Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Ucapan Buruk


__ADS_3

Thea berjalan menghampiri Bara yang mengundangnya untuk bertemu di salah satu restoran mewah. Ia mengembangkan senyuman karena ini pertama kalinya Bara berinisiatif mengajaknya bertemu lebih dulu. Ia yakin Bara ingin membahas masalah semalam. Ia juga penasaran bagaimana cara lelaki itu mengatasi efek obat yang diberikannya.


"Hai, Bar!" sapanya seraya duduk di meja yang telah Bara pesan.


Wajah Bara terlihat kesal dengan kedatangannya. Tapi, lelaki itu tetap terlihat keren meskipun sedang marah.


"Ada apa siang-siang begini mengajakku bertemu?" tanya Thea.


"Tidak usah pura-pura, kamu pasti sudah tahu apa yang ingin aku bahas denganmu." Bara tak mau berbasa-basi.


"Oh, apa kamu ingin membahas tentang pernikahan? Kamu setuju dengan rencana perjodohan orang tua kita?" goda Thea. Ia pura-pura tidak tahu dengan apa yang Bara maksud.


"Maksudmu yang semalam apa?"


Pertanyaan tegas Bara membuat tawa Thea terhenti. Padahal ia sangat menikmati untuk menggoda musuhnya itu. "Bagaimana minuman yang semalam aku berikan? Apa kamu merasa senang? Padahal aku sudah bersiap di dalam ruangan untuk menyenangkanmu. Kenapa kamu tidak kembali? Aku akan senang hati bertanggung jawab."


Bara sungguh tidak menyangka jika wanita yang ada di hadapannya sepertinya benar-benar gila. "Apa kamu wanita murahan?"


"Untukmu tidak apa-apa. Tidak perlu kamu bayar aku rela memuaskanmu." Thea mengerlingkan mata dengan nakal.


Bara merasa sudah tak mengenali wanita itu lagi. Dia sangat berubah dan yang sekarang semakin gila.


"Aku penasaran bagaimana caramu melewati waktu semalam. Apa kamu membayar seseorang? Atau hanya bermain dengan tangan? Bisakan menceritakannya padaku?" Thea menopang dagunya dengan kedua telapak tangan di meja, sembari menunggu Bara menjawab rasa penasarannya.


Posisi Bara ingin marah sekaligus mungkin berterima kasih. Berkat wanita ular itu, ia bisa bertemu dengan Retha dan menikmati malam yang menyenangkan.


"Aku tidak ingin bercerita dan membuat perawan tua iri mendengarnya," ledek Bara.


Senyuman di wajah Thea seketika hilang. "Siapa yang kamu sebut perawan tua? Asal kamu tahu saja kalau aku tipe orang yang selektif mencari pasangan. Bukan asal ambil seperti dirimu." Thea yang tidak terima berbalik mengungkit-ungkit masa lalu Bara.


"Coba cek dulu DNA anakmu. Soalnya aku ragu kalau itu benar-benar anak kandungmu. Semua orang tahu kalau Silvia wanita yang hobi nempel dengan lelaki mana saja. Waktu berpacaran denganmu juga dia dekat dengan lelaki lain. Mungkin saat menikah denganmu sebenarnya dia sudah hamil.


Crat!

__ADS_1


Bara mengguyurkan anggur yang ada di gelasnya ke wajah Thea.


"Bara!" seru Thea. Ia tak menyangka Bara berani menyiram dirinya.


"Jangan pernah menjelek-jelekkan Silvia. Sekalipun ia seseorang yang buruk, cukup aku yang berhak melabelinya buruk. Bagaimanapun juga dia ibu dari putraku. Kenzo adalah putraku, kamu dengar itu?" tegas Bara.


"Sumpah ya, Bar! Kamu bakalan menyesal kalau tidak mendengarkan kata-kataku. Silvia tidak sepolos yang kamu kira!"


"Buka aku yang akan menyesal! Tapi kamu!" Bara menunjuk-nunjuk ke arah Thea dengan tatapan kebenciannya. "Sekali lagi kamu mencampuri urusan pribadiku, jangan tanya lagi apa yang akan aku lakukan padamu. Setiap orang punya batas sabarnya masing-masing!"


Bara langsung pergi dengan langkah cepat meninggalkan Thea. Sementara Thea masih berdiri di sana dengan perasaan kesal. "Sepertinya kamu masih mengharapkan Silvia, Bara ... aku pastikan kamu akan sangat membencinya seumur hidup." Thea mengepalkan tangannya.


***


"Edis, tolong nanti bawakan tugas teman-temanmu ke meja saya, ya!" pinta Ibu Harsih, guru Bahasa Indonesia.


"Baik, Bu," jawab Edis.


"Jadi, kamu tidak tahu bagaimana keadaan Angga?"


"Tidak, Pak. Dia tidak pernah mau ada teman yang main ke rumahnya. Tapi, akhir-akhir ini dia memang lebih pendiam dan jarang mau diajak kumpul."


Saat baru masuk ke ruang guru, tanpa sengaja Edis melihat Tobi sedang ditanyai oleh guru BK. Tobi merupakan teman yang sering terlihat bersama Angga. Edis terus berjalan menuju ke meja kerja milik Ibu Harsih.


"Sudah tiga hari berarti kan dia membolos? Nomor orang tuanya juga tidak bisa dihubungi. Apa memang dia tidak punya orang tua?"


Pak Mada tampak emosi berbicara di hadapan Tobi. Edis pura-pura menghitung buku agar bisa lebih lama di ruang guru.


"Setahu saya ayah Angga sering perjalanan bisnis ke luar kota atau luar negeri, Pak. Kalau ibunya sudah lama meninggal. Saya juga sudah mencoba menelepon dan mengirimkan pesan, tapi dia tidak kunjung menjawabnya."


"Ya, itulah pentingnya seorang ibu di rumah. Anak tanpa ibu akan mudah kehilangan arah. Padahal dia sebelumnya anak yang baik, aneh sekali bisa berubah jadi pembolos seperti itu. Atau mungkin dia punya masalah lain?"


"Kurang tahu, Pak. Dia tidak terlalu suka membicarakan masalah pribadinya. Dia cukup pendiam di tongkrongan."

__ADS_1


"Kamu juga jadi teman sampai tidak tahu kabartemannya!"


Tobi menjadi pelampiasan kemarahan Pak Mada. Ia dipukuli beberapa kali.


"Aduh, Pak! Saya kan bukan ibunya. Mana saya tahu masalahnya apa!"


Edis senyum-senyum sendiri melihat Tobi yang berani melawan Pak Mada.


"Tapi, terakhir melihatnya, sepertinya dia habis berkelahi, Pak. Wajahnya lebam-lebam."


"Angga berkelahi?" tanya Pak Mada memastikan.


"Iya, Pak. Biasanya kan saya yang hobi berkelahi, kan? Bapak pasti heran, ya? Saya sudah tobat soalnya."


"Bagus kamu bisa tobat, tapi kenapa jadi Angga yang menuruni keberandalanmu?" Pak Mada kembali memukul kepala Tobi. Mungkin bagi Tobi sudah biasa dimarahi dan dipukul gurunya karena sering membuat masalah. Meskipun nakal, Tobi murid yang gampang dekat dan dikenal guru.


"Sudah selesai, Edis?" tanya Bu harsih yang baru kembali ke ruangannya.


"Ah, iya, Bu. Sudah saya cek jumlahnya lengkap."


"Kalau begitu, terima kasih, ya ... kamu boleh kembali ke kelas."


"Iya, Bu."


Edis terpaksa keluar dari ruang guru. Untuk terakhir kali, ia kembali melirik ke arah Yobi dan Pak Mada. Mereka masih membicarakan tentang Angga.


"Ayah macam apa yang tidak peduli anaknya sakit atau kenapa-napa sampai tidak masuk sekolah!" gerutu Pak Mada. "Orang tua seharusnya bertanggung jawab setelah memutuskan untuk memiliki anak. Hanya karena sudah membayar iuran sekolah, apa mereka pikir sekolahan harus menangani semua masalah anak-anak mereka? Di mana letak tanggung jawab orang tua?"


Edis mempercepat langkahnya keluar dari ruangan. Ucapan guru BK tersebut sangat tidak enak didengar. Pak Mada berbicara dengan nada keras seakan ingin semua orang tahu tentang peemasalahan yang menimpa Angga.


Memang, Angga terkenal sebagai anak baik-baik dan rajin. Dia juga aktif dalam kegiatan pramuka. Ketika pada satu titik tingkah lakunya berubah, semua orang seakan langsung menyimpulkan dia telah salah pengasuhan dan pertemanan.


Mungkin saja Angga memiliki masalah yang menurutnya rumit, tidak bisa dijelaskan kepada orang lain. Setiap orang yang memiliki masalah, hanya perlu didengarkan, bukan diceramahi atau sok mau memberi solusi. Tingkat penerimaan orang berbeda-beda dan tak bisa disamakan.

__ADS_1


__ADS_2