
Bara tampak lesu setelah rapat berakhir. Rapat dadakan yang dilaksanakan masih membuatnya syok dengan pelaporan hasil perkembangan proyek yang dilaksanakan di luar kota. Setelah sebulan lamanya, baru ketahuan ada salah satu penanggung jawab proyek yang kabur membawa uang proyek tanpa ketahuan. Uang tersebut seharusnya digunakan untuk ganti rugi lahan warga yang terkena proyek perusahaannya, namun dibawa kabur, serta menipu para warga juga. Nama perusahaan Bara sedang dipertaruhkan.
Selain mengalami kerugian materi, ia juga terancam tuntutan secara hukum karena dianggap telah melakukan penipuan terhadap warga yang telah bersedia melepas lahannya. Ia harus terseret karena menjadi pimpinan tertinggi dalam proyek tersebut. Seluruh jajaran petinggi perusahaan dan rekanan baru saja membahas tentang apa tindakan mereka terhadap Bara.
"Bar, maafkan aku. Aku terlalu fokus mengawasi perkembangan pembangunan hotel, tidak ikut mengecek proses pembebasan lahan. Aku tidak menyangka akan ada yang berbuat licik mengutak-atik hal itu dengan sangat rapi," ucap Zack.
Perusahaan ayah Zack juga termasuk salah satu investor dalam proyek yang Bara laksanakan. Mereka telah bersahabat akrab dan sudah seperti saudara. Zack memang selalu mengatakan agar Bara tidak perlu khawatir dengan perkembangan proyek di sana. Zack selalu standby di sana.
"Sekertarisku juga kabur, Zack. Aku rasa dia ikut terlibat," ucap Bara lemas.
Zack menepuk pundak Bara. "Kamu harus menghadapinya dengan tenang. Aku juga akan meminta ayahku untuk membantumu mengusut masalah ini. Bagaimanapun juga ada banyak pihak yang dirugikan jika proyek ini sampai mangkrak."
"Ya, aku akan berusaha menghadapinya dengan pikiran jernih. Kamu tolong berikan keseluruhan laporan yang ada, soalnya sekertarisku sepertinya sudah menghapus semua data-data dan bukti yang ada." Bara memijat keningnya yang pusing.
"Nanti aku kirimkan semuanya ke emailmu, Bar!"
"Terima kasih, Zack. Aku mau pulang dulu," pamit Bara.
Dalam kondisi yang sangat kalut dan menegangkan sepanjang hari ini, ia bahkan sampai melewatkan waktu makan siang. Ia juga lupa mengabari Retha hingga malam telah menjelang. Ia periksa ponselnya, tak ada satupun pesan yang masuk dari istri tercintanya. Hanya ada pesan dari ibunya yang mengabarkan bahwa Kenzo sudah tidur dan lebih baik menginap di sana.
Bara mencoba menghubungi Retha sembari menyetir sendiri mobilnya. Namun, telepon tersebut tidak tersambung. Nomor Retha tidak bisa dihubungi. Bara semakin resah. Hatinya merasa bahwa telah terjadi sesuatu kepada istrinya. Retha tidak pernah seperti itu sebelumnya.
"Apa dia ngambek karena aku tidak pulang-pulang?" gumamnya.
Bara melajukan mobilnya lebih cepat demi bertemu kesayangannya. Ia tidak sabar memeluk sang istri serta menikmati makan malam bersama. Memang, waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat, tapi menurutnya masih belum terlalu larut untuk menikmati makan malam.
__ADS_1
"Sayang ... Sayang ...."
Bara merasa aneh saat masuk ke apartemen. Kondisinya sangat sepi, lampu dalam kondisi mati. Ia masih berbaik sangka mungkin saja Retha ingin memberikan kejutan untuknya.
Satu per satu lampu Bara nyalakan. Pandangannya diarahkan ke dapur, tempat favorit Retha. Namun, wanita itu tidak ada di sana. Ia beralih ke arah kamar yang lampunya juga belum dinyalakan. Sama saja, tempat itu sepi tak berpenghuni. Kamar mandi dalam juga kosong. Perasaannya semakin tidak karuan.
Padahal, ia pulang untuk menenangkan sedikit pikirannya. Masalah Silvia yang hamil dan masalah perusahaan hampir membuat otaknya meledak. Kini, keberadaan Retha yang masih menjadi misteri turut menambah kegundahan hatinya.
Bara mondar-mandir di dalam apartemennya, mengecek setiap ruangan untuk mencari Retha. Namun, tetap saja wanita itu tidak ditemukan. Ia sampai mengacak rambutnya frustasi.
Ia memutuskan pergi mengunjungi Edis di asrama. Edis keluarga yang paling Retha sayang, pasti tahu kemana perginya sang istri. Setidaknya dia harus tahu kenapa istrinya bisa pergi begitu saja dari rumah tanpa memberi kabar. Padahal, ia merasa tidak memiliki masalah apapun dengan Retha. Terakhir berpamitan sebelum ke kantor, mereka bahkan masih mesra dan menikmati sarapan pagi bersama.
"Maaf, Kak. Aku tidak tahu Kak Retha pergi kemana," jawab Edis ketika Bara menemuinya di asrama.
Bara memang sudah menduga kemungkinan Edis akan mengatakan tidak tahu. Retha pasti telah berpamitan kepada adiknya namun meminta Edis agar tidak mengatakan kemana ia akan pergi.
"Aku benar-benar tidak tahu kemana Kak Retha pergi. Memangnya kalian ada masalah sampai kakakku pergi?" Edis masih bersikukuh tidak mau mengatakannya.
"Setahuku kami tidak punya masalah, Edis. Kalau aku tahu alasan Retha pergi itu apa, aku pasti sudah meminta maaf agar dia tidak pergi. Masalahnya, kami baik-baik saja sampai aku berangkat ke kantor. Mana mungkin aku akan mencari Retha dengan cemas begini kalau tahu alasannya pergi kenapa."
Apa yang Bara ucapkan masuk akal. Edis juga merasa kakaknya bertingkah aneh. Seharusnya kalau punya masalah harus dibahas, bukan kabur. Apalagi Bara tidak tahu kesalahannya. Ia jadi kasihan dengan kakak iparnya yang terlihat putus asa dan kelelahan.
"Kak Bara ...." Edis mulai membuka suara meskipun terdengar ragu.
Bara fokus mendengarkan apa yang hendak adik iparnya itu sampaikan.
__ADS_1
"Tadi siang Kak Retha memang datang ke sini memberikan uang. Wajahnya kelihatan pucat seperti sedang sakit."
"Benarkah?" Bara sangat ingin tahu kondisi istrinya. Saat pagi, Retha terlihat baik-baik saja.
Edis mengangguk. "Waktu aku telepon minta uang, Kak Edis katanya sedang di rumah sakit mau periksa kandungan. Setelah dari rumah sakit ia langsung datang ke sini menemuiku."
Bara tercengang mendengar penjelasan dari Edis. "Retha hamil?" tanyanya.
"Aku tidak tahu, Kak. Kata Kak Retha paling hanya masuk angin katanya makanya badannya tidak enak."
Semakin aneh jika memang istrinya hamil tapi malah memilih kabur dari rumah. Seharusnya jika memang Retha menemukan tanda-tanda kehamilan, dirinya harus diberi tahu.
"Kakakmu ke rumah sakit mana?" tanya Bara. Ia akan menanyakan sendiri pada dokter yang menangani Retha.
"Kalau tidak salah Rumah Sakit Kasih Abadi, Kak."
Bara tertegun mendengar nama rumah sakit tersebut. Nama rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat ia membawa Silvia periksa. Matanya melebar saat menyadari sesuatu. Bisa jadi, tanpa sengaja Retha memergoki ia bersama Silvia di sana. Ia tidak memikirkan kalau istrinya bisa saja salah paham dengan kebersamaan mereka di sana.
Retha pasti telah menyimpulkan sesuatu yang salah. Pasti ia telah mengira dirinya sedang bermesraan dengan Silvia sampai marah besar dan memutuskan untuk kabur dari rumah tanpa mengatakan apapun kepadanya.
"Kak Bara jangan khawatir, soalnya Kak Retha bilang mau menginap di rumah Ayah selama masa menenangkan diri. Kalau perasaannya sudah membaik, katanya mau pulang lagi ke apartemen."
"Pokoknya Kak Bara tidak boleh bilang kalau aku yang kasih tahu. Nanti Kak Retha ngambek, susah dibaikinnya, kak."
"Kak Bara juga harus memperlakukan Kak Retha dengan baik setelah nanti kalian bertemu. Awas kalau Kak Retha sampai di buat kabur lagi, aku tidak akan memberi tahu Kak Bara!" ancam Edis.
__ADS_1
Bara tak bisa berkata-kata. Ia langsung berlari pergi dari hadapan Edis. Tujuannya sangat jelas untuk menemukan sang istri secepatnya. Ia harus segera meluruskan kesalahpahaman di antara mereka.