Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Meminta Restu


__ADS_3

"Aku akan pergi dengan Ayah ke restoran yang sudah kita rencanakan."


"Ya, aku juga akan segera ke sana."


"Sudah bertemu Edis?"


"Belum. Petugas asrama sedang memanggilkannya."


"Kalau begitu, sampai jumpa di sana."


"Hm, I love you, Sayang."


"I love you too."


Bara mematikan teleponnya dengan mengulaskan senyum. Ia baru saja berkomunikasi dengan Retha, membahas tentang pertemuan keluarga yang akan dilakukan secara sederhana. Retha bertugas membawa ayahnya, sementara Bara yang akan membawa Edis ke sana.


"Selamat sore?"


Edis baru saja turun dari lantai atas setelah petugas asrama memberitahukan ada orang yang sedang menunggunya di bawah. Ia keheranan siapa kira-kira yang ingin datang menemuinya. Paling hanya kakaknya, itupun tidak mungkin karena mereka baru bermusuhan.


Saat melihat seorang lelaki dewasa berpenampilan rapi dengan pakaian kerjanya, ia semakin keheranan. Edis tidak pernah merasa mengenal lelaki tersebut. Lelaki itu terlalu keren untuk menjadi seorang penagih hutang seperti yang biasa mendatangi keluarganya.


Bara tersenyum. "Kamu Edis, kan? Aku kenalan kakakmu, namaku Bara." Bara mengulurkan tangannya.


Edis membalas uluran tangan tersebut. "Iya, saya Edis. Ada perlu apa Bapak mencari saya?" tanyanya penasaran.


"Aku akan menjelaskannya nanti. Kita pergi dulu, ada sesuatu yang ingin aku dan kakakmu katakan."


"Apa tidak bisa kita bicara ke sini saja? Lalu, di mana kakakku?" Edis celingukan mencari kakaknya. Ia tidak mudah mempercayai orang lain takut diculik.


"Kakakmu dan ayahmu sedang menunggu di sana. Kita harus pergi sekarang supaya tidak ketinggalan."


"Ayahku juga datang?" Edis terkejut mendengar nama ayahnya disebut.


"Ya, kita akan makan malam berempat. Kamu mau pergi, kan?"


Edis sekali lagi memperhatikan wajah lelaki itu dengan seksama. Dari mukanya sepertinya bisa dipercaya dan tidak mungkin berbohong.


"Kamu tenang saja, aku bukan penculik. Kalau ingin tahu, ikut aku dulu. Nanti kakakmu sendiri yang akan memberi tahu."


Bara berkata seolah bisa membaca keraguan yang ada di hati Edis. Akhirnya, Edis mau mengikuti Bara. Ia menaiki mobil Audy yang dikendarai langsung oleh lelaki tersebut.

__ADS_1


Sebelum pergi ke restoran, Bara membawa Edis ke sebuah butik. Tanpa memiliki kesempatan menolah, Edis membiarkan para pelayan di sana memilihkan pakaian untuknya. Ia juga didandani dengan make up yang sederhana.


Edis semakin bertanya-tanya, kenapa untuk makan malam saja ia harus berdandan secantik itu. Apalagi dia juga dijemput oleh lelaki tampan yang membawa mobil mewahnya.


'Apa dia pacar kakakku?' tanyanya dalam hati.


Bara tersenyum setelah sekitar satu jam menunggu Edis selesai didandani. Ia membawa kembali adik Retha itu dengan mobilnya menuju tempat pertemuan.


"Maaf, Pak. Sebenarnya ini ada acara apa?" tanya Edis.


"Acara makan malam saja. Karena tempatnya mengharuskan pengunjungnya memakai dress code, makanya kamu harus sedikit didandani."


Mobil yang dikendarai Bara terus melaju melewati jalanan kota yang lumayan padat. Dekitar tiga puluh menit kemudian, akhirnya mereka sampai di sebuah hotel bintang lima yang mewah.


Edis tetap menatap takjub pada sosok lelaki yang baru dikenalnya. Rasanya orang tersebut terlalu sempurna untuk dibayangkan sebagai calon kakak iparnya. Dari penampilannya saja sudah terlihat jika Bara bukanlah orang biasa. Minimal seorang pengusaha.


"Edis ...," panggil Pak Agus.


Edis terkejut melihat ayahnya lebih dulu ada di sana dengan penampilan yang rapi. Wajahnya tampak beberapa lebam, seperti biasa, mungkin ayahnya punya masalah lagi. Edis segera menghampiri ayahnya, mencium tangannya dan memberikan pelukan. Sebagai anak bungsu, ia memang terlihat manja kepada ayahnya.


Edis melihat kakaknya juga ada di sana, berdandan sangat anggun dan cantik. Ia beralih memeluk kakaknya. Setelah sempat kemarin mereka berselisih, sebenarnya Edis ingin meminta maaf, namun ia terlalu gengsi untuk mengaku salah sudah marah-marah kepada kakaknya.


"Selamat malam, Pak. Nama saya Bara, orang yang sedang dekat dengan putri Bapak." Bara memperkenalkan dirinya kepada Pak Agus.


Bara lebih banyak memperkenalkan dirinya, menceritakan kehidupannya, serta keinginannya untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Retha. Ia juga menyampaikan jika dirinya sangat mencintai Retha.


"Jadi, kamu seorang duda dengan satu anak?" tanya Pak Agus.


"Benar, Pak. Putra saya masih TK. Dulu sempat menjadi murid Retha. Kami pertama kali kenal juga di sana."


"Kamu sudah tahu bagaimana keluarga kami?"


"Sudah, Pak. Saya tidak masalah dengan kondisi perekonomian Retha. Keuangan saya cukup baik, saya memilih pasangan memang yang sekiranya bisa membuat nyaman dan penuh kasih sayang. Apalagi putra saya sangat menyukai Retha."


"Lalu, kenapa keluargamu tidak ikut hadir malam ini?" tanya Pak Agus.


Bara dan Retha saling bertatapan. Mereka sudah mengira bahwa ayah Retha pasti akan menanyakannya.


"Sebelumnya saya pernah gagal berumah tangga. Orang tua saya sangat berhati-hati memilih calon pendamping selanjutnya. Namun, saya menginginkan hanya Retha yang akan menjadi pendamping saya. Saya sudah mantap memilih Retha. Kalau meminta persetujuan orang tua pasti akan lama. Jadi, saya tetap ingin menikahi Retha terlebih dahulu sembari perlahan memperkenalkannya kepada pihak keluarga."


Pak Agus mengerutkan dahinya. "Kamu tidak sedang bermaksud ingin mempermainkan putri saya, kan?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak, Pak!" kilah Bara. Ia tahu penjelasannya pasti akan membuat salah paham. Bisa jadi ayah Retha memiliki persepsi lain dengan kata-katanya.


"Hal yang bisa saya tangkap dari pembicaraanmu sepertinya kamu ingin menyembunyikan Retha setelah nanti menjadi istrimu. Apa itu benar."


Bara menunduk. Maksudnya sebenarnya tidak seperti itu. "Saya bisa saja terus berpacaran dengan putri Bapak sampai orang tua saya bisa menerima kehadiran Retha. Tapi, bukankah lebih baik jika hubungan pacaran yang kami lakukan telah sah dalam ikatan pernikahan? Setelah Retha menjadi istri saya, maka kehidupan dan mebahagiaannya merupakan tanggung jawab saya. Jika ada masalah, saya yang akan maju paling depan membelanya."


"Bagaimana kalau masalah itu malah timbul dengan pihak keluarga sendiri?" tanya Pak Agus lagi.


"Saya akan tetap memihak Retha jika memang dia benar."


Edis hanya bisa menyimak perbincangan antara kedua lelaki itu. Ia tak terlalu paham bagaimana konsep pernikahan yang mereka maksudkan. Menurutnya menikah bukan sesuatu hal yang menyenangkan. Justru sangat rumit.


Sementara, hati Retha sedari tadi terus berdebar kencang. Ia takut Bara dan ayahnya akan bertengkar. Meskipun Retha dan ayahnya sering cekcok, namun dari jawaban-jawaban sang ayah ia tahu bahwa ayahnya masih memperhatikannya.


"Saya tidak ada kewenangan untuk menentukan langkah hidup kalian. Jika memang Retha sepakat dengan rencana tersebut, maka sebagai ayah, saya hanya bisa mendukung."


"Retha, bagaimana pendapatmu?" tanya sang ayah.


"Aku setuju, Ayah. Aku dan Mas Bara sudah membahas hal ini sejak lama," ucapnya.


"Tapi, ada satu hal yang masih mengganjal dalam pikiran saya."


Retha dan Bara kembali berpandangan. Mereka kira ayah Retha telah memberi restu kepada keduanya. Ternyata, masih ada pembahasan yang belum terselesaikan.


"Apa yang masih mengganjal di hati Bapak? Silakan utarakan saja, saya siap mendengarkan dan memfasilitasi." Bara memberikan kesempatan kepada Pak Agus untuk berbicara.


"Ibu Retha dan Edis sudah meninggal cukup lama. Saya bekerja keras membanting tulang demi membesarkan mereka. Bahkan sampai satu per satu barang hingga rumah terjual demi memberikan kehidupan yang layak untuk mereka. Jadi, kami tidak memiliki rumah sama sekali di kota ini karena dulu dijual untuk bertahan hidup."


Bara merasa miris mendengar cerita masa lalu tentang Retha.


"Saya juga tidak punya pekerjaan lagi setelah dipecat dari perusahaan karena fitnah. Ingin kembali bekerja namun terkendala usia, tak ada lagi yang meminta saya sebagai pekerja karena dianggap terlalu tua. Saya bekerja serabutan untuk bisa memberikan sedikit uang jajan untuk Edis."


"Apa sekiranya kamu juga mampu untuk menghidupi saya sebagai ayah Retha dan Edis adiknya?"


Retha menunduk. Ia memijit keningnya karena pusing. Padahal tadinya ia ingin memuji sikap ayahnya yang kelihatan sangat menyayanginya. Sekarang, ayahnya seakan ingin menegaskan bahwa dirinya hanya ingin menumpang hidup.


"Ayah apa-apaan, sih!" Edis yang namanya dibawa-bawa ikut merasa malu.


"Kalau dari penampilanmu, memang bisa dipercaya jika kamu seorang pengusaha. Tapi, sebagai bukti agar aku lebih percaya, bisakah kamu memberikan saya uang setiap bulan sebessr sepuluh juta?"


Retha dan Edis jadi malu mendengarkan ayah mereka secara terang-terangan meminta uang. Bara hanya tersenyum, ia mengeluarkan lembaran cek dari dalam sakunya lalu menuliskan sejumlah nominal di atasnya dan memeberikannya kepada Pak Agus.

__ADS_1


Pak Agus mengembangkan senyuman saat menerima cek tersebut. "Kamu memang calon menantuku yang membanggakan."


__ADS_2