Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Bertemu Mantan


__ADS_3

"Sayang, aku mau ke toilet sebentar. Kamu tunggu sebentar di sini!"


Hendry mendudukan Citra di salah satu bangku dinarea pusat perbelanjaan. Ia meletakkan barang belanjaan di samping Citra. Dengan langkah memburu, ia berlari mencari toilet agar tidak terlalu lama menunggu.


Citra duduk di sana sembari memandangi keramaian yang ada di tempat tersebut. Hendry mengajaknya berbelanja banyak barang untuk keperluan Citra. Padahal, Citra sendiri tidak merasa terlalu membutuhkan barang-barang baru. Hendry menyuruhnya membuang semua badang yang berhubungan dengan masa lalunya.


Saat sedang menatap sekeliling, tiba-tiba sudut matanya menangkap sosok orang yang pernah menorehkan luka di hatinya. Yoga, lelaki itu tampak berjalan mesra dengan Ira, selingkuhan yang telah resmi menjadi istrinya.


Citra melihat tawa dan senyuman yang merekah di wajah mereka. Sesekali tangan Yoga mengelus perut Ira yang sudah mulai terlihat membuncit. Seakan mereka pasangan suami istri yang paling bahagia.


Tanpa disadari mata Citra berkaca-kaca. Posisi yang seharusnya menjadi miliknya telah tergantikan oleh orang lain. Dadanya terasa sesak mengingat kembali pengkhianatan yang pernah mereka lakukan kepadanya.


Rasanya tidak pernah ia dimanja-manja seperti itu. Yoga begitu santai memperlihatkan kasih sayangnya kepada sang istri baru. Entah perasaan iri atau apa, ia merasa sedih melihat pemandangan bahagia itu.


"Lihat ini, siapa yang kita temui di sini ...."


Citra menoleh ke samping. Ia lihat Ibu Yanti, mantan mertuanya bersama Fira berjalan ke arahnya. Ucapan Ibu Yanti juga membuat Yoga dan Ira turut menyadari keberadaannya. Ia merasa seperti akan dikeroyok oleh sekelompok orang yang membencinya.


Yanti dan Fira tersenyum sinis ke arah Citra. Seakan mereka ingin merendahkan mantan menantu yang sudah terbuang. Ira mengeratkan pelukannya pada Yoga untuk memamerkan kemesraan pada Citra.


"Aku dengar kamu sudah kembali tinggal di panti asuhan, ya? Memang sudah seharusnya kamu tinggal di sana. Supaya kamu juga sama dengan ibu angkatmu, sama-sama menjalani hidup tanpa memiliki anak," sindir Yanti.


"Nanti kalau ada lelaki yang tertarik padamu, katakan dengan jujur kalau kamu mandul! Kasihan calon suamimu nanti," timpal Fira.


Citra memandangi satu per satu wajah orang yang telah menyakitinya. Ia sangat menyesal kenapa harus memiliki pengalaman pahit bertemu dengan mereka dalam kehidupannya.


"Citra, kamu sedang apa di sini? Apa mau pulang? Bagaimana kalau ikut kami, aku akan mengantarmu." Yoga menawarkan tumpangan.


"Yoga! Kamu apa-apaan, sih!" Ira terlihat ingin protes.


"Tidak apa-apa, Ira. Siapa tahu dia ingin menghemat ongkos pulang dapat tumpangan gratis dari Mas Yoga," ucap Fira.

__ADS_1


Ira terlihat senang mertua dan iparnya ingin menghina mantan istri suaminya. Tapi, ia hanya tidak suka karena tatapan Yoga terhadap wanita itu seakan masih ada bunga-bunga cinta di dalamnya.


"Terima kasih atas niat baiknya. Aku tidak perlu tumpangan kalian," balas Citra. Ia menahan diri untuk tidak berbuat yang tidak perlu di tempat umum.


"Kandungan Ira sudah mendekati usia lima bulan. Kami sangat bersyukur akhirnya Yoga bisa memiliki anak. Kamu tidak usah dendam kepada Ira. Dia bisa memberikan apa yang tidak bisa kamu berikan."


Ucapan Yanti semakin membuat perasaan Citra terasa teriris. Ia mengepalkan kedua tangannya, berusaha tegar mendengar ucapan buruk itu kembali.


"Oh, iya, Ibu. Selamat," ucap Citra. Ia berusaha mengulaskan senyuman.


"Citra, aku sudah memberimu waktu untuk introspeksi diri. Kalau kamu berubah pikiran, aku masih mau menerimamu."


Mendengar ucapan Yoga, semua menjadi terkejut. Begitu pula dengan Citra. Ia tidak tahu lagi dengan pemikiran mantan suaminya. Bisa-bisanya masih ingin membahas rujuk setelah ia dibuang begitu saja.


"Yoga, kamu tidak menghargai Ira ... Kamu masih mengharapkannya?" Yanti tampak protes dengan kemauan Yoga. Apalagi ia melihat raut kesal yang Ira tunjukkan.


"Mas Yoga kenapa, sih? Dia kan tidak bisa memberikan keturunan, untuk apa lagi diurusi? Lagian sudah ada Kak Ira," protes Fira.


"Kamu pasti kesusahan, kan? Tinggallah kembali di rumah kita dulu. Lebih baik kita berdamai," pinta Yoga.


"Ibu, aku tidak ada masalah dengan Citra. Aku juga tetap akan bertanggung jawab dengan Ira. Keinginan Ibu untuk memiliki cucu bisa terwujud, jadi tidak masalah kan kalau Citra tetap menjadi istriku?" Yoga terkesan egois mengungkapkan keinginannya.


Citra sudah habis kesabaran. Ia bangkit berdiri dan menatap tajam ke arah Yoga. "Mas Yoga, aku baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Urus saja istri barumu!"


Yoga melepaskan tangan Ira darinya dan meraih pergelangan tangan Citra. "Sampai sejauh ini kamu masih mau keras kepala? Aku masih berharap kamu bisa memahamiku!"


"Kamu jadi orang tidak tahu malu ya, Mas! Kita sudah bercerai, jadi tidak usah berkhayal aku mau kembali lagi padamu!" Citra ingin tertawa dengan ucapan Yoga.


"Kamu ...." Yoga geram.


"Lepaskan tanganmu!"

__ADS_1


Hendry kembali dari toilet. Ia melepaskan tangan Yoga dari istrinya. Ia menatap penuh kebencian kepada lelaki yang merupakan mantan suami istrinya.


"Sayang, apa kamu ada urusan dengan mereka?" tanya Hendry.


Citra menggeleng.


Yoga dan keluarganya tercengang mendengar lelaki itu memanggil Citra dengan sebutan sayang. Lelaki yang tampak tampan dan kaya raya hanya dilihat dari penampilannya, tidak bisa dipercaya bisa menjadi dekat dengan wanita seperti Citra.


"Kamu ... Manajer Citra di kantor, kan?" tanya Yoga memastikan. Sepertinya ia pernah melihat lelaki itu bersama Citra.


"Manajer? Ah, itu dulu ... Sekarang aku jadi CEO di kantor tempatnya bekerja. Dan juga ... Suaminya!" tegas Hendry seraya merangkul pinggang Citra dengan mesra. Ia ingin memperlihatkan kepada Citra bagaimana cara balas dendam yang baik kepada orang-orang yang telah berbuat jahat.


Mereka semakin terkejut saat Hendry mengaku sebagai suami Citra.


"Jadi ... Kalian benar-benar selingkuh di belangkangku, ya! Citra!" Yoga tampak marah mengingat kejadian waktu itu saat melihat Citra bersama Hendry malam-malam di kantor yang sepi.


Yoga hampir maju mencari ribut dengan Hendry, namun Ira menahannya. "Ini tempat umum, Yoga! Malu dilihat orang!"


Hendry mengernyitkan dahi. "Selingkuh? Aku menikahinya setelah kamu mengusir Citra dari rumahnya sendiri. Aku dengar ini gara-gara wanita lain yang kamu hamili. Apa itu dia?" Hendry memandang ke arah Ira.


"Lelaki tampan sepertimu mau-maunya dengan wanita seperti dia. Apa Citra sudah menipumu? Dia itu wanita mandul!" ucap Fira.


"Mandul?" Hendry hendak menepis ucapan adik Yoga, namun Citra memegang tangannya, seolah memberi tanda agar ia tidak melanjutkan bicaranya.


"Bagaimana mungkin wanita yang baru bercerai sudah menikah lagi dengan lelaki lain. Apa dia tidak terlalu murahan?" sindir Yanti.


"Ah, itu karena aku yang tidak sabaran." sahut Hendry. "Membiarkan dia terlalu lama menjanda sepertinya hal yang menakutkan karena pasti akan ada banyak yang mengincar wanita seperti Citra. Makanya aku berinisiatif segera memperistrinya," ucap Hendry dengan bangga.


"Tolong berhenti mengganggunya karena lain kali aku bisa saja membuat perhitungan kalau tidak terima," lanjut Hendry seraya memberikan seulas senyum.


"Ayo, Sayang ... Kita pulang!" ajak Hendry. Ia menggandeng tangan Citra sementara tangan satunya menenteng tas-tas belanjaan.

__ADS_1


Yoga dan keluarganya ditinggalkan begitu saja di sana. Mereka hanya bisa memandangi punggung pasangan yang tidak terduga itu.


Yoga merasa tidak terima. Ia masih menganggap Citra sebagai miliknya. Ia tidak rela Citra menjadi istri lelaki lain.


__ADS_2