibu ternyata." Ibu Ruth mengembangkan senyuman lebar.
"Siapa yang bisa melupakan guru BK terbaik di sekolah. Apa kabar, Bu?" Citra menyalami dan mencium punggung tangan mantan gurunya yang kini sudah terlihat tua.
Ibu Ruth mengajak Citra masuk ke ruangannya. Citra dulu sering masuk ke ruangan itu. Bukan karena berbuat salah, namun untuk melaporkan kelakuan Hendry yang suka mengganggunya.
"Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin Ibu mendengarkan keluhanmu tentang Hendry di ruangan ini," guman Ibu Ruth seraya mengenang masa lalu. "Tidak Ibu sangka sekarang kamu malah sudah menjadi istrinya, ya, Citra." Ibu Ruth rasanya ingin tertawa mengingat kembali kisah kedua mantan muridnya dulu.
Citra terkejut Ibu Ruth mengetahui tentang pernikahannya. "Ibu ... Sudah tahu tentang pernikahan kami?" tanyanya.
Ibu Ruth mengangguk. "Hendry yang menceritakannya sendiri. Dia juga bilang kalau sekarang kamu sedang hamil 5 bulan."
Citra tidak menyangka jika Hendry telah menceritakan sampai sejauh itu. Ia kira Hendry akan merahasiakan pernikahan itu selama mungkin.
"Kamu jangan kaget, dia sudah memberitahu ke seluruh guru dan karyawan yang ia kenal kalau kamu sekarang istrinya dan sedang mengandung anaknya." Ibu Ruth tertawa kecil melihat ekspresi kaget Citra.
Citra semakin kaget mendengarnya.
"Hendry sering datang ke sini setelah kembali ke tanah air. Kami juga sempat dikenalkan dengan istri sebelumnya. Tidak disangka jika mereka akhirnya bercerai. Tapi, Ibu bersyukur karena akhirnya Hendry memilih untuk menikah denganmu." Ibu Ruth terlihat bahagia mengatakan hal tersebut.
"Kamu pasti tidak akan menyangka kalau Hendry begitu bahagia saat memberitahu kepada kami dia sudah menikah denganmu. Kami sampai tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil. Persis waktu dia SMA."
"Ibu kan tahu kalau dia nakal," protes Citra. Ssjak tadi ia hanya mendengar kata-kata sanjungan untuk Hendry dari Ibu Ruth.
"Iya, dia memang anak nakal. Suka bolos dan merokok di sekolah. Tapi, semenjak mengenal kamu, dia sepertinya jadi betah sekolah. Bahkan waktu kelas tiga, ia minta untuk tidak diluluskan agar bisa satu kelas denganmu."
__ADS_1
Citra tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Di matanya, Hendry hanyalah seorang murid bandel yang suka mengganggu. Ia melaporkan kepada Ibu Tuth setiap kali Hendry mengganggunya. Hendry juga sering dihukum untuk membersihkan toilet, membersihkan lapangan sekolah, menyirami taman, atau membuang sampah. Apa yang Ibu Ruth ceritakan baru kali ini ia tahu.