Pemuas Ranjang CEO

Pemuas Ranjang CEO
Season 2: Jampi-Jampi Cinta


__ADS_3

Ira merapikan rambutnya saat melihat kedatangan mobil Yoga di parkiran kantor. Senyuman mengembang di bibirnya. Dengan langkah yang ceria ia menghampiri mobil Yoga layaknya seorang wanita yang kedatangan kekasih.


"Pagi," sapa Ira sembari memasang sikap manis dan sedikit manja.


Yoga tersenyum. "Pagi, kamu datang lebih pagi dariku ternyata," balasnya.


"Mau ajak kamu sarapan dulu. Hari ini aku bawa bekal." Ira memamerkan kotak bekal yang dibawanya. Ia sangat tahu jika Yoga hampir tidak pernah sarapan pagi di rumah. Kesempatan seperti itu ia manfaatkan demi mendapatkan hati Yoga agar bisa berpaling darinya.


"Aku jadi tidak enak hati setiap hari makan bekal punyamu."


"Kenapa harus tidak enak hati? Aku juga dulu sering ikut makan di rumahmu." tanpa permisi Ira langsung menggandeng tangan Yoga seraya membawanya masuk ke dalam area kantin.


Tempat yang khusus disediakan perusahaan membebaskan karyawannya untuk membeli makanan di kantin atau sekedar memakai tempatnya untuk memakan bekal yang mereka bawa.


Ira membuka kotak makannya dengan semangat mengeluarkan nasi dan segala jenis lauk pauk yang dibawanya. Semua makanan di dalamnya tertata dengan rapi dan cantik memanjakan mata yang memandangnya.


"Kamu masak segini banyak bangun jam berapa, Ra?" tanya Yoga tercengang melihat apa yang Ira bawa. Istrinya saja memasak sarapan simpel seperti nasi goreng butuh waktu sekitar 30 menit untuk penyajian. Apalagi Ira yang sempat membawa macam-macam olahan yang beragam.


"Aku biasa bangun jam 5 pagi. Kalau sedang rajin, memang hobiku memasak. Makan bareng, yuk!" ajaknya.


Ira mengambilkan makanan untuk Yoga. Sebagai seorang teman, perhatiannya sudah terlihat berlebihan. Beberapa teman kantor juga ada yang menyadari hal tersebut. Namun, Ira selalu membantah bahwa sikapnya yang seperti itu sudah biasa karena mereka teman sejak kecil.


"Istrimu apa kabar, Ga?" tanya Ira iseng.


"Dia baik," jawab Yoga.


"Masih kerja, ya?"

__ADS_1


Yoga mengangguk.


"Apa dia wanita yang lemah, ya? Karena kelelahan bekerja jadi susah untuk hamil. Kalian kan sudah 3 tahun menikah."


Yoga memiliki pendapat yang sama dengan Ira. "Aku sudah sering memintanya untuk berhenti kerja, tapi dia masih berat meninggalkan pekerjaannya."


Seperti tadi pagi, Citra kelihatan tidak senang saat ia mulai membahas agar ia sebaiknya berhenti kerja. Yoga juga ingin memiliki anak. Citra justru ngotot ingin mengajaknya sama-sama periksa ke rumah sakit. Padahal, cukup Citra datang ke rumah sakit sendiri dan menyampaikan hasil pemeriksaan dokter kepadanya.


"Kamu pernah mikir nggak sih, Ga? Kenapa istrimu kelihatan berat untuk meninggalkan pekerjaannya?" pancing Ira.


Wanita licik itu sering kali membahas hal-hal sensitif berkaitan dengan Citra agar tumbuh rasa curiga di hati Yoga. Ia ingin lelaki itu semakin hilang kepercayaan terhadap istrinya sendiri, sembari membangun kepercayaan bahwa dia merupakan teman yang bisa diandalkan.


"Apa jangan-jangan ada karyawan lelaki yang istrimu sukai sampai dia betah kerja di sana?"


Yoga mulai terhasud. Ia jadi memikirkan apa yang Ira katakan tentang istrinya. "Ah! Kamu ada-ada saja! Istriku bukan wanita semacam itu!" bantah Yoga.


"Aku tidak sedang menakutimu, Ga. Hanya saja, cobalah untuk lebih waspada. Bisa saja diam-diam istrimu ada main dengan lelaki lain."


"Jangan-jangan nanti dia membuat alasan lembur supaya lebih lama berada di kantor."


Yoga tertegun. Apa yang Ira katakan sangat sesuai dengan apa yang kini sedang dialaminya. Citra bilang beberapa hari ini ia akan lembur di kantor.


Melihat raut wajah Yoga yang terlihat tegang, diam-diam Ira menyembunyikan senyumannya. Ia rasa beberapa langkah lagi usahanya untuk memiliki Yoga akan berhasil. Apalagi ia sering memberikan makanan dan minuman yang telah ia taburi dengan obat ramuan pelet. Yoga akan semakin tertarik padanya dengan mengkonsumsi ramuan tersebut tanpa disadari.


***


"Cit, ini aku sudah kumpulkan catatan jam kerja, kehadiran, bonus, dan lembuaran karyawan tiga tahun terakhir. Kalau masih ada yang kurang, minta saja padaku. Tapi, besok saja aku lanjut, ya! Aku tidak enak sama mertua kalau lebih larut lagi pulangnya," ucap Rifi seraya menyerahkan berkas di tangannya kepada Citra.

__ADS_1


Citra menoleh ke arah jam dinding. Sudah pukul jam delapan malam. Satu per satu staf di ruangannya telah pulang. Ia masih bertahan di sana karena bertugas mengecek dokumen yang Hendry minta.


Hari ini Lilis izin hanya setengah hari kerja. Ibunya sedang dirawat di rumah sakit sehingga harus gantian jaga dengan adiknya. Terpaksa ia mengerjakan semuanya sendiri karena teman yang paling dekat dengannya tidak ada. Mau merepotkan staf lain juga tidak enak hati karena rata-rata mereka sudah memiliki keluarga dan anak. Berbeda dengan dirinya yang sudah menikah namun belum memiliki anak dianggap tidak punya beban. Padahal, sudah lama menikah dan belum diberi momongan merupakan beban mental yang berat.


Dengan sabar ia tetap merapikan berkas- berkas yang rekan kerjanya berikan. Setidaknya mereka masih mau diajak lembur sampai jam delapan malam.


Usai membereskan pekerjaannya, Citra bersiap pulang. Ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan bersiap pulang.


Klak!


Saat Citra hampir sampai di depan lift, lampu tiba-tiba mati. Ia menghentikan langkah. Sekelilingnya benar-benar gelap gulita. Sepertinya petugas mengira kantor telah kosong sehingga mematikan seluruh lampu yang ada di lantai 10 tempat Citra berada.


Mengandslkan rabaan tangannya, Citra menggerayangi seisi tas miliknya. Ia hendak mencari ponselnya. "Aduh ... Di mana sih ponselku," keluh Citra yang terus berusaha mendapatkan ponselnya di tengah kegelapan.


"Ah! Akhirnya ...." Citra merasa lega saat berhasil menemukan ponselnya. Ia segera menghidupkan senter dari ponsel.


Setelah jam delapan malam, lift tidak bisa digunakan. Terpaksa Citra memutar mencari jalan lain menuju tangga darurat. Ia coba mengalihkan pikirannya ke pekerjaan untuk mengusir rasa takut yang menghinggapinya. Dengan mengingat beban kerja yang dilimpahkan sang manajer kepadanya, setidaknya rasa takut di hati Citra berganti dengan rasa kesal.


Sepanjang lorong yang ia lewati begitu sunyi dan gelap gulita. Tak terdengar suara orsng lain di sana. Ia bahkan bisa dengan jelas mendengar langkah kakinya sendiri.


Letak tangga darurat yang berada di ujung gedung semakin membuat suasana mencekam. Ia mengingat-ingat kelakuan menyebalkan Hendry beserta wajahnya yang penuh kesombongan. Hal tersebut kembali efektif untuk mengusir rasa takutnya.


"Ah! Aduh!" Citra hampir terjatuh karena tersandung sesuatu. Beruntung, ada seseorang yang menahannya.


***


Sambil menunggu update berikutnya, jangan lupa mampir ke karya teman author ya 😘

__ADS_1


Judul: Gugatan Satu Miliar



__ADS_2