
Silvia menceritakan semua yang ia alami kepada Bara. Mulai dari awal-awal ia stres dengan pernikahannya hingga alasan mengapa akhirnya ia memilih pergi. Semua tak lepas dari campur tangan Ratih.
Sejak awal pernikahan, Ratih memang terlihat kurang setuju dengan pernikahan mereka. Alasannya sederhana, tidak jauh-jauh dari perbedaan sosial di antara mereka. Keluarga Silvia memang tidak kaya, tapi juga tidak bisa disebut sebagai keluarga miskin.
Perekonomian keluarga Silvia terangkat sejak Silvia bekerja di dunia model. Sejak SMA, anak itu sudah bisa menghidupi dirinya sendiri juga membantu perekonomian keluarga. Ia bisa membiayai kuliahnya juga dengan hasil pekerjaannya. Kedua orang tuanya sangat membanggakan putrinya.
Saat keluarga Silvia tahu putrinya menjalin hubungan dengan Bara, mereka sangat senang mengetahui Bara anak orang kaya. Ia meminta agar Silvia cepat-cepat menikah dengan Bara agar hidup Silvia bisa terjamin.
Ternyata, angan-angan mereka tidak sesuai harapan. Justru kehidupan kemuarga Renata menjadi kacau balau dengan campur tangan Ratih. Wanita itu mengira putranya diporoti oleh keluarga Silvia, mengingat Silvia sudah tidak bekerja setelah menikah. Sementara, orang tuanya juga membutuhkan uang untuk menyokong kehidupannya.
Penghasilan Bara saat itu memang belum seberapa. Silvia tipe wanita yang tidak sabaran, sering merasa kurang dengan pemberian Bara. Ia juga meminta suaminya untuk menerima saja bantuan dari orang tua Bara. Sayangnya, suaminya lelaki keras kepala. Ia tidak mau merepotkan orang tua setelah menikah.
Langsung hamil dan memiliki anak membuat Silvia stres. Pernikahan tak semanis yang dibayangkannya. Pekerjaan lenyap tak tersisa. Mertua yang selalu menghinanya serta orang tua yang sering meminta uang padanya membuat Silvia stres berat. Ia hampir depresi dengan kehidupannya sendiri.
Apalagi mendengar ayahnya dipecat dari kantor, tempat usaha keluarganya dihancurkan karena dianggap sebagai bangunan tak berizin. Mereka juga terlilit hutang yang besar hingga mendorong Silvia pergi meninggalkan Kenzo dan Bara. Ia berupaya meraih ambisinya sebagai model ternama di luar negeri agar kembali memiliki penghasilan yang besar sehingga ia tak bisa diremehkan lagi, terutama oleh ibu mertuanya.
"Kenapa kamu tidak menceritakan masalah ini kepadaku?" Bara masih mencoba bersabar mendengarkan cerita Silvia meskipun hal itu tidak merubah kemarahan serta kekecewaannya.
"Menceritakan masalah ini? Apa Mas Bara lupa seberapa sibuknya dirimu sampai jarang ada waktu pulang? Bagaimana caraku bercerita?" Silvia ingin tertawa mendengar respon Bara. Ia merasa Bara belum juga mampu memahami dirinya.
"Lalu, apa maumu sekarang? Ingin aku memaafkanmu dan melupakan semuanya?" Bara memberikan tatapan tajamnya.
"Aku sudah menceritakan semuanya, Mas ... apa kamu masih tidak bisa memahamiku?" Silvia memasang wajah memelas.
"Yah! Aku memang tidak pernah bisa memahamimu. Makanya, cepat pergi dari sini sekarang juga!" Bara sampai berdiri sembari menunjuk ke arah pintu keluar agar Silvia pergi.
__ADS_1
Silvia tidak habis pikir Bara masih keras kepala dan tidak mau mengerti. "Mas! Kamu tidak memikirkan bagaimana Kenzo besok pagi saat bangun aku tidak ada di sini? Kamu tega melihatnya menangis mencariku? Asal kamu tahu saja, setelah aku pulang, Kenzo bahkan selalu menangis saat bangun karena aku tidak ada di sisinya. Ia takut Mommy-nya pergi lagi."
"Apa kamu sedang berusaha melimpahkan kesalahan kepadaku? Kamu yang meninggalkannya, bukan aku!" Bara semakin kesal Silvia memakai Kenzo sebagai alasan.
"Aku sudah meminta maaf, Mas! Aku mengaku salah!" seru Silvia. "Jadi tolong, demi Kenzo ... berusahalah untuk memahamiku. Mas Bara hanya sedang emosi saja. Beristirahatlah dan tenangkan dirimu."
"Mommy ... Mommy ...."
Terdengar suara Kenzo dari dalam kamar memanggil ibunya. "Iya, Sayang ...." Silvia langsung berlari menuju kamar menemui Kenzo. Ia memilih meninggalkan Bara yang masih sangat emosi kepadanya.
"Hah!"
Bugh!
Bara meninjukan tangannya ke tembok hingga darah segar mengalir dari sela-sela jarinya. Perasaannya begitu bimbang. Ia belum bisa memaafkan kesalahan Silvia apapun alasannya. Di sisi lain, Kenzo juga sangat membutuhkan kehadiran seorang ibu di sisinya.
Ia sama sekali tidak bahagia dengan kembalinya Silvia. Justru dendam dan rasa sakit yang bercongkol di hati. Saat ia baru mulai kehidupan baru, wanita itu tiba-tiba saja datang. Padahal, tinggal sedikit lagi ia bisa menata kehidupan keluarganya yang baru dengan Retha.
Flash Back on
"Kamu sebenarnya mencintai aku atau tidak?" tanya Silvia secara tiba-tiba saat mereka sedang menikmati makan malam mereka.
"Pertanyaanmu itu aneh. Kalau aku tidak mencintaimu, tidak mungkin aku menyisihkan waktu untuk menemuimu malam ini." Bara berusaha santai menyantap hidangannya. Sebagai seorang pengusaha yang baru merintis bisnis, ia tidak punya banyak waktu bersantai. Tapi, karena Silvia memaksa bertemu, akhirnya ia menyempatkan waktu.
"Kalau memang cinta, cepat nikahi aku!"
__ADS_1
Bara menghentikan makannya. Ia heran tiba-tiba Silvia membahas tentang pernikahan. "Kamu bicara apa, sih? Ada banyak hal yang perlu kita persiapkan untuk menikah."
"Aku jadi ragu kalau kamu sebenarnya tidak ingin menikahiku. Mengingat Mamamu tidak menyukaiku."
"Aku yang akan menikah denganmu, bukan Mamaku. Aku pasti menikahimu."
"Kapan?" tanya Silvia.
"Tunggu sampai bisnisku tumbuh, aku baru merintisnya, Sil. Memangnya kamu mau hidup dengan aku yang masih belum sukses?"
"Aku mau! Aku bisa menemanimu sampai sukses." tegas Silvia.
Bara tertawa. "Aku khawatir tidak sanggup menghidupi model sepertimu. Kebutuhanmu pasti sangat banyak, sementara bisnisku baru saja dimulai dan belum menghasilkan apa-apa."
"Aku hanya butuh kamu, Bar ... tapi, kalau kamu memang tidak mau serius denganku, kita putus saja!"
Bara mengernyitkan dahi. Silvia tampak begitu terburu-buru meminta menikah. Padahal, wanita itu bilang masih ingin meneruskan karirnya sebagai seorang model. Silvia tipe orang yang menyukai kebebasan dan bergaul dengan banyak orang. Selama mereka pacaran, ia tak ingin pergaulannya dibatasi karena pekerjaannya juga menuntut interaksi dengan banyak orang.
Silvia wanita yang dikagumi oleh banyak orang. Pada akhirnya, wanita itu melabuhkan hatinya kepada Bara, putra pengusaha sukses yang baru belajar merintis bisnis.
"Aku serius sama kamu, Sil. Aku harus apa supaya kamu percaya?" tanya Bara.
"Bawa aku ke rumah orang tuamu besok dan kita menikah bulan ini."
Bara tercengang mendengar permintaan Silvia. "Kamu sudah gila? Orang tuaku juga akan jantungan mendengarnya, Sil!" Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Silvia.
__ADS_1
"Katanya kamu mencintaiku. Kalau iya, itu pasti bukan hal yang sulit untuk kamu wujudkan." Silvia terkesan sangat memaksa.
Bara menghela napas panjang lalu menghembuskannya. "Baiklah, besok aku akan membawamu menemui Papa Mamaku."