Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Dia Istriku


__ADS_3

"Perutmu sudah kelihatan besar sekarang," gumam Citra yang terkagum-kagum dengan yang namanya ibu hamil. Ia juga tidak sabar untuk merasakan sensasi memiliki perut besar karena hamil.


"Kata dokter tinggal menunggu sekitar 4 minggu lagi untuk melahirkan." Retha mengelus perutnya. Ia juga merasa sangat bahagia akan segera melahirkan seorang bayi laki-laki.


"Kamu sedang hamil besar masih sanggup mengasuh putra sulungmu. Bagaimana kalau bayimu tiba-tiba lahir waktu kamu bawa lari-lagi?"


"Hahaha ...." Retha tertawa mendengar pertanyaan Citra. "Kenapa aku jadi takut gara-gara kamu bicara seperti itu? Kadang aku suka lupa kalau sedang hamil."


"Daddy!"


Teriakan Kenzo membuat Retha dan Citra mengalihkan pandangannya. Ternyata benar, Bara baru saja datang ke area taman bermain. Kenzo dengan semangatnya berlari menyongsong kehadiran sang ayah dengan penuh kegembiraan. Ia memeluk erat ayahnya.


Citra sampai menahan napas. Ia kembali bertemu dengan Bara, suami Retha yang pernah menjadi CEO di kantornya. Berapa kalipun ia melihat lelaki itu masih saja merasa terkesima dengan kharismanya. Seolah ia sedang melihat seorang artis ternama. Hingga ia tak menyadari jika suaminya tak kalah tampan dari lelaki itu.


"Kamu ... Citra, kan?" tanya Bara memastikan. Ia sepertinya pernah bertemu dengan wanita itu beberapa kali di kantor Hendry.


"Mas Bara kenal Citra?" Retha tampak kaget.


"Kalau tidak salah, dia bekerja di kantor Hendry," ucap Bara sembari mengingat-ingat.


"Benar, Pak Bara. Saya Citra," jawabnya dengan perasaan sedikit gugup.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Bara kepada istrinya. Kenzo yang berada di gendongannya tampak diam sembari menikmati es krim yang ia berikan.


"Citra yang menolongku waktu itu di rumah sakit, Mas. Ternyata dia juga tinggal di sini," ucap Retha.


"Benarkah? Kenapa aku baru tahu ...." Bara sedikit heran karena sang istri biasanya sangat sulit berteman. Baru kali ini ia lihat Retha bisa berbicara leluasa dengan orang asing.


"Dia baru pindah sebulanan ke sini. Katanya unit apartemennya juga di Tower Nakula."


"Oh, berarti memang tetangga. Memangnya kamu di unit nomor berapa?" tanya Bara lagi.

__ADS_1


"Unit nomor 1234," jawab Citra.


Bara mengernyitkan dahi. "Kamu ... Tinggal bareng Hendry?" tanyanya kaget.


Citra agak aneh mendengar pertanyaan Bara. Ia mengangguk karena hal tersebut memang benar, ia sekarang tinggal bersama Hendry. Bahkan mereka juga tidur di ranjang yang sama selayaknya suami istri.


Bara langsung berpikir macam-macam. Di otaknya, ia mengira bahwa Hendry membayar wanita itu sebagai teman tidur untuk mengusir kesepian setelah perceraian. 'Apa ceritanya sama sepertiku dulu?' tanyanya dalam hati.


Bara kembali mengingat ceritanya yang dahulu. Ia sempat bersumpah untuk tidak lagi jatuh cinta kepada wanita karena pengkhianatan Silvia. Kenyataannya, ia justru terpesona oleh seorang wanita yang tanpa sengaja masuk ke dalam kamar hotelnya. Wanita itu merupakan Retha yang sekarang menjadi istrinya.


"Kalian ada hubungan apa? Bukankah kamu juga sudah punya suami?" Retha memegangi lengan Citra dan berusaha mencari tahu.


"Dia istriku!" terdengar sahutan dari arah belakang.


Mereka serempak menoleh ke belakang, mendapati Hendry sudah ada di sana mengenakan kaos olahraganya.


"Sayang, sudah aku bilang kalau mau pergi bangunkan aku!" protes Hendry yang terbangun tanpa mendapati sosok Citra sudah tidak ada di sampingnya. "Kenapa kamu selalu memilih lari pagi sendiri dan meninggalkan aku?"


Hendry pintar memilih situasi. Di hadapan orang lain, biasaya Citra hanya pasrah saja menerima perbuatannya. Meskipun nanti di apartemen wanita itu akan kembali marah-marah, namun setidaknya ia sudah berhasil mendapatkan ciuman dan perhatian.


Bukan tanpa alasan Citra tak mau membangunkan Hendry. Alasan pertamanya, ia tahu jika Hendry baru menyelesaikan pekerjaannya setelah larut. Ia ingin lelaki itu memiliki cukup waktu untuk beristirahat.


Alasan kedua, karena pasti akan terjadi hal semacam itu. Dia merasa risih setiap kali Hendry berusaha menunjukkan kemesraan mereka di depan umum.


Retha dan Bara saling berpandangan. Rasanya baru kemarin mereka bertemu dengan Hendry dan Tatiana, membahas tentang program untuk memiliki keturunan. Dalam waktu yang singkat, Hendry telah berganti istri.


***


Yohan masih bermalas-malasan di atas ranjang setelah kegiatan panas yang ia lakukan bersama Ira. Ia lihat wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya dan tubuh tertutupi bathrobe. "Kamu terlihat makin se.ksi ya dengan perut buncitmu itu," godanya.


Ira memang sedang hamil memasuki usia kandungan 6 bulan. Meskipun belum terlalu besar, tapi perutnya telah banyak mengalami perubahan.

__ADS_1


"Apa kamu belum mau mandi?" tanya Ira sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Nanti saja ... Aku masih ingin mengagumimu," ucapnya.


Ira hanya tersenyum dengan perkataan Yohan. Ia berjalan ke arah meja rias untuk mendandani wajahnya yabg baru saja dibersihkan.


Yohan berguling ke sisi kiri mendekat ke arah Ira. Dipandanginya wanita itu yang tengah menggambar alis dengan pensil sembari bercermin. "Apa kamu masih kuat melayani dua lelaki?" tanyanya.


Ira merasa sedikit terganggu dengan pertanyaan Yohan. "Memangnya kenapa? Kalau aku tidak meladeni kemauanmu, apa itu tidak masalah?" ancamnya.


"Hais ... Jangan begitu! Aku kan hanya bertanya. Tentu saja aku suka kamu masih menyempatkan waktu untuk bisa tidur denganku. Tentunya tanpa sepengetahuan suamimu," kata Yohan. Ia kira Ira tidak akan menemuinya lagi setelah menjadi istri Yoga.


"Kebetulan aku punya waktu senggang makanya bisa datang ke rumahmu," jawab Ira sembari memulaskan bedak di wajahnya.


"Aku harap suamimu lebih sering ke luar kota agar kamu bisa menginap di sini."


"Aku tidak bisa ... Kalau Yoga pergi ke luar kota, mertuaku akan menginap di rumahku."


"Wah, kamu jadi menantu kesayangan rupanya," puji Yohan.


Ira tersenyum-senyum mengingat perlakuan mertua kepada dirinya. "Sudah pasti ... Selama aku hamil, aku tidak pernah disuruh mengerjakan apapun. Bahkan bersih-bersih, memasak, dan mencuci pakaian dilakukan oleh pembantu yang mertuaku sewa untuk membereskan rumahku. Aku merasa diratukan oleh mereka," ucapnya bangga.


"Kamu harus banyak berterima kasih kepadaku. Berkat bayiku, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau."


Ekspresi wajah Ira berubah tidak senang. "Jangan ulangi lagi perkataan seperti itu! Ini bayiku dan Yoga, bukan bayimu!" tegasnya.


"Kita juga sering tidur bersama ... Bisa jadi kalau itu bayiku, Ira ... Aku yakin karena waktu itu tidak memakai pengaman melakukannya denganmu." Yohan merasa jika anak yang ada di dalam kandungan Ira merupakan anaknya.


"Sekarang aku istri Yoga. Kalau aku melahirkan anak, berarti itu adalah anakku dan anaknya. Kalau kamu masih suka bicara seperti itu, aku tidak mau lagi bertemu denganmu!" ancam Ira.


Yohan bangkit dari atas ranjang. Ia berjalan mendekati Ira dan memeluknya. "Jangan marah dong ... Aku hanya bercanda. Tidak peduli itu anak siapa, asal kamu senang, lalukan semaumu. Tapi, jangan buang aku!" Yohan mengecup pipi Ira.

__ADS_1


Lelaki itu sepertinya mulai ada rasa kepada Ira. Meskipun hubungan keduany diawali dengan saling memanfaatkan, pada akhirnya muncul benih-benih cinta yang tidak bisa dijelaskan kapan bersemi di hatinya.


__ADS_2