
"Kamu yakin, tidak mau ikut ke acara reuni SMA bersamaku?" tanya Yoga sembari menyisir rambutnya.
"Nggak, Mas. Itu kan acara reuni sekolahan Mas Yoga, aku takut malah canggung kalau ikut." Citra yang baru saja selesai keramas sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Setelah pulang kerja ia ingin bersantai untuk melepaskan lelah.
"Tapi kan ada Ira, kamu juga sudah kenal dia, kan?"
Yoga sudah menceritakan kepada Citra kalau Ira merupakan teman sekaligus tetangganya saat kecil. Mereka pernah bertemu satu kali saat ada acara di kantor Yoga. Menurut Citra, Ira itu cantik. Mengherankan seorang lelaki memiliki teman yang cantik tapi malah menikah dengan dirinya. Namun, yang namanya cinta memang tidak bisa dipaksakan.
"Mas pergi saja sendiri, deh. Tapi pulangnya jangan malam-malam, ya ... aku kan takut sendirian." Citra memeluk tubuh suaminya.
"Baiklah, aku berangkat sekarang. Kamu baik-baik di rumah. Paling jam sembilan aku sudah pulang." Yoga mencium kening istrinya.
Yoga mengeluarkan mobil dari garasi rumahnya. Sebelum melajukan kendaraannya, ia melambaikan tangan kepada Citra yang berdiri di depan pintu rumah. Perlahan mobil itu dikemudikannya keluar dari halaman rumah menuju jalan raya.
Di tengah perjalanan ponselnya berbunyi. Ada telepon masuk dari Ira. Ia memasang handsfree di telinga lalu menerima panggilan dari Ira. "Ada apa, Ira?" tanyanya.
"Kamu mau datang ke acara reuni malam ini?" terdengar suara dari seberang telepon.
"Ya iyalah, kita kan sudah membahasnya di kantor. Memangnya kamu tidak jadi ikut?" Yoga merasa heran dengan Ira. Padahal, dia yang paling semangat mengajaknya pergi, tapi malah menanyakan lagi dia mau pergi atau tidak.
"Aku juga mau berangkat, tapi mobilku tiba-tiba mogok," rengek Ira.
"Kamu masih di rumah?"
"Ya iyalah, Yoga ... mobilku kan mogok. Jemput aku, ya ...."
"Ck!" Yoga berdecak kesal. "Ya sudah! Tunggu di sana, aku akan mampir ke tempatmu."
Yoga mematikan sambungan teleponnya. Terpaksa ia merubah rute ke rumah Ira terlebih dahulu. Waktu tempuh tentu saja akan menjadi lebih lama, padahal nanti niatnya ka hanya akan datang sebentar untuk menghormati teman-temannya yang sudah mengundang. Ia tidak ingin pulang terlalu larut malam dan membiarkan istrinya menunggu di rumah sendirian.
"Terima kasih, teman terbaikku ...," sambut Ira dengan girang saat Yoga menghentikan mobil di depan rumahnya. Ia langsung duduk di sebelah Yoga dan memasang sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Kalau mau bareng harusnya bilang dari awal. Aku jadi harus memutar jalan," keluh Yoga.
"Maaf, Pak Yoga ... kalau mobilku tidak rusak, aku juga akan pergi sendiri."
Yoga kembali melajukan mobilnya ke tempat acara yang sudah disepakati bersama.
"Bagaimana penampilanku malam ini?"
Ira memamerkan dandanannya. Ia memakai dress pendek berwarna pink yang memperlihatkan sebagian pahanya. Yoga hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada kemudinya.
"Kayak mau konser ... kita hanya datang untuk reuni," ledek Yoga.
Ira melirik sinis kepada lelaki yang tidak bisa memuji usaha seseorang untuk tampil cantik. "Dasar tidak tau fashion!"
"Kamu tidak cocok memakai pakaian seperti itu, Ira. Dulu kamu juga tomboy parah."
Perjalanan mereka diisi dengan percakapan random yang sesekali membuat mereka tertawa. Hingga tanpa terasa akhirnya mereka sampai pada sebuah hotel tempat dilangsungkannya acara. Sudah belasan tahun mereka tidak bertemu, akhirnya acara reuni itu bisa direalisasikan.
Saat mereka memasuki ballroom hotel yang sudah disulap menjadi tempat acara, ratusan orang telah memenuhi tempat tersebut. Tentu saja wajah mereka sudah banyak yang berubah dan membuat sulit untuk saling mengenal. Baik Ira maupun Yoga sama-sama bingung mau ke arah mana. Hampir tidak ada yang mereka kenal dari sekian banyak orang.
"Hai, Tem! Makin keren aja. Alu hampir tidak mengenalimu." Yoga menjabat tangan teman lamanya.
"Terima kasih, Bro! Kamu juga makin keren. Apa lagi nona cantik ini, Ira ... kamu benar-benar wanita idaman." Temi mengerlingkan matanya dengan genit.
"Hahaha ... bisa kamu bilang begitu sekarang? Dulu bukannya kamu yang paling terdepan mengolok-olok katanya aku dekil jelek." Ira masih ingat masa-masa menyebalkan dengan Temi. Lelaki itu salah seorang cowok populer di sekolah yang hobi menggoda cewek.
"Itu zaman dulu, Ira. Sekarang kamu memang mantap! Canti sekali." Temi mengungkapkan kekagumannya dengan mengacungkan dua jempol. "Ayo ikut aku! Kalian harus bertemu dengan teman-teman yang lain." Temi merangkul pundak Ira dan Yoga secara bersamaan, mengarahkan mereka menuju salah satu meja yang ada di sana.
"Weh, lihat ini ... siapa yang datang ... gila, Ira bikin pangling banget, sih ... cantiknya ...." Rudi, salah satu teman yang ada di meja itu langsung berdiri menyambut Ira. Ia menyalami wanita yang sangat cantik malam ini.
"Yoga juga tambah ganteng, ya ... sayangnya dia sudah menikah," sahut Miranda.
__ADS_1
"Yoga ... kamu kok buru-buru banget nikah, sih ... kita-kita masih jomlo loh ...." sambung Mike.
"Mike bukan jomlo, Ga! Dia belum lama jadi janda!" Rajit ikut-ikutan bersuara. Mike langsung memuluk kepala Rajit yang sudah menurunkan pamornya di depan Yoga.
"Biarpun sudah janda, yang penting belum ada pasangan, namanya jomlo, sialan!" Mike kesal pada Rajit.
"Kenapa sih, cewek-cewek di sini genit banget sama suami orang ... yang masih jomlo juga banyak, tahu ...." Protes Budi.
"Suami orang lebih menggoda, Bud!" sahut Rahma.
"Sori ya, Yoga. Kita cuma bercanda, kok ... jangan terlalu diambil hati. Udah lama nggak ketemu makanya jadi agak gila," ucap Miranda.
"Iya, Mir. Santai saja. Sejak dulu kalian memang sudah gila dan tidak berubah sedikitpun." Yoga menyikapi candaan teman-temannya dengan santai. Mereka yang ada di meja itu merupakan teman satu tongkrongan saat dulu di SMA. Karena kesibukan masing-masing, meskipun tinggal di kota yang sama, mereka tidak pernah bertemu. Bersyukur ada acara reuni yang berhasil mempertemukan mereka kembali.
"Aku kira dulu kamu dan Ira bakalan nikah, Yog. Soalnya waktu SMA kalian dekat banget." Rahma berbicara sambil mencicipi kue pie yang dihidangkan di atas meja.
"Kami memang sudah jadi tetangga sejak kecil, jadi hubungannya bahkan sudah seperti saudara," ucap Ira.
"Nggak nyangka aja Yoga bakalan nikah sama cewek dari SMA lain. Kita-kita dari SMA 21 kan jadi merasa minder nggak jadi pilihannya Yoga."
"Namanya juga jodoh, nggak ada yang tahu mau dapatnya siapa," kata Budi dengan bijak.
"Tapi, serius, ya ... Ira sekarang jauh lebih cantik dari yang dulu. Apa Yoga nggak menyesal cewek secantik ini tidak dijadikan istri?"
Ira merasa tersanjung dengan pujian dari teman-temannya. Hatinya terasa berbunga-bunga dan rasa percaya dirinya muncul. Terlebih banyak yang membahas bahwa sebenarnya dirinya pantas bersanding dengan Yoga.
"Bagiku, Ira tetap seperti yang dulu ... anak tomboy yang susah disuruh mandi," celetuk Yoga.
Ira langsung membulatkan mata kesal ke arah Yoga. Bisa-bisanya dia membuka rahasia besar yang selama ini tidak ada orang yang tahu. Apalagi teman-temannya sampai menertawakannya karena lucu.
***
__ADS_1
Sambil menunggu update berikutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author ya 😘